Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
50. Ancaman


__ADS_3

Anak buah kamila berdiri dengan susah payah, ia berusaha untuk mengendarai motornya.


"gue harus kuat,gue harus segera menemui bu bos" ucap pria tersebut. Ia pun memaksa kan diri, walaupun melaju dengan lambat akhirnya dia sampai di tempat tujuan nya, yaitu rumah kamila.


"buuu... Buuu" panggil anak buah kamila dengan nada kesakitan. Kamila pun mendengkus kesal karna anak buah nya itu memanggil-manggilnya.


"bisa gak, gau usah teriak-teriak gitu manggil nya" kamila mengoceh kesal, namun sedetik kemudian kamila menatap wajah anak buahnya itu.


"kamu kenapa bisa babak belur begitu?" kamila mengangkat wajah anak buah nya yang sedari tadi menunduk.


"saya di serang oleh pak vano bu" jawab anak buah nya, kamila menghempaskan wajah anak buahnya dengan kasar.


"gak berguna.. Kamu kalah sama vano, badan kamu yang gede itu fungsinya untuk apa hah?" bentak kamila.


" sa-saya sudah berusaha melawan bu, tapi tenaga vano sangat kuat bu, dia menyenggol motor saya, hingga saya terjatuh, lalu dia memukili saya" ucap anak buahnya dengan ketakutan.


"saya tak butuh alasan apapun dari kamu, kamu emang gak becus, gak berguna!" kamila kini meninggikan suaranya, ia pergi ke kamar nya dengan penuh amarah.


Ia menyapukan perlengkapan make up yang ada di atas nakas nya dengan tangan nya.


"aaarrrrrgggggghhhh si*lan, lihat saja vano kau tak akan hidup tenang, jika anak buah ku tak bisa, biar aku yang akan turun tangan sendiri, kau tak boleh hidup bahagia dengan wanita lain van," kamila menjambak rambutnya sendiri seperti orang kesetanan.


Adit dan ziah sudah sampai di rumah adit.


"lho zi, bukan nya tadi vano ngikutin kita ya? Sekarang kemana dia kok gak keliatan?" adit tak tahu kalo vano mengahadang preman tersebut.


" bang tadikan ada laki-laki yang kemarin ngikutin aku sama pak vano, orang itu juga gak terlihat lagi ngikutin, apa bang vano sama orang tersebut berkelahi?" ziah menyiratkan wajah cemasnya, biar bagaimana pun vano tlah baik padanya, ia takut vano kenapa-napa.


"zi, kamu yang tenang ya, vano bakalan baik-baik aja kok," adit berusaha menangkan walau hatinya sedikit merasa cemas.


"bang pria itu tubuh nya tinggi besar, sedangkan pak vano....."


" pak vano apa?" tiba-tiba vano datang, dengan wajah bekas lebam.


Adit dan ziah melirik ke arah vano, ziah menghampiri vano, dan menatap wajahnya.


"pak, apa bapak berkelahi dengan pria itu?" tanya ziah. Vano tak menjawab.


"jawab pak, kenapa bapak nekad melakukan hal bodoh? Kalo bapak kenapa-napa gimana?" cecar ziah. Dalam hati ziah takut gara-gara dia di incar oleh orang yang tak di kenal,orang-orang terdekatnya akan kena imbasnya, seperti sekarang vano.


" kamu tenang saja, ini hanya luka biasa" dengan enteng vano menjawab, tanpa menjawab pertanyaan ziah.


"bang punya obat P3K gak?" tanya ziah.

__ADS_1


"ada, ntar ya abang panggil dulu wafda" adit pun pergi masuk kedalam rumahnya, hendak menemui wafda.


"wafdaaa.. Hawaa" panggil adit.


"iyaa mass, kamu udah pulang?" wafda menghampiri suaminya, dan meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan ta'dim.


"mas di luar ada teh ziah?" tanya wafda, adit mengangguk.


"iya, tolong kamu ambilkan obat P3K," ucap adit.


" buat apa mas? Teh ziah kenapa? Dia kenapa-napa kan?" tanya wafda dengan panik.


"ziah gak kenapa-napa, tapi abang mu vano" jawab adit.


"bang vanoo? Kenapa dia mas?" wafda tak berhenti bertanya.


"dia berkelahi dengan pria yang mengikuti ziah" ucap vano, wafda membekap mulut nya sendiri.


"kok bang vano kalah sih, kan dia jago bela diri mas" keluh wafda. Adit menautkan kedua alisnya.


"jago bela diri?" ulang adit.


"heem mas, dia jago banget tau" cerita wafda. Wafda memang wanita yang senang bercerita.


"oh gitu, baru tau aku. Eeehh ayo cepetan mana obatnya nanti mereka nungguin lagi" tanya adit pada wafda. Wafda menepuk jidat nya.


"ternyata kamu lucu juga" gumam adit.


Mereka pun menyudahi obrolan nya, lalu pergi ke depan rumah untuk menemui ziah dan vano.


"nih bang obatnya" wafda mengulurkan obat yang di genggam nya.


"obatin kek, udah tau abang nya lagi sakit" oceh vano.


"kan ada teh ziah, iya kan teh?" dengan enteng wafda menjawab.


"i-iya, biar saya saja yang obatin, lagian ini juga kan salah saya, gara-gara pak vano nolongin saya, bapak jadi celaka gini" ziah salah tingkah.


"wafdaa" gumam vano dengan geram pada adik sepupunya itu.


"apa bang? Ohh abang mau berduaan aja sama teh ziah.? Oke-oke kita masuk ke dalam ya!" dengan jahil wafda berkata. Vano hanya mengdengkus kesaal.


"mas ayo masuk, kamu kan belum ketemu hawa" wafda menarik tangan adit, dan adit pun manut saja.

__ADS_1


"ternyata kamu jahil juga ya" ucap adit. Wafda hanya terkekeh


"aku sama bang vano itu deket banget mas, jadi aku udah gak ngerasa sungkan lagi" ucap wafda.


Ziah mengobati luka pada pipi vano, sesekali vano meringis kesakitan.


"aaauuwwwh, pelan-pelan dong bu" ringis vano.


"ini juga pelan-pelan pak, bapak aja yang manja" ucap ziah dengan acuh tak acuh, vano sesekali memegang pipi yang sedang di obati ziah, hingga tak sengaja vano memegang tangan ziah, mereka pun saling bertatapan.


"makasih udah mau obatin luka saya" ucap vano.


"kembali kasih, pak vano juga sudah melindungi saya, sampai-sampai bapak yanh celaka, seharusnya bapak tidak perlu berlebihan seperti ini pak!" lirih ziah.


"bisa gak kamu kalo di luar sekolah gak usah panggil bapak, saya itu bukan bapak moyang mu!" vano merasa kesal, karna ziah selalu menyebutnya bapak.


"terus mau nya di panggil apa?"


"apa aja, sayang juga gak papa" gumam vano, namun masih bisa di dengar oleh ziah. Tapi ziah tak menanggapi nya.


"saya harus pulang,karna takut bunda khawatir" ucap ziah


"biar saya antar" ajak vano, namun ziah menggeleng cepat.


"gak usah, lagian kan orang itu gak mungkin ngikutin aku lagi, lagi pula udah deket kok, lebih baik kamu istirahat sejenak" tolak ziah dengan lemah lembut,vano pun tak bisa berbuat apa-apa.


***


Vano sekarang sudah berada di kamarnya, ia mengepalkan tangan nya,ia tak menyangka kamila akan berbuat nekad, saat vano sedang emosi, tiba-tiba saja hp nya berdering.


Dreeeettttt.... Dreeeeetttt. Vano mengambil ponsel nya dan melihat siapa yang menelpon nya, ternyata nomor kamila. Vano segera mengangkatnya.


"mau apa kamu hah? jangan pernah berbuat mancam-macam pada ziah, kalo kamu masih nekad kamu akan menerima akibatnya" ancam vano, tanpa basa basi vano langsung melampiaskan amarahnya. Namun kamila dengan tenang menjawab.


"hahahaahaaa, apa saya tidak salah dengar vano? Bukan saya yang akan menerima akibatnya, tapi KAMU!, karna kamu sudah berani mempermalukan saya di depan banyak orang, jangan harap kamu bisa hidup tenang vano, termasuk kekasih mu itu!" ancam kamila tak kala sengitt


"saya akan melakukan apapun,vano bagi saya hal yang mudah untuk melenyapkan wanita itu, kalo kamu gak mau wanita itu celaka, maka kamu harus kembali dengan ku" ucap kamila.


"jangan harap, saya mau kembali dengan mu wanita mur*han, kamu gak akan bisa mencelakai tunangan saya, ingat itu kamila" emosi vano semakin membuncah, ia mematikan ponsel nya, ia sudah jengah dengan ancaman-ancaman yang kamila berikan.


***


"kita lihat saja vano, saya yang akan turun tangan sendiri untuk melenyapkan wanita mu itu, saya siap menerima semua akibatnya, sekalipun saya harus mendekam di penjara, setidak nya saya merasa cukup bahagia karna dia lenyap hahahahaha" racau kamila seperti orang depresi.

__ADS_1


"ancaman kamila tentunya tidak main-main, aku harus benar-benar menjaga ziah, aku tak ingin kehilangan ziah" lirih vano, dalam hatinya sangat menyesal kenapa ia melakukan hal bodoh,kenapa ia mau saya mengikuti ajakan kamila untuk menemuinya dengan ziah. Vano sangat tak ingin kehilangan ziah, ia sudah sangat menyayangi ziah.


"aku janji dan akan ku buktikan, aku akan selalu menjaga mu zi"


__ADS_2