
Setelah mereka berdua pergi dinner, mereka kini terlihat semakin dekat, mereka layaknya seperti pasangan suami istri yang sedang membesarkan anak nya dengan penuh kasih sayang. Sekarang mereka sering pergi keluar bertiga, banyak orang mengira kalo mereka pasangan suami istri,padahal nyata nya bukan, wafda hanya seorang pengasuh yang adit bayar setiap bulan nya.
"makasih ya mbak, mbak tlah menemani hari-hari saya dengan hawa, dulu saya berfikir sudah tidak ada artinya lagi, saya hidup karna sebagian raga ku tlah hilang semenjak perginya rinayah istri saya, namun mbak menyadarkan saya, hidup dalam keterpurukan hanya akan membuat kita sengsara." ucap adit pada wafda. Lalu menatap wafda sekilas. Ada rasa bahagia menyelinap di kalbu wafda, namun segera wafda tepis,karna wafda tahu cinta adit pada rinayah tidak akan berkurang sedikitpun.
"rinayah memberi pesan pada saya dalam secarik kertas, jika ia tlah tiada,ia ikhlas jika saya menikah lagi, namun dengan syarat wanita tersebut bukan hanya menyayangi saya, namun menyayangi hawa pula, namun dulu aku bersikeras untuk tidak menikah dengan siapapun sebelum hawa beranjak dewasa, egois bukan? Ya saya memang ayah yang egois, yang tidak mementingkan kebahagiaan hawa, padahal hawa sangat membutuhkan sosok seorang ibu," adit terus saja bercerita pada wafda, wafda menjadi pendengar setia adit, sebenarnya ada rasa sakit di dalam hati wafda, namun wafda tidak berhak untuk cemburu.
" sesakit inikah mencintai tanpa di cintai?" gumam wafda dalam hati.
"kenapa kamu diam saja?" tanya adit melirik ke arah wafda.
"lalu saya harus bagaimana pak?" tanya wafda.
"saat ini saya sedang mencintai seseorang, namun wanita itu ntah mencintai saya atau tidak, karna semenjak saya membuat kesalahan padanya, kini dia berubah pada saya" mendengar penuturan adit, membuat lidah wafda terasa kelu, ntah kenapa ketika adit berkata demikian hati nya begitu sangat sakit.. Mata wafda sudah mulai memanas, ingin sekali ia menangis, namun ada adit di hadapan nya.
"maaf saya izin ke toilet sebentar" ucap wafda. Adit mengganggukan kepala. Wafda berlari kecil,air matanya sudah mulai berjatuh. Sesampainya di toilet ia tumpah kan air matanya. Tubuh wafda tergoncang karna menangis.
"kenapa aku begitu terlalu berharap ya allah, dan pada akhirnya aku merasakan kecewa," lirih wafda. Setelah wafda puas menangis ia membasuh mukanya dan menarik nafas dalam-dalam,. "Huuuufffs"
Wafda berjalan gontai menuju hawa dan adit, sebenarnya ia malas untuk bertemu adit lagi, jika ia melihat adit hatinya akan terasa begitu sesak..
"lama banget ke toiletnya, hawa nyari-nyari kamu dari tadi" ucap adit, wafda tak menjawab ia berjalan mendekati hawa.
"nak kita pulang ya, besok kita main lagi" ajak wafda pada hawa,ia tak ingin lama-lama berdekatan dengan adit. Hawa mengangguk.
"sini sayang aya gendong" ajak adit namun hawa menolak.
"mamah.. Mamah" ucap hawa dengan khas suara bayi.. Wafda pun menggendong hawa, ia berjalan mendahului adit.
"wafda kenapa ya, kok sikap nya kaya gitu setelah dari toilet?" gumam adit dalam hati, padahal ia ingin mengutarakan isi hatinya untuk meminang wafda.
Wafda masuk ke dalam mobil namun ia duduk di belakang hal tersebut membuat adit semakin bingung, dengan sikap wafda.
"saya itu bukan supir" ucap adit, namun wafda tak menggubris ucapan adit.
"bisa kan pindah ke depan?" ucap adit kembali namun wafda tetep diam. Akhirnya adit turun dari mobil dan pindah ke belakang tepat di samping hawa dan wafda. Wafda mendelik.
__ADS_1
"trus mobilnya kapan maju kalo gak ada supirnya?" ucap wafda jengkel
"biarin aja, lagian kamu kenapa sih? Kesambet apa kamu sepulang dari toilet kok berubah jadi jutek masam gitu," tanya adit membuat wafda tertegun.
"dan kayanya kamu habis nangis ya? Pantas saja kamu di toilet nya lama banget" ucap adit kembali.
"pak saya ingin segera pulang kasihan hawa,dia sudah lelah"ucap wafda mengalihkan pembicaraan.
"makanya kamu pindah ke depan" ucap adit, tak ada pilihan lain akhirnya wafda pun menurut untuk pindah ke depan.
Di sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut antara keduanya, wafda masih tak ingin bicara pada adit, mereka sibuk dengan fikiran nya masing-masing.
Sesampainya di rumah wafda turun dengan tergesa, ia meninggalkan adit begitu saja.
"gagal deh, tadinya kan mau ngomong srius sama wafda." gumam adit yang di dengar oleh wafda, meski pun pelan namun wafda mendengarnya.
Wafda memberhentikan jalan nya lalu menoleh ka arah adit. " mau ngomong serius apa? Mau nanya kalo calon bapak bisa nggak ngadapetin hati hawa? Atau bapak mau nanya sebaiknya apa yang harus bapak berikan untuk calon bapak?" tanya wafda ketus, adit semakin di buat bingung oleh sikap wafda.
"kamu kenapa sih? Kok jeles gituu? Oooohh atau kamu cemburu ya sama saya?" selidik adit, wafda langsung salah tingkah dan glagapan.
"makanya kalo saya ngomong itu dengerin dulu mbak, jangan maen pergi-pergi aja kaya tadi" ucap adit santai. Wafda bingung apa yang di maksud adit, memang tadi dia pergi pas saat adit sedang berbicara pada wafda.
"saya mau ke kamar, kasian hawa kalo gak di tidurin" ucap wafda mengalihkan pembicaraan.
"kamu beratkan dari tadi gendong hawa sini biar saya yang bawa hawa ke kamar" ucap adit lalu mengambil hawa dari pangkuan adit, tak sengaja mereka saling tatapan, hal tersebut membuat keduanya merasakan getaran-getaran yang tak biasa. Namun sedetik kemudian wafda mensudahi pandangan itu, lalu memberikan hawa pada adit.
"merah banget muka nya" ucap adit, wafda tak menggubris perkataan adit,ia jantung nya masih berdetak tak beraturan.
"hobinya cuman bikin jantung orang copot dari tempatnya saja"gerutu wafda dalam hati.
Hari sudah menjelang sore, wafda sedang masak dengan menu alakadarnya, wafda memang wanita yang tak bisa diam, seringkali bu nilam menyuruhnya untuk istirahat saja,namun wafda menolak ia lebih senang waktu luang nya itu di gunakan untuk masak atau tidak untuk membuat cemilan alakadarnya, dan sering juga ia menanam bunga di taman halaman belakang rumah adit.
"kamu itu habis jalan-jalan momong hawa, apa kamu gak mau istirahat mbak?" tanya bu nilam. Wafda tersenyum.
"barusan juga wafda udah berusaha meremin mata bu, tapi gak bisa, yaudah wafda ke dapur dan kebetulan di dapur belum ada untuk nanti makan bu" ucap wafda ramah.
__ADS_1
"ya kalo istirahat gak harus tidur ba, maen hp, nonton atau apalah gitu" ucap bu nilam.
"wafda lebih senang di dapur bu" ucap wafda..
Masakan pun tlah selesai,wafda pun membersihkan bekan masaknya dan langsung ia cuci, namun saat sedang asyik ia mencuci prabot kotor bekas ia memasak, wafda di kagetkan dengan kehadiran adit.
"udah beres masaknya?" tanya adit tiba-tiba membuat wafda kaget. Dan mengucap istighfar.
"ya allah pak, bisa gak sih gak usah bikin saya kaget mulu, bisa-bisa saya jantungan ini" gerutu wafda, adit tersenyum,
"mbak ada hal penting yang ingin saya bicarakan pada mbak" ucap adit serius.
"ya bicara saja pak" ucap wafda tanpa menoleh ka arah adit, ia masih sibuk dengan cucian kotornya.
"ya nggak bisa di sini lah" ucap adit
"trus? Bapak gak liat saya sedang kerja?" tanya wafda.
"ya liatlah kan saya punya mata, ya sudah saya tunggu saja di meja makan, nanti kalo udah selesai baru di ke taman belakang" ucap adit, lalu pergi menuju meja makan. Hingga beberapa menit kemudian akhirnya wafda selesai mencuci piring nya.
"alhamdulillah akhirnya beres juga" ucap adit, tanpa permisi adit menarik tangan wafda dan membawa nya ke taman yang ada di belakang rumahnya.
"lepasin pak" ucap wafda, sambil menarik tangan nya. Tanpa basa basi lagi, karna adit takut hawa bangun nantinya bisa gagal lagi rencana nya, adit langsung berjongkok mengahadap wafda dan mengeluarkan benda kotak yang di dalam nya adan cincin.
"maukah kau menjadi ibu dari anak ku?" tanya adit sambil membuka kotak tersebut. Wafda di buat terdiam seribu bahasa oleh adit, ia tak dapat menjawab pertanyaan adit, hanya air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
Wafda tak menyangka ternyata wanita yang di ceritakan adit adalah dirinya,
"bapak tidak sedang becanda kan?" tanya wafda di sela isak tangisnya.
"tentu saja tidak, jawab sekarang kamu tau kan aku orang yang tidak suka menunggu lama?" jawab adit. Wafda tak mampu berkata-kata, ia tanpa sadar menganggukan kepala.
"jadi kamu terima aku?" tanya adit serius, lagi-lagi wafda menganggukan kepala, dengan reflesk adit memeluk wafda.
"terimakasih" ucap adit.
__ADS_1