Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
37. Ngajak dinner


__ADS_3

"memang ibu tidak keberatan menjaga hawa?" tanya adit. Sang ibu tersenyum, "hawa anak yang anteng, dia nggak rewel kamu gak usah mikiran hawa, mungkin dengan cara itu, wafda bisa memaafkan mu,lagi pula kamu kok ngomong gitu sama wafda" tanya sang ibu, adit tertegun, apakah wafda cerita pada bu nilam, hingga bu nilam mengetahuinya?


Bu nilam menepuk pundak adit. "jangan berfikir yang aneh-aneh sama wafda, wafda gak cerita apa-apa sama ibu, tapi ibu tau" ucap bu nilam, seakan tahu apa yang di fikirkan adit. " ibu mendengar ucapan kamu tadi pagi dit" lanjut bu nilam.


"Tapi adit gak ada niatan buat bikin wafda sakit hati bu" ucap adit.


"ibu tau nak, tapi mungkin pas kamu berbicara demikian mood wafda sedang tidak baik-baik saja, kamu ingat kan kalo almh. Mediang istri kamu sedang mood nya tidak baik, apapun yang kamu ucapkan akan salah di mata dia?" tanya sang ibu mengingatkan, adit berfikir sejenak. Melihat sang anak yang melamun sang ibu menepuk pundak putranya itu.


" wanita itu rata-tata sama dit, kalo mood nya lagi kurang baik akan berlaku demikian,mungkin kalo ibu jadi wafda pun. Ibu akan melakukan hal yang sama" ucap sang ibu.


"baiklah bu, akan adit coba untuk ajak wafda keluar" jawab adit, yang di angguki nilam.


Ketika wafda sedang asyik bermain dengan hawa, tiba-tiba saja adit dan ikut nimbrung bersama wafda dan hawa, sekilas hawa melirik ke arah adit, lalu mengalihkan nya kembali.


"biasa aja kali liat nya!" sindir adit, membuat wafda membulatkan mata dan melihat adit dengan tajam.


" ini udah luar biasaaaa!" jawab wafda betus, adit terkekeh, ternyata kelakuan wafda tak jauh dengan kelakuan mediang istrinya kalo lagi marah.


" kamu itu kalo lagi marah sama seperti mediang istri saya" ucap adit, membuat wafda kembali menoleh ke arah adit, namun ntah kenapa di dalam hati nya terasa nyeri, ketika adit membandingkan nya dengan almh. Rinayah.


"ternyata dia belum bisa melupakan mediang istrinya, wafdaa. Wafdaa PD sekali kamu, bahwa pak adit menyimpan rasa padamu, hanya karna dia meminta maaf pada mu" gumam wafda dalam hati.


"hawa sayang, hawa tunggu dulu sama nenek ya nak, ayah sama mbak mau pergi dulu sebentar" ucap adit lembut sambil membelai rambut hitam pekat milik hawa. Namun dengan cepat hawa menggelengkan kepala nya, lalu berdiri dan memeluk wafda.


"pak, bapak jangan bikin hawa nangis karna menakut-nakuti hawa kalo saya akan pergi," ucap wafda dengan nada kesal.


"saya tidak bermaksud menakut-nakuti hawa, tapi memang saya ingin ngajak kamu ke suatu tempat" ucap adit.


"suatu tempat?" tanya wafda, adit menganggukan kepalanya.


"saya tidak bisa,kasian hawa di tinggal sendirian" ucap wafda. Tidak mau

__ADS_1


"hawa tidak sendiri masih ada nenek nya kok" ucap adit santai.


"ibu itu sudah semakin tua,tidak seharus nya dia mengurus hawa, apakah bapak berniat akan memisahkan saya dengan hawa?" tanya wafda dengan menitimidasi. Adit menggeleng cepat.


"kamu jangan asal nuduh gitu, saya gak ada niatan begitu" ucap adit membela dirinya, di saat dua sejoli itu bersitegang, adut mulut tiba-tiba bu nilam datang.


"sudah-sudah, cukup apakah kalian tidak sadar di antara kalian ada hawa?" tanya bu nilam, mereka pun diam bungkam. Wafda memeluk hawa dan meminta maaf.


"maafin mbak ya nak,mbak udah bikin kamu takut sayang" ucap wafda dengan menghujani ciuman pada hawa. Wafda menangis karna menyesali perbuatan nya.


"bu jangan pisahkan saya dengan hawa, saya sudah sangat sayang pada hawa" di sela tangisnya, sambil mendekap tubuh mungil hawa. Melihat kasih sayang yang begitu tulus dari wafda bu nilam semakin ingin menjadikan wafda ibu sambung hawa.


"siapa yang akan memisahkan kamu dengan hawa mbak?" tanya bu nilam, wafda menyeka air mata nya.


"lalu kenapa tadi pak adit berbicara pada hawa akan mengajak saya pergi? Biasa nya juga pak adit tak pernah mengajak saya pergi, saya takut pak adit menyuruh saya pergi untuk meninggalkan hawa" ucap wafda. Bu nilam tersenyum.


"gak ada yang nyuruh kamu pergi, lagi pula hawa sudah sayang sama kamu, sudah nyaman lihat saja, melihat kamu menangis hawa pun ikut menangis, hawa dengan mu seperti ada magnet di dalam hati kalian yang sulit untuk di pisahkan" ucap nilam tulus.


" adit mengajak kamu pergi, mungkin ingin kamu menghilangkan penat mu sejenak, karna setiap hari kamu mengurus hawa, apalagi kamu baru sembuh,kali aja kalo jalan-jalan sejenak kamu bisa lebih fress" ucap nilam kembali, namun wafda menolak dengan halus.


"tapi saya tidak suka penolakan" ucap adit dingin dan menekan ka suaranya. Lalu wafda menoleh.


"saya akan pergi tapi saya akan membawa hawa" ucap wafda.


"biar hawa ibu yang urus mbak, lagi pula kan adit ngajak mbak jalan tanpa harus di bebani hawa" ucap bu nilam.


"tapi hawa bukan beban bagi saya bu" ucap wafda tetap kekeuh ingin membawa hawa.


"apa mbak tidak boleh jika saya ingin menghabiskan waktu berdua dengan hawa?" tanya bu nilam dengan nada sedih, hawa pun tertegun, ia tak ssharusnya bersikap seperti itu, sesayang apapun ia pada hawa namun ia tak ada hak untuk menguasai hawa.


"bu-bukan maksud saya seperti itu bu," ucap wafda lirih.

__ADS_1


"kalo begitu kalian pergi berdua saja, bersiap-siaplah, biarkan hawa di urus sama ibu" ucap bu nilam.


Akhirnya tak ada pilihan lain, daripada wafda harus menyakiti hati bu nilam,lebih baik wafda menurut saja untuk ikut pergi dengan adit.


"kalo begitu saya siap-siap dulu" ucap wafda. Sebenarnya wafda malas sekali pergi keluar rumah, namun ya mau gimana lagi? Daripada nantinya jadi masalah.


Setelah beberapa menit adit menunggu akhirnya wafda keluar dari kamarnya, adit yang sedari tadi menunggu di depan teras, di buat terpana oleh kecantikan wafda, ia keluar dengan memakai baju berwarna biru toska dengan kerudung senada, membuat aura cantiknya semakin terpancar.


"pakk" panggil wafda, namun adit tak mengindahkan panggilan wafda. Akhirnya wafda pun sedikit meninggikan suara nya.


"Paaaakkkk" panggil wafda, akhirnya adit tersadar dan malu.


"kamu kalo manggil biasa aja kali saya juga denger" ucap adit ia berusaha menghilangkan rasa gugupnya.


"saya dari tadi manggil bapak, tapi bapak gak jawab mal cengo liatin saya" ucap wafda, yang membuat adit malu dan salah tingkah.


"yasudah ayok kita jalan" ajak adit sambil menarik tangan wafda. Wafda hanya terdiam pasrah saat adit menarik tangan nya. Dalam hati ia merasa bahagia, namun rasa bahagia itu ia tepis sejauh mungkin, ia tak ingin terlalu berharap pada lelaki seperti kulkas 5 pintu itu.


Sesampainya di tempat tujuan,adit mengajak wafda turun, wafda nurut saja.


"ayok turun udah sampe" ucap adit. Wafda pun turun.


"suka gak tempatnya?" tanya adit. Mata wafda di buat takjub dengan pemandangan yang sangat indah.


"sangat suka" ucap wafda jujur.


"yasudah ayok" ajak adit, wafda pun membuntuti adit dari belakang. Wafda baru pertama kali di ajak ke tempat indah seperti itu, karna memang wafda perempuan rumahan, yang malas untuk keluar main-main, ia lebih senang menghabiskan waktu di rumah saja.


" kamu pernah kesini?" tanya adit. Wafda menggelengkan kepala.


"ini pertama kali saya kesini, indah sekali tempatnya pak" puji wafda.

__ADS_1


Makanan pun tlah di antarkan oleh pelayan, mereka menikmati makanan dengan di sajikan pemandangan indah, membuat wafda sangat menikmati nya, hingga wafda ingin berlama-lama. Adit trus memandang wafda dengan mengulas senyum.


"manis sekali kalo di senyum" baru kali ini adit memerhatikan wafda dari dekat, ntah kenapa di dalam hati nya ada getaran yang berbeda.


__ADS_2