Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
33. Berperan sebagai seorang ibu


__ADS_3

Hari demi hari tlah wafda lewati sebagai pengasuh hawa. Wafda sangat senang karna hawa termasuk anak yang sangat anteng.


Wafda pun bukan hanya berperan sebagai pengasuh namun ia pun akan terjun ke dapur jika hawa sedang tertidur. Pernah suatu hari wafda pergi ke dapur untuk memasak namun ibu adit melarang nya. Karna tugas wafda di sini hanya mengasuh hawa saja.


"Mbak gak usah ke dapur segala, biar ibu saja yang memasak, kamu seharian mengurus hawa pasti capek, lebih baik kamu istirahat saja nak" ucap ibu adit kala itu, ia merasa tidak enak pada wafda. Wafda hanya membalas dengan senyuman ramah nya.


"nggak papa buk, daripada saya diem, mending bantuin ibu masak, lagian hawa bukan anak yang rewel yang setiap waktu meminta di gendong dia anteng kok, jadi saya tidak merasa kelelahan mengurusnya" ucap wafda, ibu adit merasa terharu, sikap wafda sangat baik dan ramah, sama seperti mediang menantu nya itu yang sangat baik dan menyayanginya.


"kamu seperti mediang istri adit, nak. Beliau orang yang sangaat baik ramah, penyayang dan bersikap dewasa,dari mu ibu seperti menemukan kembali rinayah, yang selalu penuh kehangatan" ucap ibu adit dengan mata berkaca-kaca, wafda bisa merasakan apa yang ibu adit rasakan, sakut sekali rasanya merindukan seseorang yang tlah tiada. Sesegara mungkin wafda memeluk ibu adit.


"Ibu harus kuat, di sini almarhumah istri pak adit tlah menitipkan ibu seorang cucu, yang sangat cantik, sama seperti ibunya, jangan pernah ibu menunjukan kesedihan ibu di depan hawa, karna hawa akan merasakan kesedihan tersebut" ucap wafda dengan lembut. Ibu adit segera menyeka air matanya dan tersenyum.


"Benar apa yang kamu bilang, kita masih punya hawa. Tapi kenapa kamu bisa tau kalo istrinya adit cantik sama seperti hawa? " Tanya ibu adit heran, hawa pun glagapan,


"ma-maaf bu, kemarin kemarin sore waktu saya membereskan pakaian hawa dalam lemari,saya tak sengaja melihat foto di atas nakas pak adit, dan sudah pasti bahwa itu adalah istri pak adit, karna sama persis seperti hawa" ucap wafda gugup, karna takut sang empunya marah dan menyangka bahwa wafda lancang. " sekali lagi saya minta maaf ya bu" ucap wafda tidak enak.


Ibu adit terkekeh " nggak papa kok mbak, kenapa harus meminta maaf? Mbak gak salah, kan memang fotonya berada di atas nakas,pasti orang yang masuk kamar adit bakal tahu foto tersebut." ucapnya


"buuu.." ucap wafda, ibu adit menoleh,dan memberhentikan aktifitas nya mengiris bawang.


"ya ada apa mbak?"

__ADS_1


" apa boleh hawa mulai hari ini tidur bersama saya?" tanya wafda hati-hati. Lalu ibu adit menatap lekat wafda.


"apa kamu tidak keberatan? Atau merasa terganggu?"


"sama sekali tidak bu, itu semua sudah menjadi kewajiban saya sebagai pengasuh" ucap wafda, ibu adit sangaat kagum kepada wafda, meskipu ia masih muda namun jiwa keibuan nya sudah melekat dalam jiwanya.


"kalau memang kamu tidak keberatan,menurut ibu tidak masalah mbak" mendengar penuturan ibu adit, membuat wafda berseri bahagia.


"terimakasih bu terimakasih" ucap wafda sambil melengkupkan tangan nya. Ibu adit mengangguk.


"Kamu jangan takut anak mu kehilangan sosok ibu rin,karna wafda sangat menyayangi putri mu, semoga kamu bahagia di syurga nya allah nak" lirih ibu adit dalam hati.


Setelah mendapat izin dari ibu adit bahwa hawa boleh tertidur bersamanya ia merasa sangat bahagia. Ia menuju kamar nya dan membereskan kamarnya dengan serapih mungkin.


"sayang mulai hari ini kamu bobok sama mbak ya" ucap wafda memperagakan suara bayi, seakan-akan mengerti apa yang wafda uccapan bocah berusia 8bulan itu bertepuk tangan.


"masya allah tabarakallah nak pintar sekali kamu nak,bobok sama mba jangan rewel ya sayang" ucap wafda pada bayi tersebut.


Melihat kedekatan wafda dan hawa bagi yang belum mengenal nya pasti bakal banyak yang menyangka bahwa hawa adalah anak wafda. Wafda sama sekali tidak merasa ke beratan atau pun risih, malah ia dengan senang hati menerimanya.


Apalagi selagi hawa sedang belajar berbicara,tentu saja sama seperti pada bayi umum nya, hal yang pertama ia sebut adalah "mama". Tak jarang hawa memanggil dengan sebutan itu.

__ADS_1


"maaf kan hawa ya mbak" ucap adit kala itu tiba-tiba.


"lho emang nya hawa punya salah apa sama saya?" wafda heran dengan ucapan adit.


"ya karna hawa selalu memanggil mu dengan sebutan mama" ucap adit acuh tak acuh, wafda pun terkekeh.


"sama sekali saya tidak merasa keberatan ataupun marah pak,karna suatu saat nanti pun saya akan menjadi seorang ibu, kalo boleh saya minta sama bapak, biarkah hawa berbicara demikian pada saya, lagi pula saya menyayangi nya, tanpa karena, saya ikhlas mengurus hawa, selagi saya mampu pak" wafda berbicara demikian memang benar-benar tulus dan ikhlas, ia tak pernah berharap apapun,pada siapun, bukan karna ia ingin terlihat menjadi pahlawan atau pun apa, namun memang benar adanya ketika pertama kali wafda melihat hawa hatinya langsung merasa terenyuh, " malang sekali nasib mu nak, bayi sekecil mu harus di tinggalkan ibumu, semoga kelak kau menjadi wanita sukses tangguh, dan sholihah ya nak" lirih wafda dalam hati, ketika pertama kali melihst hawa.


Melihat ketulusan wafda membuat hati adit semakin lega. " terimakasih ya allah engkau tlah kirimkan malaikat berwujud manusia pada anak hamba" lirih adit dalam hati, ia sangat-sangat merasa bersyukur. Karna hawa tak kehilangan sosok seorang ibu,sekalipun kasih sayang ibu tak kan pernah ada yang bisa gantikan setidaknya hawa masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu.


"Terimakasih karna tlah menyayangi anak saya" ucap adit merasa terharu.


"iya pak, oh iya mulai sekarang biarkan hawa tidur dengan saya saja pak, jadi saya bisa tau jika hawa meminta minum susu, bapak istirhat saja yang tenang, sudah lama bapak mengurus wafda setiap malam, jadi sekarang biarkan saya yang mengurusnya" ucap wafda. Hal tersebut membuat adit terkejut, kok ada seorang pengasuh yang sangat baik sebaik wafda, padahal ia juga butuh istirahat, tapi karna kebaikan hatinya ia rela menemani hawa siang dan malam.


"Tidak perlu, saya tau kamu itu capek dari siang ngurus hawa, apalagi sekarang kamu sering masak di dapur pasti kamu sangat lelah bukan?" wafda terkekeh.


"nggak papa kok pak, banyak di luar sana seorang ibu berperan seperti itu, lagi pula saya juga sedang belajar, supaya tidak terlalu kaget kalo suatu saat nanti saya berumah tangga" ucap wafda.


"yasudah kalo itu mau mu, kalau tidak merepotkan silahkan" ucap adit, sama hal seperti tadi wafda kegirangan senang.


"terimakasih ya allah engkau tlah kirimkan pengasuh sebaik dan sesayang wafda, dek lihatlah anak kita, tumbuh dengan sehat, ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, walaupun kasih sayang mu takan bisa tergantikan setidak hawa bisa merasakan nya" lirih adit merasa terharuu.

__ADS_1


Mohon maaf ya untuk pembaca cerita saya, cerita nya masih gak nyambung acak-acakan,masih pemula, mohon dukungan nya ya man teman-temannn,


__ADS_2