
"A ayok kita sarapan dulu" ajak zahra pada suaminya.
"Iya teh sebentar, lagi pake baju dulu" jawab agung, zahra pun masuk ke dalam kamar.
"Kirain udah dari tadi selesai a" zahra menggelengkan kepala, karna sebelum ia pergi ke dapur sudah menyuruh nya mandi.
"Hehehehe kan disini dingin bangett teh, lagi pula kan kalo berangkat sekolah dari sini gak usah terlalu pagi" ucap agung sambil cengengesan.
"Yasudah ayok cepetan, abi sama ummi udah nunggu"
"Iya sayang, ini kan kancingin bajuu, makanya dong suami nya lagi pake baju bantuin ke kancingin baju nya" ucap agung manjaa.
"Heemm biasanya juga sebelum nikah bisa pake sendiri kenapa sekarang jadi manja ya?" tanya zahra meledek.
"Kan kalo udah punya istri sama bujang beda sayang" ucap agung,ingin menang sendiri,tak ingin menunggu lebih lama, zahra pun membantu mengkancingkan baju agung.
"Udah, adududuh ganteng bangeeet suami zahra ini" zahra menggoda suaminya.
"Baru sadar ya kalo punya suami ganteng?" agung menaik turunkan alis nya.
"Isssh udah ah, ayo kasian umi sama abi nungguin lama"ucap zahra, agung pun menuruti ucapan istrinya, dan mengekor sang istri dari belakang..
Sesampai nya di meja makan, agung di persilahkan duduk oleh sang istri.
"Maaf, umi abi nunggu laamaa" ucap agung masih merasa sungkan pada mertuanya itu.
"Nggak papa ko gung" ucap sang ayah mertua.
"Ayo kita makan, nanti keburu dingin ini masakan nya" ucap sang ibu.
Setelah makan selesai, agung dan zahra masih bersantai, karna jarak rumah dan sekolah memang dekat, jadi mereka bisa bersantai-santai ria.
"Gung, zah hari ini sekolah kita akan kedatangan guru baru" ucap sang ayah.
"Guru baru bii? Memang nya sekolah kita masih kekurang guru ya bi?" tanya zahra heran, karna ia berfikir guru di sekolah tempat ia mengajar sudah lebih dari cukup.
"Memang nya kamu belum tau? Kalo istrinya adit, bakalan cuti untuk beberapa bulan kedepan, dan mulai hari kemaren dia sudah tidak mengajar" ucap sang ayah.
"Oohh bu rinayah mau berhenti dulu ngajar bi, kirain zahra kemaren bu rinayah gak masuk. Cuman hari kemaren aja, ternyata seterusnya toh"
" Terus guru baru nya orang mana bi? Apa abi kenall? " tanya zahra sedikit kepo.
__ADS_1
"Tentu saja abi kenal zah, dia anak teman abi, yang ada di kelurahan boyongsari. Yang pernah berkunjug main kesini. Zahra hanya menggut-manggut saja, meskipun ia tidak tahu, karna orang yang datang kerumah nya bukan hanya satu atau dua orang.
"Trus bi, kalo dari kelurahan lain,gimana kan jauh bi, bisa memakan waktu lama" zarha bertanya kembali.
Sang ayah tersenyum. " Untuk sementara dia akan tinggal di sini,kan di pondok masih ada kamar, ustadz yang masih kosong" ucap sang ayah.
"apakah beliau datang hari ini bi?" agung ikut nimbrung dan percakapan mereka.
"Iya hari ini dia kesini,"
"Laki-laki atau perempuan bi?" tanya zahra.
"Laki-laki atuh neng, kan tadi abi bilang ada kamar ustadz yang kosong, masa perempuan tidur di kamar laki-laki" ucap sang ayah.
"Hehehe maaf abi, zahra tidak terlalu menyimak" sang aya menggelengkan kepalanya.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol,terdengar seseorang di luar mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang dari luar.
"Waalaikumsalam," ucap mereka serempak.
"Biar zahra yang buka pintu bi" ucap zahra, zahra pun berjalan menuju pintu dan hendak membuka pintu, saat pintu sudah terbuka lebar zahra sedikit terkejut, ternyata yang datang adalah laki-laki yang ingin pernah meminang nya.
" Bi ada tamu" ucap zahra.
"Ya allah nak vano, apa kabar nak? Makin gagah saja kamu" ayah zahra memuji laki-laki yang ia sebut vano.
"Alhamdulillah kabar saya baik kang" ucap laki-laki tersebut dan mencium tangan ayah zahra dengan ta'dim.
"Gung kenal kan ini vano, anak temen abi, dan vano kenalkan ini agung, menantu akang" ucap sang guru. Lalu agung dan vano berjabat tangan.
"Vano" ucap vano
"Agung" jawab agung.
Sedengkang mulut zahra masih tertutup rapat, ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan orang yang pernah ia tolak.
"A, ayo kita berangkat takut kesiangan" ucap zahra tergesa, agung memperhatikan istrinya itu, zahra seperti tidak nyaman.
"yasudah ayo, bi kami berangkat dulu" ucap agung.
__ADS_1
"kalian berangkat bareng saja, kasian takut nya vano gak tau jalan, abi gak bisa antar karna ada pengajian, lagi pula abi sudah berbicara kepada kepala sekolah kita" ucap sang ayah, agung dan zahra pun menganggukan kepala.
"mari a" ajak agung,vano menganggukan kepala.
"Apakah aa bawa kendaraan?" tanya agung kembali.
"Iya saya bawa, memang nya mau pake motor a?" tanya vano,
"iya a biar lebih cepat" jawab agung, zahra sama sekali tidak bersuara, ia benar-benar merasa tidak enak sekaligus tidak nyaman.
Mereka pun pergi ke sekolah bersama, sesampainya di sekolah banyak sekali para murid memandang ke arah mereka, lebih tepat memandang vano..
"masya allah pangeran dari mana inii?" ucap salah satu murid dengan mata tak mengedip, banyak murid yang berbisik-bisik dan memuji ketampanan wajah vano.
Sesampai di ruang guru pun sama, para guru tenganga melihat ketampanan vano, tanpa kecuali ziah, ziah amat sangat cuek, meskipun banyak guru yang memuji ke tampanan vano, tapi tidak dengan ziah,
"asslamu'alaikum, ibu bapak, perkenal kan ini pak vano guru baru di sini, yang menggantikan bu rinayah, silahkan pak perkenal kan nama bapak" agung mempersilahkan,vano untuk memperkenalkan dirinya.
"assalamu'alaikum, semuanya" semua orang yang ada di ruang guru menjawab serempak.
"Perkenalkan nama saya zevano alhusayn atho'illah," ucap vano memperkanalkan dirinya.
Zevano alhusayn atho'illah, nama yang indah bukan? Seindah wajah nya, vano memiliki kulit sawo matang, dengan hidung bangir bak perosotan anak-anak,dengan alis yang sedikit tebal, dan mata yang agak sipit, dan memiliki badan yang atlentis,tinggi,berisi, jika tersenyum, senyuman nya sangat manis,membuat siapapun terpesona, akan ketampana wajah zevano.
"Masya allah nama yang indah, se indah wajah nya" ucap salah satu guru. Tak sedikit orang meng iyakan perkataan guru tersebut, kebanyak guru bertanya-tanya pada vano,
"pak apakah sudah menikah?" tanya lagi seorang guru.
"belum pak" jawab vano ramah.
"aduuhh kalo saya punya perawan mau, saya jadiin mantu deh pak vano" ucapnya lagi.
Semua orang yang ada di sana tertawa,
"Ya allah bu, jangan jauh-jauh, di sini juga anak kita adaa" ucap bu rini, dan melirik ke arah ziah,karna memang kebanyakan guru di sini sudah pada tua dan sudah menikah, hanya ziah lah yang belum.
"Ohh iya ya bener bu" ucap guru tersebut, di ruang guru pun tiba-tiba menjadi gaduh karna mencoba menjodoh-jodohkan ziah dengan vano,vano yang tidak mengerti hanya tersenyum saja, sedangkan ziah, dia masih dengan posisi awal, cuek acuh, dan tak menanggapi nya, ia hanya tersenyum saja, dan enggan menjawab guyonan merekaa.
Berbeda dengan agung, ntah kenapaa ketika mendengar ziah di jodoh-jodohkan, hati agung merasa sakit dan tidak rela, egois , ya itulah yang cocok di sematkan untuk agung.
"jika seseorang begitu sulit kamu lupakan dari fikiran,bahkan kamu harus berperang sendiri dengan rasamu,keadaan ingin melupakan, tapi hati berkata tak bisa. Fix yang ada di fikiran mu juga punya rasa yang sama."
__ADS_1
"semoga jawaban ini cukup, untuk memperkuat keyakinan, agar tidak salah menentukan pilihan"