
( zahra fov)
Awalnya aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini, karna seseorang yang aku sayangi kini telah bergelar menjadi suamiku, dia memperlakukan ku dengan baik, bak seorang ratu, ia akan selalu membantu semua pekerjaan rumah, sekalipun memasak, akan ia lakukan.
"apapun akan aa lakukan untuk mu, asalkan kamu bahagia" ia selalu berkata demikian, wanita mana yang tak terbuai dengan gombalan-gombalan seperti itu?
Memang sudah sejak lama aku mencintai sekaligus mengagumi ketampanan dan kecerdasan yang kini bergelar suami yang tak lain adalah "agung prayoga" .
Aku kira dia bersedia menikahi ku karna memang dia mencintai, aku kira di hatinya hanya ada nama ku, ternyata aku SALAH!
Dia masih menyimpan nama wanita lain di hatinya yang selama ini aku tak pernah menyadarinya mungkin karna saking aku bucin nya pada suamiku, aku tak menyadari ada hati wanita lain yang mungkin terluka karna melihat aku dan a agung selalu bermesra-mesraan.
Dan bodohnya lagi, aku tau itu semua baru sekarang, setelah pernikahan ku hampir menginjak angka 2 tahun. Pandai sekali suamiku menutupi nya.
Kalau saja di sekolah ku tak ada insiden kecelaan mungkin aku tak akan tahu suami ku pernah menjalin asmara dengan wanita yang menurut ku sangat lah cantik dan anggun, bahkan aku pun sebagai seorang wanita sangat mengagumi nya!.
Jujur saja dia wanita hebat, wanita tangguh, dia menyembunyikan luka dengan senyuman manisnya, hati wanita mana yang tak sakit ketika melihat orang yang masih di cintainya bahkan masih menjalani hubungan tiba-tiba saja menikah dengan wanita lain? Dan setiap hari akan bertemu, butuh waktu lama bukan untuk menyembuhan luka tersebut?
"neng aa mohon jangan siksa aa seperti ini, aa akan mencerita semua nya neng" ucapnya pada ku. Jujur saja hati ini sangat sakit ketika mengetahui bahwa suami yang sangat ku sayangi masih menaruh hati pada wanita lain?
"jelaskan sekarang juga!" tandas ku pada a agung. A agung menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"aa memang pernah menjalin hubungan bersama ziah, hingga sampai akhirnya aa memutuskan menikah dengan mu, aa masih menjalani hubungan, aa memutuskan ziah dengan sepihak....." bagaikan di sambar petir di siang hari,tak kala mendengar ucapan dari suami ku sendiri, bagai nama bisa ia menikahi ku sedangkan ia menjalin kasih dengan ziah?
"jujur saja neng, awalnya aa merasa berat, bimbang dan ragu, tak kala abi meminta aa untuk menikahi mu, di satu sisi aa memiliki kekasih, dan di satu sisi lain aa tak ingin mengecewakan hati abi, karna abi begitu baik pada aa,tapi percayalah neng, saat ini kasih sayang hanya untuk mu zahra ku, sudah tidak ada nama wanita lain yang terpatri di hati aa" air mata ku memaksa untuk keluar, bulir-bulir bening berdesakan keluar membasahi pipi ku.
"jadi aa terpaksa menikahi saya karna aa tak ingin mengecewakan abi, tanpa aa berfikir ada satu hati wanita yang aa sakiti, bahkan ketika saya mendengar semua perkataan aa, saya pun menjadi wanita ke 2 yang aa sakiti, kenapa aa tidak bilang pada saya kalau aa sudah memiliki tambatan hati, kenapa aa menyiksa hati aa sendiri demi menjaga persaan abi a!" dengan suara gemetar dan susah payah aku berkata.
"maafkan aa, neng tapi percayalah aa mengambil keputusan ini bukan hanya ingin mengecewakan abi saja, tapi memang aa sudah memikirkan nya, aa sama sekali tidak ada paksaan dari siapapun ketika menikahi mu neng" a agung bersimpuh di kedua pahaku, ia meminta maaf karna telah menutupi nya selama hampir 2 tahun ini..
"kenapa gak bilang dari awal,kalo aa pernah memiliki hubungan dengan ziah, bahkan bukan dalam jangka waktu sebentar a!" tandas ku.
__ADS_1
"karna aa tak ingin ada masa lalu di antara rumah tangga kita, karna masa lalu hanya akan membuat keharmonisan rumah tangga kita retak, aa sudah melupakan semuanya neng" kilah nya.
"aa bisa berkata bahwa aa sudah melupakan masa lalu, tapi bagai mana kalo teh ziah gak bisa secepat itu melupakan nya, bahkan kita sering bermesraan di depan beliau, kalo saja aa bicara, mungkin saya bisa menjaga prasaan ziah, kita sama-sama wanita a, saya tau bagai mana prasaan ziah,tak kala melihat kita bermesraan" aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan ku.
"saya baru sadar ternyata saya terlalu naif, aa tahu? Sudah beberapa kali dan bahkan sering saya memergoki aa, ketika memandang ziah, bahkan ketika ziah dekat dengan vano pun aa seperti tidak suka,apa kah itu di bilang sudah ingin melupakan masa lalu? Sedangkan melihat dia dengan pria lain pun hati aa merasa cemburu?" aku meluapkan segala emosi ku pada suamiku, ya memang benar aku sering kali melihat a agung mencuri-curi pandang pada ziah, aku kira itu hanya pandangan biasa, namun ternyata itu tak biasa.
Bahkan sampai di titik kemarin ziah, mengalami kecelakaan, betapa sangat khawatir nya a agung pada ziah, bahkan ia berani meninggi kan suara nya, dan meninggalkan ku begitu saja, sakit bukan?
"neng aa sudah menjelaskan semua nya pada neng, memang aa yang salah, sekali lagi aa minta maaf neng" tak ingin emosi ku semakin memuncak, aku memilih berdiri dari duduk ku dan meninggal kan suamiku.
Aku pergi ke rumah ummi dan abi, karna itulah tempat satu-satunya yang membuatku nyaman dan tentram.
"neng mau kemana..? NEEENGGG" a agung terus saja memanggil-manggil ku namun aku tak menggubris nya.
"maafkan saya a, saya hanya ingin menenangkan fikiran saya, tenang saja tak akan ku ceritakan masalah rumah tangga kita pada orang tua ku a" lirih ku,air mata ku terus saja berjatuhan.
Aku pun sampai di rumah ummi dan abi.
Aku mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam, terdengar dari dalam rumah ummi menjawab salam ku.
"waalaikumsalam" ummi ku membuka pintu, ketika melihat wajahnya yang teduh aku langsung mengahambur ke dalam pelukan nya.
"lho zah, kamu kenapa? Suami mu mana? Kenapa malam-malam kamu kesini? Apa kamu sudah izin pada suami mu?" ummi memberondongi ku dengan berbagai pertanyaan.
"zahra rindu kamar zahra mi, zahra bolehkan menginap disini?" tanpa menjawab pertanyaan ummi aku berkata.
"tentu saja nak, rumah ini selalu terbuka untuk mu, tapi apakah suami mu mengizinkan?" aku hanya mengangguk saja, lalu izin pamit masuk ke dalam kamar.
Lagi-lagi aku meluapkan semua emosi, kecewa amarah ku dengan tangisan, ingin sekali rasanya aku berteriak.
"zah boleh umi masuk?" umi mengetuk pintu kamar ku, aku sesegera mungkin menghapus jejak air mataku.
__ADS_1
" masuk saja umi, pintu nya tidak di kunci kok" umi pun masuk ke dalam kamar dan duduk di samping ku, ia membelai rambutku yang di baluti dengan kerudung.
"abi ingin bicara dengan mu nak" dengan suara nya yang lemah lembut ummi berkata, aku hanya mengangguk, aku sudah tau pasti abi akan menasehati ku, memberi wejanngan padaku, aku pun menurut semoga saja hati ku bisa lebih tenang ketika abi memberi ku wejangan.
Aku dan dan ummi pun pergi ke ruang keluarga untuk menemui abi, di sana sudah ada abi sedang duduk.
"sini zah duduk" abi menepuk-nepuk kursi, aku hanya mengangguk.
"apa kamu ada masalah?" tanya abi, aku hanya menatap abi sekilas, terlihat abi menghela nafas.
"abi dan ummi tidak pernah melarang kamu datang ke rumah ini, mau kapan pun kamu datang rumah ini selalu terbuka, tapi bukan untuk pelarian di saat kamu memiliki masalau zah, abi tak ingin putri abi menjadi wanita yang lemah, di mana kalau ada masalah ia lari ke rumah orang tua nya! Abi ingin anak-anak abi menjadi anak yang bijaksana dalam menghadapi setiap masalah, cobalah nak, menyikapi masalah itu dengan ilmu, agar semua masalah cepat selesai, bukan dengan hawa nafsu, karna itu akan membuat situasi semakin huru-hara,abi tak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga anak-anak abi, kamu sudah siap menikah berarti kamu sudah siap menerima semua masalah yang akan selalu datang bergantian, entah itu karna ekonomi, atau bahkan karna masalalu! Yang terungkit kembali, jadi abi minta sama kamu pulang lah, selesaikan dulu masalah mu, jangan pernah lari dari masalah, karna itu tidak akan menyelesaikan masalah" dengan panjang lebar abi memberikan ku wejangan, ketika abi selesai memberi ku nasihat, terdengar dari luar ada yang mengucapkan salam, dan aku sangat mengenali suara tersebut,
"pergilah temui suami mu, abi dan ummi mau istirhat" ucap abi ku,aku pun pergi menemui a agung.
"neng.." lirihnya.
"masuk a"
"sebaiknya kita pulang ya neng" ajaknya, ingin sekali aku menolak, namun ucapan abi masih teringat jelas di telinga ku. Dan aku pun hanya mengangguk pasrah.
Wajah a agung seketika berubah berseri, ada rasa bahagia menghiasi wajah tampan nya,di perjalanan a agung tak melepaskan pegangan nya dari tangan ku.
"masuk neng" ia mempersilahkan ku masuk
"apa kamu masih marah sama aa?" tanpa menjawab pertanyaan nya aku langsung memeluk nya dan menangis.
"maafkan zahra a, tak seharusnya zahra bersikap seperti itu a" sambil terisak aku berkata
"kamu gak salah sayang, ini semua salah aa, karna aa tidak jujur dari awal sama ku" a agung mengusap kepala ku dengan lembut.
Memang benar apa yang di katakan abi, kita harus bisa menerima semua nya, dan sekarang aku akan belajar memaafkan semua kesalahan nya, masa lalu biarkan masa lalu yang akan menjadikan pembelajaran bagi kita...
__ADS_1