
setelah acara lamaran selesai, semua keluarga adit pamit undur diri untuk pulang, semua keluarga menerima dengan legowo, meski ada sedikit desas desus antara adit dan wafda, karna banyak sekali orang yang menyayangkan pernikah wafda dan adit terjadi.
"kok wafda mau ya sama duda, dia kan cantik, bertalenta, padahal banyak bujang juga yang mau sama dia" celetuk salah satu bu ibu yang tak sengaja di dengar oleh adit saat hendak pulang.
"iyaa, kasian banget wafda, ntar abis nikah bukan nya senang-senang malah ngurus anak"timpal si ibu yanng badannya gempal gemuk. Namun ketika ibu-ibu tersebut sedang bergosip ria, ada ibu-ibu yang baik hati menengahi..
"kalian itu ya suka nya ngerumpi terus,ya gak papa atuh wafda mau nikah sama siapa aja,keluarga saya juga tak mempermasalahkan nya, lagian juga ni ya, wafda gak sembarangan nerima kok, meskipun dia duda, tapi dia terlihat sangat tampan dan mapan" ucap saudara wafda dengan geram pada tetangga julid nya itu. Ibu-ibu yang tadinya banyak ngoceh kini diam mati kutu, mungkin mereka fikir adit hanya memiliki wajah tampan saja, tanpa mereka ketahui padahal adit laki-laki yang mapan, ia bisa saja mencari pengasuh kembali untuk hawa, namun wafda menolak keras, karna takut hawa lebih dekat dengan orang lain.
Dari jarak lamaran ke nikahan hanya di jaraki 2 minggu saja, ke 2 pihak tak ingin menunggu lama-lama,jika mereka sudah siap,tunggu apa lagi?.
"zi nanti pas hari H pernikahan aku, kita sewa pengasuh saja ya buat hawa" ucap adit tiba-tiba, ziah mengerutkan dahinya.
"pengasuh?" tanya ziah, adit mengangguk.
"ia pengasuh,supaya kamu gak kerepotan, kaya acara lamaran kemarin" ucap adit.
"yaah gak usah lah bang" tolak ziah.
"bener nih?"
"iya gak usah lah,kemarin itu hawa hanya sedikit terkejut saja bang, karna pas ia bangun banyak orang" ucap ziah.
"oh iya zi, kok bisa ya hawa mau sama pak vano padahal kan ia jarang sekali bertemu bahkan belum pernah, kalau bukan pada saat pak vano mengantarkan wafda" ucap adit.
" iya bang, zi juga heran, pas tau kalau hawa mau di gendong sama pak vano"
"berarti pak vano orang nya baik,dan bisa bikin nyaman" ucap adit melirik ziah.
"kenapa abang liat ke ziah?" ucap ziah menatap tajam adit.
"ya kali aja kamu mau membuka hati kamu buat pak vano" ucap adit. Ziah mendelik
"gak ogah" ucap ziah. Adit tertawa melihat tingkah ziah.
"kamu jangan gitu-gitu amat zi gak baik ah" ucap adit menasehati.
"iya-iya" jawab ziah.
__ADS_1
"Kamu mau mampir dulu ke rumah gak liat hawa?" tanya adit.
"iya mau bang,aku kangen banget sama hawa, sekarang dia udah makin pinter" ucap ziah semuringah. Ziah sangat menyayangi hawa,tak jarang pula ziah selalu memberikan hawa hadiah.
"bang, abang janji ya kalo nanti abang nikah gak boleh pisahin aku dari hawa" ucap ziah kembali.
"iya baweelll" ucap adit. Mereka sedan menikmati makanan di kantin,sekarang ziah lebih dekat dengan adit semenjak kepergian rinayah, dengan zahra pun bisa di bilang dekat, namun tidak terlalu. Karna ziah selalu merasa risih. Jika ada agung di antara mereka, ziah tak ingin membuat zahra sakit hati jika mengetahui nya jika mereka pernah menjalin kasih, masih ia tutup rapat-rapat hingga sekarang sudah hampir 1 tahun.
Hingga suatu hari adit menyadari glagat agung yang tidak beres, agung selalu mencuri-curi padangan pada ziah. Padahal ia tau kalau ada zahra di samping nya, hingga adit sempat menegurnya, adit tak menyangka agung bisa berubah seperti itu, dalam hati adit bertanya-tanya, kenapa ia mau menerima pernikahan tersebut jika hatinya masih mencintai ziah?
"gung, seharusnya kamu sudah bisa lupain ziah, masa kamu mau melukai 2 hati wanita sekaligus, mereka itu wanita baik-baik dan sholehah pulang gung, udah cukup kamu melukai hati ziah, jangan sampai zahra juga terluka karna sikap kamu itu gung, lambat laun zahrs juga akan curiga sama glagat kamu yang suka curi-curi pandang pada ziah, saya tau kamu orang baik dan sholeh, namun kamu belum sepenuhnya ikhlas melepaskan ziah, biarkan ziah bahagia dengan pilihan nya, toh kamu juga sudah bahagia bukan?" tanya adit sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Agung termenung, berkali-kali ia mengucapakan istighfar dalam hatinya, lalu ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"ya allah dit, berdosa sekali saya, karna tlah menikahi seorang wanita sholehah, dan sebaik zahra, namun dalam hati kecil saya masih terselip nama wanita lain, saya tlah mendzolimi istri saya sendiri karna ke egoisan saya dit, bukan tanpa alasan dit, kadang saya merasa sangat bersalah pada ziah, padahal pada saat itu hubungan kami baik-baik saja, tapi percayalah dit, saya mengambil keputusan tersebut tidak sembarangan dit," ucap agung lirih
"saya berteman dengan mu sudah lama gung, saya juga tau, kamu gak mungkin sembarangan mengambil keputusan, maka dari itu, jangan kau sesali keputusan mu, bahagaiakan lah istrimu zahra, dia wanita sholehah, tak sedikit orang yang ingin memilikinya, kamu juga tau kan? Tapi dia lebih memilih kamu sebagai imamnya, sebagai pedamping hidup, maka jangan sampai kamu membuat zahra kecewa dan akhirnya pergi" pesan adit pada agung.
"makasih dit sudah mengingatkan saya," ucap agung, adit mengangguk.
"kita itu sahabat, bahkan seperti sodara. Sudah seharus nya kita saling mengingatkan, jangan lupa nanti ikut anterin aku lho gung" ucap adit.
Stelah mendapatkan nasehat dari adit, agung sedikit demi sedikit sudah sangat ikhlas melepaskan ziah.
Hari yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba, hari ini adit akan mempersunting wanita pilhannya.
"dek doakan mas disini ya, mas janji setelah menikah mas akan berkunjung, ke makam mu" lirih adit, jika adit menyebut nama istrinya, tentu saja ia akan menjadi laki-laki yang cengeng, ia selalu menangis jika mengingat nama rinayah.
Tookkk. Toookk. "dit" sapa dari luar, adit mengusap air matanya.
"iya bu," adit membuka pintu kamarnya.
"sudah siap nak? Orang-orang udah pada nunggu itu" tanya bu nilam
"sudah bu" jawab adit
"lho kamu habis nangis ya?" tanya nilam, mendengar pertanyaan itu ntah kenapa hati adit merasa sedih, ia memeluk sang ibu.
"bu apakah rinayah akan kecewa sama adit?" tanya adit.
__ADS_1
"kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"karna hari ini adit akan mengucapkan janji suci dalam pernikahan, adit fikir adit hanya cukup sekali saja mengiklarkan janji suci itu, namun ternyata..." adit tak mampu melanjutkan perkataan nya.
"nak, mediang istrimu tidak akan kecewa, kamu menikah juga demi masa depan hawa, semakin hawa beranjak dewasa, hawa semikin membutuhkan sosok figuran seorang ibu di hidupnya, rinayah akan bahagia jika melihat kamu dan hawa bahagia" ucap sang ibu lembut. " sekarang kita berangkat ya, kasian mereka udah pada nunggu" ucap bu nilam kembali, adit menganggukan kepalanya.
Keluarga berserta rombongan mengantar adit dengan bahagia, ia bahagia karna akhirnya adit dapat membuka hati nya untuk wanita lain, meski belum sepenuh nya ia dapat menerima wanita lain di hatinya, tapi setidaknya luka adit atas kepergian rinayah sedikit trobati.
Sesampainya di rumah mempelai wanita, adit di sambut dengan sholawat dan suara petasan pun menggema. Lagi-lagi hawa menangis, kali ini ia kaget karna mendengar suara petasan tersebut, akhirnya ziah membawa hawa ke rumah kemarin yang ia singgahi.
"cupp. Cup nak, udah ya nangis nya, suara petasan nya juga sudah gak adaa sayang" ucap ziah. Hawa kali ini tidak lama menangis nya, sekarang ia sedikit tenang, namun saat ziah akan kembali ke tempat yang empunya hajat, tiba-tiba saja kaki ziah terkilir, hampir saja ziah dan hawa yang ada di pangkuan terjatuh. Namun ada tangan yang siap siaga menangkap ziah.
"ya allah. Yaa allah, hawa kamu gak papa nak?" ucap ziah panik ia takut hawa kembali menangis karna terjatuh. Saat ia melihat siapa yang menolong nya ia sesegera mungkin bangkin walau agak kesulitan karna menggendong hawa.
"makanya bu jalan nya hati-hati dan pelan-pelan" ucap vano. Sebenarnya ziah males untuk bertemu dengan vano, tapi kalau gak ada vano ziah dan hawa pasti sudah terjatuh, akhirnya ziah mengucapkan terimakasih pada vano.
" makasih udah nolongin saya" ucap ziah dingin, ia pun pergi meninggalkan vano, namun saat beberapa langkah ziah berjalan hawa menangis dan meminta di gendong oleh vano.
"hawa ingin sama saya, biarkan saya yang gendong" tanpa basa basi lagi vano mengambil alih hawa ke tangan nya.
"ayo nanti acara nya keburu selesai, kaya kemaren pas lamaran" ucap vano, tak ada pilihan lain, akhirnya ziah membuntuti vano dari belakang, banyak sepasang mata menantap ke arah mereka, mereka layak nya seorang suami istri yang sudah memiliki momongan, vano dengan santai berjalan, namun berbalik dengan ziah,ia merasa risih karna melihat orang-orang menatapnya.
Acara akad pun sudah selesai di laksanakana adit dengan tenang dan benar mengucapkan ikrar janji sucinya untuk wafda, mereka yang menyaksikan merasa terharu. Sekaligus bahagia. Wafda keluar dengan di dampingi 2 wanita di sampingnya, ia begitu terlihat cantik dan anggun ketika mengenakan kebaya putih. Sampai-sampai mata adit pun tak berkedip.
Setelah acara inti selesai yaitu akad, sekarang acara melempar bunga untuk para tamu undangan, yang konon katanya kalau bunga itu di dapatkan oleh seseorang yang masih gadis atau pun bujang, mereka akan segera mendapatkan jodoh dan menikah, namun itu ntah benar atau tidak, karna sejatinya, jodoh, mau, rizki sudah allah atur. Kita hanya menunggu nya dan jang pernah luapa berikhtiar dan berdoa. Ya man teman.
Namun siapa sangka, bunga yang di lemparkan ke 2 mempelai di dapatkan oleh vano dan ziah. Ziah bersorak.
"yee aku dapat" ucap ziah girang, namun saat tangan melihat ke atas ada satu tangan lain yang memengang tangan ziah. Refleks ziah melepaskan pegangan bunga tersebut. Semua orang ya ada di sana bersoraakkk..
"yeeeeee. Jangan-jangaan kalian ini jodoh yaa" ucap salah seorang guru yang ada di acara pernikahan adit dan wafda.
" bunga nya di dapatkan oleh 2 sejoli, semoga saja kalau kalian belum memiliki pasangan kalian berjodoh ya, setuju tidak penonton?" ucap seseorang yang menjadi MC di acara pernikahan adit dan wafdaa.
"setuujuuuuuuuuuu" serempaak orang-orang menyetui hal tersebut. Namun ada bebera pasang mata yang tak menyetujuinya. Ntah karna alasan apa. Dan kenapa
"meskipun sakit untuk menerima kenyataan ini, tapi aku ikhlas zi, aku bahagia jika kamu bahagia, mungkin memang selama ini aku manusia yang egois na munafik, karna tlah berpura-pura bisa melupakan mu, namun hati kecil ku selalu berkata tidak, namun sekarang aku sudah sangat iklhas zi, wanita sebaik kamu berhak mendapatkan kebahagian" lirih agung. Ketika melihat ziah dan vano begitu dekat.
__ADS_1