
Di tempat lain seorang wanita yang cantik bak paripurnama, kini hatinya sedang di landa kebahagian. Beberapa minggu lagi ia satu atap dengan seseorang yang selama ini ia idam-idamkan.
"aku nggak nyangka bahwa a agung akan menerima perjodohan ini, semoga saja ini bukan semata-mata karna abi" ucap zahra.
Zahra terus saja memandangi undangan yang cukup mewah dengan warna yang elegan,ia tidak sabar ingin memberikan undangan ini kepada para guru, terlebih pada ziah dan rinayah, karna zahra cukup dekat dengan keduanya, tanpa zahra ketahui, ziah akan kembali terluka jika melihat undangan yang akan ia berikan.
[ a,apakah undangan aa kurang? Kali saja ada keluarga atau kerabat aa yang belum aa undang] pesab chat masuk pada ponsel zahra.
[sudah cukup neng,semua sudah ibu undang,kalo sodara dekat mah cukup sama omongan saja neng] balas agung, jika di tanya bagaimana prasaan agung saat ini, bahagia? Tentu saja bahagia, karna sebentar lagi ia akan meminang seorang zahra wanita yang cantik dan berwajah teduh itu, namun ia juga merasa bersalah kepada ziah, agung berfikir apakah yang di katakan ziah benar kalau ziah hanya pelampiasan agung saja?
Agung segera menepis semua itu
"nggak, saya sama sekali tidak berniat seperti itu, saya memang sangat menyayangi nya bahkan sampai detik ini" gumam agung,
"astaghfirullah,saya sangat dzolim pada ke 2 wanita sekaligus,maafkan hamba mu ini ya rob,saya berjanji akan membahagiakan zahra" gumam agung.
Pagi hari yang cerah menyambut zahra, begitupun dengan hati zahra yang sedang di landa kebahagian, ia tak sabar ingin berangkat ke sekolah dan memberi kan udangan pada teman dekatnya itu.
"mi, zahra berangkat dulu ya" pamit zahra.
Namun sang ibu mengahalanginya," kamu itu belum makan zah, lagian ini masih terlalu pagi buat berangkat," ucap sang ibu.
Zahra hanya tersenyum,memang ini terlalu pagi untuk berangkat, namun zahra sudah tidak sabar.
"hehehe iya mi, zahra udah gak sabar buat ngasih undangan ini, sama bu rinayah dan bu ziah" ucap zahra semuringah.
__ADS_1
"iya umi tau, kamu lagi bahagia, tapi kamu juga harus jaga kesehatan dong zah" ucap sang ibu.
Ketika sedang asyik mengobrol tiba-tiba sang ayah datang.
"pagi-pagi udah rame lagi ngobrolin apa nih?"tanya sang
"ini lho bi anaknya, saking senang nya, mau berangkat sekolah, sampe lupa sarapan" ucap sang ibu mengadu,sang ayah hanya menggeleng-geleng kepalanya.
"hari ini hari trakhir kamu masuk sekolah zah" ucap sang ayah,tentu saja zahra terkejut.
"lho kenapa bi? Kan acaranya juga 2 minggu lagi, kasian dong anak-anak bi" ucap zahra, padahal, kalo ia tidak ke sekolah mana mungkin ia bisa bertemu terus sama agung, 2 minggu kan waktu yang lama.
"ngak papa, nanti akan ada guru baru" ucap sang ayah enteng, jika ayah nya sudah berbicara tidak bisa di bantah, mau tidak mau zahra harus nurut.
"ayok makan dulu, jangan sampai kamu sakit zah" ucap sang ayah, mereka pun menikmati makan bersama.
"yaudah mi,bi, zahra pamit kesekolah dulu ya" ucap zahra sambil menyalami kedua orang tuanya.
"iya hati-hati nak" pesan sang ibu, zahra pun mengangguk, dan ia pergi dari hadapan orangtua nya.
Sesampainya di sekolah, zahra langsu menuju mejaa ziah dan rinayah, karna meja mereka berdekatan.
"bu ziah, bu rinayah, ini untuk bu ziah dan bu rinayah, di tunggu kehadiran nya ya bu, semoga tidak ada halangan" ucap zahra pada ziah dan rinayah.
"insya allah bu, kalo gak ada halangan dan dede utun belum louncing hehe" ucap rinayah, karna kehamilan nya itu menginjak ke 9 bulan.
__ADS_1
Namun berbeda dengan ziah, ia tidak mengeluarkan kata sepatahpun, ia tersenyum pahit, hal menyakitkan bukan, orang yang kita sayang. Akan bersanding dengan orang lain.
"harus nya nama yang ada di undangan ini namaku," lirih ziah, namun cepat-cepat ia beristighfar, kenapa pula ziah harus berfikir seperti itu,
"kamu kan sudah ikhlas zi, jangan begini, ini hanya akan menyiksa perasaan mu saja" gumam ziah kembali.
Rinayah, menyadari perubahan dari sahabatnya itu, ia tau apa yang saat ini sahabatnya rasakan, sangat menyakitkan. Rinayah hanya bisa menggenggam tangan sahabatnya itu,ia harus selalu ada untuk ziah yang kini sedang terluka.
"kamu kuat kamu hebat" bisik rinayah, namun lagi-lagi ziah meneteskan air mata nya,namun secepat mungkin ia hapus air matanya, dan ia segera pamit ke toilet.
Namun saat hendak menuju pintu keluar, ziah berpapasan dengan agung, dan mereka saling betetapan,hal tersebut tentu mebuat hati ziah semakin sakit, sesegera mungkin ziah mengsudahi tatapan nya.
"maafkan saya zi, kamu pasti sudah menangis dan aku tau kamu menangia karna menerima undangan itu" lirih agung. Agung pun sama sakitnya, agung sakit karna melihat seorang ziah yang periang dan ceria, kini ia harus kembali terluka, dan hal itu di sebabkan oleh nya, tak ada lagi senyum ceria di wajah ziah saat ini.
Di toilet ziah menumpahkan tangisnya, ia tersedu, dan meratapi nasib nya yang lagi-lagi gagal dalam menjalin asmara, dan ntah kenapa sekarang hal yang sangaat menyakitkan bagi ziah, ketika dulu ziah di tinggalkan oleh kekasih karna selingkuh ziah masih bisa ceria, girang, walau dalam hatinya ada rasa trauma dan terluka,tapi ia masih bisa tertawa ceria, namun berbeda dengan sekarang, ia sangat sakit, mungkin karna ziah sudah benar-benar nyaman dengan agung.
"BUKAN PERPISAHAN YANG KU TANGISI, TAPI PERTEMUAN YANG KU SESALI, kenapa kita harus bertemu gung, kenapa? Jika akhirnya akan seperti ini, aku tak ingib betemu dengan mu gung" ucap ziah di sela tangiissnya..
Ketika ziah sudah merasa lebih tenang, ziah membasuh mukanya dan memoles kan make up tipis-tipis pada wajahnya agar tidak terlihat bahwa ia sudah menangis,
Ziah kembali ke ruang guru, di sana sudah ada banyak guru,dan sebagian sudah masuk ke kelas masing-masing.
"zi kamu bisa yah" ucap ziah menyemangati dirinya sendiri.
Ziah pun kembali duduk di mejanya, ia menoleh pada rinayah, dan rinayah mengerti. Rinayah hanya menganggukan kepala, memberi kekuatan pada sahabatnya itu.
__ADS_1