
Acara resepsi sudah selesai,sudah tidak banyak tamu yang hadir. Karna waktu sudah mau menjelang waktu adzan magrib. Rumah pun sudah mulai sepi, karna sebagian sanak keluarga sudah pada pulang.
"zah ajak suami mu makan dulu,masih ada waktu 10 menit lagi,sebelum adzan " ucap sang ibu pada zahra,
"iya mi" jawab zahra, lalu mengajak agung yang kini tlah bergelar menjadi suaminya,
"a ayo kita makan dulu" ajak zahra.
"eemhh nanti saja teh, sekarang saya mau mandi dulu, badan sudah nggak enak lengket" ucap agung,karna ia merasa gerah dan badan semua lengket karna keringat, mau makan pun pasti tidak nyaman.
"yasudah kalo gitu kita ke kamar aja dulu,nanti abis magrib kita makan" ucap zahra dan mengajak agung ke kamar nya.
"mi, a agung katanya mau mandi dulu,ntar aja makan nya abis magrib" ucap zahra
"oh yasudah atuh, sekalian aja bareng sama abi, abi juga belum makan zah" ucap sang ibu" iya mi" ucap zahraa
Di tempat lain, di sudut kamarnya ziah terus termenung, ia tidak menyangka bahwa agung saat ini tlah benar-benar menjadi milik orang lain,"semoga bahagia selalu gung,semoga kamu bisa menjadi imam yang baik untuk teh zahra, karna dia tidak salah dan tidak tau apa-apa tentang hubungan kita,teh zahra tidak salah, dia juga berhak memiliki apa yang dia inginkan sebelum benar-benar yang ia inginkan menjadi milik orang lain, kamu hanya di titipkan allah untuk menjaga ku sementara, karna teh zahra lah yang berhak atas itu,aku juga tau gung kamu nggak bakalan sembaran menerima teh zahra kalo kamu gak melalukan istikhoroh dan berdoa, maka dari itu aku ikhlas" gumam ziah, hatinya sakit, dan memang belum sepenuhnya ikhlas, tapi ziah yakin dengan berjalanya waktu ziah bisa belajar dengan keadaan ini,melihat agung bermesraan dengan zahra, bahkan mungkin sekarang akan bergandengan tangan, itu semua akan ziah lihat bahkan setiap hari.
"zi..." tepuk sang bunda pada bahu putri kesayangan nya itu
"i-iya bun ada apa? Bunda hobi banget bikin ziah kaget.
Sang bunda tersenyum " bunda nggak suka bikin kaget putri bunda kok,ziah nya aja kali yang belakangan ini melamun terus" ucap sang bunda.
"eng-enggak kok bun, aku gak ngelamun" ziah merajuk
"bunda tau anak bunda paling pinter nyembunyiin sesuatu, tapi kamu itu anak bunda,bunda tau kalau kamu lagi bahagia atau sedih" ziah memang tipe anak yang tidak terlalu terbuka terhadap orang tuanya, kecuali kalo ia udah gak mampu dengan permasalahan barulah ia bercerita, ia tak ingin membuat bunda kesayangan nya itu bersedih.
"iya-iyaa bun, tapi beneran kok ziah udah gak sedih" ucap ziah dan memaksakan untuk tersenyum, meski senyuman itu sangat menyakitkan.
" akan ada saatnya kamu bahagia,allah sedang menguji mu, dan allah memberikan ujian pada ziah, karna allah tau ziah bisa menghadapi semua ujian yang allah berikan, dan allah akan hadiahkan kebahagian untuk ziah." ucap sang bunda, dengan cepat ziah memeluk sang bundaa, hal tersebut membuat hati ziah nyaman dan tenang.
"A ayok kita makan dulu, abi dan keluarga udah nunggu" ucap zahraa,sebenarnya agung malu harus makan bersama keluarga zahra,ia merasa tak percaya diri.
__ADS_1
"teteh saja yang makan duluan,nanti saya belakangan saja" ucap agung, zahra tau agung tak ingin makan bersama karna masih ada sebagian keluarga dari ayah dan ibu nya, dan kakak zahra pun masih ada.
"aa pasti malu kan? Nggak usah malu a. Kan segara keluarga zahra keluarga aa juga, begitupun dengan keluarga aa" ucap zahra, "ayok a kasian mereka udah nunggu." mau tak mau agung ikut makan bersama dengan keluarga zahra.
"ngapain dulu sih lama bangeett"ucap kaka pertama zahra, dengan nada menggoda.
"kan abis bersih-bersih dulu kaakk" ucap zahra merajuk. Namun lagi-lagi sang ibu melerainya.
"kapan mau makan nya atuh kalo becanda mulu, setiap ketemu harus aja kamu menggoda adikmu" ucap sang ibu pada anak tertuanya itu. "heheh maaf mii, kan sekarang mah zahra udah punya suami jadi bakalan susah kalo mau usih" ucap ridho.
Makan malam pun di mulai, tak ada percakapan saat makan, karna hal tersebut di larang oleh ayah zahra, " bukan apa-apa, mengobrol saat makan itu nanti takut tersedak" ucap sang ayah kala itu.
"alhamdulillah" ucap mereka bersamaan ketika makan sudah selesai.
"mi,bi, kayaa ridho harus pulang deh kasian anak-anak udah pada capeek" ucap ridho ketika usai makan
"kenapa nggak nginep aja do" ucap sang ibu " besok ridho kesini lagi," ucap ridho
"kaya nya zafran juga mi" ucap anak ke 2
"yasudah kalo kalian gak mau nginep mah, tapi sering-sering kesini bawa cucu-cucu umii" ucap sang ibu
"siiiiaaappp mi" ucap serempak.
Rumah mulai sepi karna sebagian keluarga pamit pulang. Ketika kakak zahra pulang, zahra pun pamit untuk kembali ke kamar, karna zahra tau bahwa suami nya itu merasa tidak nyaman. Karna masih ada kakaknya dan keluarga ibu zahra.
" bi,mi zahra sama a agung pamit ke kamar ya" pamit zahra.
"ya sudah kalian pasti capek, kalian istirahat saja" ucap sang ibu, padahal ia pun merasa lelah namun kularga nya masih mengajaknya mengobrol, karna memang sudah lama mereka tak bertemu..
Agung dan zahra pun kembali masuj masuk ke kamar,sesampai di kamar lagi-lagi agung di buat bingung, harus bagaimana ia sekarang, mungkin karna belum terbiasa di kamar dengan lawan jenis. Begitupun dengan zahra. Zahra memcoba memecah keheningan.
" a kalo mau istirahat di kasur saja ya, zahra mau ke kamar mandi dulu" ucap zahra,ntah kenapa, setelah makan perutnya tiba-tiba muless. Zahra pun masuk ke kamar mandi, dan agung merebahkan tubuhnya di atas kasur zahra.
__ADS_1
"heeemmmm ternyata aku datang bulan" gumam zahra" bagaimana ini, kalo a agung meminta hak nya sekarang, masa malam pertama aku udah bikin kecewa" gumam zahra sedih, zahra pun membasuh mukanya, ia membersihkan diri, dan berganti pakaian menggunakan piyama. Zahra pun keluar kamar mandi dengan prasaan yang sulit di artikan, zahra menuju ke tempat tidur dimana agung sedang merebahkan tubuhnya.
"a mau ke kamar mandi dulu gak? Bentar lagi adzan isya, " tanya zahra basa basi,
"iya teh, saya mau ke kamar mandi dulu, mau ke mesjid,bareng sama abi" ucap agung.
Agung pun pergi ke mesjid dengan sang guru sekaligus ayah mertuanya itu.
"saya titip putri saya sama kamu ya gung, akan percaya kamu bisa bikin bahagia zahra" ucap sang guru.
"iya kang in sya allah" hanya itu yang keluar dari mulut agung .
"jangan panggil akang, panggil saya abi, kan kamu udah jadi mantu saya" ucap sang guru, agung hanya mengganggukan kepalanya,jika berhadapan dengan sang guru, agung tak bisa banyak bicara.
Agung pun kembali kerumah,ia langsung menuju kamar,di sambut oleh zahra. Zahra memberanikan diri untuk mengulurkan tangan nya untuk bersalaman pada agung, dengan gugup agung menerima tangan zahraa.
" a apakah aa lapar?" tanya zahra, agung pun tersenyum" baru juga selesai makan teh" ucap agung.
" kalo aa mau ngemil ada di atas nakas ya a,minumnya juga ada, karna zahra suka nyetok makanan hehe" ucap zahra malu.
"iya teh" ucap agung, suasana kembali hening, mereka bingung sekarang harus bagaimana.
" a.. Teh" ucap mereka barengan, mereka pun tersenyum,
"yaudah teteh dulu aja" ucap agung..
" a maafin zahra, zahra belum bisa memberikan hak batin kepada aa" ucap zahra malu-malu,
aguung pun tersenyum dan merasa lucu pada istrinya itu," nggak papa teteh, saya juga ngerti teteh belum siapkan?" tanya agung, karna tak bisa di pungkiri agung pun belum siap untuk melakukan nya.
" bu-bukan a, tapi zahra datang bulan barusan" ucap zahra dengan wajah nya yang memerah merona, tentu saja membuat agung semakin gemasss..
"nggak papa teh, kan gak selamanya datang bulan kan?" ucap agung menggoda. Agung bisa sedikit bernafas lega, ia memang mencintai zahra dan nyaman jika berada dekat zahra, namun agung juga tidak menampik bahwa agung belum bisa sepenuhnya melupan ziah, wajah ziah masih terus terbayang-bayang.
__ADS_1
"ampuni saya ya allah saya tlah mendzolimi ke 2 wanita yang sangat baik dan sholihah, terlebih saya dzolim pada istri saya, karna saya masih memikirkan wanita lain" lirih agung dalam hati.. " tapi saya berjanji, pada semua orang terlebih pada keluarga zahra, saya akan membahagiakan zahra, selagi saya mampu dan bisa" gumam agung.