
Tak terasa hawa, anak semata wayang adit dan mediang rinayah sudah menginjak 6 bulan, hawa tumbuh menjadi anak yang sangat cantik,ia tidak pernah rewel, hawa termasuk anak yang sangat anteng.
Namun ibu adit merasa iba melihat cucunya itu tumbuh besar tanpa seorang ibu,
Tidak ada satu orang pun yang menginginkan hal tersebut terjadi bukan? Semua sudah takdir dari allah. Kita hanya bisa menerima dengan iklhas. Apabila kita ikhlas semua akan terasa ringan.
"dit apa gak sebaiknya, kamu cari baby sister buat hawa?, dia butuh sosok seorang ibu dit, ibu dan mertua mu sudah sepuh, tak mungkin kita bisa menjaga hawa yang super aktif ini." usul sang ibu, ia berharap semoga saja kali ini adit mau menerima usul sang ibu.
"adit bisa urus hawa bu, lagi pula ia gak mungkin bisa langsung akbrab begitu saja dengan orang yang baru ia kenal" jawab adit
"maka dari itu dit, sebelum hawa beranjak semakin dewasa, kita cari dulu dan tes dulu, bila hawa sudah menemukan seseorang yang menurut nya nyaman, mungkin kita bisa jadikan dia pengasuh nya hawa" sang ibu kembali berucap.
"biar nanti adit fikir kan bu" jawab adit.
Bukan tanpa alasan sang ibu menyuruh putra mencari pengasuh untuk cucunya itu, ia sadar bahwa umur beliau sudah tidak muda lagi, sedangkan sang cucu sedang berada di fase aktif-aktifnya. Sang ibu merasa kasihan melihat putra nya kelelahan. Sang ibu hanya bisa membantu menjaga hawa tanpa bisa menggendong karna memang hawa berat. Ia sering merasa sakit pinggang setelah menggendong cucunya itu.
Adit terus memikirkan ucapan ibunya, memang ada benarnya, hawa membutuhkan sosok seorang ibu, tapi ia merasa tidak rela jika anak semata wayang nya itu lebih dekat dengan orang lain nantinya.
"seharus nya aku tidak boleh egois,masa depan hawa masih panjang, ya aku harus mencarikan pengasuh untuk hawa, lebih baik aku bicarakan ini pada ziah, saat nanti kami di sekolah" ucap adit pada dirinya sendiri.
Setelah puas bermain sang putri tertidur dengan pulas, adit pun menghempaskan tubuh nya ke atas kasur. Adit termenung menatap langit-langit rumah.
"tak terasa dek, kamu ninggalin kita udah 8 bulan,kamu tau gak anak kita sangat cantik sama seperti mu,wajah nya pun sangat mirip dengan mu, hal itu sedikit mengobati rinduku pada mu dek, aku tau kamu di sana sudah bahagia kan dek? Kamu udah gak sakit lagi kan? Aku sudah ikhlas dek, namun di hatiku masih tersimpan nama mu, trimakasih dek kamu pernah memberi cahaya di kehidupan ku, meskipun tidak lama, aku sangat bahagia dek" lirih adit, tak terasa air matanya mengalir begitu saja. Tak di pungkiri setelah kepergian rinayah adit menjadi pribadi yang sangat pendiam bahkan sering menangis, berbeda dengan dulu, adit seseorang yang ceria, urakan, dan humoris, stelah kepergian istrinya, semua itu hilang dari diri adit.
Semua rekan guru merasa rindu sosok adit yang selalu menghibur jika berada di sekolah, kini tlah hilang, agung sebagai sahabat merasa kasihan dan iba pada sahabatnya itu.
"Dit, kami semua rindu adit yang dulu, yang selalu membuat kami tertawa" ucap agung,menepuk pundak sahabatnya itu.
Adit hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
__ADS_1
Adit memang sudah kembali beraktifitas di sekolah, ia masih bisa bersikap profesional. Karna memang itu sudah menjadi tanggung jawab nya.
"Bu ziah nanti jam istirhat saya ingin ngobrol bisa" ucap adit.
"bisa pak, nanti kita mengobrol di kantin saja ya pak" jawab ziah, adit menganggukan kepala.
"pak adit saya turut berduka cita atas wafatnya istri bapak ya" ucap vano tiba-tiba.
"iya pak terimakasih" adit mengulas senyum pada vano. Mereka pun mengobrol ringan hingga akhirnya zevano memberanikan diri bertanya tentang ziah.
"pak apa boleh saya bertanya?"
"silahkan pak, bertanya soal apa ya pak?" adit penasaran, pertanyaan apa yang akan di tanyakan oleh vano.
"bu ziah" ucap vano, seketika adit tertegun.
"apakah bu ziah sudah memiliki kekasih? Atau tunangan mungkin?" tanya vano, pertanyaan vano membuat adit bingung, kenapa vano bertanya demikian? Apakah ia menaruh hati pada wanita tersebut?
" tidak pak, setau saya bu ziah masih sendiri." jawab adit jujur. Vano hanya mengganggukan kepalanya.
" kenapa bapak bertanya demikian?" tanya adit penasaran.
"tidak pak, kirain saya bu ziah sudah memiliki kekasih atau tunangan, karna sangat dingin sekali pada laki-laki" jawab vano tersenyum. Mereka asyik mengobrol, karna jam pelajaran mengajar nya tlah usai, mereka menunggu guru yang lain, setelah selesai mengajar, mereka sering pergi ke kantin bersama.
Jam istrihatpun tlah tiba, ziah pun telah selesai mengajar. Dan akan pergi ke kantin dengan adit dan yang lain.
"pak, apa yang akan bapak bicarakan?"tanya ziah.
"ini soal hawa bu, maaf saya selalu melibatkan bu ziah. Tentang persoalaan hawa" adit merasa tidak enak.
__ADS_1
" tidak papa, pak saya dengan senang hati akan membantu, hawa sudah saya anggap adik saya sendiri pak, ada apa dengan hawa pak?" tanya ziah.
"saya ingin mencari pengasuh untuk hawa bu" jawab adit. Namun ketika ziah akan menjawab tiba-tiba saja, vano datang dan izin untuk bergabung dengan mereka, dengan senang hati adit mempersilahkan. Adit merasa kalo vano adalah orang yang baik dan humble, kepada siapapun.
"apa saya tidak menganggu?" tanya vano.
"Tentu saja tidak pak, kami sedang tidak mengobrol serius kok" ucap adit sopan, ziah tidak mengeluarkan kata-kata sepatah pun .
"Sebelumnya saya minta maaf pak, karna menguping pembicaraan bapak, apa benar pak adit sedang mencari pengasuh untuk putri bapak? Tanya vano.
"Betul sekali pak,namun mencari pengasuh tak semudah mencari goreng bakwan pak" ucap adit terkekeh.
"saya ada sodara, dulu juga ia seorang pengasuh,namun beliau harus berhenti karna keluarga majikan nya harus pindah ke bali, sodara saya pun sempat di ajak oleh majikan nya, karna anak majikan nya sangat dekat dengan sodara saya, namun beliau menolak,karna terlalu jauh" ucap vano panjang lebar.
"benarkah pak? Boleh saya bertemu dengan nya? Saya hanya ingin melihat bagai mana pola asuh beliau, jika anak saya nyaman, saya ingin dia menjadi pengasuh anak saya" jawab adit antusias.
"pak kita harus hati-hati dalam mencari pengasuh, apalagi hawa masih balita" ziah bersuara dengan suara di tekan. Vano hanya terkekeh melihat sikap ziah.
"kan pak adit sudah bilang, dia ingin mengetes dulu bu" ucap vano dengan santai. Ziah tak menggubris ucapan vano.
"kita coba dulu saja bu" ucap adit. Mendengar hal tersebut vano merasa senang, karna tawaran nya di terima.
"Terserah bapak saja, kalo begitu saya pamit masuk ruangan pak" ucap ziah, ia berdiri dan meninggalkan vano dan adit.
"lucu juga bu ziah ya pak" ujar vano sambil memperhatikan ziah, hingga ziah menghilang dari pandangan nya.
" iya pak, bu ziah memang lucu, bahkan mediang istri saya pun sering di buat tertawa oleh nya, meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja, hatinya rapuh, namun ia pandai sekali menyembunyikan nya, saya salut sama beliau, saya pun sebagai laki-laki kalah" tiba-tiba saja adit bercerita tentang ziah pada vano, vano pun merasa senang, karna itu yang ia tunggu-tunggu.
"sedikit demi sedikit aku akan tau masa lalu bu ziah dan aku akan selalu mencari tau" gumam vano dalam hati.
__ADS_1