BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Taman Bunga


__ADS_3

...๐ŸŒปSelamat Membaca๐ŸŒป...


Ambar terduduk lemah di salah satu kursi restoran yang mereka kunjungi. Ini adalah restoran ke sepuluh dan mereka sama sekali tidak menemukan keberadaan Stela.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Kakak terlihat lelah. Pencariannya kita lanjutkan besok saja, aku juga harus kembali ke kantor, ada sedikit masalah di sana. Tapi tenang, aku tetap akan meminta anak buahku untuk mengawasi apartemen dan juga toko bunga itu." Ari mencoba memberi pengertian.


"Ayo Honey, kita pulang!" Anthony membantu istrinya berdiri. Ambar hanya bisa menurut. Hati dan tubuhnya sudah sangat lelah, ia butuh istirahat.


.......


Pukul delapan malam, Rafa baru mengantarkan Stela pulang ke apartemen.


"Terima kasih banyak Bu," ucap Stela pada Ingrid. Wanita itu sudah membelikannya banyak sekali pakaian, ingin menolak tapi tidak enak. Akhirnya, Stela pulang dengan menentang banyak sekali kantong belanjaan di tangannya.


"Kau tidak lupa kan janji kita besok?" tanya Rafa setelah dirinya dan Stela keluar dari mobil, sementara Ingrid tetap berada di dalam.


"Iya Mas, aku ingat."


"Baiklah, besok aku jemput jam 10 ya?"


"Tidak usah menjemput, kita bertemu di taman kota saja, Mas," tolak Stela.


"Baiklah."


"Ya sudah, Mas pulangnya hati-hati!"


"Iya, bye."


Stela tersenyum melepas kepergiaan Rafa. Setelah mobil itu melaju, Stela berjalan menuju gedung apartemen Tristan. Ia sengaja tidak berhenti di depan gedung tempatnya tinggal, ia hanya takut Rafa tahu kalau ia tinggal bersama Tristan. Entah bagaimana tanggapan pria itu nanti. Stela tidak sanggup jika harus di cap sebagai wanita tidak baik oleh Rafa karena tinggal bersama pria yang tak memiliki hubungan apa-apa dengannya.


Dari atas sana, lewat jendela besar di kamarnya, Tristan melihat semua yang terjadi di bawah sana. Ia melihat Stela diantar pulang oleh musuh masa sekolahnya.


Rahangnya mengetat dan tangannya terkepal. "Kau melupakan janjimu dan memilih pergi bersamanya," sinis pria itu.


.......


Stela masuk ke dalam apartemen, ia menemukan Tristan yang tengah duduk di sofa ruang tamu sembari membaca majalah.


Stela meletakkan barang-barangnya di lantai, lantas mendudukkan diri di sofa yang berada tak jauh Tristan.


"Kak Tristan."


"Hn?"


Panggilan Stela direspon dingin oleh si tuan rumah.


"Aku minta maaf, aku lupa kalau kita ada janji sore ini. Aku ingin menghubungimu untuk mengatakan jika aku tak bisa datang tapi aku tidak punya nomor ponselmu," jelas Stela pelan-pelan, ditambah raut bersalah tercetak jelas di wajahnya.


"Hm."


Respon yang sama lagi-lagi Stela dapatkan.


Gadis blasteran itu menelan ludah susah payah, ia merutuki kebodohannya karena sudah melupakan janji yang sudah ia buat dengan Tristan, hingga pria itu mendiamkannya seperti ini.


Stela mencoba mencairkan suasana, ia meraih salah satu paperbag dan mengeluarkan isinya. "Kak, lihat ini!" ucap Stela berusaha ceria.


Tristan melirik sekilas, tidak terlalu berminat.


"A-aku tadi membeli beberapa pakaian bayi untuk Vero. Kita bisa memberikannya nanti saat pergi menjenguknya."


Tristan memutar bola mata bosan, "Pergi saja dengan kekasihmu!" katanya ketus kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar.


Stela terdiam, kekasih? Siapa kekasihnya?


Tristan duduk di atas tempat tidur, ia memilih masuk ke dalam kamar karena sudah tak tega melihat wajah bersalah Stela. Memang benar, ia kesal karena Stela lupa janji mereka dan malah memilih pergi dengan Rafa, tapi sejujurnya ia juga melakukan hal yang sama malah lebih parah.


Drrtt ... drrtt...


Ponsel di atas nakas bergetar, sebuah pesan baru saja masuk. Tristab meraih ponsel itu dan segera mengeceknya.

__ADS_1


Vania


Tristan, terima kasih banyak ya. Hari ini kau sudah mau menemaniku ke salon dan juga ke butik. Lain kali, aku akan menemanimu kemanapun kau ingin pergi.


Ya, Tristan bahkan juga melupakan janjinya dengan Stela, eh tidak ... tepatnya ia sengaja melupakan janjinya itu karena lebih memilih menuruti permintaan Vania. Seharian ini ia menemani wanita itu ke salon dan juga berbelanja. That's not fair for Stela.


...๐Ÿ€ ๐Ÿ€ ๐Ÿ€...


Tristan keluar dari kamar tepat pukul sembilan pagi, seperti kebiasaannya. Ia langsung menuju dapur, berharap menemukan Stela di sana. Namun harapannya tidak terkabul, sosok gadis cantik itu tak ia temukan. Tristan hanya bisa menemukan beberapa makanan sudah terhidang di meja makan dengan dibungkus plastik transparan agar tidak dihinggapi lalat. Juga, ia menemukan secarik kertas berisi tulisan.


Maaf karena kemarin aku sudah melupakan janji kita. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Aku pergi. (Stela)


Aku pergi ...


Aku pergi ...


Tristan masih diam mencerna kata terakhir yang ditulis Stela. Apa gadis itu pergi meninggalkannya? Tidak mungkin!


Secepat kilat, Tristan langsung berlari ke kamar yang ditempati Stela. Pintunya tidak dikunci dan hal itu membuat Tristan dengan leluasa masuk ke dalam sana.


Kamar terlihat rapi dengan aroma yang menenangkan, ini seperti aroma Stela, wangi citrus yang menyegarkan.


Tristan menelisik sekitar, tempat tidur kelihatan bersih dengan bantal dan selimut yang tersusun rapi. Di meja rias, masih terdapat beberapa barang milik Stela, seperti lotion, parfum, lipstick dan juga bedak. Belum merasa lega, Tristan kemudian membuka lemari pakaian di kamar itu.


Akhirnya ia bisa menghembuskan napas lega saat matanya melihat jika di dalam sana pakaian Stela masih terlipat dengan rapi.


"Dia pergi, maksudnya pergi bekerja. Arghhh ... aku pikir dia sudah pergi meninggalkanku," racau Tristan. Ia benar-benar takut jika Stela benar-benar pergi meninggalkannya.


.......


Stela berangkat lebih cepat dari jadwal yang sudah ia sepakati dengan Rafa. Selama dua jam ia hanya duduk bermenung di taman kota menanti kedatangan si pengacara jenius itu.


"Ela!"


Panggilan itu membuat si pemilik nama menoleh. Ia tersenyum begitu melihat siapa yang datang.


"Mas Rafa?" sapanya. Ia kemudian melirik jam yang ada di ponselnya. "Ini masih jam setengah sepuluh," lanjutnya.


"Aku tidak ingin membuatmu menunggu jadi aku memutuskan untuk datang lebih cepat, eh ... ternyata aku keduluan olehmu. Kau sudah lama menungguku?" tanya Rafa.


"Aku baru saja sampai," jawab Stela bohong.


"Sudah sarapan?"


"Sudah."


"Kita pergi sekarang?"


"Ok, but where we'll go?" tanya Stela penasaran.


"Secret, just follow me and you'll find out," balas Rafa seraya menarik tangan Stela untuk mengikutinya menuju tempat mobilnya terparkir.


.......


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2.5 jam, kini mereka sudah berada di salah satu tempat wisata yang ada di Kota Bandung, yaitu Mall Paris Van Java.


Stela sedikit heran ketika Rafa membawanya masuk ke sebuah mall. Ia pikir, untuk apa menempuh perjalanan yang lumayan jauh hanya untuk pergi ke sebuah mall, bukankah di Jakarta banyak sekali mall bertebaran. Namun, jika dilihat sekali lagi, mall yang mereka kunjungi kali ini memang terlihat sedikit berbeda dari mall biasanya, itu karena arsitekturnya yang unik.


"Kita makan siang dulu, ya?" Rafa mengajak Stela ke sebuah steakhouse yang ada di mall tersebut. Gadis cantik itu mengangguk setuju karena dirinya yang memang sudah kelaparan.


.......


Selesai menikmati makan siang, sekarang mereka naik lift menuju lantai atas dari mall, atau biasa disebut rooftop. Sekali lagi Stela hanya bisa terheran, kenapa Rafa membawanya ke atap gedung.


"Woah ..." Sampai di atas sana, Stela tidak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat kebun bunga terhampar luas. "Kenapa bisa ada kebun di atas gedung?" tanya Stela takjub.


"Iya, ini namanya Sky Garden." Rafa memberitahu. Saat ini pria itu sedang membeli tiket masuk.


"So beautiful!"

__ADS_1


"Ayo masuk!" ajak Rafa setelah dua tiket berhasil di dapatkannya.


Mata Stela berbinar-binar setelah melihat hamparan luas Bunga Matahari yang tampak bermekaran.


"That's your favorite flower, right?" tanya Rafa.


"Yes, I love Sunflower."


"Ya, they are beautiful, its just like you."


Stela mengangguk, membenarkan ucapan Rafa. Bunga matahari itu memang cantik, berwarna kuning cerah seperti matahari, sering disebut sebagai salah satu lambang keceriaan dan juga kebahagiaan. Bunga ini juga memiliki kemampuan untuk memberikan energi positif pada siapa saja yang melihatnya. Layaknya cerminan matahari yang selalu menerangi dan menghangatkan kehidupan.


"Saat aku melihat bunga ini, aku langsung teringat dirimu," kata Rafa.


DEG


Mata mereka memang asyik menatap hamparan kuning di sana, namun mulut mereka tak bisa untuk berhenti bicara.


"Kenapa?" tanya Stela dengan suara pelan.


"Seperti kataku tadi, Bunga Matahari sangat cantik dan juga indah, begitu juga denganmu. Bunga Matahari melambangkan keceriaan dan juga kebahagiaan, itu juga selalu ku lihat dari dirimu. Kau selalu tersenyum ceria, sehingga siapa saja yang melihatnya akan merasakan bahagia juga. Dan satu lagi, Bunga Matahari memberikan energi positif, dan itulah yang ku rasakan setiap saat jika bersamamu, aku menjadi lebih semangat lagi dan hari-hariku menjadi lebih menyenangkan. Bahkan hanya dengan memikirkanmu saja aku sudah bisa tersenyum seperti orang tidak waras," jelas Rafa panjang.


DEG


Wajah Stela memerah, jantungnya berdetak lebih cepat di dalam sana. Ungkapan hati Rafa membuatnya tersanjung dan juga berdebar. Ia tak menyangka ternyata sebegitu berpengaruh dirinya bagi pria itu.


"A-aku mau ke sana." karena tak tahu harus membalas seperti apa ungkapan hati pria itu, Stela lebih memilih untuk terjun ke lautan bunga di depan sana.


Rafa tersenyum, ia tahu Stela pasti merasa canggung setelah mendengarkan isi hatinya barusan. Kini yang dapat ia lakukan hanyalah melihat gadis itu tenggelam di antara ribuan bunga yang memiliki tinggi setara dada orang dewasa.


Lama bermain di dalam sana, akhirnya Stela memutuskan untuk keluar ke tempat Rafa berada.


Di ujung sana, pria itu telah menantinya.


"Maaf, apa aku mainnya kelamaan?"


"Tidak apa, nikmatilah!"


"Terima kasih."


"Ela?" panggilnya.


"Hm?"


Saat menoleh, Stela bertatapan langsung dengan setangkai bunga matahari yang sudah dipetik.


"Apa ini?" Stela sedikit menggeser kepalanya agar wajah Rafa yang terhadang kelopak besar Bunga Matahari itu bisa terlihat.


DEG


"Bunga untukmu!" katanya.


"Hm?" Stela masih belum mengerti dalam rangka apa pria itu memberinya bunga.


"Dulu aku pernah berjanji padamu, aku akan memetikkan bunga paling indah di taman yang paling luas hanya untukmu," ucapnya.


DEG


"Janji itu," batin Stela. Ia pikir itu hanyalah gurauan Rafa semata, tapi ternyata pria itu benar-benar merealisasikan janjinya.


"Terima kasih, Mas." Stela menerimanya dengan senyuman bahagia yang tak dapat ia tahan lagi.


"Oh ya, ayo berfoto!" ajak Rafa. Ia segera mengeluarkan ponsel dan mengambil foto sebanyak mungkin.



...Bersambung...


...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers.....

__ADS_1


...๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜Š...


__ADS_2