BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Liburan II


__ADS_3

...๐ŸŒปSelamat Membaca๐ŸŒป...


Stela sibuk membantu Ara mencari kerang, sementara Tristan mengeluarkan kamera dari tas kecil yang sedari tadi dibawanya. Kamera saku dengan merk Sony Cyber-shot DSC-RX1R II yang dibelinya kurang lebih seharga 50 juta, tahun lalu.


Ia memotret kebersamaan dua perempuan cantik itu.


"Ela!" Serunya. Gadis itu berdiri dan menatap ke arah Tristan sembari tersenyum. Cantik sekali. Tak lupa pria itu mengabadikannya.


"Daddy.... Ara juga mau difoto," rengek Ara yang ingin ikutan juga.


Tristan pun segera mengarahkan kameranya pada Ara yang dengan sigap langsung berpose-membentuk tanda peace dengan jari telunjuk dan tengahnya.


Tristan juga tak mau ketinggalan, ia meminta Stela memotretnya. Gadis itu berdecak malas. "Apa kau tak muak dipotret terus menerus, Kak?" sarkas Stela mengingat pekerjaan Tristan sebagai model yang selalu mendapatkan bidikan kamera.


"Tidak, karena aku sangat pantas untuk itu."


Jawaban itu membuat Stela ingin sekali melemparkan kerang yang sudah dikumpulkan Ara ke arah Tristan, tapi tidak ia lakukan. Mana tega Stela melakukannya.


Tanpa dikomando, Tristan langsung berpose. Stela yang membidiknya pun jadi ikut terpesona dengan seorang Tristan Gautama yang sangat foto genik. Tak perlu banyak gaya dia sudah terlihat keren.


"Sekali lagi sayang!" pintanya. Kali ini pria itu melepas kemeja pantainya, ia duduk di atas pasir dan meminta Stela memotretnya dari belakang.


Stela sampai harus menelan susah salivanya saat melihat pemandangan indah, pahatan sempurna tubuh atletis Tristan dari belakang. Dirinya merasa beruntung memiliki kekasih seperti pria itu. Tidak hanya tampan wajah dan fisiknya, tapi juga baik dan lembut hatinya. Ya... walau itu hanya berlaku pada orang-orang yang disayanginya saja.


"Air liurmu menetes sayang, kenapa? Tergoda, ya?" tanya Tristan jahil dengan senyuman mesumnya.


"Tidak," jawab Stela cepat. "Dasar jelek. Ini ambil kameramu!" Gadis itu menjejalkan kamera kembali ke tangan Tristan, setelah itu ia berlari ke arah Ara yang masih sibuk mencari kerang. Sungguh dirinya merasa sangat malu dipergoki oleh Tristan karena diam-diam mengagumi tubuh pria itu.


Tristan memasukkan kembali kamera ke dalam tasnya dan menyusul Ara juga Stela yang kini tengah berjalan bergandengan di bibir pantai. Ia akan mengajak mereka kembali ke hotel karena hari mulai beranjak sore.


.......


Ara tepar kelelahan di tempat tidur setelah makan malam. Saat ini bocah itu sudah bergelung nyaman di dalam selimutnya.


"Kenapa melamun?" Stela menghampiri Tristan yang tengah berdiam diri di teras balkon.


"Tidak, hanya menikmati malam. Kita hanya satu malam di sini dan aku rasa harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin," jawabnya.


"Heum." Stela mengangguk. Ia ikut memandang laut malam yang terlihat tenang. Sinar rembulan yang terbias di atasnya terlihat sangat indah.


"Geser sini!" Tristan menarik tubuh Stela masuk ke dalam pelukannya. Tubuh ramping itu kini terhimpit di antara tubuh Tristan dan juga pagar pembatas. Mereka berdua menikmati angin malam yang berhembus lembut sambil berpelukan hangat.


Tristan meletakkan dagunya di atas bahu Stela, gadis itu sedikit menggeliat karena merasa geli.


"Aku mencintaimu." lirihnya berbisik di telinga sang gadis.


Stela tersenyum karena merasa geli saat hembusan napas Tristan menggelitik telinganya. Tangannya yang semula berpegangan pada pagar beralih menangkup tangan Tristan yang melingkar di perutnya. "Aku juga mencintaimu, Tristan sayang."


Jawaban Stela membuat Tristan gemas, ia menggigit kecil daun telinga Stela.


"Sakit!" pekik Stela.


Wushhh....


"Sudah kutiup, tidak sakit lagi, kan?" katanya setelah meniup telinga Stela yang baru saja digigitnya.


Memang tidak sakit lagi, tapi rasanya tubuh Stela merinding sepanjang badan.

__ADS_1


"Aneh ya," ucap Tristan tiba-tiba.


"Apa yang aneh?" tanya Stela heran.


"Aku."


"Huh?"


"Dalam waktu kurang dari satu bulan aku bisa jatuh cinta dengan begitu mudah kepadamu, kenapa ya?" tanya Tristan.


"Mungkin karena pesonaku susah untuk diabaikan apalagi ditolak," balas gadis itu se kenanya.


"Bisa jadi," ucapnya setuju. "Lalu apa yang membuatmu bisa cinta kepadaku dalam waktu singkat juga?" Kini Tristan membalikkan pertanyaannya. "Jangan bilang karena pesonaku yang sulit ditolak," sambungnya cepat. Ia merasa curiga kalau Stela akan menjawabnya begitu.


Gadis pirang itu cemberut, dicubit kecilnya tangan Tristan. "Menyebalkan! Aku 'kan mau jawab itu." Terbukti, kecurigaan Tristan benar adanya.


"Sekarang kau tak bisa mengelak lagi, jadi cepat katakan apa alasan yang membuatmu jatuh cinta kepadaku?" tuntut Tristan kemudian.


Stela menghela napas sejenak, perkataannya kali ini mungkin sedikit panjang. "Awal kita bertemu, jujur saja aku terpesona karena kau sangat tampan."


"Hanya orang katarak yang mengatakan aku jelek," sahut Tristan cepat.


Stela memukul tangan pria itu karena kesal, "Jangan menyela ucapanku!" protesnya.


"Sorry Honey."


"Mau lanjut?"


"Sure."


"Ya, kau memang tampan... tapi setelah mulutmu mulai bicara, siapa pun akan kesal dibuatnya. Bagaimana bisa kau berbicara dengan wajah datar dan suara dingin seperti itu."


Tristan yang merasa senang habis dikecup hanya bisa menganggukkan kepalanya, memang tadi ia sempat ingin menjawab tapi batal karena Stela lebih dahulu membungkamnya. Kalau bungkamannya seperti itu sih, ia bakal buka suara lagi nanti.


"Beberapa kali aku sempat kesal karenamu, tapi yang paling membuatku sakit hati adalah saat kau menyuruhku untuk tinggal dengan mas Rafa. Kau pikir aku perempuan macam apa yang dengan mudahnya tinggal dengan seorang pria tanpa ikatan apapun."


Teistan ingin menjawab biar dapat kecupan lagi, tapi bukan kecupan yang didapat malah Stela dengan tega mencubit bibirnya yang sengaja sudah dimonyongkan.


"Jangan harap, aku tahu akal licikmu itu."


Tristan mendesah kecewa, ia hanya diam menanti lanjutan cerita kekasihnya.


"Sekarang aku tahu alasan kenapa kau berkata seperti itu," kata Stela.


Tristan mengedikkan dagunya yang masih betah mendarat di bahu Stela, ingin tahu apa alasannya.


"Kau pasti cemburu, kan?" tebak Stela dan diangguki dengan cepat oleh Tristan.


"Ya. Kita sudah melewati banyak waktu bersama. Namun aku masih belum mengerti dengan perasaan asing yang sering aku rasakan saat bersamamu. Dan puncaknya saat malam pertunangan kak Jo. Rasa cemburu yang ku rasa saat melihat wanita itu menciummu menjadi bukti bahwasannya aku telah jatuh cinta padamu," jelasnya lagi.


"Sudah puas 'kan mendengar jawabanku?" Stela melirik ke samping.


Pria itu menggeleng, tiba-tiba ia langsung membalik tubuh Stela menghadapnya. Tanpa aba-aba ia langsung mem*gut bibir manis gadisnya.


Awalnya Stela sempat terkejut, tapi beberapa detik kemudian, ia terbuai dan membalas p*gutan itu dengan lembut.


Suasana malam yang romantis semakin mendukung kegiatan yang dilakukan pasangan ini. Tristan merengkuh tubuh Stela, sebelah tangannya ditaruh di tengkuk sang gadis. P*gutan yang awalnya lembut kini berubah menjadi ciuman panas.

__ADS_1


Beberapa saat larut dalam keintiman, Stela mendorong dada Tristan. Ia sudah tidak sanggup lagi, ia butuh pasokan udara. Dengan menggebu Stela menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tristan juga melakukan hal yang sama walau napasnya tidak tersengal seperti sang kekasih.


"Kak..." Stela menatap Tristan dengan mata sayunya yang membuat pria itu tak tahan untuk kembali mem*gut bibir ranum itu dalam ******* bibirnya.


Akhirnya dua bibir itu mengecap rasa satu sama lain lagi, namun kali ini lebih panas dari sebelumnya. Saking semangatnya, Tristan semakin mendesak tubuh Stela hingga menempel begitu lekat di pagar pembatas. Tangan Stela terangkat, mengalung di leher Tristan. Ia butuh pegangan karena lututnya terasa mulai goyah.


Tristan melepaskan ciumannya, dengan rakusnya mereka meraup oksigen sebelum kembali berp*gutan panas dan untuk pertama kalinya Tristan berani bermain lidah. Ia menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Stela dan mengajak lidah kekasihnya itu untuk bertarung, saling membelit, saling berbagi saliva.


Stela merasa saat ini tubuhnya benar-benar lemas, hanya mulutnya saja yang bersemangat untuk memuaskan hasrat dalam diri. Ia tidak mengerti kenapa dirinya bisa melakukan semua ini, yang jelas itu semua karena dia ingin. Dia ingin merasakan nikmatnya berciuman bersama seseorang yang dicintainya.


Huhh


Tristan melepas ciumannya, ia menatap Stela penuh cinta. "Maafkan aku. Sangat sulit untuk menahannya," ucapnya sedikit merasa bersalah. Jemarinya mengusap bibir gadisnya yang memerah dan bengkak, ia juga mengelap sisa saliva yang entah milik siapa di dagu gadis itu.


Stela memeluk Tristan, tubuhnya terasa benar-benar lemas.


"Kita masuk ya, sudah waktunya tidur. Besok pagi kita akan mengunjungi taman bermain di sini," kata Tristan.


Stela mengangguk, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kamar.


Tristan tidur di sisi kanan sementara Stela di sisi kiri Ara. Bocah itu berada di tengah-tengah mereka.


"Good night," ucap Stela.


"Good night, sleep tight and have a nice dream."


Mereka mulai memejamkan mata dengan jemari saling bertautan di atas tubuh Ara.


...๐Ÿ ๐Ÿ ๐Ÿ...


Pukul sembilan pagi, setelah check out dari hotel, Tristan mengajak Stela dan Ara sarapan di salah satu restoran dekat penginapan.


Pukul sepuluh, mereka memulai petualangan di taman bermain yang ada di Ancol. Berbagai wahana yang ada di sana mereka coba, tapi khusus Mariya hanya menaiki wahana yang aman untuk anak seusianya.


Selain menikmati wahana mengasyikkan di taman bermain, mereka juga masuk ke sea world untuk melihat miniatur pesona laut yang sangat menakjubkan. Saking senangnya, Ara bahkan mengambil banyak foto dengan binatang-binatang air yang ada di sana. Gadis kecil itu terlihat sangat bahagia.


.......


Jarum jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit ketika mereka sampai di rumah. Stela menggendong Ara yang tertidur karena kelelahan sementara Tristan membawa barang-barang mereka.


Stela menidurkan Ara di atas tempat tidur, setelah itu ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tristan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, rasa lelah dirasakan tubuhnya setelah menyetir selama berjam-jam. Ia butuh istirahat sekarang, perlahan mata itu terpejam.


.... ...


Pukul enam tepat Tristan terbangun saat indra penciumannya membaui aroma lezat masakan yang pastinya dibuat oleh Stela. Ia segera membersihkan diri.


Tristan keluar dari kamar menggunakan kaus polos berwarna navy dipadukan dengan celana training hitam. Ia langsung melesat menuju dapur. Belum sampai di dapur, terdengar suara bel berbunyi. Ia memutar balik langkahnya menuju pintu masuk. Setengah perjalanan tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Sial! Aku lupa ada acara dengan wania itu," rutuknya. Bahkan ia belum sempat mengaktifkan ponselnya sampai sekarang.


"Semoga saja bukan dia." Harap Tristan saat tangannya akan menarik hendel pintu. Ia cemas jika wanita itu nekad datang ke apartemennya karena Trstan sama sekali tidak membalas pesannya.


Dengan rasa waspada, pria itu membuka pintu. Seseorang yang ia lihat di balik pintu adalah...


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜Š...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2