BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Bersama Wanita Lain


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


"Aww..." Stela memekik saat jarinya tak sengaja teriris ketika dirinya sedang memotong sayuran. Cepat gadis itu membasuh jarinya yang dialiri darah segar dengan air mengalir dari bak cuci piring.


Stela termenung, entah kenapa perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Pikirannya tertuju pada sang kekasih yang sampai saat ini belum pulang juga.


"Ya Tuhan, semoga Tristan baik-baik saja," do'anya.


Stela berjalan menuju ruang tengah, acara memasaknya ia hentikan sejenak. Ia tak akan bisa bekerja jika pikirannya melayang kemana-mana.


"Mommy sudah selesai masak?" tanya Ara ketika Stela duduk di samping bocah itu.


"Belum sayang, Mari sudah lapar? Mau makan sekarang?" Stela mengusap kepala Ara, sayang.


"Ala belum lapal Mommy, kita tunggu daddy dulu balu nanti makan sama-sama," ucap si kecil.


Stela tersenyum, ia mengecup sayang puncak kepala Ara. Saat si kecil kembali berkutat dengan buku bergambar di tangannya, Stela memilih untuk menghubungi Tristan, ia ingin memastikan jika pria pujaannya itu baik-baik saja.


Tut... tut... tut...


Panggilan Stela berdering, tapi setelah sekian lama menunggu, Tristan belum juga mengangkat teleponnya. Hal itu membuat rasa cemas merasuki hatinya.


Beberapa kali ia melakukan hal serupa, namun tetap saja tak ada respon dari seberang sana.


"Angkat teleponku, Kak!" gumam Stela gelisah.


Tut... tut... tut...


Masih tetap sama, Stela mematikan sambungan teleponnya dan menaruh kembali ponsel itu ke atas meja. Tubuhnya rebah bersandar di sofa dengan helaan napas berat keluar dari mulutnya.


"Kau di mana?" lirihnya. Stela sungguh khawatir luar biasa dengan keadaan Tristan, ditambah dengan perasaan resah yang sedari tadi tidak pernah hilang. Ia takut, pikiran negatif yang kini memenuhi otaknya benar-benar terjadi. Mood memasaknya pun juga sudah hilang. Saat ini ia tidak ingin melakukan apa-apa selain menunggu kepulangan kekasihnya.


Tak lama kemudian, ponsel Stela berdering. Gadis itu segera mengangkat saat melihat nama Tristan tertera di layar sebagai si pemanggil.


"Kak, kau di mana?" tanya Stela tanpa mengucapkan kata halo terlebih dahulu.


"_________________"


Jawaban yang didapatnya dari seberang sana membuat ponsel yang melekat di telinga Stela jatuh begitu saja, untung hanya jatuh di sofa yang empuk, kalau di lantai, sudah dapat dipastikan jika ponsel itu akan rusak.

__ADS_1


"Kak Tris-tan...," lirihnya. Gadis itu mematung. Firasat buruknya ternyata benar terjadi. Tristan kecelakaan dan saat ini tengah berada di rumah sakit. Baru saja seorang polisi menelponnya menggunakan nomor Tristan.


"Mommy kenapa?" Ara menggoyang-goyangkan lengan Stela saat melihat jika ibu angkatnya itu diam saja.


Stela tersentak, ia menoleh pada Ara dan seketika memeluk bocah kecil itu. Teringat dengan kecelakaan yang menewaskan orang tua kandung Ara, ia takut kejadian yang sama terulang kembali.


"Mommy?"


Stela melepas pelukannya. Buru-buru ia memungut ponsel canggih miliknya dan menghubungi seseorang..


.......


Jovanka yang mendapat kabar dari Stela segera bertolak ke apartemen Tristan. Ia begitu shock saat mendengar jika sahabatnya mengalami kecelakaan. Inginnya sih ikut ke rumah sakit untuk melihat kondisi Tristan, namun Stela memohon padanya agar menjaga Ara saja selama gadis itu pergi.


Stela mondar-mandir gelisah di ruang tengah menunggu kedatangan Jovanka. Matanya sudah mengembun sedari tadi, tapi sebisa mungkin ditahannya agar tidak tumpah. Ia tak ingin membuat Ara curiga dan bertanya-tanya jika melihatnya menangis.


"Ya Tuhan, lindungilah Tristan." Harapan itu terus dipanjatkan olehnya. Ia sama sekali belum tahu bagaimana kondisi Tristan sebenarnya, polisi hanya mengatakan jika kini pria itu tengah dirawat. Semoga saja kekasihnya itu tidak mengalami cedera yang serius.


Bunyi bel apartemen menjadi penanda kedatangan Jovanka. Stela segera membuka pintu.


"Kak Jo, aku mohon bantuanmu. Tolong jaga Ara selama aku pergi!" pintanya.


"Aku pergi dulu," Stela pamit. Ia langsung bergegas pergi tanpa berpamitan dulu dengan Ara. Ia takut jika bocah kecil itu meminta ikut.


Jovanka masuk ke ruang tengah. Ia mendapati Ara sedang menyuap makanannya. Stela memaksa Ara makan terlebih dahulu, kasihan bocah itu jika harus menahan lapar.


"Aunty Jo," sapanya.


"Hai sayang." Jovanka meghampiri dan duduk di sampingnya. "Makan apa kamu, Nak?"


"Makan sosis aunty, Mommy mana?" tanya si kecil saat matanya tak menemukan keberadaan Stela.


"Mommymu pergi sebentar sayang, ada perlu katanya. Ara sama aunty dulu ya, nanti mommy pulang." Jovanka coba menjelaskan.


Wajah Ara tampak sedih, tapi tak urung ia mengangguk juga.


"Semoga Tristan baik-baik saja," batin sahabat Tristan, berharap.


.......

__ADS_1


Stela berlari menyusuri lorong rumah sakit setelah sebelumnya ia diberitahu oleh bagian administrasi jika korban kecelakaan dibawa ke ruang instalasi gawat darurat.


Sampai di sana, ia melihat seorang petugas kepolisian duduk si kursi tunggu.


"Selamat malam, Pak?" sapa Stela.


Polisi itu bangkit berdiri. "Selamat malam. Apa anda yang menelpon tadi?" tanya aparat paruh baya itu.


Stela mengangguk. "Saya Stela," katanya memperkenalkan diri.


"Nona Stela, ada hubungan apa anda dengan saudara Tristan?" selidik polisi.


"Saya kekasihnya," jawab Stela.


Polisi itu mengangguk. "Kekasih anda mengalami kecelakaan di sekitar jalan kawasan Jakarta Utara pada pukul 7.12 malam. Masih belum diketahui pasti apa penyebab terjadinya kecelakaan, hingga saat ini tim kami masih menyelidiknya dengan menanyai beberapa saksi yang melihat kejadian juga rekaman CCTV yang memantau jalanan," jelas si polisi.


Stela menghembuskan napas pelan. "Mohon bantuannya, Pak." Hanya itu yang bisa Stela ucapkan. Ia sudah tidak sabar untuk mengetahui bagaimana keadaan Tristan.


"Kalau begitu saya pamit. Dan ya, ini ponsel korban." Polisi menyerahkan ponsle milik Tristan pada Stela.


"Terima kasih banyak, Pak." Stela menunduk hormat.


Selepas kepergian pak polisi, seorang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang IGD.


"Dokter, bagaimana keadaan korban kecelakaan itu?" tanya Stela buru-buru.


"Maaf, anda siapa?" tanya si dokter.


"Saya keluarga korban," jawabnya.


Dokter tersebut mengangguk. Ia menatap Stela serius. "Begini, korban prianya saat ini kondisinya sudah stabil. Dia hanya mengalami cedera kepala ringan dan juga beberapa luka lecet di tubuhnya. Sementara yang wanita sedikit mengkhawatirkan, dia mengalami cedera pada saraf tulang belakang akibat terhimpit oleh badan mobil. Kemungkinan akan mengalami kelumpuhan, kami akan melakukan observasi lebih lanjut. Semoga kelumpuhannya tidaklah permanen," jelas si dokter berjenis pria itu.


Deg


Stela tersentak mendengar penjelasan dokter. Ia merasa lega jika keadaan Tristan tidaklah parah, namun yang membuatnya terheran adalah, siapakah wanita yang bersama Tristan? Kenapa wanita itu bisa bersama dengan Tristan? Dan kenapa Tristan tidak memberitahunya jika dia pergi dengan seorang wanita?


...Bersambung...


Sorry banget ya, kesibukan di dunia nyata membuat cerita saya sedikit terbengkalai. Semoga masih ada yang nungguin😊

__ADS_1


Terima kasih......


__ADS_2