BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Taktik


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Selama dua hari beristirahat di rumah, kini keadaan Tristan sudah jauh lebih baik. Hari ini ia akan kembali bekerja karena jadwal pemotretan yang menanti.


"Aku berangkat." Tristan pamit pada Stela yang sedang membersihkan dapur.


"Iya ... hati-hati," balas Stela.


Setelah pamit pada Stela, Tristam menghampiri Ara yang tengah asyik menonton siaran kartun di televisi. Pria itu duduk di sebelah sang keponakan dan mengusap kepalanya pelan. "Ara... daddy kerja dulu ya," pamitnya. Dua hari ini Tristan memang berusaha membiasakan diri memanggil dirinya sendiri daddy saat bicara dengan Ara.


Ara mendongak menatap Tristan sambil tersenyum. "Hati-hati ya, Daddy," ucapnya dan kemudian... Cup, mengecup kilat pipi putih pamannya.


Tristan tersenyum dan balas mencium pipi gembil Ara. "Jangan nakal ya, jangan bikin mommy repot!" pesannya.


"Yes, Daddy," angguk Ara mengerti.


Setelah berpamitan pada dua perempuan di rumah itu, Tristan segera pergi meninggalkan apartemen.


.......


Tristan beristirahat sejenak setelah pemotretan sesi pertamanya selesai. Vania yang sedari tadi sudah menunggu di kejauhan, langsung menghampirinya.


"Ini minuman untukmu, Tan." Vania menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Tristan, pria itu mendongak melihat wanita yang sudah sangat ia hapal suara lembutnya itu.


"Oh Vania," sapanya. Tristan mau tak mau meraih botol itu dari tangan Vania. "Seharusnya kau tak perlu repot, di sini sudah disediakan minuman juga makanan saat istirahat." Bukannya mengucapkan terima kasih, Tristan malah mengatakan hal yang membuat Vania meringis malu.


Tristan meneguk sedikit air dari dalam botol dan kemudian menaruhnya di atas meja di depannya.


"Tristan-"


Drrtt... drrtt ... drrrttt...


Tepat saat Vania akan berucap, suara getar ponsel Tristab mendahuluinya. Alhasil suara Vania tertelan kembali ke kerongkongannya. Wanita itu langsung cemberut begitu mengetahui Tristan tanpa sungkan langsung menjawab panggilan itu tanpa menoleh atau meminta izin padanya terlebih dahulu.


"Hn, ada apa Ela?" jawab Tristan pada si penelpon di seberang sana yang tak lain adalah Stela.


Siapa Ela? batin Vania.


Ia terus memperhatikan Tristan yang sedang berbicara, hatinya sedikit kesal saat mendengar suara lembut pria itu yang sedang berbicara entah dengan siapa, yang pasti perempuan.


"Ela, kau itu mommy-nya. Kau bebas membawanya kemana pun yang kau mau," sahut Tristan setelah mendengar suara di seberang sana.


"Mommy? Apa jangan-jangan perempuan yang ada di apartemen Tristan itu? Yang dipanggil mommy oleh keponakannya. Sialan...," rutuk Vania.


"Nanti kalau mau pulang, beritahu saja padaku. Aku akan menjemput kalian."


"Tidak akan aku biarkan," desis Vania.


Setelah pembicaraan di telepon selesai, Tristan menyimpan kembali ponselnya. Ia meraih botol minum dan menegak kembali isinya.


"Siapa yang menelpon, Tan?" tanya Vania berlagak lembut, namun dalam hati ia menyumpahi perempuan yang sudah membuat Tristan mengabaikannya akhir-akhir ini.


"Stela," jawab Tristan gamblang.


"Perempuan yang di rumahmu itu, ya?"


"Hm," angguk Tristan membenarkan tebakan Vania.


Menyebalkan, Vania mendesis.


"Apa dia saudaramu?" selidiknya.


"Bukan." Tristan menggeleng.


"Kekasihmu?" Sejujurnya ia tak ingin menanyakan hal ini, tapi ia harus tahu apa status perempuan itu bagi Tristan.


Tristan diam, tidak langsung menjawab pertanyaan Vania seperti sebelumnya. Beberapa saat kemudian, pria itu menggeleng.


Vania tersenyum lega. "Baguslah... kalau ternyata dia bukan siapa-siapa. Jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk menyingkirkan hama pengganggu itu," batinnya.


"Oh... jadi dia hanya baby sitter keponakanmu, ya?" tukas Vania.


Tristan dengan cepat menoleh, menatap Vania dengan tajam. Ia sungguh tak menyukai jika ada yang menganggap Stela itu pembantu di rumahnya atau baby sitter bagi keponakannya. Vania mengkeret ditatap begitu tajam oleh pria di sampingnya, apa ia sudah salah bicara, batinnya.


"Dia bukan baby sitter," tekan Tristan. "Dia memang yang menjaga Ara, tapi bukan sebagai pengasuh melainkan sebagai seorang ibu."


Sudut bibir Vania berkedut samar, hebat sekali perempuan itu sampai mendapatkan pembelaan seperti ini dari Tristan, pikirnya. "Maafkan aku." Dengan kilat, ia berusaha menormalkan kembali sikapnya yang sempat dongkol dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi menyesal.


"Hm."


Vania mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas paha, geram. Ia sama sekali tidak menyangka jika Tristan yang dulu sangat sopan, lembut, baik, dan perhatian kepadanya kini menjadi datar dan acuh tak acuh akan kehadirannya.


Semua ini karena perempuan itu, batinnya dongkol.


.......


Stela saat ini tengah mendandani Ara, gadis kecil itu terlihat cantik dengan dress baby pink selutut dipadukan dengan cardigan berwarna pastel. Rambutnya dihiasi dengan bandana bunga-bunga berwarna putih. Dengan gaya centilnya, Ara bercermin di kaca besar yang ada di kamar Stela.


"Princess siapa sih ini, cantik sekali," puji Stela yang kini berjongkok di belakang Ara dan melihat pantulan diri mereka di dalam cermin.


"Plincessnya mommy," jawab Ara tersipu.


Stela mengecup pipi merona Ara dan kemudian sedikit merapikan rambutnya yang agak kusut.


"Kita pergi sekarang?" tanya Stela. Ara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Stela menggandeng tangan mungil Ara, membawanya keluar dari kamar.


.......


"Mom... apa lumah dedek Velo-nya jauh?" tanya Ara. Mereka sekarang sudah berada di dalam taksi yang akan mengantarkan mereka ke kediaman Arya-Risa. Stela rindu melihat bayi tampan Risa, maka dari itu ia mengajak Ara untuk ikut berkunjung.


"Tidak sayang, sebentar lagi kita akan sampai," jawab Stela.


Kurang dari lima belas menit, mereka sudah sampai di hunian mewah milik keluarga Arya. Rumah tingkat dua bergaya modern itu adalah hasil rancangan Tuan rumah sendiri.


"Stela......." Baru saja pintu itu terbuka, Stela dan Ara langsung disambut oleh suara teriakan histeris dari Risa.


"Kak Risa." Stela terkekeh geli saat Risa memeluknya erat seakan takut ia akan pergi.

__ADS_1


"Aku pikir kau pulang ke London, " kata Risa setelah pelukannya terlepas.


"Tidak jadi, Kak."


"Bagus kalau begitu."


"Mommy..."Ara yang sedari tadi diabaikan, kini menarik-narik ujung blouse Stela meminta perhatian.


Risa dan Stela serempak merunduk melihat tubuh mungil Ara.


"Mommy? Kau sudah punya anak?" pekik Risa tak percaya.


Ara yang mendengar suara bernada tinggi Risa, langsung bersembunyi di belakang tubuh Stel, takut.


Stela tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Risa. "Boleh kami masuk, Kak. Kakiku pegal karena terlalu lama berdiri," pinta Stela.


"Ehh... maaf, ayo masuk Stel. Ayo masuk sayang!" ajak Risa pada sosok mungil yang masih setia bersembunyi di belakang tubuh Stela.


.......


"APA?!"


Entah untuk keberapa kalinya Risa mendapatkan kejutan hari ini. Cerita yang mengalir dari mulut Stela barusan membuatnya terganga. Ia tak menyangka jika selama ini Stela ternyata tinggal bersama Tristan di apartemen pria itu dan sekarang ia juga mengetahui bahwa anak almarhum kakaknya Tristan memanggil Stela dengan sebutan mommy.


"Woah..." Risa hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya.


"Kenapa, Kak?" tanya Stela. Ia melihat jika Risa tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar cerita yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Semoga kalian berjodoh," harap Risa yang diutarakannya secara spontan.


"Eh? Berjodoh, siapa?" Stela yang blank sama sekali tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan Risa.


Wanita satu anak itu tersenyum dan menggeleng. "Aku melantur, jangan dipikirkan!" Risa mengalihkan pembicaraan, biarlah harapan itu ia semogakan saja di dalam hati.


Stela memiringkan kepalanya bingung, merasa aneh melihat sikap mantan bosnya.


"Aunty..." suara imut Ara mengalihkan fokus dua perempuan berambut pirang itu.


"Apa sayang?" tanya Risa yang merasa terpanggil.


"Dedek Velo tidul aunty...," tunjuk Ara pada sosok bayi tampan yang tengah tertidur di atas sofa di samping Risa. Sebelumnya, bocah perempuan itu sempat bermain dengan Vero yang hanya bisa membuka mata dan menggerakkan kecil tangan mungilnya.


"Eh... iya. Dedeknya tidur, aunty pindahkan ke kamar dulu ya." Risa menggendong putra kecilnya dan membawanya ke kamar.


"Sini duduk dekat mommy!" panggil Stela. Ara berjalan menghampiri Stela dan duduk si sebelahnya. Putri mendiang Taufan itu langsung saja merebahkan kepalanya kepangkuan sang mommy. Wajahnya terlihat mengantuk. Stela yang paham, memilih mengusap kepala Ara agar si kecil tertidur.


Beberapa saat kemudian, Risa kembali setelah menyusui dan menidurkan Vero yang sempat terjaga.


"Ara tidur?" tanyanya saat melihat keponakan Tristan sudah memejamkan mata di atas sofa.


"Iya," jawab Risa pelan.


"Pindahkan saja ke kamar, biar tidurnya nyaman," suruh Risa.


"Tidak usah, Kak. Takutnya nanti ia menangis karena terbangun di tempat yang asing. Jadi biarkan saja dia tidur di sini," jelas Stela.


Stela menaruh guling di samping tubuh Ara agar tidak jatuh. Selimut juga ia bentangkan menutupi separuh tubuhnya.


"Mau temani aku memasak? Siang nanti mas Arya akan pulang untuk makan siang. Kita bisa makan bersama," ajak Risa.


"Tentu saja jika itu tidak merepotkan."


"Tidak merepotkan, justru aku senang punya teman memasak."


Akhirnya dua perempuan berbeda usia itu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makanan.


.... ...


Saat sedang menggoreng tempura, ponsel Stela yang tergeletak di atas meja ruang tamu berdering. Risa yang kebetulan lewat setelah melihat bayinya di dalam kamar, meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon.


"Tristan?" ejanya begitu melihat nama yang tertera di layar.


Bukan bermaksud lancang, Risa yang penasaran langsung saja menjawabnya.


"Ela..."


Terdengar sapaan dari seberang sana. Risa hanya diam, membiarkan Tristan bertanya-tanya kenapa orang yang diteleponnya tidak menyahut.


"Ela?"


Risa masih saja diam.


"Ela, kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu? Ara di mana? Ela! Tolong jawab aku! Ela!"


Riaa menutup mulutnya menahan tawa mendengar suara panik Tristan.


"Ela, kau di mana? Jawab aku Ela!"


"Dia ada di rumahku," jawab Risa akhirnya. Tak tega juga rasanya mengerjai Tristan sampai membuat pria itu cemas.


"Risa?"


"Iya, ini aku. Stela ada di sini. Dia sedang memasak. Ara sedang tidur. Kenapa kau menelpon?" tanya Risa.


"Pekerjaanku sudah selesai, aku akan menjemput mereka."


"Ya sudah, datang saja kemari. Kita makan siang bersama, kebetulan mas Arya juga akan pulang siang ini."


"Hm, baiklah. Sampai nanti."


Tut


Sambungan diputus begitu saja membuat Risa berdecak. Ia menaruh ponsel itu kembali ke tempat semula dan menyusul Risa ke dapur.


"Tristan tadi menelpon," beritahunya.


Stela mendengar ucapan Risa, namun fokus matanya masih tetap pada penggorengan di depannya.


"Dia akan datang kemari." Risa mengambil sebuah piring dan mengelapnya. Piring itu akan digunakan untuk meletakkan tempura yang sudah dikeringkan Stela minyaknya.

__ADS_1


"Iya. Tadi kak Tristan sudah mengatakannya."


Risa hanya mengangguk dan dua perempuan itu kembali melanjutkan acara memasaknya.


.......


Tristan keluar dari gedung agensi, Vania yang duduk di lobby menantinya segera berlari menyusul langkah lebar sang pria incaran.


"Tristan!" panggilnya cukup keras.


Langkah Tristan terhenti, ia berbalik dan mendapati Vania tengah berlari ke arahnya.


"Ada apa?" tanyanya.


Vania diam sejenak, menormalkan napasnya yang sedikit sesak akibat berlari.


"Boleh aku menumpang mobilmu, aku tidak membawa mobil?" pintanya. Vania berkata jujur. Tadi pagi ia berangkat bersama Fara dan sekarang managernya itu sudah pergi terlebih dahulu karena suatu urusan.


"Kenapa tidak naik taksi saja?" bukannya menolak tapi Tristan tidak ingin terlambat untuk makan siang di rumah Risa.


"Itu..." Kepala Vania menunduk. "Aku lupa membawa dompet." Kali ini ia berbohong. Apapun akan ia lakukan sampai Tristan mengiyakan permintaannya.


Tristan berpikir sejenak, ia berniat memberi Vania uang untuk naik taksi tapi takut wanita itu tersinggung. Akhirnya, ia mengangguk, membolehkan Vania ikut di mobilnya. Kebetulan ia juga membutuhkan bantuan wanita itu untuk suatu hal.


"Baiklah, ayo!"


Vania berjalan mengikuti Tristan di belakang, senyum puas tersungging di bibir bergincu merahnya. Ini adalah satu dari sekian banyak taktik yang akan ia jalankan.


.......


Senyum puas juga diperlihatkan oleh Stela dan Risa, keduanya menatap makanan yang sudah terhidang menggoda di meja makan berukuran besar itu.


"Sudah seperti pesta saja." Risa tertawa melihat banyaknya makanan yang sudah mereka masak. Padahal yang akan makan hanya empat orang dewasa dan satu balita. Ini semua karena skill memasak Stela yang menakjubkan jadi Risa ingin sekali mencicipi semuanya.


"Aku melihat Vero dulu ke kamar," pamit Risa. Stela pun ikut beranjak dari ruang makan menuju ruang tengah, di mana Ara tertidur. Ingin memastikan jika putrinya masih nyenyak dalam tidurnya.


.......


Tristan sampai di rumah Arya, sahabatnya. Ia meraih paper bag berukuran cukup besar dari bangku belakang mobilnya.


"Ayo!" ajak Tristan pada penumpang wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Vania. Sebelumnya, Tristan meminta bantuan Vania untuk memilihkan hadiah kelahiran yang bagus untuk Vero, tapi saat dirinya ingin mengantarkan Vania pulang, wanita itu menolak. Ia memaksa ikut karena ingin melihat bayi dari sahabat Tristan. Katanya ia sangat menyukai anak-anak jadi ya, Tristan merasa tak enak hati untuk menolak.


Tristan dan Vania keluar dari dalam mobil bertepatan dengan mobil lainnya memasuki gerbang rumah. Tristan ingat jika itu adalah mobilnya Arya, jadi ia menanti sahabatnya itu keluar dari mobil untuk masuk ke rumah bersama.


"Yo Tan, bagaimana kabarmu?" Tristan dan Arya berpelukan sejenak ala lelaki. Terakhir kali mereka bertemu yaitu saat pemakaman mendiang Taufan dan istrinya.


"Baik," jawab Tristan ala kadarnya.


"Syukurlah," ucap Arya lega. Kemudian mata arsitektur muda itu tak sengaja melihat sosok Vania yang berdiri di belakang tubuh Tristan. "Siapa?" tanyanya.


"Rekanku sesama model." Jawaban Tristan membuat Arya ber'oh' ria sementara Vania merutuk dalam hati. Ia kesal karena diperkenalkan hanya sebagai rekan saja, padahal ia berharap lebih.


"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Arya yang sudah berjalan terlebih dahulu.


.......


"Aku pulang..." suara Arya membuat Risa langsung bangkit dari duduknya. Ia berlari menghampiri sang suami yang masih berdiri di depan pintu.


"Selamat datang," sambutnya.


Arya langsung mengecup mesra pipi istrinya tanpa peduli dua orang yang menyaksikannya.


"Tristan, hai..." sapa Risa.


"Hai."


"Siapa?" Sama seperti Arya, Risa juga penasaran pada sosok yang berdiri di belakang Tristan.


"Rekan kerjaku." Dan jawaban sama juga Tristan berikan.


Vania menggeser tubuhnya dan memperlihatkan diri di hadapan Risa.


"Selamat siang..." Vania menunduk sopan.


"Siang," jawab Risa sembari memperhatikan wajah Vania yang seperti familiar. "Aaaaa.... kau model terkenal itu kan? Vania Hermawan?" pekik Risa histeris.


"Ya, salam kenal."


"Sepertinya dia bisa menjadi sekutuku," batin Vania licik.


"Waaahhhh... aku tidak menyangka bisa bertemu model terkenal sepertimu. Salam kenal ya, namaku Larisa. Istri dari sahabatnya Tristan." Risa menyalami Vania dengan sangat antusias.


"Sudah cukup perkenalannya, bisakah kita makan sekarang? Aku sudah lapar," protes sang kepala keluarga.


Riaa cengegesan, kemudian kembali menghampiri Arya dan menggandeng lengannya. "Ayo sayang, kami sudah buatkan makan siang yang special lo..." ajak Risa


"Kami?" tanya Arya heran.


"Iya, nanti kau akan tahu. Ayo!" ajak Risa. "Tristan, Vania. Ayo masuk juga!"


Mereka langsung masuk ke ruang makan, di sana nampak Stela yang tengah menata piring-piring di atas meja.


"Stea?" Itu suara Arya yang kaget melihat kemunculan Stela di rumahnya.


"Pak Arya, selamat datang," sambut Stela.


"Senang melihatmu kembali," ucap Arya. "Risa sedikit galau saat tahu kau akan pergi waktu itu," curhatnya.


Stela hanya tersenyum, kemudian safirnya bergulir ke belakang, melihat Tristan yang berdiri sejajar dengan seorang wanita yang sangat ia kenal belakangan ini.


"Model sombong itu," gumam Stela.


Stela memandang Vania datar, sementara Vania menatap Stela dengan kepala tegak menantang juga tak lupa seringaian kejinya. Wanita itu melirih. "Tak akan aku biarkan kau mendapatkan Tristan, bi*ch."


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment...🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2