BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Putri Bangsawan


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Pesawat dari Sapporo menuju Jakarta tengah mengudara saat ini. Di dalam burung besi itu, pada salah satu kursi penumpang, duduk berdampingan sepasang kekasih yang terlihat mesra. Si perempuan tidur bersandar nyaman di bahu si lelaki, sementara si lelaki mengusap sayang surai panjang si perempuan. Mereka adalah Tristan dan Stela.


Tristan mengecup kening Stela, gadisnya itu terlihat nyenyak dalam tidurnya. Mungkin kecapaian, semalaman mereka tidak tidur. Mengingat kejadian semalam, mau tak mau kedua sudut bibir Tristan tertarik ke atas. Pria itu tersenyum. Huh... sepertinya dia juga butuh tidur untuk saat ini. Penerbangan akan membutuhkan waktu yang cukup lama, dengan tidur semoga waktu cepat berlalu.


...🛬 🛬 🛬...


Sesampainya di Jakarta, Tristan langsung menyetop taksi. Tujuan mereka kali ini adalah kediaman Gautama, untuk menjemput Ara yang sudah lama dititipkan di sana.


Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka. Wanita berumur 40 tahun itu memberitahukan bahwa Ara sedang bermain dengan sang kakek di taman belakang. Lekas keduanya beranjak kesana.


"Mommy... Daddy.....!" Ara yang tengah bermain ayunan langsung turun dan berlari menyambut kedatangan pasangan yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri itu.


"Hey Baby, merindukan kami?" Tristan mengangkat tubuh Ara ke dalam gendongannya.


Gadis kecil itu langsung menyurukkan kepala di leher Tristan. Anggukan lemah terasa di sana. "Ala lindu," ucapnya.


Stela mengusap kepala Ara. Ia merasa bersalah karena cukup lama meninggalkan gadis kecil itu. "I'm so sorry baby."


Mendengar suara sang mommy, Ara mengangkat kepalanya. Tangannya terulur, meminta Stela gantian menggendongnya.


Tubuh Ara berpindah ke pelukan Stela sementara Tristan menghampiri sang ayah yang tengah duduk di bangku taman memperhatikan mereka.


"Aku akan membawa Ara kembali," ucapnya datar begitu sampai di hadapan ayahnya.


Pria tua itu hanya bisa mengangguk pasrah, ia tak ingin berdebat dengan anak bungsunya. Tristan adalah anak satu-satunya yang tersisa dan dia tak ingin bermusuhan terus menerus dengan putranya.


"Kalau begitu kami pamit."


"Tristan..."


Belum sempat melangkah, suara tuan Teguh menghentikan pergerakkan Tristan.


Mau tak mau, pewaris tunggal keluarga Gautama itu berbalik. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun, namun tatapannya menyiratkan jika ia menunggu pria paruh baya itu bicara.


"Makan siang dulu di sini, ayah akan meminta pelayan menyiapkan makanan," pinta Teguh penuh harap.


Tristan terdiam menatap Teguh. Ekspresi yang ditunjukkan sang ayah kini membuat rasa iba terbesit di hatinya. Tak tega rasanya jika harus menolak, toh... itu cuma makan siang. Hal yang sama sekali tidak berat untuk dilakukan.


"Hm." Akhirnya Tristan mengiyakan.


Terlihat senyum tipis terbit di wajah tua Teguh. Ia senang karena akhirnya Tristan mau menerima ajakannya setelah sekian lama, dan berharap semoga hubungan mereka bisa menjadi semakin baik lagi kedepannya.


.......


Empat orang sudah berada di meja makan, sedang menikmati makan siang mereka.


Tristan dan Teguh makan dengan tenang, sementara Stela harus dibuat repot oleh kemauan Ara. Bocah itu minta disuapilah, tidak mau makan sayurlah, mau sosis yang seperti guritalah dan masih banyak lagi. Beberapa hari ditinggal membuat Ara sedikit manja.


"Kekasihmu?" Teguh yang sedari tadi memperhatikan Stela menjadi penasaran. Ada hubungan apa putranya dengan gadis berambut pirang itu.


"Hm." Tristan mengangguk saja. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.


Teguh tak bertanya lagi. Ia khawatir jika Tristan tak suka jika ia terus bertanya masalah pribadi seperti itu. Terlebih wajah anaknya itu masih terlihat datar dan dingin.


"Kak..." panggil Stela.


Pria yang dipanggil langsung menoleh. "Ya, Hon?" jawabnya.

__ADS_1


"Makananmu sudah habis, mau tambah?" tawar Stela.


"Tidak. Aku sudah kenyang. Kau makanlah, biar Ara aku yang urus," katanya.


Stela mengangguk dan tersenyum. Ia mulai menyantap makanan di piringnya yang sama sekali belum tersentuh.


Teguh memperhatikan semua itu. Tristan terlihat sangat perhatian pada kekasihnya, tapi kenapa dia yang sebagai ayahnya tidak bisa mendapatkannya. Hal itu membuatnya sedih, kecewa dan menyesal, bercampur menjadi satu. Ia menyesal akan masa lalunya yang membuat putranya itu sangat membencinya. Huh... pria tua itu menghela napas panjang. Ia menatap Stela yang tengah makan dengan elegannya. Ia jadi penasaran nama kekasih anaknya itu.


"Siapa namamu?"


Deg


Stela tersentak, ia menoleh dan menatap Teguh yang duduk di tepat di hadapannya. Sorot tajam persis Tristan itu membuat Stela sedikit takut. Kemudian kepala ia tolehkan ke samping, menghadap Tristan. Kekasihnya mengangguk tanda mengizinkan Stela menjawab pertanyaan sang ayah.


Stela menegakkan tubuh, sendok dan garpu ia letakkan tanpa suara di atas piringnya. Matanya kembali menatap Teguh. "Auristela Wijaya, Paman," ucapnya kemudian diiringi kepala yang sedikit menunduk hormat. Stela sengaja menggunakan nama keluarga ibunya karena saat ini sedang berada di Indonesia.


"Wijaya?" tanya Teguh memastikan.


Stela mengangguk, mengiyakan.


"Aku mengenal seseorang bernama Ari Wijaya. Dia salah seorang rekan bisnisku. Apa kau mempunyai hubungan keluarga dengannya?" Teguh kembali bertanya.


Stela mengangguk. Perlahan ketakutannya pada pria itu mulai mencair. "Iya paman, beliau adalah adik kandung ibuku."


"Ambar Wijaya?"


"Ya."


"Ku dengar dia menikah dengan seorang bangsawan Inggris, apa itu benar?"


"Iya, Paman. Nama ayahku Anthony Knights."


"Iya, Paman." Stela menghela napas pelan. Begini ternyata rasanya diinterogasi oleh orang tua sang kekasih, sedikit menegangkan.


.......


"Anak bangsawan? Ayahmu seorang bangsawan?" tanya Tristan saat mereka berada di taksi dalam perjalanan pulang ke apartemen.


"I-iya."


"Kenapa tidak pernah memberitahuku?" Nada kesal terdengar dalam suara pria 25 tahun itu.


"Kau tidak pernah bertanya. Lagian kekasih macam apa dirimu yang sama sekali tidak tahu menahu tentang latar belakang kekasihmu sendiri."


Tristan melotot. Ia yang jengkel, kenapa malah Stela yang marah-marah. Dasar perempuan.


"Maafkan aku." Pada akhirnya Tristan hanya bisa mengalah. Ia sadar, itu juga merupakan salahnya yang kurang mencari tahu asal usul kekasihnya, yang ia tahu hanyalah Stela lahir dari percampuran dua negara. Sama sekali tidak kepikiran jika kekasihnya itu seorang bangsawan, ia sangka hanya keluarga yang terlewat kaya saja.


"Apa nanti saat aku akan menikahi Stela, akan diseleksi dengan begitu ketat?" pikirnya. Setahunya, orang awam sepertinya akan sulit untuk bisa masuk ke dalam keluarga bangsawan. "Ah... nanti saja ku pikirkan." Tristan memijit kepalanya yang tiba-tiba pening.


... 🚕 🚕 🚕...


Malam hari, keluarga kecil Tristan tengah duduk bercengkrama di ruang tengah. Ara duduk berpangku di paha Stela, gadis kecil itu menonton tayangan kartun di televisi.


Tak lama kemudian, bel berbunyi. Tristan bangkit untuk membukakan pintu. Ia bisa menebak siapa gerangan yang datang.


"Hai... hai..." Dia Jovanka. Perempuan itu langsung menyelonong masuk.


.......

__ADS_1


"Huuuuuuhhh......." Jovanka bernapas lega saat setengah air dingin membasahi kerongkongannya. "Bagaimana liburannya?" tanya perempuan bersurai pendek itu.


Wajah Tristan dan Stela memerah saat mendapat pertanyaan seperti itu. Ditanya tentang liburan, yang mereka ingat hanya kejadian semalam. Hal itu membuat mereka salah tingkah.


"Hm... me-menyenangkan." Stela yang menjawab, sedikit gugup.


Jovanka memicing curiga. Ia menyadari gelagat aneh keduanya. Asyik memperhatikan dan menyelidiki apa yang sedang terjadi, tak sengaja lensa matanya menemukan cincin cantik di jari manis Stela. Cepat beralih, ia kemudian melihat jari Tristan. Juga terdapat cincin yang melingkar di sana.


"Apa aku melewatkan sebuah berita bahagia?" tanya tunangan Gara itu menggoda.


Tristan dan Stela saling tatap, bingung. "Maksudnya?" Pria satu-satunya di sana yang bertanya.


Jovanka menepuk jidat. "Kali an bertunangan? Dan tidak memberitahuku?"


"Bertunangan, siapa?" Lagi-lagi pasangan itu terlihat kebingungan.


Sudut bibir Jovanka berkedut. Pasangan di hadapannya ini bodoh atau tidak peka sih. "Kalian," pekiknya kesal.


"Lihat! Kalian memakai cincin pasangan," lanjutnya.


"Ah, ini?" Stela mengangkat tangan kirinya. Menunjukkan cincinnya pada Jovanka. "Ini bukan cincin tunangan, cuma cincin sebagai tanda jika aku sudah ada yang punya," jawab Stela. Polos sekali.


Jovanka langsung memandang Tristan. Satu senyuman remeh hadir di wajah tunangan Gara tersebut. "Dasar tidak punya nyali," ejeknya.


Tristan yang tahu jika ejekan itu mengarah pada dirinya, segera melayangkan tatapan tajam andalannya.


"Kalau berani, datangi orang tua Stela. Lamar dia, minta secara langsung pada orang tuanya. Bukan malah memberi cincin dan mengklaim jika Stela adalah milikmu seperti ini. Ingat ya, Stela masih milik orang tuanya sebelum kau mengikatnya secara resmi dalam tali pernikahan," jelas Jovanka. Ia tak merasa terintimidasi sama sekali dengan tatapan Tristan. Sudah biasa.


Mendengar penuturan Jovanka, Tristan merasa malu. Ucapan sahabatnya itu memang benar, tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk itu.


Stela yang sedari tadi mendengar, mulai angkat suara. "Aku masih muda, jalanku masih panjang. Jadi Kak Tristan bilang, dia akan melamarku disaat yang tepat," ucapnya bijak.


Jovanka terdiam, ia baru ingat jika Stela masih 17 tahun. Memang terlalu cepat untuk menikah. Tapi, kan bisa bertunangan dulu? Haaahh... sudahlah. Bukan saatnya untuk membahas masalah itu. Masih ada hal penting yang harus ia sampaikan.


Jovanka lantas merogoh sesuatu dari dalam tas jinjingnya. Sebuah undangan yang berdesign elegan dan mewah. Ia menyodorkan undangan itu ke hadapan pasangan di depannya.


"Kau akan menikah?" tanya Jovanka.


"Bukan aku. Pernikahan ku dengan Gara sebulan lagi. Ini undangan pernikahan calon kakak iparku, Karina," beritahunya.


"Karina dan Rafandra?" Stela mengambil undangan itu dan membaca nama yang tertera di sana. Benar, dua nama yang disebutkan tercetak jelas di undangan.


Tristan mendelik saat mulut Stela menyebut nama Rafa.


"Kenapa?" tantang Stela yang sadar jika Tristan tengah menatapnya. Ia tahu pria itu pasti kesal karena tadi ia menyebut nama Rafa. "Tidak usah berlebihan, dia juga sudah mau menikah. Lagian kita juga tidak berdua di sini, ada Kak Jo dan Ara, jadi tak masalah kan aku menyebut namanya. Hehe." Stela tergelak melihat ekspresi masam Tristan. Jovanka yang tak mengerti hanya bisa diam saja, malas bertanya.


Tristan bangkit dari duduknya, ia masuk ke dalam kamar. Stela memandang kepergian kekasihnya heran, apa pria itu marah?


Tak lama kemudian, Tristan muncul kembali. Ada sebuah paparbag ditentengnya. "Ini sedikit oleh-oleh dari kami," ucapnya sembari mengangsurkan paperbag ke hadapan Jovanka.


"Woah... terima kasih banyak." Jovanka menerima hadiahnya dengan sumringah.


Setelah mengobrol sejenak, manager sekaligus sahabat Tristan itu pun pamit pulang.


... Bersambung ...


...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2