BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Perempuan Licik


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Saat ini Tristan dan Vania berada di dalam ruang rias yang biasa digunakan para model untuk mempersiapkan diri sebelum pemotretan, mereka hanya berdua.


"Kenapa kita berdua harus bertemu di tempat seperti ini, Tan?" Tidak bisakah kita duduk dan berbincang di cafe?" tanya Vania dengan suaranya yang bernada merayu. Wanita itu duduk tepat di hadapan Tristan tanpa ada satu pun yang membatasi, hanya berjarak dua meter antara kursi yang diduduki Tristan dengan dirinya. Kaki jenjang nan putih itu sengaja di ekspos kehadapan si pria, gaun mini yang digunakan Vania sehabis pemotretan itu sungguh sangat sexy. Wanita itu memang berniat menggoda Tristan dengan keindahan tubuhnya. Ia akan bertindak sedikit agresif kali ini agar pria itu bisa kembali direngkuhnya.


Tristan tersenyum miring melihat tingkah Vania yang terkesan murahan di matanya, sedikit menyesal karena dulu ia sempat menduga jika wanita ini berbeda, berkelas dan anggun, ternyata sama saja dengan semua model wanita yang dikenalnya.


"Bertemu di cafe dan diburu oleh paparazi yang haus akan gosip, itu maksudmu?" tanya Tristan sarkas.


"Tristan... apa susahnya, sih? Kita hanya perlu menjawab pertanyaan mereka dan ya... mereka nanti akan berhenti dengan sendirinya," sahut wanita itu cepat, seperti telah memikirkannya sebelum ini.


Tristan memalingkan muka saat tubuh Vania sengaja dicondongkan ke arahnya hingga belahan dada wanita itu terlihat jelas. Pria itu menghela napas pelan berusaha bertahan di tempat yang menurutnya sudah tidak kondusif lagi suasananya. "Maaf, aku sama sekali tidak ingin urusan pribadiku menjadi konsumsi publik," tukas Tristan tegas.


"Oh ya, Tan... apa sebaiknya kita jalankan saja rencana Fara yang waktu itu?" Bukannya berhenti, wanita itu malah bertanya hal yang lebih aneh lagi.


Tristan menoleh cepat, ia sangat tahu rencana apa yang dimaksud Vania. "Kau tahu benar apa jawabanku untuk yang satu itu," sahutnya dingin.


"Ya..." Vania mengangguk. "Katamu kau tidak mau melakukannya karena ingin menjaga hati seseorang, kan? Hm... siapa? Kekasihmu?"


"It's not your business," tukas Tristan dengan tatapan tajamnya. "Aku hanya ingin kerjasamamu saat konferensi pers nanti. Itu saja," lanjutnya. Ia ingin bangkit berdiri tapi ucapan Vania selanjutnya menghentikan pergerakannya.


"Seharusnya sebagai seorang kekasih, dia bisa mendukungmu untuk menjadi lebih terkenal. Ia juga harus rela jika kekasihnya terlibat cinta berkedok bisnis dengan rekan sesamanya. Popularitas kita pasti akan meningkat pesat jika kita berdua menjadi sepasang kekasih. Tidakkah kau berpikir ini menguntungkan, Tristan Gautama?" Bujuk rayu Vania agar Tristan mau menuruti kemauannya. Ia berharap dengan ini pria itu akan kembali masuk ke dalam genggamannya.


Tristan tersenyum lantas mengangguk. "Lakukanlah!"


Vania tersenyum menang, tak sia-sia ia membujuk Tristan dengan sedikit rayuan dan penampakan tubuh sintalnya.


Tristan berdiri dan berjalan selangkah menghampiri tempat duduk Vania. Pria itu menunduk dengan kepala tepat berada di samping wajah Vania. "Lakukanlah apa yang kau mau, tapi jangan libatkan aku dalam rencanamu itu karena aku sama sekali tidak tertarik dengan cara murahan seperti itu."


Muak... Tristan sudah benar-benar muak berada satu ruangan dengan wanita ambisius itu.


Deg


Vania menoleh saat Tristan sudah terlebih dahulu meninggalkan ruangan. "Sialan!" Wanita itu melempar sisir yang ada di atas meja rias ke cermin besar di hadapannya. "Gara-gara gadis sialan itu, Tristan jadi berani menghinaku. Kau sudah mencari lawan yang salah, Stela. Lihat saja, apa yang bisa ku lakukan padamu." Dengan napas memburu Vania menatap pantulannya di cermin yang sedikit retak. Ia tersenyum ngeri, seperti iblis yang siap berperang.


...🍁🍁🍁...


Tristan tiba di apartemen saat malam menjelang, wajahnya menyiratkan lelah yang nyata.


"Aku pulang..." Suaranya terdengar lesu saat mengucapkan salam.


"Selamat datang." Stela yang mendengar suara Tristan langsung berlari dari arah dapur. Ia masih mengenakan celemek memasaknya.


Melihat penampakan sang kekasih, semangat Tristan yang berada di titik terendah kembali pulih dengan cepat. Ia langsung berlari menuju Stela dan menyeret gadis itu ke dalam kamarnya.


Saat pintu tertutup, Tristan segera merengkuh tubuh ramping itu ke dalam dekapannya. Stela membalas pelukan Tristan seraya mengusap pelan punggung pria yang terlihat sangat lelah itu.


Beberapa menit kemudian, pria itu melepas pelukannya. Ia merangkum erat wajah Stela dengan kedua tangannya hingga pipi dan mulut gadis itu sedikit mengerucut lucu. Satu kecupan diberikannya pada bibir candunya itu.


"Masih marah?" tanya Tristan masih dengan tangan yang merangkum wajah Stela, anehnya gadis itu sama sekali tidak menolak diperlakukan seperti itu.


Stela menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Tristan, ingin sekali menjawab, tapi mulutnya tak bisa digerakkan.


Tristan terkekeh melihat reaksi Stela, ia pun melepas rangkuman tangannya.


"Makan malam sudah siap. Kak Tristan mandilah dulu, aku dan Ara menunggu di ruang makan," ucap Stela.


Tristan mendesah. "Tristan sayang, coba lagi!" pintanya.


"Jangan mulai, deh!" protes Stela jengah.


"Ya sudah aku tidak akan mandi dan juga makan." Lagi-lagi pria itu merajuk seperti anak kecil. Tubuhnya ia hempaskan di kasur dengan kasar.


Stela merutuk dalam hati, ia yang muda kenapa malah Tristan yang suka bermanja kepadanya. Terbalik.


"Cepatlah mandi, aku menunggumu di ruang makan, Tristan sayang."


Setelah mengatakan itu Stela langsung hilang dibalik pintu kamar kekasihnya.


Pria itu tersenyum puas dan segera bangkit berdiri. Berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan cepat karena sudah tidak sabar menikmati makan malam buatan Stela.


.......


Tristan memakan makanannya dengan lahap, namun beberapa kali Stela melihat pria itu terdiam cukup lama.


"Sayang, ayo makan, jangan dilihat saja makanannya!" ucap Stela pada Ara. Gadis kecil itu sudah mulai belajar makan sendiri dan saat ini ia malah sibuk bermenung daripada menghabiskan makanannya.


Ara yang dipanggil sayang oleh Stela justru Tristan yang menoleh. Pendengarannya sensitif sekali ketika mendengar kata itu, apalagi kalau keluar dari mulut Stela, berasa panggilan itu untuk dirinya sendiri.


Stela menatap Tristan yang tengah memandangnya. "Apa?" tanya gadis itu.


"Hm?" Tristan jadi linglung karena fokusnya sempat teralihkan.


Stela tersenyum. Ia tahu jika Tristan merasa ikut terpanggil dengan panggilan sayangnya. Ia memang berniat untuk melakukannya. "Itu juga berlaku untukmu, sayang."


Deg

__ADS_1


"Kalian berdua ini kenapa?" tanya Stela menatap Tristan dan Ara bergantian. "Mommy lihat kalian melamun, sampai-sampai makanan yang mommy buat diabaikan begitu saja." Stela mengembungkan pipinya—cemberut.


"Aku tidak apa-apa sayang, cuma ya... sedikit lelah," jawab Tristan.


"Kalau Ara, kenapa sayang? Mommy lihat kamu tidak berselera makan?" Kini Stela dan Tristan beralih menatap si bocah manis.


"Ala mau sepelti yang di buku Mom... Dad," katanya.


"Seperti yang di buku?" Tristan menatap Stela meminta penjelasan. Gadis itu mengangkat bahunya, tidak tahu juga apa yang dimaksud oleh Ara.


"Memangnya ada apa di buku, sayang?" tanya Stela lembut.


Ara turun dari kursi di bantu Stela, bocah itu berlari ke kamar mengambil buku yang dimaksud. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan buku berwarna pink dengan gambar barbie sebagai sampulnya.


"Ini Mommy..." Ara mengulurkan tangannya minta dinaikkan ke atas kursi lagi. Saat dirinya sudah duduk, ia meletakkan bukunya di atas meja. Buku itu adalah pemberian Jovanka saat perempuan itu berkunjung sore tadi.


Tristan dan Stela masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh gadis kecil mereka. Tapi sebuah pemikiran terlintas di benak Stela.


"Ara mau mommy bacakan ceritanya?" tanya Stela.


Balita itu menggeleng, "Ala mau sepelti ini Mommy," rengeknya sembari jari telunjuknya berada di atas gambar si barbie.


"Ara mau barbie? Besok daddy belikan," kali ini Sasuke yang bersuara.


Ara menggeleng dengan wajah cemberut. "Ini Daddy... Ala mau sepelti belbinya, bukan mau belbinya," jelas gadis itu kesal karena orang tuanya sama sekali tidak mengerti maksudnya.


Stela mengambil buku Ara dan memperhatikannya. My Adventure with Ballerina Barbie, itu judulnya. Ara tidak ingin berbie lalu ingin apa? Stela membuka buku itu dan melihat isinya.


Ara mendekat ke arah Stela. "Ala mau menali sepelti ini mommy. Ala juga mau baju menali yang sepelti ini," tunjuk Ara pada gambar barbie yang tengah menari balet.


Mulut Stela langsung membentuk huruf O, sekarang ia mengerti apa yang diinginkan oleh putri kecil mendiang Taufan itu. "Ara mau menari balet?" tanya Stela. Dengan antusias bocah itu mengangguk. "Ara juga mau baju balet seperti ini?" tanyanya lagi. Ara menganggukkan kembali kepalanya dengan semangat.


Berkat Stela, Tristan jadi paham apa yang diinginkan keponakannya. "Besok aku free, kita bisa pergi membeli baju balet untuk Ara." ujar Tristan.


Ara yang mendengarnya langsung tersenyum ceria. "Tengkyu, Daddy."


"Anything for you baby."


Ara begitu tersentuh melihat Stela yang begitu menyayangi keponakannya.


"Apa kita juga harus mencari tempat kursus balet untuk Ara?" tanya Tristan pada Stela.


Kekasih Tristan itu menggeleng. "Tidak perlu, Kak."


"Kenapa?" Tristan menatapnya heran.


"Kenapa Ala tidak boleh ikut menali, Mommy?" Wajah Ara terlihat sedih.


Mata Ara berbinar. "Mommy bisa menali kayak belbi juga?"


"Bisa dong."


"Kamu bisa menari balet?" tanya Tristan.


Stela mengangguk. "Bisa. Dari kecil aku dan kakakku sudah mengikuti kursus menari balet. Mommy sengaja mendatangkan pelatihnya dua kali seminggu ke rumah."


Apa yang tidak kau bisa Stela?


Tristan sekali lagi begitu takjub dengan kemampuan kekasihnya. Ia jadi penasaran, sebenarnya siapa Stela dan keluarganya itu. Sepertinya mereka bukan berasal dari kalangan biasa. Haruskah ia bertanya lebih lanjut lagi atau malah mencari tahunya sendiri?


"Sekarang kita lanjut makan, ya?" ajak Stela dan diangguki dua orang yang berada di sana.


"Mommy, Ala mau disuapi makannya," pinta bocah itu dengan mata berkedip lucu.


"Of course princess."


Melihat Stela yang begitu memanjakan keponakannya membuat rasa haru dan bahagia di hati Tristan. Ia beruntung memiliki kekasih seperti Stela yang tidak hanya peduli padanya tapi juga pada keponakannya.


"Kak, habiskan makananmu!" Stela memandang Tristan tajam.


"Yes baby," angguknya yang langsung mendapat pelototan garang dari Stela.


Tristan menyuap kembali makanannya, namun pikirannya kembali mundur pada kejadian beberapa jam lalu.


.......


Tristan buru-buru menuju basement gedung agensi tempat ia memarkir mobilnya. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah, rindu pada dua perempuan terkasihnya.


Sampai di area di mana ia biasa memarkirkan mobil, matanya menemukan seorang wanita yang sedang duduk cantik di atas kap mobilnya.


"Kau membuatku menunggu lama, Tristan." Wanita itu turun dari kap mobil dan berjalan menghampiri Tristan yang terdiam.


Matanya memicing melihat kehadiran yang tidak diharapkan dari wanita yang menjadi masalah di hidupnya kini. "Mau apa kau?" tanya Tristan yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan nada kesal dalam suaranya.


"Aku hanya ingin membahas masalah konferensi pers tiga hari lagi," jawabnya yang kini sudah berdiri selangkah di hadapan Tristan.


"Kita sudah membahas masalah ini sebelumnya."

__ADS_1


"Ya... dan kau pikir aku mau mengikuti perintahmu begitu saja. Ck... jangan terlalu percaya diri." Vania memandang remeh ke arah Tristan yang saat ini menampilkan wajah datarnya.


"Lalu?" Sama sekali tak terintimidasi atas perkataan Vania, Tristan malah balik menantang.


"Aku bisa saja mengatakan jika kita berdua memiliki suatu hubungan, bahkan... dengan sedikit bumbu yang akan menjadikannya hidangan lezat bagi para wartawan yang lapar akan berita." Wanita itu memangku tangan di dada, berlagak sok berkuasa. Bersikap seolah-olah ia adalah bos dan lawannya hanyalah seorang anak buah yang pasti akan tunduk pada perintahnya.


"Kau pikir mereka akan percaya? Tidak semudah itu jika cerita hanya keluar dari salah satu pihak saja. Tentu aku akan menentang setiap kata bohong yang keluar dari mulutmu." Jangan pikir Tristan bisa diancam dengan cara murahan seperti ini.


Vania tertawa sumbang mendengar kepercayaan diri Tristan. "Aku pastikan kau akan menuruti semua kemauanku." Vania mendekat, sedikit berjinjit dan kemudian berbisik tepat di telinga Tristan.


"Shit." Tristan mendorong tubuh Vania saat ia merasa jika wanita itu berniat menciumnya. Ia tak akan membiarkannya kali ini.


"Apa maumu sebenarnya, Vania Hermawan?" jerit Tristan tertahan. Napasnya mulai memburu tapi ia masih berusaha menekan rasa kesalnya menghadapi wanita itu.


"Hahahahahahahahaha." Wanita itu tertawa, terbahak persis setan yang sudah berhasil menjebak manusia untuk melakukan dosa.


"Reaksimu itu sungguh menggemaskan, Tristan" Vania bergerak mendekat, tangannya ingin menyentuh wajah Tristan tapi langsung ditepis kasar oleh pria itu. 


"Gila!" Tristan mengumpat dan melangkah cepat ke arah mobilnya. Dia sudah tidak peduli dengan apa yang akan diucapkan wanita itu. Dia muak.


"Lihat ini dulu sebelum pergi!"


Mau tak mau, karena rasa penasarannya, Tristab yang baru mau membuka pintu mobilnya memilih berbalik.


Deg


Matanya melebar, menyorot tajam pada layar menyala yang ada di tangan Vania.


"What the f*ck are you doing?" maki Tristan dengan tangan cepat menyambar ponsel Vania. Ia melihat beberapa foto dirinya dan Vania yang terlihat seperti berpelukan dan juga berciuman.


Tristan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru basement yang memang sepi. "You set me up?" hardiknya. Ia melempar ponsel Vania ke lantai.


Wanita itu mengangkat bahu tidak peduli, namun senyum licik itu menghiasi wajahnya. Sekarang Tristan mengerti wanita macam apa Vania itu.


Ia mencoba menetralkan napasnya yang sempat menggebu. Ia harus memutar otak untuk menghadapi wanita licik di depannya, jadi ia mesti tenang.


"Katakan maumu?" tantang Tristan.


"Mengakulah jika kau berkencan denganku!"


"Tidak akan!"


"Aku akan mengirimkan foto ini pada pemburu berita dan mengaku jika kita sudah menjalin hubungan sekian lama," jelasnya. "Atau aku bilang saja pada mereka kalau kita akan segera bertunangan, hm?"


"Damn it, kau gila?"


"Ya. Gila karenamu."


"Lakukanlah sesukamu. I don't care." Tristan akan membuka pintu mobilnya saat Vania kembali bersuara.


"Baiklah, aku tidak akan melakukan keduanya tapi dengan dengan satu syarat," ujarnya


"Apa dia mempermainkanku?" pikir Tristan.


"Baiklah, katakan!" Tristan tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.


"Aku akan mengatakan kejujuran saat konferensi nanti, foto-foto tadi juga tidak akan ku sebarkan. Tapi...-" Vania sengaja menggantung kalimatnya, membuat lawan bicaranya sedikit emosi.


"Kau harus menuruti satu permintaanku," lanjutnya.


"Jangan bertele-tele, apa yang kau inginkan?"


"Berikan satu malammu untukku," lanjutnya.


Tristan terdiam, otaknya mencerna permintaan Vania tadi. Satu malam? Gila. Apa maksudnya?


Melihat raut wajah Tristan yang memerah menahan marah, Vania kembali buka suara.


"Jangan berpikir buruk dulu, maksudku satu malam itu adalah aku ingin makan malam berdua denganmu," jelas Vania.


Tristan mendesah lega. "Makan malam?" tanyanya memastikan.


"Ya. Makan malam." tekannya. "Makan malam romantis dan berlanjut ke malam penuh desahan erotis," sambungnya dalam hati.


"Kapan?"


"Malam sebelum konferensi pers."


"Baiklah."


Tristan langsung masuk ke dalam mobilnya, ia tidak tahu jika Vania tersenyum miring melihat kepergiannya.


"Mudah sekali menjebakmu, Tristan."


Di dalam mobil, pria itu memukul stirnya berkali-kali. "I’m gonna be in a deep shit."


...Bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...


...Terima kasih...


__ADS_2