
...🌻Selamat Membaca🌻...
Hari ini, sekitar jam sepuluh pagi Stela datang ke apartemen Tristan. Sampai di sana ia menemukan pria itu tengah sarapan, hanya susu dan juga beberapa lembar roti yang dipanggang.
"Selamat pagi, Kak," sapa Stela.
"Hm..." jawab Tristan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Stela. Jujur saja, ia masih kesal dengan kejadian kemarin hingga membuatnya lagi-lagi mengabaikan gadis itu.
"Aku mau mengambil barang-barangku," beritahu Stela dan kemudian berlalu pergi masuk ke dalam kamar yang sudah ia tempati selama kurang lebih sebulan ini.
Tristan memperhatikan tubuh Stela yang sudah menghilang di bilik pintu. Ah, rasanya pasti akan sangat sepi, ia harus kembali ke kehidupan lamanya yang tanpa gadis itu. Tak ada lagi makanan lezat yang akan terhidang di meja makan, seperti pagi ini. Hanya roti dan susu seadanya, sungguh miris.
Huh... membayangkannya saja membuat Tristan sesak. Hidupnya sudah bergantung pada Stela semenjak gadis itu masuk ke kehidupannya dan kini gadis itu akan pergi begitu saja.
Tak lama kemudian, Stela keluar dengan menenteng tas yang lumayan besar, barang-barangnya memang tidak terlalu banyak jadi hanya butuh waktu sedikit untuk mengepaknya.
Stela berjalan menghampiri Tristan, ia ingin berpamitan dan juga mengucapkan terimakasih karena pria itu sudah berkenan membiarkannya tinggal di apartemen selama ini.
"Kak Tristan," panggil Stela berupaya mengambil atensi pria itu yang masih terlihat tak acuh dengan keberadaannya.
"Apa?" tanya Tristan ketus. Sebenarnya pria itu hanya mencoba menutupi perasaannya yang tak ingin ditinggalkan Stela dengan bersikap cuek seperti itu.
"Aku pergi, terimankasih banyak atas kebaikanmu selama ini kepadaku. Semoga suatu saat nanti aku bisa membalas semua kebaikanmu itu," ucap Stela.
"Hm." Kembali gumaman itu keluar dari sela bibir Tristan.
Stela menarik napas dalam kemudian menghembuskannya. "Aku pergi." Ia berbalik pergi dari hadapan pria yang masih saja tidak mengacuhkannya.
Gadis itu berjalan dengan pelan menuju pintu, sejujurnya dia sedih harus berpisah dengan Tristan Sekian lama mereka bersama membuat Stela sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu dan kini mereka akan berpisah. Entah bisa bertemu lagi atau tidak, mengingat sikap dingin yang belakangan ini Tristan tunjukkan padanya.
Stela sudah sampai di depan pintu, ia menoleh ke belakang sekali lagi. Memperhatikan ruang apartemen ini untuk yang terakhir kalinya. Haah... ia pasti akan sangat merindukan tempat ini.
CKLEK
Stela memutar knop pintu dan membukanya, namun tiba-tiba pintu itu ditutup kembali oleh seseorang yang saat ini sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Jangan pergi!"
DEG
Stela tersentak saat lengan kekar Tristan memeluk tubuhnya dari belakang. "Jangan pergi Stela, jangan!" Tristan memohon lirih di samping telinga Stela, yang lagi-lagi memberikan sensasi geli pada tubuh gadis itu.
"Kak?"
"Jangan tinggalkan aku!" mohon Tristan.
Stela melepas pelukan Tristan dan berbalik menghadap pria itu. "Kenapa?" tanya Stela.
"Aku membutuhkanmu," jawab Tristan. Ia sudah tak memedulikan gengsi dan egonya lagi, yang jelas kini ia akan berusaha meyakinkan Stela agar tidak pergi dari sisinya.
"Membutuhkanku?" Stela tergelak. "Butuh aku sebagai pembantu maksudmu, begitu?" tanya Stela sinis.
"Tidak, bukan begitu Stel. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi satu yang pasti, aku butuh kamu. Jadi jangan pergi, tetaplah di sini!" pinta Tristan dengan raut sendunya.
"Tidak! Aku tidak mau lagi kau perlakukan sebagai pesuruhmu. Aku akan membayar dengan harga yang pantas untuk kebaikanmu selama ini. Bukankah kau menahanku karena aku masih memiliki hutang padamu? jadi sekarang aku akan melunasi semuanya. Jangan khawatir, kau akan mendapatkan apa yang kau hhmpp-," Penjelasan Stela terpotong saat Tristan membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya.
Stela mendorong tubuh Tristan agar menjauh tapi pria itu semakin menyudutkan tubuhnya hingga menempel di pintu masuk. Kedua tangannya dicekal oleh sebelah tangan Tristan sementara tangan pria itu yang lainnya menahan tengkuknya.
Tristan mel*mat bergantian bibir atas dan bawah Stela, walau ini yang pertama, ia membiarkan emosi dan juga insting liarnya yang bekerja.
Stela merasa sesak, ciuman Tristan membuat tubuhnya lemas, bahkan lututnya juga sudah goyah. Jika dirinya tidak bersandar pada pintu, sudah dipastikan tubuhnya akan meluruh di lantai.
Setelah sekian lama bibirnya mem*gut bibir Stela, Tristan akhirnya melepaskannya juga karena pasokan oksigen yang sudah kritis, dia takut Stela akan pingsan karena ulahnya.
Napas Stela memburu, antara sesak dan juga marah berkumpul menjadi satu. Ia menatap nyalang pria di depannya dan kemudian...
PLAKK
Menamparnya dengan cukup keras hingga telapak tangannya terasa panas dan nyeri.
"Keterlaluan kau, AKU MEMBENCIMU!" Setelah berteriak sedemikian keras tepat di depan wajah Tristan, Stela segera keluar dari apartemen pria itu dengan berlari kencang.
__ADS_1
Tristan meninju pintu yang yang sudah tertutup, ia mengerang frustasi. "Bodoh!" umpatnya yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia tak mengerti dengan jalan pikirannya kali ini, kenapa dia sampai melakukan semua itu. Melakukan hal lancang yang membuat Stela segera mendeklarasikan kebencian pada dirinya.
"Bodoh, kalau begini dia akan semakin jauh dari dirimu Tristan bodoh!"
Tristan mengabaikan panas dan nyeri di pipinya, saat ini yang ia rasakan hanya sakit pada hatinya. Sakit melihat Stela menangis dan terluka karenanya.
.......
Sebelum menemui orang tuanya yang menanti di dalam mobil, Stela terlebih dahulu memperbaiki dirinya yang kacau di toilet yang ada di lobby apartemen. Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya curiga melihat keadaannya yang tidak cukup baik.
"Kenapa lama sekali, sayang?" tanya Ambar.
"Maaf Mom, aku butuh waktu untuk mengemasi barang-barangku," jawab Stela dusta.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Anthony yang menyetir mobilnya khusus untuk hari ini.
"Yes Dad." Stela berusaha untuk tetap terlihat ceria di hadapan orang tuanya kendati perasaannya yang tengah terluka akibat ulah Tristan.
"Hari ini kita akan bermain dan shopping sepuasnya," kata Ambar tak sabaran.
"Yes Mom and I'm ready for it," jawab Stela dengan senyum lebarnya. Ia berhasil dengan kamuflasenya hingga tidak timbul curiga pada kedua orang tuanya.
...🌺 🌺 🌺...
Sudah tiga hari terlewat dari hari terakhir kali mereka bertemu, Rafa belum berjumpa lagi dengan Stela. Pesan yang ia kirim tak pernah dibalas oleh oleh gadis itu begitu pula telepon darinya tak pernah diangkat. Rafa merasa cemas, pikiran buruk merasuki pikirannya. Apakah orang tua Stela telah membawa kembali putri mereka itu ke London? Arrgghh... kalau ternyata benar, bagaimana? Dirinya disini masih menunggu jawaban dari gadis cantik itu.
"Aku tahu." Rafa tiba-tiba mendapat petunjuk. Ia mencari kartu nama yang sempat Anthony berikan kepadanya. Ari Wijaya, pamannya Stela pasti tahu di mana keberadaan keponakannya saat ini.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......
...🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1