
...π»Selamat Membacaπ»...
Hari yang dinanti pun tiba. Stela dan Tristan berdiri di belakang panggung, mereka telah siap dengan busana yang dikenakan. Sebentar lagi acara akan dimulai dan hal itu membuat gadis yang merupakan kekasih Tristan itu gugup setengah hidup. Pasalnya, ini yang pertama baginya dan ketakutan untuk membuat suatu kesalahan begitu menghantui dirinya.
"Everything's gonna be Ok. Just relax!" Tristan yang setia di samping Stela terus mengucapkan mantra yang bisa membuat gadis itu tenang seketika.
"Do'akan agar aku bisa," pintanya.
"Always." Tristan menggenggam tangan Stela, menguatkan.
"Sepuluh menit lagi peragaan akan dimulai, kalian sudah siapkan?" Anne datang bersama William.
"Hm..." Tristan mengangguk mantap.
Anne yang masih melihat kecemasan di wajah sang adik, hanya bisa menyemangati dengan memberikan beberapa kalimat penghibur. "Jangan gugup. Saat di panggung nanti, anggap saja semua penonton yang ada di sana adalah pohon," katanya.
William tertawa mendengar ucapan Anne yang tak masuk akal, lantas ia pun menimpali. "Iya. Pohon yang memiliki mata, mulut dan telinga," tambahnya.
PLAK
Dengan kejamnya, Anne memukul keras lengan William, membuat si pria meringis.
"Bukannya membantu, kau malah semakin membuatnya gugup," protesnya kesal.
"Sorry."
"A... aku ke toilet sebentar," pamit Stela.
"Akan ku temani, sekalian merapikan busanamu."
Tingallah Tristan dan William. Tunangan Stevany itu merapikan baju rancangannya yang kini tengah dikenakan Tristan karena sedikit kusut.
"Good luck, Dude."
"Hm."
.......
Fashion week hari pertama pun resmi dibuka. Setelah beberapa kata sambutan dari berbagai pihak, sekarang tibalah saatnya bagi para designer menunjukkan rancangan spektakuler mereka yang akan diperagakan oleh model-model ternama tanah air.
Musik mulai bermain, para model satu persatu keluar dari persembunyian mereka. Pagelaran hari ini akan diadakan dalam tiga sesi, yang pertama rancangan pakaian pria, selanjutnya busana wanita dan terakhir adalah rancangan pakaian untuk pasangan. Ada kurang lebih 100 model yang akan memperagakan busananya malam ini.
(Alur dan pelaksanaan Fashion Week yang aku tuliskan di sini, mungkin tidak sesuai dengan sebenarnya, karena aku hanya menulisnya sesuai bayanganku saja. Harap dimaklumi).
Tristan maju terlebih dahulu dibandingkan Stela karena memang alurnya begitu. Seperti biasa, pria itu tidak pernah mengecewakan. Dia berhasil memukau semua mata di sana baik dengan fisik, bakat dan juga busana yang diperagakannya.
"Fantastic, I love you Tristan," gumam Stela bangga. Ia memperhatikan dengan takjub penampilan sang kekasih melalui layar monitor yang ada di belakang panggung.
HUH
Sejenak Stela memejamkan mata, melihat Tristan ia menjadi termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Ia ingin membuat takjub semua orang dengan pakaian yang ia kenakan.
"Mommy... daddy... do'akan aku."
Ia membuka mata, terlihat pancaran tekad yang kuat dari safirnya. "Aku pasti bisa."
.......
Beberapa lama berselang, musik pun berganti. Kali ini musik yang dimainkan lebih feminin dari sebelumnya karena memang yang akan keluar adalah model-model wanita.
Satu persatu model meninggalkan backstage, Stela kini tengah menunggu gilirannya naik ke atas panggung.
"Ini saatnya..."
.......
Stela sudah kembali ke belakang panggung, setelah selesai ia baru merasa gugup. Apakah tadi ia melakukan kesalahan? Rasanya tidak. Ia sudah mempraktekkan semua hal yang diajarkan oleh Stev dengan baik.
"Sisteeeeeeeer, kau sungguh luar biasa. Menakjubkan, memesona, kau yang terbaik." Anne bersorak heboh saat dirinya sampai di belakang panggung menemui Stela.
"Benarkah?"
"Ya, kau tidak lihat? Semua penonton bahkan lupa berkedip saat melihat kemunculanmu."
"Syukurlah." Akhirnya Stela dapat bernapas lega.
"Sebentar lagi sesi selanjutnya, kita harus cepat. Tristan juga sedang berganti pakaian."
"Ya."
...π π π ...
Vania membanting remote televisi yang ada di kamarnya hingga hancur menghantam dinding. Napasnya menggebu saat melihat Tristan dan Stela berjalan berpasangan di atas runaway. Semua berita gosip di beberapa saluran televisi hari ini membicarakan tentang mereka yang begitu terlihat serasi dalam ajang Fashion Week perdana tadi malam.
"Harusnya aku yang berjalan di sana, bukan perempuan sialan itu," pekiknya.
Mimpinya untuk menjadi lebih terkenal pupus sudah, semua karena Stela.
"Akan ku balas kau!" desisnya dengan senyum menyeringai.
.......
Jovanka menyenderkan tubuh pada kursi di ruang kerjanya. Sejak tadi pagi, sudah puluhan telepon yang datang, dan itu hanya untuk satu tujuan yakninya meminta pasangan- Tristan dan Stela menjadi model produk mereka.
"Aku harus membahas ini dengan Tristan juga Stela." Jovanka segera bangkit dari duduknya dan bersiap menuju apartemen sahabatnya.
.......
"Maafkan aku, karena acara semalam semua orang jadi tahu kalau kau adalah kekasih Tristan." Anne yang tengah menyaksikan acara gosip langsung meminta maaf pada Stela yang duduk di sebelahnya.
"Mereka baru sekedar curiga, tapi jika mereka tahu sekali pun, tidak masalah. Memang ini adalah salah satu resiko menjadi public figuru, kehidupan pribadi pun menjadi bahan yang hangat untuk diperbincangkan," jelas Stelq bijak.
"Oh ya, kakak kapan kembali ke London?" tanyanya kemudian.
"Hoho... ingin aku cepat pergi agar kau kembali tinggal di apartemen Tristan, hm?" goda Anne.
Seringaian kecil terbit di wajah Anne. "Bukannya kakak sendiri yang ingin pulang cepat karen sudah tidak sabar berjumpa dengan pujaan hati, heum...?" Ia balas menggoda.
Mereka berdua akhirnya tertawa.
"Aku sudah memesan tiket penerbangan untuk besok," ucap Anne. "Kau serius tidak ingin kembali?" Jujur... Anne ingin sekali membawa adiknya ini pulang.
"Tidak sekarang Kak," jawabnya.
"Ya sudahlah kalau begitu."
Drrt....drrt....drrt....
Ponsel Stela yang tergeletak di atas meja bergetar. Tristan menelponnya.
"Hallo...."
__ADS_1
"............."
"Apa? Benarkah?"
"........."
"Eh? Bagaimana ya..."
"............."
"Baiklah, aku akan memikirkannya dulu."
"..........."
"See you."
"Ada apa?" tanya Anne begitu melihat Stela sudah selesai menelpon.
"Banyak tawaran yang meminta kami menjadi model produk mereka," beritahunya.
"That's good. Kau terima saja." Begitulah tanggapan Anne.
"Tapi, Kak? Aku sama sekali tidak mengerti dengan dunia permodelan ini."
"Bisa belajar, ada Tristan yang akan membimbingmu."
"Kakak yakin aku bisa?"
"Sure. Kau sangat berbakat."
"Baiklah, aku akan membicarakannya dengan Tristan."
...π π π...
Hari ini Stela kembali ke apartemen Tristan setelah mengantarkan sang kakak ke bandara.
"Aku pulang."
"Yeyey... Mommy pulang." Ara bersorak gembira melihat kedatangannya.
"Selamat datang kembali," sambut Tristan.
Stela tersenyum, rasanya begitu bahagia disambut dengan begitu hangat oleh dua orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga. Keluarga kecilnya.
.......
Sore harinya, Jovanka datang berkunjung. Ia meminta kepastian atas tawaran-tawaran yang datang pada Tristan juga Stela.
Terjadi pembahasan yang cukup panjang, sampai akhirnya dua model yang menjadi hits berkat ajang Fashion Week itu menerimanya. Mereka akan menerima beberapa tawaran saja yang dianggap paling baik dan tidak menyita terlalu banyak waktu.
"Ok, besok kalian datanglah ke kantor. Kita akan membahas ini lebih lanjut." Jovanka pamit undur diri karena dia harus memenuhi undangan makan malam dengan keluarga tunangannya.
.......
Moscow, 18.45
Abercio berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang berada di pinggiran kota Moscow. Ini adalah kali pertama dia datang kemari. Setelah merampungkan semua tugas kantor yang sempat terbengkalai karena kepulangannya ke Indonesia, akhirnya kini ia bisa bertemu sang belahan jiwa.
Rumah itu terlihat sepi, namun tidak menyurutkan langkah pria tampan itu untuk tetap mengetuk pintu kayu di depannya.
Tok...tok...tok...
Setelah beberapa kali ketukan, pintu kayu bercat coklat itu terbuka. Menampakkan seorang wanita cantik yang belakangan ini sangat dirindukan oleh Abercio.
Tanpa aba-aba, Abercio langsung menerjang sang kekasih dan memeluknya erat. "I miss you so much Baby," bisiknya.
Irina tidak membalas pelukan Abercio, ia terlalu terkejut akan kedatangan sang kekasih hingga tubuhnya lemas dan sulit untuk digerakkan.
Cukup lama Abercio memeluk dan menumpahkan semua kerinduan yang menumpuk di hatinya, kini ia lepas pelukan itu.
Irina masih diam membisu, pria itu lantas merangkum wajahnya dan memperhatikan dengan seksama pendar sendu yang terpancar dari manik emerald kekasihnya.
"Kau tidak bahagia aku datang?" tanya Abercio sarat akan kekecewaan.
Irina menggeleng. "Masuklah, tidak baik jika berdiri di depan pintu seperti ini!"
Abercio masuk dan duduk di sofa ruang tamu, hanya kesunyian yang ia dapati di rumah ini. "Di mana orang tuamu?" tanyanya saat Irina datang membawakan minuman juga cemilan untuknya.
"Mama dan papa pergi ke rumah bibi di Sankt Peterburg , ada pernikahan di sana," jawab Irina
"Kenapa kau tidak ikut?" Setelah menyeruput sedikit minumannya, Abercio kembali bertanya.
"Kau tahu sendiri kalau aku tidak suka keramaian, lebih nyaman sendiri jadi aku bisa merampungkan tulisanku."
Pria itu hanya diam, ia baru ingat jika kekasihnya adalah seorang penulis. Tentu suasana yang tenang sangat dibutuhkan agar dapat berkonsentrasi dengan baik saat menulis.
Hening beberapa saat sampai sulung Anthony-Ambar itu kembali buka suara. "Boleh aku menginap disini?"
Deg
Irina ingin menolak, tapi merasa kasihan juga, kemanalah kekasihnya ini harus mencari penginapan di saat hari yang sudah merangkak malam.
"Ya. Aku akan menyiapkan kamar untukmu."
Irina bangkit hendak menuju kamar tamu dan membersihkannya agar bisa ditempati Abercio, namun urung dilakukan saat kekasihnya itu menarik tangannya dan menyudutkannya ke tembok.
"Cio- hmphh"
Abercio membungkam mulut Irina yang akan bersuara dengan ciumannya yang menuntut. Awalnya wanita itu berontak, tapi lama-kelamaan ia jadi terhanyut. Kedua lengannya melingkar di leher Abercio, pagut*n panas itu dibalas dengan sama panasnya. Jujur... ia juga sangat merindukan prianya.
Dua manusia itu larut dalam keintiman ciuman mereka, Abercio mengangkat tubuh Irina dan membopongnya masuk ke dalam kamar yang di depan pintunya tertulis nama sang kekasih. Rindunya akan tertuntaskan dengan cara ini.
.......
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah jendela kamar membangunkan Aebrcio dari tidur lelapnya. Ia sedikit meringis saat merasakan kram pada lengannya yang menjadi bantal bagi sang kekasih.
Ia tersenyum saat melihat wajah tidur Irina dalam pelukannya. Dia terlihat sangat cantik bahkan saat mata indah itu terpejam. Perlahan pria itu menyusuri garis wajah Irina menggunakan jarinya.
Irina adalah cinta pertamanya, wanita pertamanya dan Abercio harap menjadi yang terakhir baginya juga. Ingin sekali mengikat wanita ini dalam tali pernikahan, tapi sayang... Irina mengatakan belum siap. Sampai kapan mereka harus seperti ini?
"Morning." Abercio mengecup bibir merah penuh Irina saat wanita itu membuka mata.
"Morning," balas wanita itu serak.
Irina melepas pelukan Abercio dan bangkit dari pembaringannya. Ia membiarkan tubuh polosnya terekspos saat selimut di tubuhnya terlepas. Sejenak wanita itu duduk membelakangi sang kekasih.
"Bersihkanlah tubuhmu, aku akan mandi di kamar lain." Irina berdiri dan memunguti satu persatu pakaiannya yang berserakan di lantai lantas mengenakannya. Setelah itu ia pergi keluar kamar dan meninggalkan Abercio yang terduduk bingung.
Selama sarapan, tak ada obrolan yang terjadi.
"Sekarang pergilah, Cio!" Irina menaruh ransel yang dibawa Abercio ke samping tubuh pria itu.
__ADS_1
"Kau mengusirku?" Abercio berdiri dari duduknya dan menatap tajam pada Irina.
"Kau sudah mendapatkan yang kau inginkan, jadi sekarang pulanglah. Kembalilah ke London, di sini bukan tempatmu," balasnya datar.
Abercio terhenyak. Ini bukan seperti Irina yang ia kenal. Dan apa tadi katanya? Mendapatkan yang kau inginkan?
"Jadi maksudmu aku jauh-jauh mengunjungimu kemari hanya untuk menuntaskan hasratku padamu, begitu?" tanyanya emosi. "Aku tidak sepicik itu," pertegasnya.
Irina hanya diam, wanita itu berusaha menahan mati-matian sesak di dadanya. Ia sungguh tak tega melakukan ini, ia mencintai Abercio tapi sayang... mereka tak akan pernah bisa bersama.
"Pergilah!" Irina berbalik pergi tapi Abercio langsung menahannya.
Dengan kasar tubuh ramping Irina ia balikkan dan kedua bahunya dicengkram kuat.
"Tatap mataku Irina, apa ini yang kau inginkan? Kau ingin aku pergi?"
Wanita itu tak berani melihat mata biru Abercio, ia takut tenggelam di dalamnya.
"Pergilah..." suaranya terdengar bergetar saat kalimat usiran kembali diucapkan.
"I love you." Abercio berujar tegas.
"Sudah, jangan katakan lagi!" Irina memohon lirih.
"Aku cinta kau, Irina."
Bibir wanita itu bergetar, cairan bening perlahan luruh melewati pipi.
"Jangan membuatku semakin sulit," isaknya.
"Ya lyublyu tebya, ty vyydesh' za menya?" (Aku mencintaimu, menikahlah denganku?)
"CUKUP ABERCIO!" Irina menyentak lepas tangan sang kekasih di bahunya. Ia beringsut mundur.
"Kita tidak akan pernah bisa menikah," pekiknya.
"Kenapa tidak bisa? Apa yang membutanya tidak bisa?" Suara pria itu mulai meninggi.
"Karena kita berbeda."
Deg
Pria itu tersentak. Jadi benar ucapan Sebastian waktu itu. Kasta adalah masalah utamanya.
"Irina, dengar!" Abercio melangkah maju mendekati Irina, tapi wanita itu semakin memundurkan tubuh menjauhinya.
"Mommy dan daddy bukan orang tua yang kuno. Mereka tidak akan mempermasalahkan dogma yang terkenal di masyarakat bahwa yang kaya harus menikah dengan yang kaya lalu si miskin dengan sesamanya. Orang tuaku tidak seperti itu Irina." Ia coba menjelaskan jika memang itulah yang ditakutkan oleh sang kekasih.
"Orang tuamu mungkin tidak seperti itu, tapi bagaimana dengan orang-orang yang ada di sekitar kalian? Mereka pasti akan mentertawakan keluargamu. Seorang pria bangsawan menikahi putri dari seorang pegawai rendahan, huh? Lucu sekali." Irina tertawa sumbang, mentertawai dirinya yang begitu menyedihkan.
Abercio mengacak surai pirangnya frustasi. "Persetan dengan apa yang orang pikirkan. Ini hidup kita, kita yang menjalani. Terserah mereka mau bicara apa, yang jelas kita bahagia."
Tubuh Irina merosot. Tangisannya terdengar semakin nyaring. Abercio menghampiri dan lantas membawanya masuk ke dalam dekapan. "Kita tidak akan pernah bisa bahagia jika hanya berpatokan dengan apa kata orang. Kau mengerti kan?" ucapnya lembut.
Kepala Irina mengangguk lemah. Abercio membantunya berdiri. Pria itu menarik tangan sang kekasih menuju sofa di mana ranselnya masih tergeletak. Ia mengeledah isinya sebentar dan mengeluarkan sebuah kotak kayu berbentuk kubus.
"Irina Jovovich, would you spend the rest of your life with me?" Abercio berlutut dan menyodorkan kotak berisi cincin bermata berlian yang sangat indah ke hadapan Irina.
Irina menutup mulutnya, terharu. Ia membantu Abercio bangkit dan kemudian menatap pria itu dengan air mata berlinangan.
"Be my wife?"
"Yes, I wanna be your wife."
Abercio tersenyum sumringah, ia segera memasangkan cincin di jari manis Irina. "Thankyou," ucapnya lantas mengecup punggung tangan mulus itu.
"I love you too. Ya lyublyu tebya."
Mereka berpelukan erat. Tak sia-sia kedatangan Abercio jauh-jauh ke Moscow. Akhirnya ia bisa membawa Irina bersamanya.
"Kita bertemu orang tuaku, ya?"
Irina melepas pelukannya. "Apa tidak terlalu cepat?"
"Aku ingin cepat-cepat menjadikanmu istriku."
"Baiklah." Irina mengangguk dan tersenyum.
"Akhirnya aku bisa melihat senyummu lagi."
"Hm?"
"Sejak aku datang, kau selalu cemberut bahkan saat kita bercinta pun kau ha-"
"Shut up, Cio!" Irina segera menutup mulut Abercio sebelum pria itu mengatakan hal yang akan membuatnya malu.
Tangan yang membekap mulutnya dilepaskan Abercio. Gantian kini tangannya yang berada di wajah Irina, mengusapnya lembut.
"Aku bahagia," ucap pria itu sebelum bibirnya mencium bibir candu wanitanya.
Hanyut dalam ciuman kebahagiaan, mereka tidak sadar jika ada sepasang paruh baya yang baru datang menyaksikan kegiatan mereka berdua dari depan pintu masuk.
"IRINA!" Suara bentakan dari pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Irina mengagetkan mereka berdua.
Sontak tautan bibir itu terlepas dan mereka kompak menoleh canggung pada kedua orang yang baru datang.
"Apa-apaan ini?"
"Maaf Uncle, perkenalkan saya Abercio Knight. Kedatangan saya kemari adalah untuk melamar putri sematawayang anda."
Irina melotot mendengar perkataan spontan Abercio.
"Cio!"
...π π π...
Selama dua minggu ini Tristan dan Stela sibuk melakukan pemotretan. Nonstop selama 14 hari berturut-turut, setelah itu mereka akan terbebas karena tidak ada lagi kontrak. Mereka membatasinya. Selama bekerja, Ara dititipkan di rumah kakeknya. Hal itu membuat ayah Tristan sangat bahagia, berkesempatan untuk bermain dengan cucu satu-satunya.
"Akhirnya selesai juga," Tristan menghempaskan tubuhnya di sofa apartemen seusai pemotretan terakhir mereka.
Stela datang membawakan dua gelas air dingin.
"Ela!"
"Hm?"
"Lusa, ayo kita pergi berlibur!"
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Commentππ»π...
__ADS_1
...Terima kasih...