BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Arabella VS Vania


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Mungkin benar yang diungkapkan Joker dengan kalimatnya, 'Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti', hal itu benar terjadi pada diri Vania. Dulunya, dia adalah seorang gadis pemalu dan berhati lembut, namun karena pernah tersakiti, ia berubah menjadi pribadi yang berbanding terbalik dari sebelumnya. Tapi jika kita telisik, hal ini bisa terjadi hanya pada pribadi-pribadi yang lemah secara emosi ataupun pikiran dan mungkin itulah yang terjadi pada Vania, karena lemahnya mental yang dimiliki hingga dirinya mudah terhasut untuk melakukan sesuatu yang buruk.


.......


"Kau akan menikah dengannya?" tanya gadis bersurai gelap itu sendu.


"Aku tidak bisa menolak keinginan ayah," jawab si pria dengan nada pelan, berupaya menekan rasa sakit yang kini menyesakkan dadanya.


"Kita bisa mengatakan pada ayah kalau kita saling mencintai. Ayah pasti akan mengerti," mohon sang gadis yang sudah berlinangan air mata.


"Tidak Van, aku tidak bisa menolak keinginan ayah. Tolong mengertilah, jangan membuat ini menjadi semakin sulit." Sang pria memohon pengertian gadis bernama Vania itu. Gadis yang merupakan adik angkatnya dan sudah dua tahun ini mereka menjalani hubungan secara diam-diam.


"Jadi kau akan meninggalkanku dan menerima perjodohan itu? Apa kau mencintai perempuan itu, Mas?" Vania menggenggam kedua tangan pria pujaannya, berharap sang pria akan menjawab pertanyaan itu sesuai yang ia inginkan.


"Cinta akan datang karena terbiasa. Aku yakin suatu hari nanti aku bisa mencintai Clara dengan setulus hatiku," jawaban penuh keyakinan dari Evan membuat Vania tercenung.


"Lalu bagaimana denganku, Mas? Kau akan meninggalkanku begitu saja setelah kau mendapatkan pengganti diriku? Tega sekali kau!?" jerit Vania yang tak mampu lagi menahan luapan emosi yang sedari tadi bercokol di hatinya.


"Aku yakin, kau akan menemukan seorang pria yang akan mencintaimu dan menjagamu dengan sepenuh hati suatu saat nanti, pasti."


Evan berbalik pergi, namun Vania segera berlari dan menghadang jalannya. "Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku sangat mencintaimu." Sekali lagi gadis itu memohon.


"Maaf. Aku harus pergi, Clara menungguku. Kami akan melakukan fitting baju untuk pengantin."


Baju pengantin?


Vania membatu di tempatnya berdiri, dan kesempatan itu digunakan Evan untuk pergi.


Mereka akan menikah?


Lalu bagaimana denganku?


Ini tidak adil


Tubuh Vania merosot ke lantai balkon di mana mereka berdua berdebat tadi. Wajah yang penuh kesedihan itu seketika berubah datar. "Aku membencimu, mas Evan. Aku sangat membencimu."


Kesakitan dari luka yang ditorehkan oleh orang yang dicintainya, telah membuat Vania yang sebelumnya berkepribadian baik menjadi seorang gadis yang ambisius, penuh rasa iri dengki dan juga tipu muslihat.


...🌺 🌺 🌺...


Mata Vania tak henti melihat gerak-gerik sepasang manusia yang duduk saling berhadapan di meja makan itu. Tristan beberapa kali melempar senyum ke arah Stela, sementara perempuan pirang itu sesekali juga terlihat memberikan beberapa lauk ke dalam piring makan Tristan. Hal romantis itu nyatanya membuat panas hati Vania yang merasa iri melihatnya.


Risa yang sebelumnya begitu antusias membicarakan ini-itu dengan Vania menjadi berubah haluan saat melihat keakraban yang terjadi antara Tristan dan Stela. Ibu satu anak itu senyum-senyum sendiri sembari tetap menyuap makanannya. Arya yang selalu memperhatikan istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia sangat bisa membaca pikiran istrinya, pasti wanita yang sudah ia nikahi dua tahun lalu itu berniat untuk menjodohkan Tristan dan Stela. Sebagai sahabat, Arya sangat setuju jika hal itu terjadi. Tristan sudah terlalu lama sendiri dan sekarang dia butuh seseorang untuk menemani hidupnya dan menurut pengamatannya, Stela adalah calon pendamping yang cocok untuk Tristan. Pria pendiam itu sangat klop jika disandingkan dengan gadis ceria seperti Stela.


"Sudah, jangan dilihat lagi. Habiskan dulu makananmu sayang," bisik Arya tepat di telinga istrinya.


Risa yang ditegur sang suami segera melanjutkan makannya. Namun bukan Risa namanya jika ia hanya bisa diam sambil mengunyah makanannya, Ia berniat ingin mengajak Vania mengobrol kembali, namun diurungkannya tatkala melihat tatapan aneh perempuan itu yang tertuju pada Tristan dan Stela.


Lama Risa memperhatikannya, ia bisa melihat pancaran ketidaksukaan yang dilihatnya dari mata perempuan cantik itu. Apakah itu cemburu? Rasanya tidak, Risa sangat tahu bagaimana perasaan cemburu, karena dulu ia pernah merasakannya saat Arya terlihat begitu dekat dengan rekan kerjanya, tapi yang Risa lihat di sini itu berbeda. Vania seperti benci melihat kedekatan Tristan dan Stela-terasa seperti dia tidak menyukai jika kedua orang itu bahagia.


"Heii!" Arya menepuk pelan bahu istrinya yang sedang melamun.


Risa yang kaget langsung tersadar, "Kau sudah selesai?" tanyanya saat melihat piring kosong sang suami. "Mau tambah?" tawarnya.


"Tidak. Aku mau melihat Vero dulu ke kamar. Kangen." Ayah satu anak itu bangkit dari duduknya.


"Sayang ... cuci tangan yang bersih dulu sebelum menyentuh Vero!" pekik Risa pada Arya yang sudah keluar dari ruang makan.


Suara keras dari Risa itu ternyata membuat Vania tersadar. Ia kembali menyantap hidangan di piringnya walaupun selera makannya sudah menguap karena melihat adegan memuakkan tadi, tapi ia tetap berusaha menghabiskan apa yang diambilnya agar ia tidak di cap sebagai orang yang tidak sopan karena tidak menghargai makanan yang telah disediakan tuan rumah.


Ternyata tak hanya Vania yang tersadar karena suara pekikan Risa, Ara yang lelap tidur pun juga jadi tersentak bangun karenanya.


Balita itu tidak menangis, ia hanya sedikit bingung melihat tempat asing di mana ia berada. Namun hal itu tak berlangsung lama saat ia mendengar sayup-sayup suara Stela. Bocah perempuan itu turun dari sofa dan berjalan ke arah suara di mana mommnya berada.


Langkah kaki mungilnya telah membawanya sampai di sebuah ruangan. Ruangan dengan meja dan kursi-kursi besar tersusun membentuk persegi. Di atas kursi-kursi itu terlihat beberapa orang yang tengah duduk, termasuk mommy-nya. Langsung saja Ara berlari sambil berteriak memanggil Stela.


"Mommy...!"


Semua mata disana beralih menatap gadis kecil yang sudah berdiri di samping kursi yang diduduki Stela.


"Sudah bangun, sayang?" Stela mengangkat tubuh Ara dan mendudukkannya di pangkuan.


"Heum." Ara mengangguk dan kemudian menyusupkan wajahnya yang masih terlihat mengantuk ke dada Stela.


"Ishh, manja sekali keponakan aunty ini." Risa yang gemas melihat tingkah Ara langsung saja menepuk pantat bocah yang berisi itu.

__ADS_1


Ara sama sekali tak bereaksi atas perlakuan Risa padanya. Ia tetap menyusupkan kepalanya di dada Stela seakan itu adalah tempat ternyamannya.


"Ara..," panggil Tristan.


Mendengar suara pamannya, Ara langsung menoleh. Tepat di depannya ia melihat sang daddy duduk dan tersenyum padanya.


"Daddy..." Ara langsung mengulurkan tangan meminta agar Tristan memangkunya. Pria itu mengerti, ia segera bangkit dari duduk dan berjalan selangkah ke dekat Stela lalu mengambil alih Ara. Ia menggendong keponakannya itu dan mencium kepalanya beberapa kali. "Tidak nakal kan selama daddy bekerja?" tanya Tristan lembut.


"No Daddy, Ala anak baik. Ala tidak bikin mommy lepot," akunya.


"Pintar anak daddy." Tristan yang gemas setelah mendengar jawaban Ara tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubiti pipi tembamnya.


Ara terkikik kecil sembari menggeliat kecil di dalam gendongan Tristan. Beberapa saat kemudian mata bulatnya menangkap seorang wanita yang pernah ia jumpai di apartemen waktu itu.


"Kenapa aunty genit ada di sini, Daddy?" Ara menunjuk Vania dengan wajah tak sukanya.


"Tidak boleh begitu sayang!" Stela yang melihat hal itu, langsung menurunkan tangan Ara yang menunjuk pada Vania karena dirasa tidak sopan.


"Tapi Ala nggak suka aunty genit, Mommy. Dia mau ambil daddy dali Ala dan mommy," jawabnya dengan wajah cemberut. Tangan mungilnya melingkar erat di leher Tristan, seakan-akan ia tengah berwaspada jika Vania akan mengambil daddy-nya.


Ucapan polos Ara justru membuat Risa melotot, tak menyangka jika anak sekecil Ara bisa berpikiran seperti itu. Namun, melihat tingkah Vania dan juga reaksi dari Ara, Risa bisa menarik kesimpulan jika Vania memang seperti ingin memiliki Tristan untuk dirinya sendiri. Insting anak kecil itu biasanya selalu tepat, mereka terkadang tahu mana orang yang baik dan mana orang yang jahat hanya dengan melihatnya saja.


Vania tersenyum miris, dari pertama bertemu, keponakan Tristan memang sedikit sensi padanya. Entah gadis kecil itu bisa mencium niat jahatnya atau hanya takut kalau daddy-nya direbut dari dirinya dan gadis kampung itu.


"Ada apa?" Situasi canggung itu buyar kala Arya datang dengan membawa Vero dalam pangkuan kedua lengan kokohnya. "Eh... siapa itu?" tanya arsitek terkenal itu saat melihat bocah perempuan dalam gendongan Tristan.


Tristan yang melihat kedatangan Arya segera menghampiri sahabatnya. Dua pria dewasa itu akhirnya memilih keluar dari ruang makan menuju ruang tamu.


"Maaf atas sikap Ara padamu Vania," ucap Stela mewakili.


Vania tersenyum dan menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku mengerti, dia hanya anak-anak."


Mata Risa memicing, seakan dirinya sangsi dengan ucapan Vania barusan, tampak tidak tulus dan terasa dibuat-buat.


Tak lagi memperpanjang obrolan, Risa dan Stela memilih untuk membereskan meja makan. Vania mau tak mau turut membantu.


.......


Lima orang dewasa tengah duduk di ruang tamu sambil bercengkrama. Ara duduk di sebelah Tristan yang sedang menggendong Vero, bocah perempuan itu sibuk mengajak bayi Risa bicara walau apa yang dia katakan sama sekali tak dimengerti oleh si bayi. Risa dan Stela yang duduk bersebelahan hanya bisa tersenyum gemas melihat dua manusia kecil itu berinteraksi.


"Kau mau menggendongnya, Van?" tawar Tristam. Semua menatap ke arah Vania. Tristan yang sebelumnya diberi tahu Vania jika perempuan itu menyukai anak-anak, kini memberikan kesempatan padanya untuk menggendong Vero, bagi orang yang suka anak pasti sudah terbiasa melakukannya.


Tristan berdiri dan mengangsurkan bayi mungil itu ke hadapan Vania, tangan wanita itu terangkat-sedikit bergetar, seakan ragu menerimanya.


Sedetik lagi tubuh kecil itu menapak di telapak tangan Vania, ibu si bayi langsung berteriak lantang.


"Jangan!"


Mata-mata yang semula mengarah pada Vania, kini beralih pada Risa. Tristan pun tak jadi menyerahkan bayi itu.


"Kenapa sayang?" tanya Arya penasaran.


Bukannya menjawab, Risa mendekat pada Tristan dan mengambil alih putranya dari gendongan pria itu. Membuat semuanya terheran.


"Vero tidak pakai diaper, takutnya nanti dia pipis di baju kalian. Sebaiknya aku saja yang menggendongnya," jelas wanita bermanik biru itu.


Mendengar penjelasan Risa, semua mengangguk mengerti kecuali Arya tentunya. Ia merasa ada yang disembunyikan istrinya. Nanti akan ia cari tahu.


Risa menatap putranya penuh kasih, pipi merah gembil itu ia elus pelan menggunakan jari telunjuk. "Mama tidak mau kamu digendong wanita itu. Nanti tubuh anak mama yang lembut ini bisa lecet," batinnya.


Bagaimana Risa tidak akan berpikiran seperti itu, melihat kuku-kuku panjang berhias kuteks mahal di jemari Vania membuatnya ngeri. Ia tak bisa membayangkan jika kuku itu menggores kulit sensitif bayi mungilnya. Oh tidak... ia tidak ingin itu terjadi. Salahkan saja sifat keibuannya yang terlalu berlebihan.


.......


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, para tamu memutuskan untuk pulang.


Setelah berpamitan, mereka berjalan beriringan menuju mobil Tristan. Vania dengan gerakan gesit langsung menempati bangku penumpang di bagian depan. Dtela tersenyum geli melihat tingkah kekanak-kanakan perempuan itu. Dia seperti bocah yang berebut mainan dengannya.


Berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan Stela, Ara terlihat menggembungkan pipinya-cemberut karena melihat Vania yang ikut serta naik ke mobil daddy-nya. Gadis kecil itu ingin sekali protes, tapi takut ditegur mommy-nya sekali lagi. Alhasil, ia hanya bisa diam tanpa suara duduk di pangkuan Stela. Wajahnya disembunyikan di dada mommynya seperti tadi.


"Aku tidak suka melihat gaya si Vania itu," gumam Risa.


Arya yang berdiri di samping Risa mengernyitkan dahi, bingung. Saat bertemu tadi istrinya begitu antusias menyambut kehadiran Vania, tapi sekarang kenapa berbanding terbalik.


"Ada apa, sayang? Kau kenapa sebenarnya?" Risa merangkul pundak Risa dari samping, mencoba memberikan kenyamanan pada istrinya yang saat ini sepertinya sedang dilanda suasana hati yang buruk.


"Dia tidak seperti yang terlihat," jawab Risa. Arya menjadi semakin bingung, dia masih belum menangkap maksud perkataan istrinya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang ayo masuk, temani aku mandi!" ajak Arya santai.


"Dasar." Risa tersenyum sambil mencubit pinggang sang suami.


.......


Di dalam mobil tidak ada yang berbicara. Hanya suara deru kendaraan yang terdengar.


Hiks... hiks...


Suara isakan kecil itu mengejutkan ketiga orang dewasa di dalam mobil.


"Ara?" Stela yang menyadari jika suara isakan itu berasal dari Ara langsung mendorong pelan tubuh gadis kecil itu agar terlepas dari dadanya.


Deg


Sungguh, Stela terkejut dibuatnya kala melihat wajah merah penuh air mata milik putrinya. "Sayang, kenapa menangis?" Stela menangkup wajah tembam itu, cemas. Tristan yang mendengar itu pun ikut menoleh ke belakang. Rasa khawatirnya membuat ia tidak fokus menyetir dan akhirnya memilih menepikan mobil.


Setelah mobil berada di pinggir jalan, Tristan langsung keluar dari bangku kemudi dan masuk ke bangku belakang.


"Mari kenapa, sayang?" Tristan mengambil Ara dari pangkuan Stela. Ia memandang wajah keponakannya yang masih dibanjiri air mata. Berada di situasi seperti ini membuat ia mengingat mendiang kakaknya. Ia merasa bersalah karena telah membuat gadis kesayangan Taufan menangis seperti ini.


Tristan membawa Ara ke dalam pelukannya, "Katakan pada daddy, Ara kenapa?" bujuk Tristan. Telapak tangan besarnya mengelus pelan punggung si kecil, berupaya menenangkan.


Hiks... hiks...


Lagi-lagi yang terdengar hanya suara isakan. Stela semakin dibuat cemas melihatnya, sebelum ini ia sama sekali tidak menyadari jika Ara menangis, ia pikir bocah itu sedang tidur karena napasnya yang teratur. Saat ini ia merasa benar-benar bersalah, karena lalai Ara menjadi menangis tanpa tahu apa sebabnya.


"Drama macam apa ini?" Vania yang masih duduk nyaman di bangkunya hanya menyaksikan drama keluarga itu dengan pandangan bosan.


Kembali ke bangku belakang...


"Sayang, apa mommy ada salah?" Stela mendekati Ara, diusapnya kepala berbandana putih itu sayang.


"Hiks... hiks..., Mommy." Ara turun dari pangkuan Tristan dan pindah ke pangkuan Stela. "Ala tidak mau, hiks satu mobil sama aunty genit, hiks." Akhirnya alasan tangisan Ara diketahui juga penyebabnya.


Stela dan Tristan saling pandang, perasaan tak enak muncul seketika. Vania yang merasa dipersalahkan langsung shock. "Kenapa bocah itu selalu menggangguku," geramnya dalam hati.


Stela diam, ia tidak tahu harus berbuat apa, hanya Tristan di sini yang berhak memutuskan.


"Sekarang Ara mau apa?" Tristan juga tidak tahu harus bagaimana, jadi ia lebih memilih bertanya pada Ara apa yang diinginkan keponakannya itu. Apa yang diinginkan Ara nanti, maka itu pula yang akan dilakukan Tristan.


"Hiks... suruh aunty genit keluar dari mobil daddy hiks," jawabnya, mutlak.


Tristan menatap Vania, melihat raut wajah perempuan itu yang terlihat tidak senang membuat ia merasa semakin tidak enak hati. Namun, ia tetap harus melakukannya demi Ara.


"Maaf Van, aku tidak bisa mengantarmu pulang." Keputusan akhirnya diucapkan Tristan. Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet. "Uang untuk naik taksi," ucapnya sambil menyodorkan.


Rahang Vania mengeras, ia merasa terhina, tapi sebisa mungkin ia menunjukkan wajah biasa saja. "Tidak apa-apa, Tan. Aku akan memesan taksi online saja." Tanpa pamit Vania keluar dari mobil Tristan.


Tristan termenung sesaat, tapi setelah itu ia kembali menoleh pada Ara yang sudah lebih tenang dari sebelumnya. "Kita pulang sekarang ya," ucapnya.


"Iya, Daddy," jawab Ara.


"Pindah ke depan saja, El!" suruh Tristan dan diangguki Stela.


Selama perjalanan, Ara sudah kembali ceria. Sesekali ia berceloteh ria membuat Stela dan Tristan tertawa.


"Kak!" panggil Stela.


"Hm?" Tristan menoleh sebentar ke arah Stela kemudian kembali mengarah pada jalanan di depannya.


"Maaf. Seharusnya aku bisa lebih memberikan pengertian pada Ara agar tidak berlaku seperti tadi. Aku merasa tidak enak pada Vania. Aku mohon sampaikan maafku pada kekasihmu itu," ucap dan pinta Stela.


Sekali lagi Tristan menoleh sebentar, pria itu tersenyum tipis dan kemudian mengangguk.


"Dia bukan kekasihku," balasnya.


Bukan kekasih.


Bukan....


Stela tersenyum, tidak tahu kenapa ia merasa lega sekaligus senang begitu mengetahui jika model berparas cantik bernama Vania itu bukan kekasihnya Tristan.


Kenapa?


...Bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa Like & Comment...🙏🏻😊...


...Terima kasih...


__ADS_2