BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Salah Paham


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Stela's PoV


Aku memeluk tubuh kecil Ara, tak tahu apa yang saat ini terjadi pada diriku. Aku merasa kacau setelah tadi melihat adegan ciuman kedua orang itu. Ada rasa sesak menghimpit dada dan juga rasa sakit yang mendadak hadir di dalam hati ini.


Jujur saja, aku tak suka melihat mereka bersama. Hati ini tak rela melihat kedekatan intim yang terjadi di antara mereka. Perasaan ini baru sekali ini ku alami dan aku sama sekali tidak tahu apa maknanya.


Oh God, what is this feeling?


Berbekal rasa penasaran yang memuncak, ku ambil ponsel di dalam clutch bag dan mengetikkan sesuatu pada pencarian di internet.


Aku menganga tidak percaya, di sana ditulis bahwa makna dari perasaan tak suka ku melihat keakraban mereka itu adalah perasaan cemburu. Lalu buru-buru ku ketik lagi, mencari kenapa kita bisa merasakan perasaan cemburu itu dan jawaban yang ku dapat membuatku membeku.


Cinta?


Cinta katanya, cemburu itu pertanda cinta. Jadi maksudnya, aku cemburu melihat kedekatan mereka karena aku mencintai kak Tristan, begitu?


Unbelievable.


Aku masih belum mempercayainya, maka dari itu aku kembali mengetik di pencarian. Aku mencari tanda-tanda cinta itu seperti apa.


Setelah ku dapat, aku langsung membacanya. Lagi-lagi aku terdiam, dari delapan tanda seseorang jatuh cinta yang ku baca, lima di antaranya memang aku rasakan.


Jantungku sering berdebar tak karuan jika berada di dekat kak Tristan. Perasaan gugup diiringi dengan keringat dingin juga sering aku alami saat berbicara dengannya. Terkadang diam-diam aku selalu memperhatikannya yang sedang beraktivitas. Disaat dia memuji masakanku atau apapun yang aku lakukan aku merasa sangat bahagia dan bertekad untuk melakukan yang lebih lagi agar dia senang. Terakhir, aku cemburu melihat kedekatannya dengan wanita angkuh itu.


Jadi benar aku telah jatuh cinta padanya.


Pada kak Tristan?


I'm fall in love with him?


Memikirkan ini membuat tubuhku panas, kerongkonganku juga terasa kering. Aku butuh air.


... ....


Author's PoV


Stela keluar dari kamar, berjalan menuju dapur untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Sampai di sana ia terkejut melihat penampakan Tristan yang sedang meneguk segelas air sampai tandas. Gadis itu diam memperhatikan, bagaimana air itu dengan jelas melewati bagian kerongkong si pria, bagaimana adam's apple itu bergerak naik turun seiring dengan tegukan airnya, pemandangan itu tak luput dari penglihatan Stela.


Damn, why is he looking so hot?


"Ela?"


Gadis itu tersadar saat suara panggilan Tristan memasuki gendang telinganya. Ia terkesiap begitu melihat jika kini pria itu melangkah mendekat. Spontan, ia beringsut mundur.


"Ela?" Tristan berhenti mendekat saat melihat Stela mundur menjauhinya.


"A-aku haus." Stela mengambil jalan di samping Tristan, ia membuka kulkas dan mengambil air dingin dari dalam sana.


Setelah segelas air berpindah kedalam perutnya, Stela segera mencuci gelas yang digunakannya lalu menaruhnya kembali ke tempat semula.


"Selamat malam, Kak."


Stela memutuskan untuk kembali ke kamar terlebih dahulu, ia sudah tidak tahan lagi dengan jantungnya yang berdetak liar karena keberadaan Tristan yang terus memperhatikannya.


"Ela, tunggu!" Tristan menahan pergelangan tangan Stela agar gadis itu tidak pergi.


Stela berhenti, tapi ia sama sekali tidak menoleh pada Tristan, ia tak sanggup menatap wajah pria itu saat ini. Apalagi setelah mengetahui jika dirinya jatuh cinta pada pria itu.


"Ela..."


Stela memejamkan matanya, suara itu menggetarkan hatinya. Sentuhan lembut tangan Tristan pada pergelangan tangannya membuat darahnya berdesir.


"Ada apa denganmu? Apa ada masalah?" tanya Tristan khawatir.

__ADS_1


"Iya, aku ada masalah dan masalahnya itu adalah dirimu. Kenapa aku harus jatuh cinta pada pria yang mencintai wanita lain," jerit Stela yang tentu saja hanya diungkapkannya di dalam hati. Perempuan itu memilih diam tak menjawab.


"Ada yang mengganggu pikiranmu? Kau bisa mengatakannya padaku!" lanjut Tristan.


"Aku baik-baik saja," jawab Stela pada akhirnya.


Tristan tidak percaya begitu saja, ia menarik bahu Stela agar menghadap padanya. Matanya menatap tajam perempuan itu, berharap mendapatkan kejujuran. Namun apa yang terjadi, Stela hanya diam dengan kepala menunduk.


"Aku ada salah padamu?"


"Tidak," jawab Stela dengan suaranya yang bergetar.


"Kau aneh, El. Sebelum pergi kita masih baik-baik saja tapi kenapa kini kau seperti ini. Apa kau marah karena aku membawamu pergi begitu saja dari pesta itu?" tanya Tristan yang mulai frustasi pada kebungkaman Stela.


"Tidak," jawabnya. "Karena aku memang ingin segera pergi dari sana terlebih setelah melihat kalian berciuman," lanjutnya di dalam hati.


"Lalu kenapa?" Tristan mengguncang pelan bahu gadis di hadapannya.


Stela yang muak karena terus didesak langsung mengangkat kepalanya dan menatap tajam pada Tristan.


"Sudah aku bilang aku baik-baik saja dan kau tidak perlu sibuk untuk mengurus urusanku. Apapun yang aku lakukan, apapun yang aku rasakan, semuanya tidak ada hubungannya sama sekali denganmu!" pekik Stela tertahan. Wajahnya tampak memerah karena amarah bercampur malu.


"Walau aku mencintaimu?"


Deg


Stela berhenti bernapas ketika kata itu terdengar terucap dari mulut Tristan.


"Aku jatuh cinta padamu, Stela."


Deg


Stela yang tersadar langsung menyentak tangan Tristan yang masih mendarat di bahunya. "Nonsense," ucapnya kesal.


Deg


Melihat sorot kecewa di wajah Tristan membuat Stela dilema. Di satu sisi ia merasa melambung saat pria itu mengungkapkan cinta, tapi saat kejadian ciuman di pesta teringat kembali di benaknya, ia merasa ragu. "Mencintaiku dan mencium perempuan lain? Tidak masuk akal."


Stela menghirup napas dan kemudian mengeluarkannya. "Aku lelah dan aku ingin istirahat," pamitnya yang langsung berlari ke masuk kamar.


Tristan hanya diam menatap punggung Stela yang semakin menjauh. Kenapa jadi seperti ini? Ia pikir dengan mengungkapkan cinta pada Stela, perempuan itu bisa menjadi sedikit lebih terbuka padanya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, Stela terlihat tidak suka dan menganggap perasannya hanya sebuah bualan yang tidak berarti.


"Kenapa jatuh cinta dan patah hatiku terjadi secara bersamaan," desah pria itu galau.


Sementar di kamar, Stela menangis sembari memeluk tubuh Ara. Ia hanya menangis dalam diam karena tidak ingin mengganggu ketenangan tidur gadis kecilnya.


"Apa yang harus mommy lakukan, Ara?" lirihnya sebelum kantuk dan lelah membawanya memasuki dunia mimpi.


...🌺 🌺 🌺...


Tristan bangun dari tidurnya yang jauh sekali dari kata nyenyak. Semalaman matanya terus terjaga memikirkan masalah yang terjadi dan baru jam 4 pagi dirinya bisa tertidur.


Sampai di dapur matanya melihat Stela yang sudah sibuk dengan peralatan masaknya. Tidak ada ucapan selamat pagi seperti biasa yang terucap dari mulut gadis itu dan Tristan juga tidak ingin memulainya. Ia takut terabaikan.


Pria itu memilih untuk berdiam di ruang tamu sampai Stela memanggilnya untuk makan. Entah itu akan terjadi atau tidak, ia hanya bisa berharap.


Baru saja pantatnya mendarat di sofa empuk, bunyi bel terdengar, membuatnya berdecak kesal mengingat siapa yang datang bertamu pagi-pagi seperti ini.


Cklekk


Pintu apartemen terbuka dan Jovanka muncul dengan wajah kesalnya. Ia menyelonong masuk tanpa dipersilakan. Tristan berpikir, sahabatnya itu pasti marah karena ia pergi meninggalkan pesta semalam tanpa pamit.


Tristan sampai di ruang tamu setelah menutup pintu, di sana Jovanka sudah duduk sembari melipat tangan di depan dada.


"Jelaskan!"

__ADS_1


Baru saja ia duduk, perempuan itu sudah menuntut penjelasan dari sesuatu yang sama sekali tak ia ketahui apa.


"Jelaskan apa?" tanya Tristan bingung.


"Itu!" Jovanka menunjuk dengan matanya sesuatu yang sudah tergeletak di atas meja, sebelumnya tidak ada.


Tristan memungut benda yang dimaksud yang rupanya adalah sebuah tabloid edisi terbaru dengan tanggal hari ini.


Pertama yang dilihatnya adalah sampul dari tabloid itu dengan headline;


Dua orang model papan atas Indonesia tertangkap kamera sedang berciuman di sebuah pesta.


"Shit." Terlontar umpatan dari mulut Tristan. Ia pikir ia sudah aman ternyata ada saja orang yang memotret kejadian itu.


"Apa yang bisa kau jelaskan dari berita ini?" tuntut Jovanka.


"Apa yang harus ku jelaskan? Wanita itu tiba-tiba saja menciumku dan mengatakan jika ia terbawa suasana," jelas Tristan.


"Apa kau berkata jujur?" tanya Jovanka dengan mata memicing.


Tristan yang kesal karena perkataannya tidak dipercaya, mengambil tabloid dengan sampul yang memperlihatkan fotonya dan Vania berciuman—ralat Vania yang menciumnya lalu menunjukkannya pada Jovanka.


"Coba perhatikan baik-baik! Di dalam foto ini, apa aku terlihat menikmatinya, hm?" tanya Tristan.


Jovanka merebut tabloid di tangan Tristan dengan kasar dan memperhatikan foto itu. Memang benar, di foto itu jelas terlihat jika Vania lah yang mencium Tristan dan pria itu malah terlihat terkejut.


"Kau tahu, setelah tersadar aku langsung mendorongnya dan bertanya kenapa dia melakukan semua itu. Ia bilang hanya terbawa suasana, tentu saja aku geram mendengar penjelasannya. Oleh karena itu, aku langsung membawa Steka pergi dari sana," jelas Tristan panjang. Jovanka sempat terkesima karena baru kali ini ia mendengar ucapan panjang sahabatnya yang menggebu-gebu. Namun saat sesuatu terlintas di benaknya, ia kembali menyerahkan tabloid itu ke tangan Tristan.


"Coba buka halaman 7!" suruhnya.


Tristan langsung melakukannya, dan tulisan kali ini membuat pria itu mendesah berat.


Setelah berciuman dengan Vania Hermawan, Tristan Gautama menggandeng seorang gadis asing keluar dari pesta.


"Ck... kenapa para wartawan itu suka sekali mencampuri urusan orang," gerutunya.


"Karena memang itulah pekerjaan mereka," jawab Jovanka santai.


Tristan mendelik kesal. "Jadi sekarang bagaimana?"


"Kita lihat situasi dulu, jika para wartawan mulai rusuh kita akan mengadakan konferensi pers. Aku juga akan membicarakannya dengan pihak Vania. Wanita itu telah menciptakan skandal yang merepotkan dan dia wajib untuk ikut menyelesaikannya." Jovanka berujar geram. "Oh ya, di mana Stela? Semalam ia begitu menakjubkan," lanjutnya. 


Mendengar nama Stela, Tristan tertunduk diam.


"Kau ada masalah dengan Stela?" tebak Jovanka setelah melihat reaksi tak biasa Tristan saat ia bertanya tentang gadis yang tinggal bersamanya.


"Aku akan menyelesaikannya sendiri, kau tidak perlu cemas," balas Tristan.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu, masih banyak urusan yang harus aku selesaikan." Jovanka bangkit dari duduknya. "Dan ya, jangan lupa sampaikan salamku pada Stela dan si kecil," kata wanita itu sebelum pergi.


Tristan mengangguk dan mengantarkan managernya ke depan.


Mereka berdua tidak tahu jika sedari tadi Stela mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Terbesit rasa sesal di hatinya karena sudah menuduh Tristan yang tidak-tidak, juga telah meremehkan perasaan pria itu. Seharusnya Stela sadar jika ini semua adalah bagian dari rencana wanita licik itu untuk merebut Tristan. Pokoknya, sekarang ia harus meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Termasuk jawabannya atas ungkapan cinta Tristan semalam.


Stela keluar dari persembunyiannya bertepatan dengan Tristan yang kembali masuk setelah mengantarkan Jovanka.


Mereka berdua berpandangan dalam diam, mencoba menyelami isi hati masing-masing melalui tatapan mata.


"Kak/El!"


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2