BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Sakit


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


"Papa... Mama..."


Stela terbangun dari tidurnya di tengah malam, saat di mana ia mendengar suara kecil Ara mengigau memanggil kedua orang tuanya. Perlahan gadis itu beringsut mendekati si kecil dan mengelus kepalanya agar tenang.


"Ada aunty di sini sayang..." Setelah membisikkan kalimat itu, Stela mengecup kening Ara dan kemudian bangkit dari tempat tidur. "Aunty ambil minum ke dapur dulu ya," pamitnya pada keponakan Tristan yang masih tertidur lelap.


Stela menutup pelan pintu kamar agar tak mengganggu kenyamanan tidur Ara, pelan-pelan ia berjalan menuju dapur. Saat kakinya belum mencapai dapur, sayup-sayup ia mendengar suara tangisan seseorang. Merasa penasaran, Stela melangkah mendekat ke asal suara.


Suara itu berasal dari ruang tamu. Dalam suasana yang temaram, Stela bisa melihat siluet tubuh seseorang yang tengah duduk di salah satu sofa. Tristan, tidak salah lagi. Seseorang yang sedang duduk menangis itu adalah Tristan, siapa lagi kalau bukan pria itu, tak mungkin hantu, kan? Stela tak percaya akan hal-hal mistis seperti itu.


Stela terdiam di tempat, mendengar tangisan Tristan yang menyebut-nyebut nama sang kakak membuat hatinya dirundung pilu. Pasti sangat menyedihkan jika seseorang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Stela tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada dirinya, kehilangan saudara disaat kita sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.


"Kak Tristan..." lirih Stela. Ingin sekali ia menghampiri, memeluk dan menenangkan sosok yang sedang rapuh itu tapi urung ia lakukan. Stela sadar posisinya saat ini, ia bukan siapa-siapa bagi pria itu.


Stela menunduk, ia jadi teringat salah satu alasan yang membuatnya tetap menetap di Indonesia. Selain karena Ara, sebenarnya ada satu hal lagi yang menahan Stela agar tak pergi, yaitu pesan dari mendiang Intan.


"Aku mohon padamu, jangan tinggalkan Tristan, ya? Selama ini dia hanya sendiri, aku yakin dia pasti butuh teman sepertimu. Teman yang tidak hanya menemani tapi juga bisa menjadi sandaran untuk berbagi suka dan dukanya bersama."


Bagaimana mungkin Stela bisa meninggalkan Tristan disaat pria itu tengah berduka, Stela tidak setega itu. Walaupun salah satu alasannya adalah karena Tristan, tapi Stela gengsi untuk mengakuinya.


Membiarkan pria itu menangis sendirian, Stela melanjutkan kegiatannya mengambil minum di dapur dan kemudian kembali ke kamar.


...🌺 🌺 🌺...


Bangun pagi, Stela segera bersih-bersih. Mumpung Ara masih tidur jadi ia memutuskan untuk pergi berbelanja kebutuhan dapur.


Satu setengah jam terlewati, kini meja makan sudah penuh dengan berbagai hidangan untuk sarapan. Stela berjalan menuju kamar, di sana Ara tampak tengah duduk di atas tempat tidur sambil mengucek matanya.


"Ehh... Ara sudah bangun?" Stela menghampiri lantas duduk di hadapan si kecil.


"Aunty, mama... papa di mana?" tanya bocah itu dengan suara parau khas bangun tidur.


Stela terdiam, rasanya sangat sulit menjelaskan pada Ara tentang kematian kedua orang tuanya. Anak itu masih kecil dan dijelaskan bagaimana pun juga, dia tidak akan mengerti, saat ini yang bisa Stela lakukan hanyalah membuat Ara lupa sejenak akan masalah itu. Perlahan, ia akan coba membuatnya mengerti.


"Ara lapar? Aunty sudah buatkan sosis gurita kesukaan Ara loh," ucap Stela mencoba mengalihkan perhatiaan. Dan yang namanya anak kecil, pasti akan langsung tertarik dengan hal-hal yang disukainya sehingga begitu saja melupakan hal yang ada di pikirannya.


"Ala mau Aunty." Bocah itu menatap Stela dengan mata berbinar.


"Kalau gitu sekarang kita cuci muka dulu ya, baru setelah itu makan." Stela menggendong Ara ke kamar mandi.


Sampainya di meja makan, Stela langsung mengambilkan makanan untuk Ara. Ia memangku gadis kecil itu dan menyuapinya.


"Uncle mana, Aunty?" Pertanyaan Ara membuat Stela terdiam. Benar juga, dilihat dari jam yang menunjukkan pukul setengah sepuluh, seharusnya Tristan sudah bangun, karena biasanya pria itu akan keluar untuk sarapan pukul sembilan tepat.


"Setelah makan kita panggil uncle ke kamarnya ya," jawab Stela dengan tangan yang tak berhenti menyuapi Arabella.


.......


Stela dan Ara sudah selesai sarapan, jam menunjukkan pukul sepuluh tepat, namun Tristan masih belum menampakkan batang hidungnya.


"Sekarang kita ke kamar uncle, ya?" ajak Stela.


"Iya Aunty," jawab Ara yang kini sudah mulai melangkahkan kaki kecilnya menuju kamar sang paman.


Tok... tok... tok...


Sampai di depan pintu kamar Tristan, Stela mengetuk pintunya. Beberapa kali ia lakukan itu, tapi sama sekali tidak ada jawaban, bahkan Ara juga sudah berteriak-teriak memanggil nama pamannya.


"Uncle Itan.....!"


Merasa penasaran, Stela mencoba memutar knop pintu kamar itu, dan ya... pintunya tidak dikunci. Ara yang melihat celah pada pintu langsung mendorong pintu itu agar terbuka lebar, setelahnya dia menyelonong masuk.


"Uncle!" panggilnya seraya berlari ke arah tempat tidur Tristan. Sementara Stela mengikuti di belakang.


Ara dibantu Stela naik ke atas tempat tidur pamannya, putri Taufan itu memanggil-manggil sang paman yang masih betah memejamkan mata.


"Aunty, uncle ndak mau bangun," beritahu Ara.


Stela memerhatikan wajah terlelap Tristan, dahinya mengernyit, seperti menemukan sebuah keanehan pada wajah tampan itu. Perlahan, tangannya terulur dan menyentuh pipi Tristan yang memerah.


"Panas." Stela langsung menjauhkan tangannya dari wajah Tristan saat merasakan jika suhu tubuh pria itu sangat tinggi.


"Sepertinya uncle sedang sakit sayang," ucap Stela pada si kecil Ara.


Maa bocah itu berkaca-kaca mendengar ucapan Stela. "Uncle cakit apa Aunty? Kenapa uncle ndak mau bangun?" tanyanya sedih.


"Coba aunty yang bangunkan, ya." Stela ikut duduk di atas ranjang Tristan. Pelan-pelan, ia mencoba mengguncang tubuh pria itu. "Kak... Kak Tristan!" panggilnya.


Cukup lama memanggil, akhirnya pria itu memberikan respon. Wajahnya nampak mengernyit dan perlahan kelopak mata sayu itu mulai terbuka.


"Ste-la?" panggilnya serak.


Tristan yang baru bangun dari tidur, langsung dihadapkan dengan kehadiran Stela.

__ADS_1


"Kak, kau bangun? Tunggu sebentar! Aku akan mengambil kompres untuk menurunkan panasmu." Stela hendak berdiri namun Tristan tiba-tiba menarik tangannya.


"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" tanya Stela.


"A-ku baik-baik sa-ja," ucapnya lemah.


"Baik bagaimana, kau demam!" Stela melepaskan tangan Tristan dari tangannya dan bangkit berdiri.


"Aunty keluar sebentar, Ara jaga uncle dulu, ya?" pinta Stela dan diangguki si kecil.


Selepas kepergian Stela, Tristan kembali memejamkan matanya yang apabila dibuka maka kepalanya akan langsung terasa sakit.


"Uncle..."


Panggilan lirih bernada sedih keponakannya kembali menyadarkan Tristan. Perlahan ia membuka lagi matanya dan terlihatlah wajah sendu Ara.


"Ada apa, sayang?" tanyanya pelan.


"Uncle jangan cakit..." bocah itu beringsut mendekati Tristan dan merebahkan kepalanya di dada bidang sang paman.


"Uncle tidak apa-apa sayang," ucap Tristan sembari mengelus pelan surai Ara.


"Cepat sembuh ya Uncle, bial kita bisa beli es klim," rajuknya.


"Iya sayang..."


"Nanti Aunty Ela belikan es klim juga ya, Uncle?" pintanya.


"Tentu." Tristan hanya bisa mengangguk lemas.


.......


Stela datang membawa sebaskom kecil air hangat dan juga sebuah handuk. Lalu ia menghampiri Tristan dan duduk di sampingnya. Sebelum mulai mengompres, ia mengeluarkan termometer yang tadi didapatnya dari kotak p3k yang ada di dapur.


"Kita ukur suhu tubuhmu dulu." Stela meletakkan ujung termometer tadi ke dalam mulut Tristan. Pria itu hanya pasrah atas apa yang dilakukan Stela padanya karena saat ini ia benar-benar lemas.


Setelah terdengar bunyi dari termometer, Stela segera mengambilnya. "38,6°C. Panasmu tinggi sekali, Kak!" ucap Stela panik. Gadis itu menaruh termometer di atas nakas dan kemudian menarik selimut Tristan yang sebelumnya menutupi tubuh pria itu sampai dada.


"Aku akan mulai mengompresmu," kata Stela meminta izin. Tristan hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Stela meraih handuk kecil yang ia bawa dan kemudian mencelupkannya ke dalam air hangat dalam baskom. Mengompres orang demam tinggi sebaiknya memang menggunakan air hangat agar pori-pori kulit terbuka dan keringat panas yang ada di dalam tubuh bisa keluar.


Sebelum memeras handuk yang masih terendam dalam baskom, jemari Stela perlahan membuka kancing piyama Tristan.


"Ste-la.." Tristan menahan tangan Stela saat kancing piyamanya hampir terbuka semua. Walau dalam keadaan terdesak seperti ini, jujur saja Tristan masih merasakan malu saat seorang gadis melihat tubuhnya.


Wajah gadis itu memanas melihat tubuh polos bagian atas Tristan yang kini terpampang di hadapannya. Dada bidang dan perut berbentuk kotak-kotak itu persis seperti yang pernah ia lihat di majalah. Tapi jika dilihat secara langsung, bentuknya sangat mengagumkan dan gilanya sebentar lagi Stela akan menyentuh tubuh itu. Hm... seperti apakah rasanya?


"Wake up Ela!" Bagian dari dalam diri Stela menyadarkannya dari rasa keterpukauan itu. Cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya demi mengusir pikiran sesat yang sempat singgah.


Tristan hanya bisa membuang wajahnya ke samping, tak sanggup untuk melihat wajah Stela. Ketidakberdayaannya saat ini benar-benar membuat dirinya malu setengah mati.


Stela mulai memeras handuk kecil yang ada dalam baskom, setelah memastikan jika airnya tidak menetes lagi, ia mulai mendekatkan handuk ke tubuh Tristan, memulainya dari wajah, perlahan turun ke leher, mengompres bagian-bagian tertentu beberapa kali, tak lupa di lipatan ketiak juga ia kompres. Di saat-saat seperti ini, Stela jadi ingat pada mommy-nya. Biasanya Ambar akan melakukan hal yang sama jika Stela sedang demam seperti yang dialami Tristan saat ini. Ibunya begitu telaten merawatnya dan hal itulah yang kini Stela lakukan pada Tristan. Ia hanya mempraktekkan apa yang ia pelajari dari sang ibu.


Setelah mengompres semua bagian yang patut di kompres, Stela kembali memasang kancing piyama Tristan. Kemudian ia berdiri dan mengangkat baskom untuk dibawa ke dapur.


"Ya ampun, dia tidur."


Stela tersenyum geli melihat Ara yang kini sudah bergelung nyaman di atas tempat tidur sang paman. Entah sejak kapan bocah itu tertidur, hal itu luput dari pandangan Stela maupun Tristan karena sedari tadi mereka berdua sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Aku akan membuatkan bubur untuk sarapanmu." Setelah mengucapkan itu Stela keluar dari kamar Tristan, ia membiarkan Ara tidur di sana, kalau nanti di pindahkan takutnya gadis kecil itu terbangun.


Selepas kepergian Stela, Tristan menarik dan menghembuskan napasnya berkali-kali. Selama gadis itu merawatnya tadi, tak jarang Tristan harus menahan napas karena gugup. Sungguh... ini pertama kalinya dia dirawat seperti ini oleh seseorang selain ibunya. Biasanya kalau sedang sakit, ia hanya akan minum obat lalu tidur sampai kondisinya membaik, tapi sekarang ada yang memperhatikannya dan hal itu membuat perasaan Tristan menghangat, sehangat tubuhnya saat ini. "Stela..." gumamnya dengan satu senyuman terbit di bibir.


... ....


Stela mengaduk-aduk buburnya dengan setengah fokus, sebagian pikirannya saat ini tertuju pada Tristan. Masih teringat jelas di benaknya, betapa sempurnanya pahatan tubuh model ternama Indonesia itu, betapa liatnya otot-otot itu saat tersentuh jemarinya, dan sialnya Stela tak bisa melupakannya begitu saja.


"Stop it! You're pervert, Ela!"


Stela menggelengkan kepalanya berulang kali, berupaya mengenyahkan pikiran mesum itu dari benaknya, dan naasnya jemarinya tak sengaja menyentuh pinggiran panci bubur yang tengah ia masak.


"Aduh..." Stela segera menarik tangannya dan meniupnya beberapa kali. Syukurlah... panci bubur itu tidak terlalu panas dan kulitnya hanya sedikit memerah. Buru-buru Stela kembali ke kegiatannya karena takut Tristan kelaparan jika ia terlalu lama.


.......


Stela datang dengan nampan berisi semangkuk bubur juga segelas air putih. Ia berjalan menghampiri Tristan yang saat ini tengah terpejam. Pria itu tak lagi mengenakan selimut, tubuhnya juga tampak berkeringat.


"Kak?" panggilnya. Tristan yang memang tidak tidur, perlahan membuka matanya.


"Makan dulu ya?" kata Stela dan diangguki oleh Tristan. Pria itu mencoba bangkit untuk duduk, sedikit sulit namun ada Stela yang sigap membantu.


Tristan duduk bersandar di kepala tempat tidur, sementara Stela duduk di sampingnya. Gadis itu meraih gelas dari nampan yang tadi ia letakkan di atas nakas dan menyodorkannya ke arah pria sakit itu. "Minum dulu."


Tangan Tristan meraih gelas yang disodorkan, gerakannya sedikit lamban karena tubuh yang terlampau lemas. Setelah meminum sedikit air di dalam gelas, ia kembali menyerahkannya pada Stela.

__ADS_1


Gelas diletakkan kembali ke atas nakas, kini mangkuk bubur yang Stela ambil. "Aku suapi, ya?" Stela menawarkan hal itu karena dilihatnya pria itu sedikit kesulitan untuk melakukan sesuatu saat ini. Dengan lemah, Tristan mengangguk.


Stela mulai menyendok buburnya dan mengarahkannya pada mulut Tristan.


Walau rasanya malu sekali, pria itu hanya bisa pasrah dan membuka mulutnya menerima suapan dari Stela.


DEG


Tristan mendadak diam saat lidahnya merasakan rasa dari bubur buatan Stela.


"A-ada apa? Apa buburnya tidak enak?" tanya gadis itu panik saat melihat keterdiaman Tristan.


Pria itu masih diam, bubur itu... bubur itu membuatnya bernostalgia kembali saat dirinya masih remaja. Disaat sakit, ibunya akan membuatkan bubur yang sangat lezat di lidah dan rasanya persis seperti yang ia rasakan sekarang. Bubur buatan Stela mengingatkannya dengan bubur buatan sang ibu, dan hal itu membuatnya merindukan masa-masa itu.


"Ibu..." lirihnya.


DEG


"Kak?" Stela terbelalak saat melihat Tristan menitikkan air mata. "K-kau kenapa? Apa buburnya tidak enak dan membuatmu tambah sakit?" tanya Stela cemas. Ia meletakkan mangkuk di atas nakas dan tangannya terulur menyentuh bahu Tristan.


Pria itu tersentak saat tangan Stela menapak di bahunya. Ia memfokuskan pandangan yang semula menerawang menjadi berpusat pada si pirang.


"Aku tidak apa-apa," jawab Tristan menjawab kecemasan Stela.


"Tapi kau menangis?" tanya si gadis.


"Hm?" Tristan meraba pipinya dan benar, pipinya basah. "Ah... a-aku hanya terharu," jawabnya kemudian.


"Terharu?" Stela menatap bingung.


"Buburnya enak, aku jadi teringat bubur buatan ibu saat aku sakit dulu. Rasanya hampir sama," jelasnya.


Stela mendesah lega, ia pikir buburnya tidak enak. "Kalau begitu makan lagi, ya?" Tristan mengangguk.


Selama Stela menyuapinya, Tristan tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Stela.


"Wajah dan hatimu benar-benar sangat cantik. Kau masih mau merawatku yang sudah sering menyakiti hatimu. Rasa-rasanya aku-"


DEG


Tak sengaja mata mereka bertemu. Safir dan coklat gelap itu saling menatap. Tristan menyelami samudera biru jernih milik Stela sementara Stela jatuh terperosok ke dalam lubang kelam milik Tristan. Mereka berdua terlena sampai akhirnya tersadar saat suara rengekan Ara terdengar.


Stela segera memutus kontak matanya dengan Tristan dan beralih menatap si kecil Ara. Ternyata bocah itu hanya mengigau dalam tidurnya.


"A-aku akan keluar sekarang," pamit Stela gugup. Syukurlah bubur di mangkuk sudah terlebih dahulu habis sebelum moment mendebarkan tadi terjadi.


"Ya..." Tristan hanya berdehem. Tak bisa dipungkiri jika kini ia juga tengah dilanda kegugupan.


"Sepertinya demammu sudah mulai turun, agar lebih nyaman, sebaiknya bajumu diganti dengan yang baru karena yang ini sudah basah terkena keringat," kata Stela.


"I-iya," angguk Tristan.


"Perlu ku ambilkan?" tawar Stela.


"Tidak. A-aku bisa sendiri." Haha Diambilkan baju? Yang benar saja, yang ada nanti tidak hanya mengambilkannya baju tapi Stela juga memasangkan bajunya. Sudah cukup, sudah cukup dirinya merepotkan gadis baik hati itu.


"Ka-kalau begitu aku keluar dulu." Stela berbalik dan mulai melangakah menjauh. Namun saat tangannya akan menyentuh knop, suara Tristan menghentikannya.


"Ela!" panggilnya.


"Y-ya?" sahut Stela gugup, ia berbalik. Jantungnya berdetak kencang saat Sasuke memanggil namanya 'Ela' saja.


"Terima kasih banyak," ucap pria itu tulus.


Stela tersenyum dan mengangguk, kemudian bergegas pergi meninggalkan kamar Tristan.


Setelah pintu tertutup, Stela segera berlari menuju dapur. Ia menaruh nampan berisi mangkuk kosong tadi ke tempat cuci piring. Ia berjalan menuju kamarnya dengan tangan setia menyentuh dada kirinya, di mana jantungnya kini tengah berdetak dengan kencangnya.


"Ada apa denganku?" keluhnya.


.......


Saat dirasa tubuhnya sudah sedikit lebih baik, Tristan bangkit dari tempat tidur. Kepalanya masih berdenyut walau tidak separah tadi pagi, dengan perlahan ia berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil sebuah kaos dan celana selutut dari dalamnya. Ia berdiri di depan wastafle, mencuci muka juga menggosok gigi. Setelah itu, satu persatu yang melekat di tubuhnya ia tanggalkan, menyisakan pakaian dalam bagian bawahnya saja. Tristan mengambil sebuah handuk dan mengelap keringat yang ada di tubuhnya. Saat tangan itu berada di dadanya, ia terdiam. Pikirannya jadi berkelana ke saat di mana Stela mengompresnya tadi. Sentuhan jemari lentik itu masih terasa menggerayangi tubuh atasnya, sensasi gelinya masih tertinggal walau kejadiannya sudah berlalu. Tiba-tiba Tristan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, tangan yang masih bertengger di dada, ia coba tekankan ke arah jantungnya, dan benar saja, jantung itu seakan menggedor keras memaksa keluar. Tiba-tiba napas pria itu terasa sesak, ia berulang kali mencoba menghirup dan mengeluarkan napas. Setelah rileks, ia menatap pantulan dirinya di cermin.


DEG


Matanya membola saat yang dilihatnya di cermin saat ini bukanlah dirinya, tapi bayangan Stela yang sedang tersenyum manis.


"Oh shit, aku mulai berhalusinasi."


...Bersambung...


...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......


...🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2