
...🌻Selamat Membaca🌻...
Tristan's PoV
Aku menahan tangan Stela agar tidak pergi memenuhi panggilan dari master of ceremony(mc). Namun, dia menyakinkanku bahwa ia bisa dan aku juga tidak mungkin meruntuhkan keyakinan yang begitu terlihat mantap dari sinar mata indahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, kenapa namanya bisa tiba-tiba dipanggil seperti itu, bahkan tadi aku melihat wajahnya begitu terkejut. Siapa yang sudah merencanakan semua ini.
Ku lihat dia sudah sampai di depan, jelas sekali kegugupan tengah melanda dirinya. Aku hanya bisa berharap semoga dia bisa melakukannya.
Tut...
Suara itu menggema saat ia menekan tuts piano untuk pertama kalinya, aku tidak tahu dia bisa melakukannya atau tidak, tapi aku berdo'a semoga dia baik-baik saja.
Mata ini tak luput dari setiap pergerakannya. Dalam hati terus merapalkan do'a agar keyakinan yang ia tunjukkan tadi tidak akan mengecewakan dirinya sendiri dan juga semua orang di dalam ruangan ini, termasuk Jovanka dan Gara—selaku pemilik acara.
Perlahan jemari lentik itu mulai menekan tuts secara berurutan sesuai dengan notasi musik yang dimainkan, kesepuluh jari itu bekerjasama menciptakan alunan nada yang begitu membuai. Bisa ku lihat semua orang yang berada di ruangan ini terhanyut mendengarnya dan begitu pula denganku.
Aku sama sekali tidak tahu mengenai musik klasik atau apapun itu, tapi jujur saja aku sangat menyukai apa yang saat ini Stela mainkan. Musiknya begitu merdu dan ruangan ini seketika dipenuhi oleh aroma romantisme yang begitu kuat.
Stela, kau begitu menakjubkan.
Entah kenapa saat ini bayangan pertemuanku dengan Stela kembali berputar. Bagasi mobil adalah tempat di mana pertama kali aku melihatnya, pertemuan yang sedikit unik memang, tapi hal itulah yang membuatku dan dia bisa sampai seperti sekarang.
Teringat saat di mana dia memohon padaku untuk diijinkan tinggal karena tidak memiliki tempat bernaung setelah dirinya kecopetan.
Dia adalah perempuan pertama yang memasakkanku makanan terlezat setelah ibu dan juga yang pertama membuatku galau karena ditinggalkannya.
Stela adalah perempuan berhati tulus yang rela tetap tinggal demi seorang gadis kecil yang telah kehilangan orang tuanya dari pada harus kembali ke tempat ternyamannya bersama kedua orang tuanya.
Dia, perempuan yang sangat telaten merawatku di saat aku sakit, dia yang melimpahkan kasih sayangnya pada Ara—bocah yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.
Sungguh... aku ingin tahu, apakah ada sesuatu yang tidak bisa kau lakukan Stela, karena sejauh ini kau selalu bisa memukauku dengan segala kelebihanmu.
__ADS_1
Apakah yang aku rasakan ini?
Benarkah ini hanya perasaan kagum,
atau...
—benar kata kak Taufa jika aku menyukainya?
Ku rasakan jantungku berdetak lebih cepat saat mengucapkan kata itu, ada getar menyenangkan di hati saat aku menyebut namanya. Baru pertama kali aku merasakan hal seperti ini, jadi apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Aku menyukainya, tidak—lebih tepatnya aku mencintainya.
I've fallen in love with her,
and I have to tell her.
Musik masih mengalun, kurasa lima menit hampir berlalu. Terdengar dari iramanya, permainan ini seperti akan berakhir. Tak sabar diri ini menunggu kedatangannya menghampiriku, akan ku lontarkan segala pujian untuknya atas segala hal yang sudah ia lakukan untukku dan untuk semua orang sejauh ini. Dan di saat waktu yang tepat, aku akan mengungkapkan rasa yang mendebarkan ini, akan ku bilang padanya bahwa aku telah jatuh cinta terhadapnya.
Stela mengakhiri permainannya dengan rapi hingga tidak terdengar lagi dengung dari piano yang tadi dimainkannya. Suasana kembali sepi, namun beberapa detik kemudian terdengar suara riuh tepuk tangan dari semua tamu yang hadir. Mereka memberikan standing applause, aku juga ingin melakukan hal yang sama. Aku berniat berdiri dari duduk ini, tapi sesuatu mencegahku— Vania.
Beberapa detik aku sempat membeku karena mencerna kejadian tiba-tiba ini, tapi setelah itu aku mendorong tubuhnya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?" desisku. Aku melirik ke sana kemari, semua orang masih larut pada euforia permainan piano Stela, syukurlah tidak ada yang memperhatikan kami.
Ku pandang wanita itu dengan tajam, sedikit kesal karena kelakuannya yang lancang sekali menciumku. "Kenapa kau lakukan ini?" tanyaku yang sama sekali tak bisa menahan nada geram dari suaraku.
"Ma-maafkan aku, Tan..." balasnya teramat pelan. Wajahnya menunduk, entah karena malu atau merasa bersalah, aku sama sekali tak dapat mengartikannya.
"Aku tanya apa alasanmu melakukan ini, bukan kata maaf yang ingin aku dengar!"
"A-aku hanya terbawa suasana, maafkan aku."
Ck, apa itu alasan yang logis? Ya... aku akui suasananya memang sangat mendukung, apalagi diiiringi oleh alunan musik yang begitu romantis, tapi hal itu sama sekali tidak membenarkannya untuk menciumku seperti tadi.
__ADS_1
Oh God, It was just a kiss, but I don't know why I feel so bad...
"Sudahlah..." Aku tidak ingin memperpanjang masalah lagi. Seperti yang ku katakan tadi, itu hanya sebuah ciuman dan sama sekali tidak berarti apa-apa walau sebenarnya hatiku merasa sedikit tidak rela karena ciuman itu ku dapatkan dari orang yang tidak ku inginkan.
Ku lihat Stela berjalan ke arah bangku di mana kami duduk, aku langsung berdiri dan secepat kilat menarik tangan gadis itu meninggalkam tempat acara.
"Kak Tristan?" Terdengar suara Stela di belakangku, dari nada suaranya ia sepertinya bingung, tentu saja karena aku menariknya tiba-tiba seperti ini. "Kita belum berpamitan pada Kak Jo," lanjutnya.
"Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang kita harus menjemput Ara sebelum kemalaman." Hanya itu yang bisa ku ucapkan.
.......
Aku melirik Stela yang sedari menjemput Ara tadi hanya diam di kursinya. Pandangannya lurus menatap jalan di depannya, salah satu tangannya tak berhenti menepuk pelan pantat Ara yang tidur di dalam pelukannya. Dia terihat aneh, apa ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Tak terasa waktu setengah jam pun berlalu, kami sudah sampai di basement apartement. Aku keluar pertama kali untuk selanjutnya membuka pintu samping kiri dan mengambil alih Ara dari pangkuan Stela.
Deg
Saat meraih tubuh Ara, tak sengaja mataku dan safir Stela bertemu, cukup lama kami bertatapan dari jarak yang sangat dekat, di matanya aku menemukan sorot luka.
Beberapa detik kemudian, ia mengalihkan pandangan. "Kasihan Ara jika terlalu lama tidur seperti ini," katanya yang langsung menyadarkanku.
Setelah aku menggendong tubuh keponakan kecilku, Stela keluar dari dalam mobil. Ia berjalan mengikutiku di belakang, biasanya kami akan jalan beriringan, tapi sekarang tidak.
Di dalam lift pun gadis itu hanya diam pun sampai di dalam apartement. Ia mengambil alih tubuh Ara dan membawanya ke kamar tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
Ini sangat aneh...
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...