BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Jangan Pergi


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Jovanka duduk di ruangannya, memijit pelan kepalanya yang pusing karena tingkah menyebalkan Tristan akhir-akhir ini. Pria itu sering kehilangan fokus hingga beberapa kali sempat ditegur karena tidak profesional dalam bekerja. Jovanka harus meminta maaf untuk hal itu kepada setiap orang yang merasa dirugikan oleh tindakan Tristan.


"Sayang?" Tanpa mengetuk pintu, Gara langsung menerobos masuk ke ruangan Jovanka.


"Oh... Gara, ada apa?" tanya Jovanka bangkit dari duduknya.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."


"Siapa?"


Dari balik pintu muncul lah seseorang yang kehadirannya saat ini sudah dinantikan sejak kemarin oleh Jovanka.


"Stela!" Perempuan itu langsung berlari dan menerjang tubuh Stela dengan sebuah pelukan.


"Kak Jo kenapa?"


"Kau kemana saja hah, aku hampir gila karena kau menghilang." Setelah melepaskan pelukannya, Jovanka mengguncang pelan tubuh Stela meminta jawaban.


"Ada apa Kak?" tanya Stela bingung.


"Girls, sebelum menjawab pertanyaan itu, bisakah kita duduk dulu?" ajak Gara.


Mereka bertiga akhirnya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan. Gara hanya diam memerhatikan kedua perempuan itu bicara.


"Tristan sudah menceritakan semuanya padaku, tentang siapa kau sebenarnya," mulai Jovanka. Ia memerhatikan perubahan Stela, rambut yang dulu coklat kini berwarna pirang dan mata itu memiliki safir yang indah.


"Ada apa dengan kalian sebenarnya? Tristan hanya menceritakan tentang jati dirimu padaku, tidak dengan masalah yang membuatnya menjadi murung dua hari ini," jelas Jovanka. Melihat sikap Stela yang hampir sama dengan Tristan saat ditanya, membuat Jovanka gemas, ia sungguh penasaran.


"Aku akan kembali ke London bersama mommy dan daddy." Akhirnya Stela membuka suara.


"Eh?" Jovanka terkejut. "Kau akan meninggalkan Indonesia?" tanya Jovanka tak rela.


Stela mengangguk, "Iya. Aku akan pulang besok."


Jovanka meraih kedua tangan Stela dan menggenggamnya. "Apa alasan ini yang membuat Tristan berubah?" tanya Jovanka hati-hati.


Stela tak tahu pasti, tapi saat ini ia hanya bisa mengangguk. "Kak Tristan memintaku untuk tetap tinggal bersamanya. Katanya aku tidak boleh pergi," beritahu Stela.


Kening Jovanka mengernyit. "Alasannya?"


"Dia hanya bilang kalau dia  membutuhkanku."


DEG


"Tristan menyukai Stela, aku yakin itu," batin Jovanka.


"Kak Tristan hanya membutuhkanku untuk menjadi pembantunya. Aku hanya diperlukan untuk menjadi pelayan yang setia berada di sampingnya. Membersihkan rumah, memasak makanan dan lainnya. Apa pantas dia memperlakukanku seperti ini?" tanya Stela emosi. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Kau salah paham, Stel." Jovanka tidak percaya jika Tristan bermaksud demikian. Ia yakin sahabatnya itu menyukai Stela, namun dia hanya tak bisa mengungkapkannya atau mungkin Tristan belum menyadari tentang perasaannya sendiri.


"Di mana letak salah pahamnya, Kak?" Emosi Stela semakin menggebu. Selama beberapa hari ini ia tahan perasaannya tanpa memberitahukannya kepada siapa pun dan akhirnya kini tumpah juga.


Melihat dua perempuan itu yang mulai emosional, Gara memilih undur diri. Kehadirannya sama sekali tak diperlukan dan juga mereka akan nyaman bicara sesamanya tanpa ada lawan jenis di sana.


"Ada hubungan apa antara Tristan dan Stela, mendengar pembicaraan mereka tadi rasanya Tristan dan gadis itu sangat dekat," pikir Gara.


Selepas Gara pergi, Jovanka langsung memeluk Stela. Menenangkan gadis itu yang saat ini tengah terisak.


"Kita bertemu Tristan, ya?" ajak Jovanka.


Stela melepaskan pelukan kekasih Gara itu dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau, Kak. Aku tidak mau," tolaknya.


"Kenapa? Biar masalahnya cepat selesai dan kau bisa pulang dengan tenang." Jovanka meyakinkan.


Stela hanya menggeleng, ia tak siap untuk bicara dengan Tristan saat ini. Apalagi ketika mengingat ciuman waktu itu.


Jovanka mendesah melihat penolakan Stela, jika begini terus kapan masalahnya akan selesai.


"Ya sudah jika kau tidak mau." Jovanka tak bisa berbuat apa-apa lagi. Biarkan waktu yang menyembuhkan segalanya.


...🌺 🌺 🌺...


Tristan bangun terlambat lagi hari ini, karena semalam dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan Stela. Ia langsung menuju dapur, kerongkongannya kering dan dia butuh penyegarnya.


Tristan termangu sesaat kala matanya menatap dapurnya yang kini sepi. Biasanya di sana ada Stela, lengkap dengan celemeknya sedang memasak makanan. Bunyi peralatan masak yang beradu selalu menjadi melodi yang menyambut paginya, tapi kini semua itu sirna. Tristan merindukan kembali saat-saat itu.

__ADS_1


"Stela," gumamnya.


Setelah menuntaskan rasa hausnya, Tristan beranjak ke ruang tamu. Rencananya ia akan delivery order makanan saja. Belum sempat ia menyentuh ponsel yang tergeletak di atas meja, suara bel nyaring terdengar. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke arah pintu.


"Selamat pagi..." sapa Vania yang datang pagi ini dengan menenteng sesuatu di tangannya.


"Aku membawakan sarapan untukmu, kau sudah makan?" tanya Vania. Tristan menggeleng.


"Ayo makan bersama, kebetulan aku juga belum makan!" ajak Vania. Ia langsung menyelonong masuk tanpa dipersilahkan sang pemilik rumah terlebih dahulu.


Tristan terdiam sesaat, ia bertanya-tanya, dari mana Vania tahu rumahnya? Padahal ia tak pernah memberitahu wanita itu atau bahkan mengajaknya singgah.


Ck, ia tidak tahu saja jika Vania sering membuntutinya.


"Ayo!" sorak Vania.


Mereka sampai di meja makan, Vania langsung menata makanan yang tadi dibelinya di salah satu restoran ternama.  


"Ayo dimakan." Ia menghidangkannya untuk Tristan.


Vania duduk tepat di samping Tristan. Ia juga menyajikan makanan untuk dirinya sendiri. Ah... mereka sudah terlihat seperti pasangan suami-istri saja, yang sedang menikmati sarapan berdua di meja makan rumah mereka, begitu pikir Vania.


Tristan hanya sibuk memakan makanannya tanpa mau berpikir yang lain, perutnya lebih butuh perhatiannya saat ini.


"Ya ampun Tristan."


Tristan segera menoleh ke samping saat mendengar suara Vania.


"Lihat ini, kau makan seperti anak kecil. Berantakan sekali." Tangan Vania terangkat untuk membersihkan makanan yang menempel di sudut bibir Tristan.


Pria itu hanya diam, membiarkan Vania membersihkan sudut bibirnya. Wanita itu mengusap pelan sudut bibir Tristan tapi lama- kelamaan usapan itu menjalar ke bagian bibirnya.


"Tristan," panggil wanita itu dengan suara rendah sedikit menggoda.


Tristan melihat jika perlahan wajah Vania mendekat pada wajahnya. Ia terdiam kaku bagai patung, seperti pasrah saat Vania berniat menciumnya.


DEG


Tristan tersentak saat dering ponsel di ruang tamu bergema, menyadarkannya dari apa yang sedang terjadi.


Tristan sampai di ruang tamu, ia meraih telpon genggamnya yang tergeletak di atas meja.


"Ck." Mulutnya berdecak ketika melihat siapa yang menelepon. "Kenapa pria tua ini menghubungiku?" Karena penasaran, Tristan menerima panggilan itu.


"Ada ap-"


Pertanyaannya mengantung saat seseorang di seberang sana berujar. Mendadak tubuh Tristan lemas dan tangan yang berada di dekat telinga langsung terkulai tak berdaya kembali ke sisi tubuhnya.


... ....


Tristan sudah berada di mobil menuju bandara, tiba-tiba di tengah perjalanan ponselnya berdering.


"Kak Jo?" Kemarin mereka sempat bertukar nomor.


Stela segera mengangkat panggilan itu. "Hallo, ada apa Kak Jo?"


DEG


"Apa? Ya Tuhan, sekarang ada di mana?" pekik Stela panik. Anthony juga Ambar memperhatikan sang putri dengan seksama. Apa gerangan yang terjadi, pikir mereka.


"Mommy... Daddy!" panggil Stela saat sambungan telepon sudah terputus.


"Ada apa, sayang?" tanya Ambar cemas.


"Mom, kita ke rumah sakit ya?" mohon Stela dengan air mata yang mulai berderai.


"Siapa yang sakit, princess?" Anthony yang bertanya.


"Nanti saja Dad, sekarang kita ke rumah sakit ya, please!" Stela mulai terisak, membuat orang tuanya tidak tega. Ari yang menyetir langsung memutar balik mobilnya menuju rumah sakit yang diberitahu keponakannya.


.......


"Stela!" Jovanka langsung berlari menghampiri Stela begitu melihat kedatangan gadis itu. Wajah perempuan itu juga sudah basah karena air mata.


"Kak Jo, bagaimana?" tanya Stela.


"Jenazah keduanya akan segera dibawa ke rumah duka," jawab Jovanka terisak.

__ADS_1


DEG


"Ya Tuhan." Stela langsung menutup mulut agar tidak meraung. Sementara kedua orang tua juga pamannya hanya berdiri di belakang sana, menyaksikan.


"Stela, Tristan di sana!" tunjuk Jovanka pada pria yang saat ini duduk bersandar di lantai rumah sakit. Tristan terlihat kacau, wajahnya memerah dengan air mata yang sampai saat ini masih mengalir.


"Kak Tristan," panggil Stela. Perlahan ia berjalan menghampiri.


Vania yang melihat Stela datang menghampiri Tristan, langsung berjongkok di hadapan pria itu. Ia merengkuh tubuh bergetar Tristan masuk ke dalam pelukannya. Ia berusaha menenangkan pria yang masih tergugu itu. Tristan yang sudah lemah hanya bisa membalas pelukan Vania, berupaya mencari sedikit kekuatan di sana.


DEG


Langkah Stela terhenti saat melihat jika di sana Vania tengah memeluk erat tubuh Tristan. Sudah ada wanita itu di sana dan Tristan tidak akan membutuhkan kehadirannya lagi. Stela berbalik hendak pergi namun suara kecil itu menghentikan langkahnya.


"Aunty Ela, hiks."


Stela memutar tubuhnya, suara itu berasal dari seorang bocah yang saat ini tengah dipangku oleh seorang pria paruh baya. Stela tersenyum sendu, walaupun penampilannya saat ini berubah, tapi Ara tetap mengenalinya.


"Ara," panggil Stela. Melihat keadaan bocah perempuan itu membuat Stela kembali terisak, bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.


"Hiks, Aunty Ela..." Ara turun dari pangkuan sang kakek dan berlari menuju Stela.


Gadis pirang itu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Ara. Sampai saat tubuh gadis itu sudah berada di hadapannya, Stel langsung mendekap tubuh kecil Ara.


Di pelukan Stela tangis Ara kembali pecah, "Aunty, papa dan mama beldalah hiks," kadunya.


"Sabar ya sayang." Stela tak bisa berkata apa-apa, ia hanya berusaha menenangkan gadis kecil itu.


Tristan yang mendengar sang keponakan meneriakkan nama Stela langsung melepas pelukan Vania. Tak jauh dari tempatnya berada, ia melihat Ara tengah dipeluk oleh Stela.


"Stela," lirihnya.


Tak berselang lama, Anthony menghampiri sang putri. "Princess, sudah waktunya pergi."


Stela mendadak lesu, ia tidak ingin pergi. Ia masih ingin berada di sana menemani Ara dan Tristan yang sedang berduka.


"Ayo sayang, kita tidak punya banyak waktu lagi," desak Anthony.


Terpaksa, Stela mengangkat tubuh Ara dan menyerahkannya pada Jovanka yang berdiri tak jauh darinya.


"Aunty...," pekik Ara saat tubuhnya sudah berpindah ke gendongan Jovanka. "Aku mau sama Aunty Ela..." Gadis kecil itu meronta.


"Sayang, aunty harus pergi. Ara jaga diri ya, jangan menangis lagi!" bujuk Stela.


"Ala mau sama Aunty, jangan pelgi!" tangis Ara menghentikan langkah Stela. Ia sungguh tak tega meninggalkan Ara dalam keadaan seperti itu.


"Stela, tak bisakah kau tunda dulu kepulanganmu?" mohon Jovanka.


Stela menggeleng lemah. "Maaf, Kak."


"Stela, kita akan ketinggalan pesawat!" Lagi-lagi Anthony memperingati.


Stela kembali menghampiri Ara. "Aunty sayang Ara."


CUP


Ia mengecup kening putri Taufan dan Intan kemudian mengelus pelan pipi merahnya. "Jangan nangis lagi ya sayang, nanti aunty sedih." Stela turut menghapus air mata yang masih mengalir dari mata sembab Ara.


"Aunty hiks..."


Stela perlahan mundur, matanya melirik sejenak ke arah Tristan.


DEG


"Jangan pergi!" Gerak bibir itu membuat Stela dilema, tapi ia sudah memutuskan.


"Maaf."


Stela memalingkan wajahnya dan kemudian benar-benar pergi dari sana.


...Bersambung...


...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......


...🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2