
...🌻Selamat Membaca🌻...
Tristan memutar tubuhnya ke arah kanan, kiri dan kanan lagi. Sudah beberapa kali berputar, tapi matanya masih belum bisa terpejam. Rasa rindu pada Stela menjadi penyebabnya. Sedari pulang bekerja tadi, ia tak sempat memiliki waktu berdua dengan sang kekasih karena Ara yang tak mau lepas dari mommynya itu.
Jika dibiarkan begini terus, matanya bisa menghitam karena kurang tidur. Ini tidak boleh terjadi karena besok ada jadwal pemotretan, wajahnya akan terlihat tidak fresh. Ia harus menuntaskan ini semua.
Tristan bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar menuju pintu kamar Stela.
Tok... tok... tok...
Mengetuk pelan pintu agar Ara yang mungkin sedang tidur tidak terbangun. Tidak ada sahutan, sekali lagi ia mengetuk pintu.
Cklekk
Stela membuka pintu dengan penampilan mau tidurnya. Baju kaus putih sedikit longgar dipadukan dengan training berwarna hitam sampai mata kaki, rambutnya digerai dan sedikit kusut.
"Ara sudah tidur?" tanya Tristan.
"Sudah."
"Kau mengantuk?" tanyanya lagi.
"Ya, tapi tidak terlalu."
"Ayo, temani aku!" Tristan langsung menarik tangan Stela pergi setelah menutup pintu di belakangnya. Ia membawa gadis itu ke ruang tamu apartemen. "Tunggu sebentar ya!" pintanya.
Stela mengangguk dan duduk di atas sofa. Beberapa saat kemudian Tristan datang membawa selimut dari dalam kamarnya.
"Ayo!" Pria itu menggandeng Stela menuju balkon apartemen. Gadis itu menurut saja kemana Tristan membawanya.
Sampai di balkon, di sana terdapat sofa santai, Tristan sedikit mengaturnya sementara Stela menuju pagar pembatas untuk menatap langit malam. Hawa malam ini tidak terlalu dingin dan langit pun dihiasi kerlipan bintang-bintang. Apartemen Tristan berada satu lantai di bawah apartemen paling tinggi, dari sini langit terlihat dekat.
"The sky is so beautiful," ucap Stela kagum.
"Tapi tak seindah dirimu..." Tristan datang memeluk kekasihnya dari belakang dan berbisik di telinganya.
"Kak!" Stela merinding saat hembusan napas Tristan menggelitik area lehernya . Dagu pria itu juga ditaruh di atas bahunya, membuat jantung mulai berdetak tak normal.
"Aku bisa merasakan detak jantungmu," bisik Tristan.
Deg
"Kak Tristan...." Stela menepuk tangan Tristan yang melingkar di atas dadanya. Ia sungguh malu jika terus digoda seperti itu.
"Tidak usah malu lagi kepadaku," ucapnya. Ia membalik tubuh Stela agar menghadapnya.
"Aku juga merasakan hal yang sama." Tristan mengangkat satu tangan Stela dan menempelkan telapak tangan itu di dada bagian kirinya. "Dada ini juga berdetak cepat karenamu," lanjutnya.
Wajah Stela merona mendengar pengakuan Tristan, ia juga bisa merasakan jantung yang berada di dalam dada pria itu berdetak sama cepat seperti dirinya.
"Aku suka wajah meronamu," rayu Tristan seraya telapak tangannya mengelus pipi Stela yang terasa sedikit panas. "Wajahmu panas, kau baik-baik saja?" tanyanya pura-pura cemas, padahal niatnya hanya ingin menggoda.
Stela tersenyum dan kemudian memukul pelan dada Tristan dengan tinju kecilnya, "Aku malu, Kak. Jangan menggodaku lagi!"
Tristan tertawa dan meraih tubuh Stela ke dalam pelukannya. "Sepertinya hanya di malam hari kita bisa bersama seperti ini." Ia mempererat pelukannya, wajahnya disurukkan di helaian rambut Stela yang menguarkan wangi menenangkan.
"Iya, karena hari-harimu sudah dihabiskan dengan bekerja," jawab Stela. Tangannya ikut terangkat dan mengusap punggung tegap pria di pelukannya.
"Bukan itu, kalau hanya karena bekerja aku masih bisa mencuri-curi sedikit waktu bersamamu, tapi ini lebih karena Ara yang selalu menempel padamu. Mommy..." panggil Tristan dengan suara menirukan Ara saat memanggil Stela, memang tidak sama persis tapi itu berhasil membuat kekasihnya tertawa.
Gadis itu melepas pelukannya dan mencubit kecil perut keras Tristan. "Sama anak sendiri 'kok cemburu."
Tristan terkekeh, dia tidak sungguh-sungguh cemburu pada Ara, ia cuma... ya a little bit jealous. Apa bedanya?
Tristan menatap Stela yang saat ini juga menatapnya. Tangan kekar itu terangkat merapikan helaian pirang Stela yang sedikit kusut. "Rambutmu pirang seperti daddy-mu," kata Tristan. Jemarinya bergerak di surai Stela seperti menyisirnya.
"Iya, kami tiga bersaudara pirang semua," jawab Stela.
"Gen daddymu terlalu kuat."
"Iya, mataku juga sama seperti daddy." Stela membuka lebar matanya agar Tristan bisa melihat safirnya dengan jelas.
"Seperti lautan biru yang menenggelamkanku sampai ke dasarnya."
Bukannya tersentuh, Stela malah terkikik mendengar gombalan Tristan.
"Kenapa reaksimu seperti itu?" tanya Tristan dengan wajah masam yang dibuat-buat, ia yakin pasti Stela mentertawakan ucapannya yang aneh, ia sendiri tidak sadar ketika kata itu keluar dari mulutnya. Memalukan.
"Kak Tristan lucu sekali..." Stela gemas dan mencubit pipi putih Tristan.
"Heii, sudah bisa nakal. Tidak malu lagi, hm?" Tristan tersenyum miring.
Stela menggeleng. "Kenapa malu? Aku merasa nyaman saat ini," balasnya.
Cup
Tristan mengecup pipi merona itu sekilas, Stela melotot dibuatnya.
"Balasan yang tadi pagi," katanya santai.
Stela tidak menjawab hanya wajahnya saja yang semakin memerah karena dapat kecup dadakan dari sang kekasih.
Melihat reaksi Stela, Tristan tak tahan lagi. Dia menarik pinggang ramping itu menggunakan satu tangannya dan tangan lainnya berada di tengkuk sang gadis.
Hembusan napas beraroma mint Tristan membuat Stela terbuai. "Bolehkah?" tanyanya berbisik, suaranya terdengar sedikit parau. Matanya menatap intens bibir merah ranum sang kekasih.
Anggukkan dari Stela menjadi pertanda setuju bagi Tristan. Wajah pria itu perlahan mendekat, hembusan napas panas keduanya semakin terasa di wajah masing-masing. Mata Stela terpejam, siap menyambut ciuman Tristan.
Akhirnya dua benda kenyal itu bertemu untuk yang ketiga kalinya, tapi kini tentu saja atas keinginan dari keduanya. Pria itu meng*lum bergantian bibir bawah dan atas Stela, walaupun gadisnya tidak membalas tapi Tristan mencoba terus merayunya.
Mengandalkan nalurinya sebagai makhluk yang memiliki hasrat, Stela mencoba membalas setiap pag*tan Tristan. Memang sedikit kaku tapi ia terus berusaha mengimbangi ciuman yang semakin memanas itu. Stela melingkarkan tangannya di pinggang Tristan sementara Tristan sendiri semakin menarik tubuh kekasihnya melekat pada tubuhnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, pag*tan mereka terlepas. Napas keduanya memburu untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Cup
Tristan mengecup bibir Stela sebelum menarik kekasihnya menuju sofa yang ada di balkon itu. Tristan merebahkan dirinya terlebih dahulu, kepalanya bersandar di tangan sofa. "Tiduran di sini!" Ia menarik dan menjatuhkan Stela di sofa. Ia membimbing Stela agar kepala gadis itu rebahan dengan berbantalkan lengan berototnya yang sengaja direntangkan.
"Aku mengantuk," kata Tristan sembari merengkuh kepala sang kekasih ke dadanya. Ia menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut cukup tebal yang dibawanya.
Stela mendorong tubuh Tristan dan menatap wajah tampan itu. "Kita tidur di sini?" tanyanya.
"Hm, kenapa? Kau mau tidur di kamarku?" pertanyaan Stela dibalas rayuan oleh Tristan.
Stela berdecak dan mencubit perut Tristan kesal. "Kasihan Ara sendirian di kamar," sahutnya.
"Kali ini saja aku ingin menikmati waktu berdua denganmu, besok kita tidur bertiga dengan Ara, ya."
Stela melotot dan kembali menghadiahi cubitan sayang di perut Tristan.
"Kau nakal sekali sih sayang, dari tadi mencubitku terus," protes Tristan yang sebenarnya suka-suka saja atas kelakuan kekasihnya. Cubitan Stela sama sekali tidak berasa di perut kerasnya.
Sayang?
Stela sesak napas saat Tristan memanggilnya sayang, saking kurangnya asupan udara, wajahnya jadi memerah. Tristan yang melihat hal itu kembali terkekeh. "Baru dipanggil sayang saja mukamu sudah memerah seperti ini." Tak tahan ia mencubit gemas pipi Stela.
"Kak Tristan!" Stela tidak tahu harus diapakan lagi kekasihnya ini.
"Bisa tidak jangan memanggilku Kak Tristan lagi, aku ini bukan kakakkmu, tapi kekasihmu!"
"Lalu aku harus memanggil apa?"
"Sayang, misalnya."
"Berhenti menggodaku, Tristan Gautama!"
"Kenapa? Sekarang itu menjadi hobi baruku."
Ya Tuhan, kenapa Tristan yang dulu datar dan dingin menjadi seperti ini?
Stela mendengus. "Is this really you, Kak Tristan?" Gadis itu menyelidik wajah kekasihnya seksama.
"Kenapa?"
"Kau terlihat berbeda, tidak seperti saat kita bertemu pertama kali."
"Memangnya seperti apa aku sebelumnya?"
"Datar, dingin, tidak tersentuh, tukang suruh dan menyebalkan," jawab Stela jujur.
Tristan tak bisa menyembunyikan senyumnya, pendapat bernada makian Stela barusan sama seperti pendapat kebanyakan orang yang mengenalnya. Namun, hal itu tentu saja berbeda antara orang yang hanya dikenalnya biasa dengan perempuan yang dicintainya.
"Kalau sekarang aku bagaimana?" bisik Tristan.
"Now, you are crazy!"
"Sudahlah, sekarang kita tidur." Tristan tak melanjutkan obrolan karena matanya yang mulai mengantuk, begitu pula dengan Stela. Akhirnya sepasang manusia yang tengah dimabuk asmara itu tidur berpelukan di atas sofa, di bawah langit malam yang dihiasi kerlap-kerlip bintang yang bersinar.
...🌺 🌺 🌺...
Stela terbangun saat cahaya matahari terasa menyilaukan penglihatannya. Dia berusaha bangkit tapi sesuatu seperti menahannya. Huh... tangan Tristan memeluk erat tubuhnya. Ia mencoba menyingkirkan lengan besar yang melingkar di pinggangnya itu, tapi sia-sia, semakin ia berusaha semakin erat pelukan itu.
Stela menyerah, ia menoleh menghadap wajah lelap Tristan, berniat membangunkannya.
"Kak!" panggilnya.
Tak ada sahutan, ia memanggil lagi dan kali ini dibarengi dengan tepukan kecil di pipi si pria. Stela mendesah pasrah, Tristan tidurnya sudah seperti orang mati.
Menunggu dalam kebosanan, ia iseng mengagumi wajah tampan kekasihnya. Dibelainya wajah itu menggunakan jemarinya, mulai dari dahi mulus Tristan turun ke mata terus ke hidung dan berhenti cukup lama di bibir.
Bibir yang sudah merebut first kiss-nya.
"Sudah ada kesempatan, kenapa tidak dicium, sih!"
Deg
"Aaaaaaakk." Stela terperanjat kaget ketika tiba-tiba Tristan membuka mata dan juga suara, dia hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Tristan tak merengkuh erat tubuhnya.
"Hati-hati, sayang."
"Kenapa mengejutkanku?" protes Stela sembari tangannya memukul-mukul lengan Tristan kesal. Jantungnya berdetak cepat karena terkejut.
"Maafkan aku."
"Heum..." gumam Stela dengan wajah cemberutnya.
"Kau marah?" tanya Tristan.
"Tidak!"
Cup
"Kak Tristan!"
Cup
"Sudah ku bilang jangan panggil namaku dengan kakak lagi!" pinta Tristan.
"Baiklah Tristan."
Cup
"Nggak sopan kalau pakai nama saja!"
__ADS_1
"Huh? Lalu aku harus bagaimana?"
Cup
"Issh... jangan cium terus. Lepaskan aku!" Stela berontak.
"Panggil namaku dulu!"
"Lepaskan aku, Tristan!"
Cup
"Masih kurang."
Stela mulai darah tinggi menghadapi tingkah berlebihan Tristan.
"Lepaskan aku, sayang... hmmpt," ucapan Stela langsung disambut ciuman panjang Tristan.
Gadis itu mendorong tubuh Tristan, napasnya tersengal. Ia menatap pria itu marah.
"Kita baru bangun tidur Kak, belum cuci muka belum gosok gigi juga, kenapa langsung cium-cium sih. Jorok...," ketusnya.
"Jorok? Masih manis kok rasanya," jawab Tristan dengan jemari mengusap bibirnya secara sensual.
"Lepas, aku mau mandi." Stela mendorong paksa tubuh Tristan hingga pelukan pria itu terlepas.
Tristan tertawa melihat kekesalan kekasihnya. "Pemarah juga ternyata."
.......
Stela sedang menemani Ara bermain boneka saat Tristan datang dengan tampilan rapi siap berangkat bekerja.
"Daddy berangkat ya, sayang." Seperti biasa ia mencium kepala Ara sebelum berangkat.
"Yes, Daddy. "
"El, antar aku ke depan!" pinta Tristan.
Dengan wajah cemberut, gadis itu berdiri dan berjalan mengekori kekasihnya. Sesampainya di pintu apartemen, Tristan pamit.
"Aku pergi ya," ujarnya.
"Heum," sahut Stela jutek.
"Masih marah?" tanya Tristan.
"Tidak."
Pria itu mendesah, sepertinya ulahnya di meja makan tadi membuat kekasihnya marah. Salahnya juga yang tak bisa berhenti menggoda Stela bahkan saat di meja makan pun.
"Beri aku satu senyuman, biar aku semangat bekerja. Jangan wajah masam seperti ini, nanti aku tidak fokus," bujuk Tristan yang masih berusaha meredakan kekesalan kekasihnya.
"Heum." Stela tersenyum. Namun, terlihat jelas sekali jika itu dipaksakan.
"Tidak tulus," rajuk Tristan.
"What?" Stela melongo melihat reaksi tak wajar Tristan. "Sudahlah, sekarang lebih baik kakak pergi saja!" Stela mendorong tubuh Tristan keluar dari pintu.
Tristan akhirnya menyerah. "Aku pergi."
"Ya, hati-hati."
Cup
"Kak Tristan!"
Ingin sekali Stela memukul mulut Tristan yang suka sekali mencuri ciuman darinya, tapi terlambat karena pria itu sudah kabur lebih dulu.
.......
Tristan membuka paksa ruang kerja Jovanka, pria itu terlihat kesal dengan wajah yang memerah.
"Kenapa banyak sekali wartawan di pintu masuk?" tanya pria itu sengit. "Mereka tidak membiarkan ku lewat dan malah bertanya ini-itu, memuakkan!" rutuknya.
Jovanka berdecih. "Salah sendiri... bukankah kau yang menciptakan skandal."
Tristan menatap tajam sang manager. "Kapan diadakan konferensi pers? Aku tidak tahan jika terus diburu seperti ini," keluhnya.
"Aku sudah membicarakannya dengan Gara, mungkin tiga hari lagi. Kau juga harus membicarakannya dengan Vania, sepertinya dia berniat sekali berkencan denganmu. Takutnya dia mengatakan hal yang sebaliknya saat konferensi nanti," jelas Jovanka.
Tristan berdecak malas, "Baiklah."
"Oh ya, soal yang kau katakan kemarin, ada hati yang harus kau jaga, by the way hati siapa ya?" tanya Jovanka. Perempuan itu menduga jika Stela lah gadis yang dimaksud, tapi ia ingin memastikannya langsung dari mulut Tristan.
"Urusannya apa denganmu?" tanya balik Tristan lengkap dengan wajah datarnya.
"Sialan, kau anggap apa aku, huh?" pekik Jovanka emosi.
Tristan tersenyum kecil, jika mengingat Stela dirinya tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Stela, benarkan?" tebak Jovanka.
Tristan mengangkat bahunya seraya mengulas senyum. Hal itu sudah menjadi jawaban yang sangat jelas bagi sahabatnya.
Jovanka mendengus. "Dasar pria labil baru pertama jatuh cinta," ledeknya.
Tristan tak memedulikan ucapan Jovanka, ia memilih pergi untuk menemui Vania dan membahas masalah mereka.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...