
...🌻Selamat Membaca🌻...
Tristan sampai di ruang ICU rumah sakit terbesar di Jakarta. Di dalam ia bisa melihat Taufan tergeletak tak berdaya di brankar dengan ditemani banyak sekali alat yang melekat di tubuhnya.
"Pasien wanita sudah tidak bisa diselamatkan lagi, waktu kematian pukul 10.47," kata dokter yang menangani di dalam sana.
Tristan yang masih berdiri di pintu langsung tersentak, ia melirik ke brankar lainnya dimana Intan berada. "Kakak," tangis pria itu kemudian pecah.
Suster segera menyelimuti seluruh tubuh kaku Intan dengan selimut putih.
Melihat keberadaan Tristan di dalam ruangan, dokter langsung menghampiri.
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan pasien wanitanya," beritahu dokter pria yang cukup berumur itu sendu. "Sementara pasien prianya saat ini masih kritis, berdo'a saja agar ada keajaiban sehingga dia bisa selamat," lanjut sang dokter dan kemudian pergi meninggalkan ruangan bersama para suster.
Tubuh Tristan lemah, tertatih ia berjalan menuju brankar sang kakak.
"Kak..." panggilnya serak. Melihat tubuh penuh luka Taufan, hati Tristan teriris. Padahal terakhir kali mereka bertemu, kakaknya masih sehat dan baik-baik saja, kenapa sekarang jadi seperti ini?
"Kak bangun, Kak!" Ia mendekat ke tubuh sang kakak dan berbisik di telinganya.
Perlahan mata pria 30 tahun itu terbuka, "I-intan.." ucapnya parau dan lemah.
"Kakak?" Tristan kaget saat melihat Taufan sudah sadar, ia senang akhirnya sang kakak kembali membuka mata. "Aku panggilkan dokter sekarang." Pria itu ingin berbalik pergi namun tangan dingin Taufan menahannya.
"Kenapa, Kak?" tanya Tristan.
"In–tan?" tanya Taufan dengan mata sayu dan beratnya.
Tristan tertunduk, tak sanggup rasanya untuk memberitahu sang kakak jika istri tercintanya sudah lebih dahulu dipanggil Tuhan.
"Tris–tan?"
Tristan akhirnya menggeleng lemah. "Kak Intan sudah pergi, Kak."
Mendengar itu mata Taufan langsung tertutup, air perlahan mengalir dari sudut matanya yang terpejam.
"Kak!" panggil Tristan panik.
Perlahan Taufan membuka kembali kedua matanya. "To-long jaga A-ra....."
TIITTTTTTTTTTT
Monitor di samping brankar Taufan berbunyi nyaring, garis lurus tampak menghias di sana.
"KAKAK!" pekik Tristsn saat melihat Taufan kembali menutup mata. "Bangun Kak! Jangan tinggalkan aku, jangan pergi dulu Kak, Ara masih membutuhkanmu!" Dengan rasa takut yang menyelimuti seluruh raga, ia mencoba mengguncang tubuh Taufan. Namun nihil, kakaknya lebih memilih menyusul wanita tercintanya ke surga.
... ...
...🌺 🌺 🌺...
Tristan menatap nanar dua pusara dari dua orang terkasihnya. Begitu cepat sang kakak dipanggil oleh Tuhan dan mirisnya lagi mereka meninggalkan seorang anak yang kini menjadi yatim piatu. Satu persatu orang yang menyayanginya telah pergi meninggalkannya, dimulai dari sang ibu, kakak dan juga kakak iparnya. Kini ia tak punya siapa-siapa lagi. Ayahnya? Ia sama sekali tidak peduli dengan pria tua itu.
"Selamat jalan Kak, aku berjanji akan menjaga dan menyayangi Ara seperti anak kandungku sendiri." Itu janji Tristan tepat di depan pusara sang kakak.
.......
Tristan sampai di kediaman Gautama, tempat kakak dan keluarganya tinggal. Di dalam sana ia langsung disambut oleh Teguh yang memang lebih dulu pulang dari pemakaman.
"Nak..." Wajah tua itu terlihat kuyu. Jelas sekali raut kesedihan terlihat di sana.
Tristan tak mempedulikan keadaan sang ayah, dia memilih pergi menuju kamar Ara. Putri Taufan itu tadi tertidur sebelum pemakaman dan Jovanka menemaninya.
Cklek
Pintu terbuka, di atas tempat tidur terlihat Jovanka yang tertidur berbaring di ranjang sambil mengelus kepala keponakannya yang terlelap damai.
"Kau sudah pulang?" Perempuan itu yang terusik segera bangun dari pembaringannya.
"Ya..." Tristan mengangguk dan berjalan menghampiri tubuh keponakan kecilnya. Ia duduk di sampingnya dan kemudian mengelus kepala itu sayang. "Bagaimana keadaannya?" tanya Tristan.
"Dari tadi dia terus mengigau memanggil papa dan mamanya, tapi sekarang tidak lagi," jawab kekasih Gara itu.
"Kau boleh pulang, terima kasih sudah menjaga Ara," kata Tristan.
"Apa kau tidak apa-apa?" Jovanka merasa sedikit cemas meninggalkan Tristan dalam keadaan terpukul seperti ini. Pria itu pasti butuh sandaran.
"Ya, tidak apa." Mendengar jawaban datar Tristan, Jovanka hanya bisa menuruti.
"Aku pulang dulu, kalau ada apa-apa segera kabari aku!" pesannya yang hanya diangguki oleh si pria.
Setelah Jovanka pergi, Tristan langsung merebahkan dirinya di samping Ara, memeluk erat tubuh kecil itu dalam dekapannya. "Sekarang akulah orang tuamu."
Syukurlah Ara tidak ikut orang tuanya saat kecelakaan itu terjadi, jika dia ada di sana maka Tristan tak akan punya siapa-siapa lagi di dunia ini.
.......
Malamnya, setelah semua pelayat yang datang untuk mengucapkan duka telah pergi. Tristan keluar dari kamar Ara dengan menggendong bocah cantik, yang saat bangun tadi tak pernah melepaskan pelukan di tubuhnya.
"Mau kemana?" tanya Teguh saat melihat Tristan menyelonong tanpa pamit keluar dari rumah. Satu tenteng tas besar berada di tangan kanannya.
Tristan tak mengindahkan pertanyaan sang ayah, dia kembali berjalan membawa Ara menuju mobilnya.
"Tristan!" Dengan susah payah karena tubuh yang mulai ringkih, Teguh mengejar anak bungsunya. "Mau kau bawa kemana cucuku?" tanya pria tua itu.
Akhirnya Tristan berbalik, matanya menatap tajam sang ayah. "Sekarang Ara adalah anakku," katanya sebelum pergi memasuki mobilnya meninggalkan Teguh yang berdiri kaku di tempat.
__ADS_1
"Tak akan ku biarkan orang yang sudah membunuh Ibu, merawat Ara. Bisa-bisa dia bernasib sama seperti Ibu," lirih Tristan sebelum menjalankan kendaraannya menuju apartemen.
.......
"Uncle kita mau kemana?" tanya Ara setelah turun dari mobil Tristan yang sudah sampai di basement apartemennya.
"Sekarang Ara tinggal sama Uncle ya?" tanya pria itu lembut.
"Papa mama, mana?" tanya bocah kecil itu. Ia tampaknya belum mengerti jika kedua orang tuanya sudah tidak bisa lagi bersamanya.
"Hm... Ara mulai hari ini tinggal sama Uncle, ya? Nanti kita beli mainan yang banyak," bujuk Tristsn. Ia mencoba mengalihkan sejenak perhatian gadis kecil itu dari kedua orang tuanya yang sudah tak ada lagi.
"Ala mau uncle , nanti beli es klim juga ya?" pintanya dengan mata berbinar.
"Iya sayang." Tristan menatap sendu sang keponakan. Memang sangat mudah membujuk anak kecil dengan sesuatu yang mereka sukai, tapi dalam hati ia merasa miris. Ia mungkin bisa memberikan Ara apa yang dia mau, tapi apakah dia mampu memberikan kasih sayang yang penuh untuk anak kakaknya itu. Tristan belum tahu pasti akan hal itu, tapi dia akan mencobanya.
.......
Sampai di lantai di mana apartemennya berada, tiba-tiba Ara bertanya sesuatu hal yang seketika membuat Tristan bungkam.
"Uncle, aunty ela ada di lumah Uncle, kan?"
Tristan tidak menjawab, ia sibuk memperhatikan ekspresi lugu sang keponakan yang sepertinya sangat mengharapkan kehadiran Stela. Ingin berkata jujur jika aunty Ela-nya tak akan lagi bertemu mereka, rasanya ia tak tega.
"Uncle?" Ara menepuk pipi pamannya yang hanya diam saja.
Pria itu tersentak, kemudian tersenyum menatap wajah bingung keponakannya. "Sekarang aunty-nya pergi dulu, nanti aunty akan kembali. Ara yang sabar ya, sayang." Hanya itu yang bisa Tristan katakan untuk menghibur Ara saat ini.
Wajah gadis kecil itu tertekuk, membuat Tristan merasa bersalah. "Masih ada aunty Jo, sayang. Nanti kita hubungi aunty Jo untuk menemani kita main, ya?"
"Hm..." Gadis itu hanya berdehem lesu.
"Maafkan Uncle, Ara..." Tristan menarik kepala Ara bersandar di bahunya.
Tristan meneruskan langkahnya, sebentar lagi mereka akan sampai di unit apartemen yang ia tinggali.
Sampai di sana...
DEG
Tristan mematung melihat seseorang yang tengah berdiri bersandar di pintu apartemennya.
.......
"Sudahlah nak, jangan menangis lagi!" Ambar terus berupaya menenangkan Stela yang sedari masuk mobil tadi menangis terisak tiada henti.
"Mom, kasihan Ara. Dia butuh aku," isaknya di pelukan sang ibu.
"Iya sayang, tapi di sana masih banyak keluarganya," balas Ambar menenangkan sembari mengelus lembut surai sang putri.
Ambar jadi tak tega, ia melirik Anthony yang saat ini menoleh ke bangku belakang di mana ia dan Stela duduk. Pria Inggris itu hanya menggelengkan kepala sebagai tanda untuk membiarkan Stela menangis untuk saat ini. Lambat laun putrinya itu pasti juga akan melupakan hal yang membuatnya menangis.
.......
"Ela, ayo!" ajak Ambar.
Sudah waktunya check in, tapi Stela tetap berdiri di tempat tanpa ada niatan untuk melangkah.
"Ayo princess!" Anthony mencoba menarik tangan Stela, namun langsung dihempaskan.
"Aku tidak mau pulang Mom... Dad. Aku masih mau di sini," putus Stela.
"Jangan bercanda Ela!" peringat Anthony.
"I'm not kidding, Dad. I want to stay here!" kata Stela tegas.
Setelah terjadi perdebatan sengit antara orang tua dan anak itu, akhirnya Stela dibiarkan untuk tetap tinggal di Indonesia di bawah pengawasan Ari selaku sang paman.
"Thankyou Mom... Dad. I'll be back."
.......
"Stela?"
Ara yang mendengar nama Stela disebut pamannya, langsung menegakkan kepala.
"Aunty Ela!" pekik Ara girang saat sepasang manik hitamnya menemukan Stela berdiri di depan sana. Ia berontak minta turun dari gendongan Tristan. Setelah kaki kecilnya menapaki lantai, Ara langsung berlari ke arah Stela dan disambut dengan penuh suka cita oleh gadis pirang itu.
"Aunty jangan pelgi lagi!" rajuk Ara. Kini ia bersandar manja di dada Stela.
"Aunty tidak jadi pergi sayang, aunty akan berada di sini bersama Ara."
"Benalkah?"
"Iya." Stela menciumi pucuk kepala balita itu dengan sayang.
Tidak jauh berbeda dengan reaksi Ara yang begitu bergembira karena kehadiran Stela, Tristan juga merasakan hal yang sama. Ia senang dan terharu karena gadis itu lebih memilih untuk tetap tinggal bersamanya daripada kembali ke London bersama orang tuanya.
"Kau tidak akan membukakan pintu, Kak?" suara Stela membuyarkan lamunan singkat Tristan.
"Iya." Pria itu segera berjalan mendekat ke pintu dan memencet sederet angka yang menjadi password apartemennya. "Masuklah!" Setelah pintu terbuka ia mempersilakan Stela yang sedang menggendong Ara untuk masuk terlebih dulu.
"Ara duduk di sini dulu ya, aunty mau mengambil barang-barang aunty dulu." Setelah mendudukkan Ara di sofa, Stela izin sebentar pada gadis kecil itu untuk mengambil koper berisi barang-barangnya yang masih berada di luar.
"Sudah ku bawakan." Baru saja akan berbalik, Tristan datang dengan menyeret koper Stela.
__ADS_1
Stela mengambil kopernya dari tangan Tristan. "Terima kasih," ucapnya datar. Setelah itu ia beralih kembali pada si kecil.
"Ara sudah makan?" tanya Stela.
"Belum, lapal..." katanya lucu sembari mengelus perut kecilnya yang cukup berisi.
"Ara mau makan apa?" Si pirang bertanya lagi. Ia ingin sekali membuat makanan yang Ara inginkan.
"Syosis..." jawab Ara. Balita itu memang sangat menyukai sosis.
"Ok, akan aunty buatkan. Ara tunggu dulu di sini ya, sambil menonton kartun, mau?"
"Mau..." Stela menghidupkan televisi berlayar besar di depan sana. Mencari channel kartun yang sekiranya cocok untuk umur Ara dan kemudian pergi ke dapur untuk membuat makan malam.
Jujur saja, Stela belum makan sedari siang tadi. Lapar sekali terasa perutnya saat ini. Selepas dari bandara untuk melepas kepergiaan orang tuanya ke London, ia kembali ke rumah sakit tempat Tristan dan yang lainnya berada, namun ternyata mereka sudah pulang. Lalu ia menghubungi Jovanka untuk menanyakan keberadaan mereka, tapi nihil... panggilannya hanya dijawab oleh operator yang mengatakan jika nomor yang dituju sedang tidak aktif. Terakhir, Stela mengunjungi apartemen Tristan. Ternyata tidak ada orang di sana. Alhasil, selama berjam-jam Stela hanya menunggu di taman dekat gedung apartemen dan kembali lagi ke apartemen Tristan saat hari sudah berganti malam, dengan harapan bahwa pria itu akan pulang malam ini, kalau tidak, mungkin dia akan menerobos masuk untuk menumpang tidur. Ia masih hapal password apartemen itu.
Tristan duduk menemani Ara menonton, sesekali ia melirik Stela yang sibuk memasak di dapur. Perasaannya menghangat, dari kemarin inilah yang sangat ia inginkan. Stela kembali menemani hari-harinya di apartemen ini, bukan sebagai pembantu tapi sebagai teman yang berbagi segalanya.
Tak sampai satu jam, Stela selesai dengan hidangan sederhana yang ia buat dari bahan-bahan seadanya yang ada di kulkas. Untung saja ada sosis pesanan Ara tersisa di dalam kulkas, kalau tidak, mungkin bocah itu akan kecewa.
Melihat Stela yang tengah menata masakannya di atas meja makan, Tristan segera menggendong dan mengajak keponakannya menuju ke sana.
"Syosisnya mana Aunty?" Pertanyaan itu terlontar saat Tristan dan Ara sudah sampai di meja makan.
"Ini sosisnya." Stela mengangkat piring berisi sosis yang dibentuk seperti gurita untuk Ara. Senyum ceria langsung terbit di wajah lucunya.
"Syosisnya lucu, suapin ya Aunty?" pintanya manja.
"Biar uncle yang suapin ya, sayang." Tristan merasa tidak enak karena terus merepotkan Stela dengan tingkah laku manja Ara, jadi ia memilih membujuk keponakannya itu agar mau disuapi dengannya saja.
"Mau sma Aunty, ndak mau cama Uncle," rengek Ara.
"Ya sudah, ayo sama Aunty!" Stela langsung mengambil alih Ara dari gendongan Tristan.
"Maaf," ucap Tristan.
"No problem."
Stela membawa Ara duduk di kursi yang sering ia duduki saat makan, dengan telaten ia menyuapi putri kecil almarhum Taufan itu.
Tristan terenyuh melihat perhatian Ara pada keponakannya. Bocah kecil itu bukanlah siapa-siapa Stela, tapi ia terlihat sangat menyayangi bahkan sudah seperti ibu kandungnya Ara.
Umur yang masih muda ternyata tidak selalu memperlihatkan sifat yang kekanak-kanakan. Justru sekarang dimata Tristan, gadis seperti Stela yang baru berusia 17 tahun bisa bersikap sangat dewasa dan keibuan.
"Kau bisa mengambil makananmu sendirikan, Kak?" sentak Stela saat ia melihat jika pria di hadapannya masih bermenung tanpa ada niatan menyentuh makanan yang sudah susah payah ia buat.
"Ah, ya." Tristan tersenyum canggung lantas mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Terakhir kali ia makan saat Maya membawakan sarapan pagi tadi dan malam ini ia akan makan yang banyak, mengingat jika Stela lah yang memasak. Makanan yang dibuat gadis itu selalu enak dan pas di lidahnya.
Hup...
Hati Tristan membuncah bahagia saat ia kembali merasakan rasa dari masakan Stela. Ini yang ia inginkan dan ini yang ia butuhkan.
Seperti janjinya, Tristan makan dengan porsi yang sangat banyak. Bahkan masakan yang Stela buat malam ini ludes olehnya.
.......
Setelah makan malam, Stela menidurkan Ara di kamarnya. Bocah itu terlihat mengantuk saat Stela makan tadi.
"I'm here for you baby." Setelah Ara tidur nyenyak, Stela menyelimutinya sampai sebatas dada dan kemudian mengecup keningnya sebelum keluar dari kamar hendak membereskan meja makan.
Sampai di sana, semuanya sudah rapi. Piring-piringpun sudah dicuci oleh Tristan.
"Stela!"
Melihat tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dia lakukan, Stela hendak kembali ke kamar. Namun keinginannya tertunda saat Tristan memanggil namanya.
Gadis itu berbalik dan mendapati Tristan yang tengah berjalan ke arahnya.
"Maafkan aku, Stela..." ucap Tristan begitu dirinya sampai di hadapan si gadis pirang.
"Untuk apa?" tanya gadis itu datar. "Maaf untuk kelancanganmu karena telah menciumku waktu itu, hm?" pikir Stela.
"Untuk... semua kesalahan yang sudah ku lakukan padamu," jawabnya. "Termasuk ciuman paksaku waktu itu." Hanya dapat ia ucapkan dalam hati.
"Aku sudah memaafkanmu," kata Stela masih dengan nada datarnya.
Tristan mengangguk saja, melihat ekspresi datar Stela ia jadi sangsi apakah gadis itu benar memaafkannya atau tidak.
"Satu lagi," katanya saat melihat Stela sudah ingin pergi.
"Terima kasih karena sudah mau kembali," ucap Tristan tulus.
Stela tersenyum miring. "Aku di sini untuk Ara bukan untukmu."
DEG
Setelah mengatakan itu, Stela pergi meninggalkan Tristab yang mematung. Dadanya mendadak sesak mendengar penuturan Stela. Gadis itu bukan kembali untuknya, sadarlah Tristan... jangan berharap terlalu banyak Stela di sini untuk Ara dan itu sudah lebih dari cukup.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......
...🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1