BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Itik Buruk Rupa


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Seminggu berlalu dengan cepat, selama tujuh hari itu segala usaha Vania untuk mendekati Tristan selalu berujung kegagalan. Selain karena ulah si kecil Ara, Tristan pun juga menjadi salah satu penyebabnya. Pria itu perlahan mulai menjauh.


"Pudingnya datang..." Stela berjalan dari dapur, membawa nampan berisi tiga piring summer puding—salah satu dessert yang terkenal di Inggris.


Ara yang sebelumnya sibuk menyusun lego bersama Tristan di atas karpet berbulu, langsung berlari menyambut kedatangan Stela.


Mata bulat itu berbinar cerah melihat puding menggiurkan yang sudah terhidang di atas meja, apalagi ditambah dengan dua skop kecil es krim blackcurrant menjadi pendamping si puding di dalam piring, membuatnya tak sabar untuk segera mencicipi. Ara sangat suka es krim.


Mereka bertiga menikmati puding ditemani dengan celotehan Ara yang memuji betapa enak puding buatan mommy-nya.


Tristan memandang Stela tanpa kedip, puding di piringnya pun sudah raib sedari tadi. Saking enaknya sampai-sampai ia tak bisa berhenti untuk menyuapnya lagi dan lagi.


Semenjak kehadiran Stela, hidup Tristan berubah. Semula yang hanya berteman sepi kini menjadi penuh cerita, warna dan canda. Jujur, itu membawa pengaruh yang sangat significant dalam hidupnya. Ia merasa lebih hidup dan bersemangat.


Stela yang merasa diperhatikan segera menoleh ke arah Tristan yang duduk di seberangnya. Gadis itu tersenyum manis. "Mau tambah? Pudingnya masih ada di dalam kulkas," ucapnya saat melihat piring Tristan sudah kosong.


Tristan yang terlalu terpesona dengan senyuman itu tak menghiraukan ucapan Stela. Hal itu membuat Ara yang sedang menikmati pudingnya berhenti dan berjalan menghampiri sang daddy.


"Daddy," panggilnya seraya menggoyang pelan lengan Tristan.


Masih tak ada respon, Ara yang gemas langsung mencubit pipi pamannya. "Daddyyyyyy."


Tristan tersentak sadar saat merasa kulit pipinya ditarik oleh jari-jari kecil—menimbulkan rasa pedih yang membuatnya harus mengusap pipinya berulang kali.


"Ara tidak boleh seperti itu sayang, pipi daddy jadi sakit, kan?" tegur Stela saat ia melihat Tristab meringis memegangi pipinya.


"Solli, Daddy." Ara tertunduk—merasa bersalah karena membuat Tristan kesakitan.


Tristan tersenyum lembut, ia mengangkat dagu Ara agar menatapnya. "Daddy tidak apa-apa sayang, ini tidak sakit kok, hanya seperti digigit semut," ungkapnya... mencoba membesarkan hati Ara agar tidak terlalu merasa bersalah.


"Lilly?" tanya Ara memastikan.


"Lilly?" Alis Tristan terangkat satu, Lilly? Siapa Lilly? pikirnya.


Stela terkikik. "Maksudnya really, Kak." Ia menjelaskan.


Tristan mengangguk paham. "Of course Baby." Ia mengacak pelan surai hitam Ara, lucu sekali melihat keponakannya mulai menggunakan bahasa inggris.


Ara seketika melihat ke arah Stela. "Of koz, apa mommy?" tanya bocah itu polos. Ia sama sekali belum mengerti dengan ucapan yang barusan dilontarkan Tristan.


"Daddy bilang, tentu saja sayang." Stela menjelaskan. Ia senang sekali melihat Ara yang bersemangat belajar bahasa Inggris.


.......


Stela keluar dari dalam kamar setelah menidurkan Ara. Niatnya ingin membersihkan piring bekas puding, tapi ternyata semua sudah beres di tangan Tristan. Pria itu saat ini tengah menata piring setelah mengeringkannya.


"Kenapa kau yang melakukannya, Kak? Ini adalah tugasku." Stela yang sampai di dapur, melayangkan sedikit protesannya.


Tristan menoleh dengan sedikit kernyitan tercipta di keningnya. "Tugas?"


"Iya," angguk Stela.


"Tugas apa? Kau bukan pembantu di rumah ini. Kau itu mommy-nya Ara, jadi bukan melulu menjadi tugasmu untuk melakukan ini semua," jelas Tristan.


"Tapi bukankah seorang ibu itu yang harus mengurus rumahnya, memastikan rumah selalu bersih agar nyaman ditinggali oleh seluruh anggota keluarga." Stela tak mau kalah, ia membalas argumen Tristan.


"Memang benar, tapi setidaknya anggota keluarga lain ikut membantu, kan. Bukankah pekerjaan akan menjadi lebih ringan dan cepat selesai jika dilakukan bersama-sama?"


Stel membisu, tak punya kata lagi untuk membantah ucapan Tristan. Semua kata yang keluar dari mulut pria itu memang benar adanya.

__ADS_1


Pria itu berjalan mendekati Stela. "Sudah mengertikan?" tanyanya. Gadis itu mengangguk patuh.


"Good," puji Tristan. Sebelum kaki pria itu melangkah pergi, tangannya terlebih dahulu menepuk-nepuk pelan kepala Stela.


Deg


Stela masih berdiri mematung di tempatnya, sementara Tristan sudah pergi meninggalkan area dapur.


Deg


Stela meraba wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Perlakuan Tristan barusan membuat desiran halus merambati sekujur tubuh. Aliran darahnya menjalar cepat dari ujung kaki sampai ke wajah hingga kini muka putih bersih itu menjadi merah padam.


"Ada apa denganku?" Stela mengipas-ngipas wajahnya agar rasa panas itu segera pergi.


... ....


"Ela!" Belum selesai menormalkan dirinya, Stela harus dibuat kaget dengan panggilan Tristan dari ruang tengah.


"I-iya," sahutnya. Gadis itu berlari kecil menuju ke tengah ruangan. "A-ada apa, Kak?" tanyanya begitu sampai.


"Ada kiriman untukmu." Tristan menyerahkan satu paperbag besar yang baru saja diterimanya dari kurir. Tidak tahu itu kiriman dari siapa, yang jelas itu untuk Stela.


Sampai di tangannya, Stela langsung memeriksa isi dari paperbag tersebut. Terdapat empat buah kotak berbeda ukuran di dalam sana. Stela mengeluarkannya satu persatu.


Tristan yang penasaran, ikut menemani Stela membuka masing-masing dari kotak kiriman itu. Pertama, Stela membuka kotak yang paling besar, di dalam sana ada sebuah gaun cantik berwarna hitam. Kotak selanjutnya, ada sepasang ankle strap heels senada gaun dengan strap dihiasi permata berkilauan. Selanjutnya, sebuah clutch bag berwarna silver dengan aksen hitam dan yang terakhir satu set perhiasan mutiara. Di dalam kotak terakhir itu terdapat sebuah note.


"Dari siapa?" tanya Tristan.


"Dari aunty Merry , istri uncle Ari—adiknya mommy," beritahu Stela.


Ya, semua barang itu adalah pemberian Merry yang merupakan salah satu designer ternama di Indonesia, ia dimintai bantuan oleh Ambar untuk memilihkan busana yang nanti akan digunakan Stela untuk menghadiri pesta pertunangan Jovanka. Stela sangat bersyukur karena ia sama sekali belum sempat membeli gaun untuk acara yang akan diadakan besok malam itu.


"Untuk acara pertunangan Kak Jo besok malam," lanjut Stela karena masih melihat kebingungan pada wajah Tristan, sepertinya pria itu penasaran untuk apa semua barang yang ia terima itu.


Mengingat acara besok malam tersebut, Tristan jadi teringat permintaan Vania dua hari yang lalu. Wanita itu memintanya untuk menjadi pasangannya di acara pertunangan Jovanka, Tristan tentu saja menolak karena ia sudah memiliki pasangan sendiri dan selain itu, Jovanka juga sudah mewanti-wanti agar ia datang bersama Stela.


...💃🏻 💃🏻 💃🏻...


Malam yang ditunggu pun datang. Tristan dan Stela akan menghadiri acara pertunangan Jovanka dan Gara. Ara dititipkan di kediaman Gautama, kebetulan di sana masih ada baby sitter yang dulu dipekerjakan Taufan untuk membantu merawat Ara, dia masih berada di sana untuk bantu-bantu. Tristan terpaksa menitipkan Ara karena tidak mungkin anak itu dibawa ke pesta, ia akan bosan berada di antara para orang dewasa.


Tristan keluar dari kamar setelah selesai bersiap-siap, tepat di ruang tengah ia melihat Stela tengah menatap keluar dari balik tirai yang sedikit disibakkan. Dari belakang saja gadis itu sudah tampak menawan, bagaimana jika dilihat dari depan.


"Kita pergi sekarang, El?" ucap Tristan yang kini sudah berdiri beberapa langkah di belakang Stela.


Stela berbalik, kini dua orang itu sudah saling berhadap-hadapan. Keduanya terpana memandang penampilan sosok di hadapan masing-masing.


Stela terlihat menawan dengan gaun indah yang panjangnya sampai mata kaki. Riasan sederhana di wajahnya memancarkan aura kecantikan yang alami. Rambut yang disanggul ke atas memperlihatkan leher putihnya yang jenjang. Satu kata untuk penampilan Stela saat ini yaitu perfect. Setidaknya begitulah yang ada dalam pikiran Tristan.


Sementara Tristan sendiri juga terlihat gagah dengan setelan tuxedo berwarna putih tulang yang membalut tubuh proporsionalnya, dipadukan dengan dalaman hitam berkerah tinggi menambah kadar ketampanannya. Oh... jangan lupakan luxury watch yang melingkar di pergelangan tangan itu.


Sungguh... mereka berdua terlihat begitu memesona malam ini.


"Pe-pergi sekarang?" tanya Tristan setengah gugup.


"Hh-heum," angguk Stela yang juga tengah dilanda rasa gugup.


.......


Akhirnya mereka sampai di ballroom sebuah hotel bintang lima yang telah disulap sedemikian rupa. Hotel itu sendiri merupakan milik keluarga Jovanka dan sengaja digunakan untuk merayakan acara pertunangan putri tunggal keluarga itu. Acaranya sedikit tertutup karena hanya mengundang kerabat, para sahabat juga rekan bisnis dari kedua pelah pihak.


Vania yang sudah terlebih dahulu sampai di tempat acara menatap sinis ke arah Stela yang datang bersama dengan Tristan. Gadis itu juga menggandeng lengan Tristan yang membuat hati Vania tambah panas. Ia sendiri datang dengan rekan sesama modelnya yang bernama Leon, karena tidak mungkin ia datang seorang diri ke acara seperti ini.

__ADS_1


Tristan dan Stela memilih duduk di bangku kosong yang berada di tengah-tengah ruangan. Baru saja keduanya mendudukkan diri, Vania langsung datang menghampiri bersama pasangannya.


"Hai Tristan ..." Tanpa aba-aba wanita itu langsung mencium pipi kanan dan kiri Tristan, sebagai bentuk salam. Padahal sebelum ini ia tidak pernah melakukan itu. Vania tersenyum miring saat melihat Stela memalingkan muka.


"Boleh duduk di sini, kan?" pintanya manja.


"Hm."


Vania duduk tepat di sebelah Tristan. "Tidak akan aku biarkan kau memiliki Tristan malam ini ataupun selamanya, gadis kampung," batin Vania.


"Ela?"


Stela menoleh saat namanya dipanggil, di sana ia melihat pria yang sangat dikenalnya berjalan bergandengan dengan seorang wanita dewasa yang terlihat sangat anggun dengan gaun hijau panjang yang membalut tubuh indahnya.


"Mas Rafa?" Stela berdiri dan menyambut kedatangan pria itu.


"Kau ada di sini? Kenapa?" tanya Rafa heran, setahunya Stela waktu itu akan kembali ke London.


"Panjang ceritanya, Mas," jawab Stela seadanya.


"Sayang..." Panggilan mesra itu berasal dari wanita di samping Rafa. "Kau tak ingin memperkenalkanku, hm?" tanyanya.


"Oh ya, kenalkan ini Karina, tunanganku." Rafa dan Karina sudah bertunangan beberapa waktu yang lalu, namun acaranya di private, hanya dihadiri oleh keluarga inti saja.


"Hai, aku Stela." Garis pirang itu mengulurkan tangan dan langsung dijabat hangat oleh tunangan Rafa.


"Kebetulan wanita cantik di sampingku ini adalah kakak kandung dari Sagara, pria yang akan bertunangan saat ini," jelas Rafa.


"What? Ternyata dunia ini sempit, ya?" kata Stela takjub.


"Ya begitulah, kau datang dengan siapa?" tanya Rafa kemudian.


Stela sedikit menggeser tubuhnya hingga orang-orang yang tadi tidak terlihat oleh Rafa menjadi tampak.


"Tristan?" Rafa tidak terlalu terkejut melihat Tristan ada di sana, yang membuatnya kaget adalah kehadiran Vania di tengah-tengah mereka.


Tristan hanya menatap Rafa datar seperti biasa, sementara Vania tetap dengan tatapan bencinya. Ia sudah terlalu dendam pada pria yang sering menghinanya itu.


"Ya sudah, kami pergi dulu ya. Lain waktu kita bertemu lagi," ucap Rafa sebelum pergi untuk menuju ke tempat duduknya.


"Aku ke toilet sebentar," ucap Tristan yang lebih ditujukan kepada Stela.


"Ya Kak/ Iya Tan," jawab Stela dan Vania bersamaan.


Tristan pergi, Vania beringsut mendekati Stela. "Bagaimana rasanya datang ke pesta mewah seperti ini?" tanya wanita itu mengejek.


Stela hanya diam, tak ingin melayani kesombongan wanita angkuh itu.


"Gaunmu bagus, pasti Tristan yang membelikannya untukmu," lanjutnya. Masih dengan nada mengejek.


Seperti sebelumnya, Stela hanya diam. Membalas hinaan wanita itu hanya akan memperpanjang masalah.


"Dari itik buruk rupa bertransformasi menjadi angsa yang cantik, ck... beruntung sekali dirimu," sinisnya. Dalam hati sebenarnya Vania merasa iri, ia mengakui jika Stela terlihat sangat cantik walau tidak memakai terlalu banyak riasan di wajahnya. Beberapa pasang mata juga tampak melirik ke arahnya saat masuk tadi. Hal itu membuat pamornya sebagai model tercantik sedikit terancam.


"Dari itik buruk rupa berubah menjadi angsa yang cantik. Kau boleh bangga untuk saat ini, tapi saat semua orang tahu siapa dirimu sebenarnya, mereka tidak akan mempedulikanmu lagi."


"Terima kasih atas perhatiannya, Nona Vania..." ucap Stela tersenyum manis.


Vania tak lagi menjawab, ia jengah karena Stela sama sekali tidak melawannya. Wanita itu kembali duduk di tempat semula sambil menunggu acara dimulai.


...Bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa Like & Comment ya...🙏🏻😊...


...Terima kasih...


__ADS_2