BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Kebenaran


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Sekali lagi Vania melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan rampingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit dan dia baru saja akan pergi ke restoran tempat janjiannya dengan Tristan. Sudah dapat dipastikan jika ia akan datang terlambat. Semoga saja pria itu tidak menggerutu karena dirinya yang datang tidak tepat waktu.


Ini semua terjadi karena ulah Fara. Ia menerima begitu saja tawaran dari seorang designer yang akan memakai jasa Vania. Client itu meminta bertemu segera dan sialnya Fara memilih hari ini tanpa bertanya dulu apakah ia bisa atau tidak.


Vania terus mengomel di sepanjang perjalanan saat Fara membawanya pergi menemui client barunya. Namun, saat sahabat yang merangkap sebagai managernya itu memberitahukan siapa designer yang akan memakai jasanya kali ini, wajah masam Vania langsung berubah cerah. Tidak pernah menyangka jika seorang designer muda yang namanya sudah dikenal di seluruh dunia akan memakai jasanya sebagai model untuk memamerkan rancangannya dalam acara Jakarta Fashion Week, seminggu lagi.


Semuanya memang serba mendadak, Fara yang merasa ini adalah cara cepat agar Vania bisa menjadi supermodel, tak mau melewatkan kesempatan itu. Dalam peragaan busana nanti akan hadir beberapa media dari berbagai negara, jadi Fara berharap pamor modelnya akan semakin melejit setelah acara itu berakhir. Satu yang pasti, ini adalah tawaran fashion week pertama Vania, jadi akan sangat rugi jika dilewatkan.


Ya... karena terlalu bersemangat membahas masalah tawaran itu dengan clientnya, Vania jadi terlambat datang ke tempat janjiannya dengan Tristan.


Sekarang sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Ia terlambat seperempat jam dan berharap semoga pria itu tidak memilih pergi karena kelamaan menunggunya.


Vania sampai di area parkir, setelah merapikan sedikit penampilan dan memoles lipstick merah di bibirnya yang sensual, Vania segera turun dari mobil yang ia setir sendiri.


Baru saja akan melangakah keluar area parkir, seseorang datang dari belakang dan membekap mulutnya tiba-tiba. Vania berontak, namun sayang sapu tangan yang digunakan orang untuk membekapnya itu sudah diberi bius hingga dirinya pingsan seketika.


.......


"KAU?!"


Di sinilah sekarang ia berada, di sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar hotel. Vania langsung memerikasa tubuhnya dan menghela napas lega saat mendapati jika ia masih berpakaian lengkap.


Pria yang baru keluar dari kamar mandi itu menghampiri Vania yang masih terduduk di atas tempat tidur.


"Kau baik-baik saja?" tanya si pria. Wajahnya menyiratkan rasa khawatir walau samar.


Vania berdecih. "Kau yang menculikku dan membawaku kemari, lalu kau masih bertanya apakah aku baik-baik saja? Lucu sekali dirimu Evan!"


Pria yang ternyata adalah kakak angkat Vania itu menghela napas lemah, lantas mendudukkan dirinya di samping Vania. "Aku tidak menculikmu dan aku juga terpaksa membawamu kemari," sangkal Evan.


Vania tersenyum sinis. "Kau membawa mantan kekasihmu ke hotel, eh? Apa istrimu tahu kelakuan suaminya ini, hm?"


"Van..." Pria itu menoleh. Memandang sendu wajah gadis yang dulu selalu menemani hari-harinya, dari kecil, remaja bahkan sampai mereka beranjak dewasa.


Orang yang disebut namanya hanya balas memandang dengan tatapan dingin dan raut muka datar.


"Tak bisakah kita kembali seperti dulu?" pinta Evan—memohon.


Vania menatapnya tajam. "Seperti apa yang kau maksud? Seperti sepasang kekasih atau sebatas hubungan kakak dan adik?"


Evan terdiam, matanya masih sibuk meneliti wajah Vania yang terlihat semakin cantik walau dalam keadaan marah sekali pun, tapi tetap saja... Evan masih menyukai wajah polos dan lugu tanpa polesan Vania yang dulu.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Vania. "Ah... aku tahu. Kau tidak perlu menjawabnya karena aku sudah tahu jawabannya!"


"Apa jawabannya?" tanya Evan pelan.


Vania terkekeh sinis. "Tentu saja kau menginginkan hubungan kakak adik di antara kita. Bukan kah begitu,kak Evan? Karena kau sendiri sudah memiliki istri yang kau cintai dan saat ini kalian bahkan tengah menanti kelahiran buah cinta kalian. Cih. Kau bahagia di atas penderitaanku. Brengsek!" Vania tak dapat lagi menahan amarah yang sudah dipendamnya selama beberapa bulan ini.


Evan tertunduk, ia begitu memahami sakit hati yang dirasakan oleh mantan kekasih yang ia tinggalkan demi menikahi wanita lain itu. Namun, disini... bukan hanya Vania saja yang terluka melainkan dirinya juga.


"Kau tidak mengerti, Van," lirih Evan. Tangan pria itu terkepal di atas kedua pahanya, menahan sesak yang selama ini telah menghimpit rongga dadanya hingga kesulitan bernapas.


Napas Vania memburu, ia beringsut menghampiri Evan dan memukul-mukul tubuh pria yang masih bertahta dengan begitu sombong di hatinya itu. "Apa yang tidak aku mengerti sialan! Kau meninggalkanku dan memilih menikah dengan wanita lain. Disini kau lah yang tidak mengerti, kau tidak mengerti perasaanku. Kau tidak pernah mengerti kesakitanku, penderitaanku, kau....-" Vania tercekat, tak mampu lagi meneruskan kata-katanya. Air mata terus saja membasahi pipi putihnya yang memerah karena dikuasai amarah.


Evan menerima begitu saja pukulan bertubi-tubi Vania yang berusaha melampiskan rasa frustasi dan sakit hatinya. Walau sebenarnya pukulan itu sama sekali tidak menyakitkan di tubuhnya tapi lain dengan bongkahan daging di dalam dadanya. Hatinya merasa ngilu dan turut merasakan apa yang dirasakan gadis tercintanya. Tercinta? Ck. Ya... karena nyatanya perasaan itu tak pernah hilang di dalam hatinya.


Hiks


Pukulan itu tak lagi dirasakan Evan, tapi kini ia mendengar tangisan pilu gadis di sampingnya.


"Kau kejam, Van..." isak Vania.


"Maafkan aku." Evan segera meraih Vania ke dalam pelukannya. Ia sudah tak sanggup melihat tangisan menyayat hati sang gadis. Ia tak bisa lagi menahan perasannya. "Aku selalu mencintaimu..." bisiknya.


Deg


Vania tersentak, apa yang baru saja ia dengar? Pria itu mengatakan jika masih mencintainya? Apa ini mimpi?


"Lepas!" Vania mendorong kasar tubuh Evan. Ia menatap nyalang pria itu dengan napas memburu. "Kau ingin mempermainkanku, huh?" pekiknya. Ia tak bisa percaya begitu saja pada ucapan Evan. Jika dia memang mencintai tak mungkin dia meninggalkan. Namun nyatanya, ia pergi dan memilih bersama wanita lain.


"Percaya padaku!" Evan merangkum wajah penuh air mata Vania. "Perasaan ini tidak pernah hilang, dari dulu sampai sekarang hanya kau satu-satunya wanita yang pernah bertahta sebagai ratu di hatiku. Tak ada yang lain," ungkapnya jujur dari dalam hati.


Deg


Vania luluh, bagaimana pun juga ia terlalu lemah jika harus berhadapan dengan pria yang sangat dicintainya ini.


"Aku juga mencintaimu." Vania segera menghambur ke dalam pelukan Evan dan disambut dengan bahagia oleh pria itu.


"Aku merindukanmu, rasanya sesak sekali saat bisa melihatmu tapi tak bisa memelukmu seperti ini," ujar Evan parau. Ia menitikkan air mata bahagia. Ia tak peduli dengan apa yang akan dihadapinya nanti, yang jelas sekarang ia hanya ingin bersama gadisnya saja.


"Evan, miliki aku!"


Deg

__ADS_1


Evan tersentak, ia melepas paksa pelukan Vania di tubuhnya. Matanya menatap mata sayu itu tak percaya.


"Apa yang kau katakan?"


"Miliki aku, Van! Jadikan aku wanitamu malam ini juga!" pinta Vania


Evan menggeleng. "Tidak. Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak akan melakukan itu!" tolak Evan.


"Kenapa?" Hati Vania seperti tersayat pisau bermata tajam saat ia sudah merendahkan dirinya seperti ini tapi pria itu malah menolaknya.


"Aku tidak mungkin merusakmu Van, kau sangat berharga bagiku."


"Alasan, bilang saja kalau kau tidak ingin mengkhianati istrimu itu!" jeritnya. Kembali ia memukuli tubuh Evan membabi buta. "Kau bohong! Aku tahu kau tak mencintaiku lagi, kau hanya ingin membesarkan hatiku dengan mengatakan cinta agar aku mau memaafkanmu. Kau licik Evan. Kau jahat!" pekiknya histeris.


Evan mengerang, ia menangkap tangan Vania yang sibuk memukulinya. Ia genggam tangan itu kuat agar berhenti bergerak.


"Aku tidak bohong. Akan ada masanya bagi kita untuk bahagia. Bersabarlah, Van!" bujuk Evan.


"Aku tidak percaya!" Vania menyentak tangannya yang digenggam Evan.


Pria itu menghela napas panjang, jika meneruskan perdebatan ini tak akan ada habisnya. Ia bangkit dan berjalan menuju pintu.


"Mau kemana kau, mau meninggalkanku lagi?" pekik Vania saat melihat Evan akan keluar dari dalam kamar.


Langkah Evan terhenti. "Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Bersabarlah atau menyerahlah. Pikirkanlah dua pilihan itu baik-baik!" jawab Evan tanpa menoleh.


"Dan ya... sebaiknya kau berhati-hati. Ada orang yang sepertinya ingin mencelakaimu di luar sana, syukur tadi aku melihatnya dan menyelamatkanmu," sambung pria itu.


Deg


Terkejut? Tentu saja. Siapa orang yang berani menculiknya? Apa masalah yang telah diperbuatnya hingga orang itu memiliki niat jahat padanya. Mulai sekarang sepertinya ia harus waspada.


"Te-terima kasih," ucapnya.


"Ya. Aku pergi."


Evan berjalan kembali menuju pintu. Saat hendel telah ditekan dan pintu terbuka setengah. Ia berbalik dan menatap kembali pada Vania yang masih memperhatikannya.


"Kau tidak mengerti, Van. Disaat aku harus bertanggung jawab pada sesuatu yang tidak pernah aku lakukan, hanya demi menuruti kemauan dari orang yang menuntut balas budi karena sudah membesarkanku sampai menjadi seperti ini. Kau tidak akan pernah mengerti perasaanku." Setelah mengucapkan kata panjang itu, Evan menghilang di balik pintu.


Vania tercenung, ia mencerna apa yang baru saja ia dengar keluar dari mulut pria yang di cintainya, dan tatapan mata penuh luka itu. Ada apa sebenarnya ini? Apa yang sedang disembunyikan Evan dari dirinya? Lalu tanggung jawab apa? Balas budi apa? Vania tak mengerti. Ya... dia memang tidak pernah mengerti pada perasaan Evan, pada kesakitan yang dialami pria itu, yang dia pedulikan hanyalah lukanya saja. Egois.


...🌵 🌵 🌵 ...


Saat ini Stela berada dalam sebuah kamar mewah yang terdapat di mansion Wijaya. Di sana ia tak sendiri, karena ada kakak perempuannya yang sedari tadi tak pernah melepaskan pelukannya.


Gadis yang lebih tua empat tahun dari Stela itu menggeleng. "Aku begitu merindukanmu my lilter sister." Bukannya melepaskan, Anne malah semakin mempererat.


Stelq mendesah pasrah. "Kenapa tadi kakak tidak ikut menjemputku?"


"Maafkan kakakmu ini yang setiba di Indonesia harus sibuk mempersiapkan Jakarta Fashion Week yang akan diadakan seminggu lagi," jawabnya sembari melepas pelukan. Akhirnya... Stela bisa bernapas lega.


"Woah... kakak ambil bagian?" tanya Stela takjub.


"Ya, kebetulan aku baru mendesign beberapa busana. Jadi kenapa tidak diperagakan saja selagi aku ada di sini."


"You're amazing, apa boleh nanti aku ikut melihat acaranya?"


"Sure." angguknya. "Oh ya, aku juga membawa beberapa baju rancangan terbaruku untukmu. Besok dipakai ya, aku mau mengajakmu ke suatu tempat!" ajak Anne.


"Eh, ke mana?"


"Menemui model yang nanti akan mengenakan rancanganku dan berjalan di catwalk."


"Aku mau," angguk Stela antusias.


Anne terkekeh melihat tingkah adiknya ini. Kadang, sang adik bisa bersikap begitu dewasa tapi tak jarang sifat manjanya juga akan keluar sesekali. Namun bagaimana pun juga, Anne sangat menyayanginya.


"Ela?" panggil Anne.


"Hm?" sahutnya.


"Apa pria yang bernama Tristan itu adalah pria yang ada di dalam wallpaper ponselmu itu?" tunjuk Anne pada benda persegi pintar milik adiknya yang tadi sempat menyala dan memperlihatkan sebuah potret keluarga bahagia. Maksudnya... foto Stela, Tristan dan Ara waktu mereka berlibur di Ancol.


"Eh?" Wajah Stela memerah mendengarnya. Ia tertunduk malu. "Kakak melihatnya?" gadis itu mencicit.


"Kau menyukainya?" tebak Anne saat melihat reaksi malu-malu adiknya.


Stela mengangguk. "Kami sudah menjadi sepasang kekasih."


"WHAT? Seriously?" jeritnya tak santai. Untung saja kamar yang mereka tempati kedap suara, jika tidak mungkin seluruh penghuni rumah akan terkejut mendengarnya.


Stela mengangguk pelan sebagai jawaban keseriusannya. "Pantas saja kau tak mau pulang, jadi ini alasannya?" tanya sang kakak.


Jika tadi mengangguk, sekarang Stela menggeleng. "Tidak Kak, kami menjalin cinta jauh setelah kedatangan mom and dad kemari."

__ADS_1


"Oh..." Anne mengangguk paham. "Hm, apa pria itu memperlakukanmu dengan baik? Dia tak pernah menyakitimu, kan? Awas saja jika dia berani membuat adikku ini menangis, I'll shave off his hair."


Stela tertawa mendengar ancaman sang kakak. Jika rambut Tristan dicukur habis, maka dia akan jadi botak lalu tidak tampan lagi. Heh... Stela tidak mau ya punya kekasih yang botak. Dia jadi bergidik sendiri membayangkannya.


Suasana hening seketika, dua gadis pirang itu terdiam cukup lama sampai putri pertama Anthony dan Ambar itu kembali bersuara.


"El, masalah perjodohannya?" Anne bertanya, suaranya terdengar lemah dengan mata yang mulai meredup. Ia juga baru tahu belakangan ini jika ternyata pria yang dijodohkan dengan Stela adalah Sebastian. Saat itu perasannya sangat hancur, kenapa bukan dia saja yang dijodohkan, pasti akan dengan senang hati ia terima.


Stela menatap kakaknya yang menunduk, dilihat dari reaksinya, sang kakak pasti tahu jika yang dijodohkan dengannya adalah Sebastian, pria yang tak lain adalah seseorang yang dicintai kakaknya dari masa remaja.


"Kak..." Stela meraih dan mengenggam tangan hangat Anne. Ini... hal ini jugalah yang membuat Stela kabur dari rencana perjodohan. Kakaknya mencintai Sebastian dan daddy malah merencanakan perjodohan antara dirinya dan pria itu. Pikir saja akan bagaimana perasaan kakaknya setelah mengetahui hal itu. Mungkin, seperti saat ini. Terlihat patah hati.


"Aku sudah meminta daddy untuk membatalkan perjodohan itu. Kakak tenang saja ya." Dengan lembut Stela menjelaskan.


"Tapi dia menyukaimu, bukan aku." Mata Anne berkaca dan Stela semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sang kakak.


"Aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak, sama seperti kak Cio. Jadi kakak tenang saja ya, aku akan mencoba untuk membuka mata Sebastian agar bisa melihat jika di sini ada gadis cantik yang begitu mencintainya." Stela mengangkat wajah sang kakak dan menyeka sebulir bening yang sempat jatuh.


"Terima kasih El, kau memang saudariku yang terbaik. Aku sangat menyayangimu." Mereka berpelukan hangat. Semoga kedepannya semua akan berjalan sesuai harapan.


.......


Berbeda dengan dua gadis pirang Wijaya, Abercio dan Sebastian memilih duduk di gazebo samping mansion sambil menikmati malam dengan obrolan dan juga secangkir kopi.


"Sebenarnya, Stela sudah meminta daddy untuk membatalkan rencana perjodohan kalian." Abercio mulai bersuara setelah tadi mereka terlarut dalam keheningan setelah membahas masalah pekerjaan. "Dan ya, daddy menyetujuinya."


Sebastian hanya diam, tak menanggapi. Dia sudah bisa menebak jika hal itu akan terjadi. Melihat reaksi Stela saat ia mengatakan jika dirinya lah yang dijodohkan dengan gadis itu, membuatnya yakin jika cintanya telah ditolak bahkan sebelum menyatakan.


"Apa ini semua karena pria itu?" tanya Sebastian. Ia mengangkat kepala yang semula tertunduk, dan menatap sahabatnya.


Abercio menghela napas berat, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Ini tidak ada hubungannya dengan pria bernama Tristan itu," jawabnya. "Stela bahkan sudah menolak rencana perjodohan dengan cara memilih kabur ke Indonesia, padahal sebelum itu dia belum mengenal Tristan." Abercio menambahkan.


"Apa itu berarti Stela tahu kalau aku yang dijodohkan dengannya?"


Abercio mengangkat bahunya tak tahu, ia juga belum berbicara masalah itu dengan adiknya. "Aku akan membicarakan masalah ini dengannya, jika Stela tetap pada keputusannya, aku harap kau menyerah saja!" Setelah mengatakan itu Abercio bangkit dan pergi meninggalkan Sebastian yang termenung di tempat duduknya.


... ....


Sulung Wijaya itu mengetuk pintu kamar yang dihuni oleh dua adik cantiknya. Tak lama pintu terbuka dan tampaklah Stela di baliknya.


"Belum tidur?" Ia bertanya dan dibalas gelengan oleh sang adik.


"Boleh aku masuk?" pintanya.


Stela membuka lebar pintu kamar dan membiarkan kakaknya masuk. Kemudian ia kembali menutupnya.


"Sudah tidur ternyata," gumam Abercio saat melihat Anne sudah terlelap nyenyak di pembaringannya.


Pria itu kemudian berjalan menuju sofa yang berada dalam ruangan, ia mengajak Stela untuk duduk bersamanya.


"Ada apa, Kak?" tanya Stela.


Abercio menghirup napas sejenak lalu membuangnya perlahan, mencoba menyiapkan diri.


Stela mengernyit melihat sikap kakaknya yang seperti terbebani dengan suatu hal, itu membuatnya sedikit khawatir dengan apa yang akan dibicarakan oleh sang kakak nantinya. Apa ini masih menyangkut masalah perjodohan?


"El, have you ever loved Sebastian?" tanya Abercio tiba-tiba.


"No. Never. He's my brother, just like you." Stela menjawab mantap.


"Tristan, what about him?"


Stela memejamkan mata sejenak, sepertinya ia memang harus mengatakannya agar tak ada lagi yang membahas masalah perjodohan-perjodohan itu.


"He's my boyfriend and I love him very much."


Anercio tak terkejut lagi mendengarnya, memang dia sudah menduga-duga hubungan apa yang gerangan dimiliki oleh adiknya dengan pria Indonesia itu dan ternyata.... huh, mereka sudah berkencan. "Kau memang benar-benar harus menyerah, Bro."


"Ya sudah, kalau begitu kau pergilah tidur!" Abercio bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke tempat tidur dan meninggalkan kecupan di kening Anne. Hal itu juga dilakukannya pada si bungsu. "Good Night."


Stela memperhatikan Abercio yang kian menjauh. "Kak!" panggilnya kemudian. Abercio menoleh.


"Apa kak Sebastian tahu jika kak Anne mencintainya?"


Pertanyaan Stela membuat Abercio terkejut, jadi adik bungsunya ini mengetahuinya. Apa Anne yang curhat padanya? Apakah itu juga menjadi alasan kuat kenapa Stela tak menerima perjodohan dengan Sebastian. Bisa jadi.


Abercio menggeleng, ia rasa Sebastian memang tidak mengetahui perasaan Anne padanya.


"Tidak usah pikirkan masalah itu, biar aku yang menanganinya."


Stela mengangguk. "Good Night, Kak."


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻☺️...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2