BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Damai


__ADS_3

...๐ŸŒปSelamat Membaca๐ŸŒป...


Senyum bahagia tak lepas menghiasi wajah cantik Vania. Kini perempuan itu tengah bermanja di pelukan kekasih hatinya. Walaupun kondisinya bisa dikatakan tidak baik karena kelumpuhan sementara, tapi itu tidak mengurangi rasa bahagianya karena bisa kembali bersama dengan pria yang dia cinta.


"Bagaimana sekarang perasaanmu?" tanya Evan. Tangannya sibuk mengelus surai panjang Vania.


"Amat baik. Rasanya lega sekali." Ia menjawab.


Setelah mengungkapkan semua rentetan kejadian yang di alaminya sampai kecelakaan itu terjadi, Vania pada akhirnya berterima kasih, juga meminta maaf pada Tristan. Berterima kasih karena pria itu sudah menyelamatkannya dari Boni dan meminta maaf atas sikap buruknya pada Tristan dan Stela selama ini. Mereka berdamai, bahkan Stela tadi sampai memeluknya karena terlalu bahagia. Entah kenapa, saat ini tak ada lagi kebencian dalam dirinya pada pasangan itu. Rasa benci yang ia punya saat ini hanya untuk satu orang, yaitu ayahnya.


"Vania..."


"Hmm?" sahutnya kala Evan memanggil.


"Mau kan menungguku sampai semua masalah ini selesai?" Masalah yang dimaksud Evan di sini adalah masalahnya dengan Clara dan keluarga Herlambang.


"Tentu." Vania mengangguk. Tentu saja ia mau. Ia sudah menunggu momen ini begitu lama.


"Terima kasih, sayang." Evan mengecup hangat pucuk kepala Vania.


Mata Vania tiba-tiba terasa panas, bulir bening mulai mengalir dari sana.


"Kenapa menangis, hm?" tanya Evan.


Vania menggeleng lantas tersenyum. "Ini air mata bahagia. Aku tidak menyangka jika kita bisa bersama lagi."


Evam balas tersenyum dan mengusap pipi Vania yang basah. "Mulai sekarang kita tak akan terpisahkan. Kita akan berjuang bersama-sama, ok?"


Vania mengangguk dan memeluk tubuh kekar prianya. Ingin rasanya waktu berhenti detik itu juga agar tak ada lagi hal yang dapat memisahkan pelukan ini.


Di luar sana, di balik pintu, Thomi dan Hesti melihat semuanya. Pemimpin keluarga Hermawan itu naik darah melihat kemesraan anak-anaknya, ia tidak terima. Susah payah dipisahkan, malah kini mereka kembali bersama. Tidak bisa dibiarkan.


Thomi akan mendobrak masuk tatkala tangannya ditarik oleh Hesti. Ia menatap tajam sang istri.


"Sekali lagi kau pisahkan mereka, maka aku yang akan meminta pisah darimu!" Setelah mengatakan ancamannya, Hesti melenggang pergi dengan santai. Ia sudah muak melihat tingkah suaminya yang selalu membuat anak-anak yang dicintainya menderita. Kali ini ia akan bertindak. Jika pria itu tidak berubah juga, maka bersiap-siap saja jika perpisahan benar-benar akan terjadi.


Thomi mematung, tak menyangka jika istrinya yang selama ini sangat penurut itu bisa membantah bahkan mengancamnya. Rusak sudah harga dirinya sebagai seorang suami. Namun, ancaman Hesti membuatnya mati kutu. Tak ada perceraian dalam keluarga Hermawan, karena itu akan mencoreng nama baik mereka. Mungkin, mengalah adalah satu-satunya solusi saat ini.


Pria tua itu melangkah gontai. Mulai saat ini, ia harus menyiapkan diri untuk berhadapan dengan keluarga Herlambang.


...๐ŸŒบ ๐ŸŒบ ๐ŸŒบ...


"Ada apa? Dari tadi kau senyum-senyum terus?" sindir Tristan geli saat melihat kekasihnya yang sedari keluar rumah sakit sampai mereka berada di depan rumah Arya setia melengkungkan bibir.


"Lega... kau sudah sembuh dan semua masalah juga telah usai," jawabnya sumringah.

__ADS_1


Tristan paham sekarang, ia pun turut merasakan hal yang sama. Perasaannya lapang setelah semua kesalahpahaman ini berakhir. Ia yakin setelah ini Vania tidak akan mengganggunya lagi.


"Oh ya, apa tadi kau lihat? Vania dan pria bernama Evan itu seperti memiliki hubungan khusus," celetuk Stela.


"Mereka kakak-adik, kan?"


"Bukan hubungan seperti itu yang ku maksud, tapi... mereka terlihat seperti saling mencintai," terka Stela.


"Husst... mana ada kakak-adik yang saling jatuh cinta. Jangan mengada-ada, sebaiknya sekarang pencet belnya! Sampai kapan kita mau berdiri di depan pintu, hm?"


Stela langsung cengengesan, mereka berdiri cukup lama di pintu kediaman Arya hanya untuk mendengar curhatan Stela.


Setelah bel dipencet, tak berapa lama seseorang membukakan pintu.


"Stela, Tristan!" Siapa lagi yang punya suara cempreng itu jika bukan ratu di keluarga Hemachandra, yakni Risa. "Masuk... masuk!"


"Ara dimana?" tanya Tristan. Ia rindu gadis kecilnya. Sudah tiga hari mereka tak bertemu, kangen celotehannya.


"Ada, dia sedang di kamar bermain bersama Vero. Aku panggil dulu, kalian duduklah!"


Risa berlalu, Tristan dan Stela duduk di sofa ruang tamu.


"Daddy........." Ara berlarian keluar kamar setelah Risa mengatakan jika daddynya datang. Gadis kecil itu langsung menghambur ke dalam dekapan Tristan begitu sampai di ruang tamu.


"Ala kangen, Daddy kemana saja?" rajuknya manja.


"Jangan pelgi lama-lama lagi," pintanya.


"Iya, maafkan Daddy, ya?"


"Kening daddy kenapa, beldalah?" tanya Ara kala melihat plester di kening Tristan.


"Kening daddy terantuk meja, makanya berdarah, tapi tidak apa-apa kok. Daddy kan kuat," hibur Tristan begitu melihat wajah cemas Ara.


"Terima kasih Kak Risa, beberapa hari ini aku merepotkanmu karena harus menjaga Ara," ucap Stela.


"Tidak masalah, malahan aku senang-senang saja. Jadi ada teman selain Vero," balasnya.


...๐ŸŒน ๐ŸŒน ๐ŸŒน...


Sebulan sudah waktu berlalu, tak terasa hari bergulir begitu cepat. Malam ini, Stela-Tristan dan putri cantik mereka akan menghadiri pesta pernikahan Jovanka dan Gara. Acara pemberkatan tadi pagi mereka juga turut hadir.


..."Seperti biasa. Selalu cantik." Tristan merengkuh pinggang Stela dan berbisik di telinganya. Kekasihnya begitu terlihat memesona malam ini hingga Tristan tak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. ...


"Hei, lepas!" Stela berupaya melepas rengkuhan Tristan karena saat ini Ara sedang memperhatikan mereka. Tidak enak jika adegan mesra mereka ditonton oleh anak kecil.

__ADS_1


"Satu ciuman saja, maka akan ku lepaskan?" pinta Tristan genit. Ia semakin mengetatkan tangannya di pinggang Stela, tak ingin melepaskan.


Stela menggeram, ia melirik Ara sejenak. Untung saja bocah itu mulai sibuk dengan pita di gaunnya hingga membuat Stela bisa mengecup pipi Tristan dengan aman. "Sudah. Sekarang lepaskan!"


Mau tak mau Tristan akhirnya melepaskan rengkuhannya. "Ya sudah, ayo pergi."


Pesta berlangsung dengan meriah. Di sana pasangan TristanStela bertemu dengan banyak orang, termasuk Vania dan Evan. Hal itu semakin menguatkan dugaan Stela bahwa keduanya memang memiliki hubungan khusus. Vania sudah bisa berdiri lagi setelah melakukan terapi rutin selama sebulan ini, ya... walaupun masih harus dibantu oleh tongkat.


Satu lagi, Vania mengabarkan bahwa Boni sudah ditangkap dan menjadi tersangka yang menyebabkan kecelakaan waktu itu terjadi. Vania bisa bernapas lega untuk saat ini. Hubungannya dengan Evan juga semakin membaik setelah pria itu resmi bercerai. Tanpa diduga, Clara sendirilah yang menceraikan Evan dengan alasan akan kembali dengan mantan kekasihnya yang ingin bertanggung jawab. Hal itu justru sangat menguntungkan bagi Evan dan keluarga Hermawan sendiri, hingga bisnis mereka tidak jadi terkena imbasnya.


Dan ada hal lainnya yang membuat Vania bahagia, yaitu restu sang ayah yang mengalir tiba-tiba. Entah apa yang terjadi tapi Vania hanya bisa bersyukur.


"Apa kalian... ?" Stela begitu penasaran. Saat Vania dan Evan bergabung duduk di meja mereka, Ia tak bisa lagi menahan keingintahuannya. Ditanyalah akhirnya mengenai hubungan kedua orang itu.


"Ya." Vania mengangguk. "Kami sepasang kekasih, tapi jangan salah paham dulu. Aku dan Evan bukanlah saudara kandung, kami hanya sepupu jauh," jelas Vania.


Oh... terjawab sudah rasa penasaran Stela. Ia melirik Tristan yang hanya angguk-angguk saja.


"Aunty genit tidak akan ambil Daddy, kan?" Tiba-tiba Ara menyeletuk.


Vania tertawa, ia tak menyangka jika Ara masih mengingat kejadian waktu ia bertandang ke apartemen Tristan. Sedikit memalukan saat dirinya digelari genit oleh si kecil. Namun, itu hanya masa lalu dan sudah lewat pula. Vania tak lagi memikirkannya.


"Aunty tidak genit lagi sayang. Aunty juga tidak akan ambil daddynya Ara karena sekarang aunty sudah punya uncle yang tampan," ujar Vania sembari memeluk lengan Evan.


"Syukullah...." Ara mengusap dadanya lega.


Respon Ara membuat semua yang ada di sana tertawa, menjadikan suasana pesta semakin ceria.


...๐Ÿƒ ๐Ÿƒ ๐Ÿƒ...


Stela menjalani hari-hari berikutnya seperti biasa. Mengurus rumah, Tristan juga Ara. Dia sudah seperti ibu rumah tangga diumurnya yang baru 17 tahun.


Malam ini, Stela mendapatkan telepon dari ayahnya di London. Setelah berbincang cukup lama, sambungan pun terputus. Dengan lesu Stela pergi menemui Tristan di kamarnya.


"Ada apa, kau terlihat tak semangat?" sambut Tristan saat pintu terbuka. Stela berjalan gontai masuk ke dalam dan duduk di atas tempat tidur kekasihnya.


"Kenapa, Baby?" Tristan duduk di samping Stela, ia genggam tangan kekasihnya itu.


"Kak...." Stela menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Hm?"


"Aku.... harus kembali ke London."


...Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah baca๐Ÿ˜Š


__ADS_2