BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Malu


__ADS_3

...๐ŸŒปSelamat Membaca๐ŸŒป...


Tristan bangun cepat pagi ini, ia harus menyiapkan sendiri sarapan untuk dirinya dan Ara karena sang nyonya rumah tak berada di tempat.


Hidangan yang disajikan di meja makan pagi ini hanyalah dua piring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan juga segelas susu untuk Ara dan teh untuknya. Nasi goreng adalah salah satu menu makanan yang bisa dimasak oleh Tristan selain telur mata sapi.


Selesai dengan urusan dapur, Tristan masuk ke dalam kamar untuk membangunkan keponakan manisnya. Tampaknya gadis kecil itu benar-benar kelelahan setelah berlibur kemarin, buktinya saat ini ia masih bergelung lelap dalam tidurnya.


"Sayang... bangun yuk!" Tristan mengguncang pelan tubuh Ara. Walau sebenarnya tak tega tapi ia harus tetap membuat si kecil terbangun. Dari sore kemarin Ara belum makan dan Tristan takut jika keponakannya itu nanti akan sakit.


Tubuh gembil itu menggeliat, perlahan mata yang menyimpan manik kelam itu terbuka. Terlihat Ara mengedip-ngedipkan matanya lucu. "Dad-dy..." sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Morning, Baby." Tristan mengangkat tubuh Ara dan menggendongnya ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka.


Keluar dari kamar, Ara masih setia berada dalam gendongan Tristan, kepalanya bahkan bersandar manja di pundak sang paman. Gadis itu nampak masih memejamkan mata-mengantuk.


"Sayang, kita makan dulu ya." Tristan sudah duduk di salah satu kursi, Ara berada di atas pangkuannya.


Bocah perempuan itu akhirnya membuka mata dan melihat meja makan yang sudah tersaji hidangan di depannya.


"Minum susunya dulu." Tristan meraih segelas susu dan mengangsurkannya ke depan mulut Ara. Mau tak mau, gadis itu akhirnya meneguk susu yang disodorkan padanya.


Setengah dari isi gelas sudah berpindah ke dalam perutnya, Ara memperhatikan sekitar dapur dan tak menemukan keberadaan Stela di sana.


"Mommy mana?" Ia bertanya.


Tristan mengelap bibir Ara yang berlepotan susu. "Mommy pergi sebentar, nanti akan pulang lagi," jawab Tristan seadanya.


"Kemana? Kenapa Mommy tidak ajak Ala?" Matanya mengembun dengan suara yang mulai tersendat.


Tristan kalang kabut, sepertinya Ara akan segera menangis karena ditinggal tanpa pamit oleh Stela.


"Kita video call mommy ya?" bujuknya.


Berhasil. Ara langsung mengangguk antusias dengan mata yang berbinar cerah.


Tristan mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dan segera mendial nomor dengan nama My Sunflower, yang tak lain adalah nomor sang kekasih.


.......


Stela bangun pagi seperti kebiasaannya sejak tinggal di apartemen Tristan, setelah membersihkan diri ia langsung turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Biar aku bantu ya, Bi..." sapa Stela saat sampai di dapur dan mendapati beberapa pelayan tengah menyiapkan sarapan.


"Tidak usah Nona, sebaiknya Nona duduk dan bersantai saja..." tolak si pelayan merasa sungkan.


"Tidak apa Bi, aku bantu saja ya." Tidak mau mendengar penolakan lagi, Stela langsung mengerjakan apa yang bisa ia lakukan. Para pelayan hanya bisa pasrah, beberapa dari mereka juga tersenyum melihat nona mereka yang ramah dan baik hati.


.......


Abercio dan Sebastian baru pulang joging mengelilingi mansion mewah Wijaya yang berdiri di atas lahan 20.000 mยฒ. Keringat nampak membanjiri tubuh liat berotot berbalut singlet olahraga kedua pria tampan tersebut. Pemandangan itu membuat beberapa pelayan muda tampak berbisik melihat keseksian dua makhluk Tuhan yang begitu memesona tersebut.


Sampai di ruang tengah, Abercio memerintahkan seorang pelayan untuk membawakan mereka air mineral dingin. Tak lama kemudian pesanan datang dan yang membawakannya adalah Stela.


"Hei, kenapa kau yang membawanya. Kemana pelayan tadi?" tanya Abercio yang duduk berdampingan bersama Sebastian di atas sofa.


Stela meletakkan dua botol minuman di atas meja dan ikut duduk bergabung dengan kedua kakaknya. "Aku memintanya untuk menolong di dapur," jawabnya.


"Oh." Abercio hanya mengangguk dan kemudian meneguk minuman dingin yang dibawakan adiknya sampai tandas. Setelah itu ia menghela napas lega karena dahaga yang sudah mendapatkan penawarnya. Sebastian juga melakukan hal yang sama. Dua pria itu terlihat lelah dan berkeringat.


"Sebelum kita memulai sarapan, kakak berdua mandilah!" kata Stela sebelum gadis itu bertolak kembali menuju dapur.


"Apakah kau hanya menganggapku sebagai seorang kakak, El?" batin Sebastian. Memandang punggung Stela yang kian menjauh.


.......


Semuanya kini sudah berkumpul di meja makan. Selain Stela dan ketiga kakakknya, ada juga tuan rumah yaitu Ari, istrinya-Merry dan juga putri tunggal mereka, Karin.


"Sangat menyenangkan jika semua keluarga berkumpul seperti ini," ucap Ari sebelum prosesi makan pagi dimulai.


Semua yang ada di sana tampak menganggukkan kepala setuju. "Andai kakak dan kakak ipar juga ada di sini. Lengkap sudah kebahagiaan ini. Terlebih jika kakek dan nenek kalian masih hidup." Suasana yang mulanya bersuka cita langsung berubah mendung saat Ari berandai jika kedua orang tuanya masih ada.


"Papa, bisakah kita memulai sarapannya? Aku sudah lapar," protes Karin. Gadis seusia Stela yang saat ini tengah menempuh pendidikannya di Universitas Indonesia semester awal dengan jurusan ekonomi. Dia adalah anak satu-satunya pasangan Ari dan Merry, oleh karena itu Karin lebih memilih kuliah di dalam negeri agar bisa turut membantu bisnis kedua orang tuanya.


"Ayo, kita mulai sarapannya." Ari memimpin do'a dan semua mulai menyantap hidangan yang tersedia.


.... ...


Saat semuanya sedang menikmati hidangan pencuci mulut, ponsel Stela yang berada di atas meja bergetar. Semua mata kini tertuju padanya. Gadis itu merasa tak enak karena dalam sejarah keluarganya tidak ada yang boleh membawa apapun ke ruang makan terlebih ponsel. Hal itu dapat menganggu acara makan yang sekaligus sebagai acara kumpul keluarga.


"Angkat saja, tidak apa-apa." Ari yang melihat keraguan di mata sang keponakan, mempersilahkan Stela untuk mengangkat teleponnya.


"Thank you, Uncle."


Stela tak meninggalkan meja makan, ia mengangkat telpon yang berupa video call itu di sana.


"Selamat pagi, cantik."


Deg


Wajah Tristan muncul di layar dengan sapaannya yang membuat semua yang berada di meja makan tersenyum kecuali Sebastian.


Stela memperhatikan ekspresi orang-orang di sekelilinginya dengan canggung. "Maaf," ucapnya tak enak hati.


Merry tersenyum, ia yang duduk tepat di samping Stela mengelus surai panjang dan halus keponakan suaminya itu. "Kalau El tidak nyaman, pergilah ke ruang tengah," kata Merry lembut.


"Ya Aunty. Kalau begitu aku permisi dulu," pamitnya pada semua.


Selepas Stela pergi, Anne menghabiskan dessert-nya dengan cepat. Ia mengelap mulutnya yang mungkin belepotan menggunakan serbet yang tersedia.

__ADS_1


"Aku juga sudah selesai. Bolehkah aku meninggalkan ruang makan terlebih dulu, Uncle...Aunty?" pamitnya.


Dua orang dewasa yang dituakan itu mengangguk dan setelah itu Anne pergi menyusul sang adik. Sementara yang ditinggalkan kembali meneruskan makannya yang belum selesai.


.......


"Selamat pagi,Kak." Setelah tiba di ruang tengah, Stela baru membalas sapaan Tristan.


"Hey kenapa lama sekali?" protes terdengar dari seberang sana.


"Maaf. Tadi kami sedang berada di meja makan."


"Hm. Oh ya, ini ada yang menanyakanmu." Tiba-tiba layar bergerak dan menampakkan wajah cemberut Ara.


"Hey Baby. Good morning." Stela menyapa gadis kecilnya.


"Mommy jahat. Mommy left me," ketusnya dengan pipi menggembung lucu. Ara bahkan memiringkan kepalanya karena enggan menatap Stela. Hanya pipi tembam dan bibir yang mengerucut itu yang bisa Stela lihat di layar.


"I'm sorry, Baby. Maafkan Mommy ya, nanti saat pulang Mommy akan membawakan Ara baju balet yang cantik," rayu Stela. Dan benar saja, Ara langsung menghadap ke kamera dengan semangat. Kemarin, mereka belum sempat membelikan baju permintaan Ara itu karena tergesa pergi liburan.


"Plomise?" Ara bertanya- memastikan.


"Pinky swear." Stela mengangkat jari kelingkingnya. Hal itu juga ditiru oleh Ara di seberang sana.


"Pinky swel," katanya cadel.


"Pintar anak Mommy. Ara sudah sarapan?" tanya Stela.


"Ala sudah minum susu. Daddy buat nasi goleng," jawabnya.


"Sekarang makan dulu ya. Nanti mommy akan telpon Ara lagi!"


"Yes Mommy. Bye-bye." Ara melambaikan tangan dan dibalas Stela dengan turut melambaikan tangannya ke kamera.


Tiba-tiba layar kembali menampakkan wajah Tristan. "Come back soon. I really miss you, Honey."


Stela tersenyum malu dan mengangguk. "I'll be back."


Klik...


Sambungan terputus dan layar ponsel Stela kembali menampakkan wallpaper dengan foto mereka bertiga.


"I miss you too," desahnya.


DUARRR


Tiba-tiba dari arah belakang, Anne datang mengagetkan. Stela terperanjat.


"Kakak!" Ia memekik kesal.


Anne tak memedulikan kekesalan sang adik dan memilih duduk di seberang Stela.


Stela mengangguk dan tertundu malu.


"Dad and mom sudah menceritakan semuanya. Kasihan sekali gadis kecil itu sudah kehilangan orang tuanya di saat ia sendiri masih begitu membutuhkan kasih sayang kedua orang tua." Anne ikut prihatin akan nasib Ara.


"Iya Kak. Makanya saat Ara ingin memanggilku mommy aku tidak sampai hati untuk menolaknya. Jadilah sekarang aku mommy-nya dan Tristan sebagai daddy-nya," jelas Stela.


"Semoga suatu saat nanti kalian benar-benar akan menjadi orang tua sungguhan untuk Ara," harap designer muda berbakat itu.


"Semoga Tuhan mengabulkan. Amiin."


"Oh ya, jangan lupa saat makan siang nanti kau ikut denganku." Anne mengingatkan.


"Iya."


"Baiklah... aku ke kamar dulu. Masih ada beberapa hal yang harus ku urus berkaitan dengan pagelaran nanti."


"Iya, Kak."


Anne pergi sementara Stela masih duduk di sofa ruang tengah. Tak lama kemudian, Sebastian muncul dan duduk di tempat yang Anne duduki tadi.


"Kau punya hubungan dengan pria itu?" Bukannya berbasa-basi dulu, Sebastian langsung menanyakan inti masalah yang sedari tadi membuatnya gelisah. Saat mereka joging, Abercio memberitahukan semua yang ia bicarakan dengan Stela semalam dan kini Sebastian ingin mendengar langsung dari mulut yang bersangkutan.


Stela menatap Sebastian datar, walaupun tak menyebutkan nama, ia sangat tahu siapa yang dimaksud oleh pria yang kini duduk di seberangnya itu. "Namanya Tristan dan ya... We're in a relationship," jawabnya.


Sebastian mendengus, ternyata apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar adanya. "Apa kau yakin? Kau bahkan belum lama mengenal pria itu. Kau tidak tahu seperti apa dia. Bagaimana jika ternyata dia tidak sebaik yang terlihat?"


Stela melotot, tidak terima dengan ucapan bernada curiga yang dilontarkan Sebastian. "Maksudnya apa? Kenapa kau berkata seperti itu?" Ia bertanya, terselip nada kesal dalam suaranya.


"Ya... kita tidak tahu dia seperti apa, kan?" Sebastian mengangkat bahunya. "Apalagi yang ku dengar dia seorang model. Cuma bermodalkan tampang untuk mendapatkan uang."


Nada mengejek dalam ucapan Sebastian membuat Stela meradang. Sakit sekali hatinya saat ada yang menjelek-jelekkan profesi sang kekasih. Apa salahnya dengan menjadi seorang model. Menurutnya itu masih pekerjaan yang wajar daripada menjadi seorang pencuri atau yang lebih rendahnya menjadi seorang gig*lo.


"Aku tak suka jika kau berkata seperti itu. Kau berbicara seolah-olah mengatakan jika Tristan tak pantas untukku. Kenapa memangnya? Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Tak ada yang salah. Yang salah itu adalah saat kau memaksa seseorang untuk menerimamu padahal kau sendiri tahu jika orang itu tak menginginkanmu!" Marah. Stela benar-benar marah saat ini.


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu." Pria itu masih berusaha membujuk. Mana tahu Stela akan luluh.


Stela tersenyum sinis. "Dan yang terbaik untukku adalah Tristan." Setelah mengatakannya, Stela bangkit.


Bahu tegap itu merosot ke bawah, Sebastian benar-benar kecewa karena sepertinya gadis yang ia cintai tidak akan mengubah pendiriannya.


Sebelum pergi Stela mengatakan sesuatu yang membuat Sebastian mematung dan berpikir. "Bukalah matamu! Di sana ada seseorang yang selalu memperhatikanmu dari kejauhan. Seseorang yang selalu menyebut namamu disaat rindu. Dan yang sangat mencintaimu dalam diamnya. Cepatlah sadar! Semoga belum terlambat, karena menunggu itu juga ada batasnya."


"Siapa orang yang mencintaiku?" batin Sebastian bertanya.


"Mereka kenapa Kak, bertengkar?" tanya Karin pada Abercio. Kebetulan mereka berdua tak sengaja mendengar perdebatan antara dua orang tadi.


"Tak usah dipikirkan. Bersiaplah untuk ke kampus. Aku akan mengantarmu."

__ADS_1


"Oke, Kak." Karin langsung melesat ke kamar dan bersiap.


.......


Abercio menghampiri sahabatnya yang masih diam dalam duduknya. Ia sedikit merasa kasihan dengn nasib cinta Sebastian.


"Siapa?" Sebastian yang menyadari kehadiran Abercio pun bertanya.


Abercio diam menatap tajam sahabatnya.


"Siapa dia, siapa yang diam-diam menjatuhkan hatinya padaku. Kau pasti tahu Cio," tuntut Sebastian.


"Sorry, I couldn't tell you. Aku tidak punya hak untuk mengatakannya. Coba sadarilah sendiri!"


...๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’...


Stela dan Anne sudah siap untuk pergi makan siang di sebuah restoran di pusat kota Jakarta.


Memasuki restoran mewah, keduanya tak luput dari perhatian. Walau hanya mengenakan pakaian casual dan santai ternyata tak bisa menutupi aura kecantikan mereka berdua.


Kakak beradik itu duduk di meja yang sudah di reservasi sebelumnya, client Anne tampaknya juga belum datang.


"Tunggu sebentar ya, aku akan ke toilet dulu," pamit Anne.


Stela yang ditinggal sibuk mengamati tempat di mana sekarang ia berada. Sebuah restoran yang berada di tingkat atas sebuah hotel ternama. Kaca-kaca besar yang berfungsi sebagai dinding itu memberikan kesan yang menarik. Kita bisa melihat dengan jelas langit biru dan juga jalan raya yang sangat padat di bawah sana.


"Maaf kami terlambat." Sebuah suara menyapa. Stela langusng menoleh.


Deg


"KAU!" jerit Stela bersamaan dengan seorang wanita yang baru sampai.


"Jangan bilang jika dia adalah model yang akan dipakai kakak," tanya Stela dalam hati. "Kenapa harus wanita sombong ini. Oh God."


"Apa yang kau lakukan di sini, gadis kampung?" tanya Vania.


"Silakan duduk dulu, baru kita bicara." Stela mempersilakan. Ia malu karena beberapa tamu nampak memperhatikan mereka, tertarik. Jelas saja, seorang model datang ke tempat ramai tentu saja banyak yang akan mengenalinya.


"Kemana Nona Anne?" tanya seorang wanita dengan rambut cepol dua. Stela pikir itu adalah manager si wanita sombong.


"Ke toilet," jawab Stela apa adanya.


Mata Vania memicing. "Apa yang dilakukan gadis kampung ini di sini? Tidak mungkin kan, dia ikut bagian menjadi model di acara itu?" pikirnya.


Sambil bersedekap, Vania memperhatikan penampilan Stela. Ia berdecak. Semua yang dipakai gadis itu terlihat bermerk dan bahkan dirinya saja tidak punya yang seperti itu.


"Kau terlihat berkelas dibandingkan saat pertama kali aku melihatmu," ucap Vania.


Stela menoleh, pandangan yang semula ke luar jendela beralih menatap Vania tajam.


"Sukses ya memoroti Tristan agar mau membelikanmu semua yang kau mau?" ejek Vania.


Stela tetap tenang, walau dalam hati merasa sangat jengkel dan ingin sekali meremas mulut lancang wanita di depannya. Tak ada pertemuan tanpa ejekan. Apa sebenarnya masalah wanita itu dengannya. Apa semata-mata hanya karena Tristan? Atau karena ada hal lain. Iri, misalnya.


"Iya. Kenapa memangnya? Kau iri?" balas Stela telak.


Vania mengetatkan rahangnya. Iri? yang benar saja. Seorang model terkenal sepertinya iri dengan gadis kampung seperti Stela? Mustahil.


"Iri? Untuk apa iri dengan gadis tak tahu malu sepertimu. Gadis murahan yang menjual dirinya dengan imbalan barang-barang mewah."


Deg


SSYUURRRR


Stela baru akan menampar wanita itu saat seseorang di belakang sana telah beraksi terlebih dahulu.


Fara terkejut saat melihat client-nya yang tak lain adalah Anne, menyiram tubuh Vania dari kepala dengan sebuah teko kaca berisi penuh air yang diambilnya dari meja seorang tamu.


"Lancang sekali mulutmu Vania Hermawan!" desis Anne. Ia menghempaskan teko kaca itu ke meja mereka hingga membuat Vania dan yang lainnya terkejut.


"Nona Anne, apa yang anda lakukan?" tanya Fara. Ia berusaha mengelap wajah Vania yang banjir air dengan sapu tangan miliknya.


"Seharusnya aku yang bertanya." Dengan santai Anne duduk di hadapan Vania, tepat di samping Stela, tanpa memedulikan tatapan orang-orang yang tertarik dengan apa yang terjadi.


"Apa yang telah diucapkan mulut kotor modelmu itu kepada A-DIK-KU?" tekannya, marah.


Adik?


Baik Fara maupun Vania sontak mengangkat wajah mereka. Menatap Stela dan Anne bergantian.


"A-a-apa, k-kau a-adik dari Anne?" tanya Vania gagap.


Stela mengangkat satu alisnya. "Iya. Kenapa?" Ia merangkul bahu Anne dan menempelkan pipi mereka berdua. Agar semua orang bisa melihat dengan jelas kemiripannya. Walau wajah mereka berbeda karena Stela yang lebih menuruni wajah asia sang ibu sementara Anne wajah bule sang ayah, tapi tetap saja, mata biru dan rambut pirang mereka tak dapat didustai.


Vania terganga tak percaya, pantas saja selama ini dia menyelidiki tentang Stela, tapi tak mendapatkan hasil apapun. Ternyata gadis itu bukan gadis biasa. Sial memang.


Stela tersenyum puas melihat raut wajah menyedihkan Vania.


"Makanya, jangan mudah meremehkan orang lain. Jangan menilai orang hanya dengan penampilan luarnya saja. Jika sudah begini, siapa yang malu?" tanya Stela.


Vania hanya tertunduk diam-malu.


"Oh ya, kita belum berkenalan secara resmi." Stela mengulurkan tangannya ke hadapan Vania.


"Namaku, Auristela Princessa Knight. Aku adik dari Anne Alexandra Knight."


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment...๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜Š...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2