BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Keluarga Besar


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Tristan, Ara, Stela dan semua keluarga Wijaya, turun dari private jet yang membawa mereka terbang dari Indonesia ke London. Saat kaki telah menapaki tanah Inggris, di sana sudah menanti sebuah limousin mewah yang akan mengangkut mereka menuju mansion Knight.


Tristan takjub, ini adalah kali pertama dia menjejaki negara yang dijuluki the Black Country itu. Tak menyangka jika dirinya turut diundang untuk menghadiri pernikahan putra tunggal keluarga Knight yang mana adalah kakak dari kekasihnya.


"Mommy, itu apa?"


Tristan menoleh saat mendengar suara Ara yang bertanya pada Stela. Keponakannya itu menunjuk sebuah bangunan besar lewat kaca jendela mobil yang mereka tumpangi.


"Itu namanya Big Ben, sayang," jawab Stela. Ia yang memangku Ara mencoba menjelaskan.


"Big Ben itu apa, Mommy?" Kembali dia bertanya setelah mendengar kata yang cukup asing disebutkan sang ibu.


"Big Ben itu adalah menara jam. Ara lihat tidak di atas sana ada jamnya?" tunjuk Stela.


Bocah kecil itu mengangguk antusias. "Iya, jamnya besal Mommy."


"Iya, sayang." Dan di sepanjang perjalanan, Stela sibuk menjelaskan ini itu berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ara.


.......


Sampailah mereka di sebuah bangunan kelewat megah yang berdiri di atas berhektar tanah. Itu dibuktikan dengan jarak gerbang utama dan mansion yang lumayan jauh.


"Mommy ini istana siapa?" tanya Ara berbinar. Mereka sudah keluar dari limousin dan kini tengah berdiri di teras bangunan megah itu.


"Ini rumahnya Grandpa dan Granny, sayang. Mari masih ingat tidak dengan Grandpa dan Granny?" tanya Stela.


"Ingat. Belalti ini lumah mommy juga dong?" tanyanya lagi.


"Iya, sayang."


Semua orang tersenyum melihat keantusiasan Ara. Berbeda dengan Tristan yang tiba-tiba merasa insecure begitu melihat betapa kaya dan berkelasnya sang kekasih. Masih pantaskan pria biasa seperti dirinya bersanding dengan tuan putri seperti Stela?


"Welcome to our castle..."


Anthony menyambut kedatangan mereka semua didampingi oleh sang istri.


"Daddy... Mommy..." Stela langsung berlari menerjang tubuh kedua orang tuanya dengan pelukan rindu.


"Princess, daddy rindu sekali padamu." Anthony balas memeluk kesayangannya dan mengecup pucuk kepala putrinya itu berkali-kali.


"Sudah... sudah, sekarang giliranku." Ambar melerai pelukan itu dan segera menarik Stela ke dalam pelukannya, gantian.


"Kau ini, tidak sabaran sekali," gerutu Anthony yang sebenarnya belum puas melepas rindu dengan putri kecilnya.


"Terserah, dia putriku."


"Kita membuatnya bersama jika kau lupa." Anthony mengingatkan.


Ambar tak memedulikan celotehan suaminya. Ia memeluk dan menciumi Stela berkali-kali.


"Kalian ini, sudah tua masih juga sering bertengkar." Ari yang melihat drama itu segera menghampiri bersama istri dan putrinya, Karin.


"Hey adik ipar, bagaimana kabarmu?" Anthony memeluk Ari dan menepuk-nepuk punggung tegap adik iparnya itu.


"Jika tidak baik, aku tidak mungkin berada di sini saat ini." Jawaban Ari membuat pria pirang itu terkekeh. Ia melepas pelukannya dan beralih untuk bersalaman dengan Mery dan Karin.


"Karin sudah besar ya ternyata?" kata Anthony saat dirinya bersalaman dengan putri sematawayang Ari.


"Bukankah waktu Uncle ke Indonesia kita sudah pernah bertemu, ya? Badanku masih sama seperti saat itu, kok?" Jawaban polos Karin membuat semua yang ada di sana menahan senyum. Sementara Anthony yang hanya berniat berbasa-basi menjadi malu sendiri.


"Haha, iya ya. Ngomong-ngomong, sudah punya kekasih belum? Kalau belum, uncle punya keponakan yang saat ini sedang mencari istri. Mau uncle jodohkan tidak?"


Deg


Suasana hening seketika. Anthony tiba-tiba merasakan hawa tak enak di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati wajah garang sang istri.


"Bagus. Jodohkan saja semuanya. Biar anak-anak pada kabur," sindir Ambar mengingatkan pada kelakuan Anthony terdahulu yang menjadi penyebab kaburnya Stela.


"Hahaha... Daddy wajahnya lucu sekali," tawa Stela berderai. Ayahnya memang tidak pernah bisa menang dari sang ibu.


Setelah menggaruk tengkuknya ya tiba-tiba gatal, Anthony beralih menghampiri Tristan yang berdiri jauh dari mereka dan sedang menggendong keponakannya.


"Kita bertemu lagi," ucap Anthony begitu berhadapan dengan kekasih putrinya.


Tristan mengangguk lalu terseyum. "Iya Paman, senang bertemu denganmu lagi."

__ADS_1


"Well, selamat datang di kediaman kami. Semoga kau betah berada di sini," kata Anthony ramah.


"Terima kasih, Paman."


"Glandpa?" Suara kecil Ara mengalihkan perhatian Anthony. Ia menatap makhluk manis yang berada di gendongan Tristan.


"Hi sweety..." ucap Anthony lembut sembari mengelus sayang kepala Ara. "Selamat datang di rumah mommy Ela ya, Baby."


"Oh My God, she's so cute." Ambar menggeser tubuh Anthony ke samping. Kini dia yang berhadapan dengan Ara. "Come on baby, jump into my arms!" Ibu Stela itu mengambil alih Ara ke dalam pelukannya.


"Glanny?"


"Iya sayang, ini Granny." Ambar mengecup gemas pipi Ara. "Ayo kita masuk ke dalam, granny sudah buat kue-kue yang enak khusus untuk dirimu."


Semua orang masuk ke dalam mengikuti Ambar, sementara di belakang sana Anthony mendengus sebal. Suka sekali istrinya itu mengganggu kesenangannya.


"Kita masuk, Paman!" ajak Tristan.


"Ah ya, masuklah!" Anthony mempersilahkan. "Rumah siapa yang menyuruh masuk siapa," omel pria baya itu dalam hati.


... ....


Makan malam di mansion Knight berlangsung hikmat. Seperti tradisi, tak ada satupun yang bersuara selama makan, bahkan Ara yang biasanya berceloteh saat makan, kini memilih diam karena melihat semua orang juga diam.


Para pelayan langsung membersihkan meja makan ketika semua orang sudah meninggalkan ruang makan. Kini semuanya tengah bersantai di ruang tengah.


Mereka bercerita banyak hal. Tristan dan Ara bisa langsung beradaptasi dengan seluruh penghuni mansion Knight yang memang baik dan ramah seperti Stela. Di sana Tristan juga bertemu dengan Sebstian, pria yang dulu menjadi saingannya itu kini terlihat bahagia dengan belahan jiwanya yang tak lain adalah Anne.


"Hem... hem..." Stela berdehem cukup keras saat melihat Abercio yang tengah tersenyum sambil melihat layar ponselnya. "Asyik sekali kelihatannya, Kak..." lanjutnya menggoda. Stela tahu jika kakak laki-lakinya itu tengah bertukar pesan dengan calon istrinya yang memilih menginap di hotel bersama keluarganya selama menunggu hari pernikahan.


Abercio mengangkat kepala dan mendapati semua yang berada di ruangan menatap ke arahnya. Seketika wajah pria yang tengah berbunga-bunga hatinya itu, memerah malu.


"Lucu sekali, sudah tidak sabar ya?" Stela ikutan menggoda.


"Be patience buddy, soon you won't be apart from your love anymore," Sebastian menambahkan.


Mendengar hal itu bertamabah merahlah wajah pria yang sebentar lagi akan berusia 24 tahun itu.


"Sudah... sudah..., kasihan calon pengantin kita ini. Jangan membuatnya tersipu lagi, wajahnya sudah seperti perawan yang akan melalui malam pertama." Bukannya menengahi, ucapan Anthony barusan malah membuat semua orang di sana menjadi heboh. Abercio yang kesal bahkan menatap tajam ke arah sang ayah.


Tristan yang menyaksikan semua itu hanya bisa mengulum senyum. Berada di tengah-tengah keluarga Stela membuatnya merasakan kembali bagaimana kehangatan dalam sebuah keluarga yang sudah lama tak ia dapatkan. Apakah ia bisa berada di sini untuk seterusnya?


Hari ini Tristan, Stela dan Ara akan pergi ke butik langganan keluarga Knight untuk membuat baju pesta mereka. Sementara keluarga Ari akan berangkat siang nanti.


Keluar dari mansion besar itu, sudah ada mobil yang menanti untuk dinaiki. Mobil lainnya yang tak kalah mewah dari yang kemarin. Di sudut taman sana, Tristan bisa melihat garasi mobil keluarga Stela. Pria itu menelan ludah susah saat itu juga. Bagaimana tidak, garasi yang sangat besar dan terdiri dari dua tingkat itu menampung banyak mobil di dalamnya, tak sembarang mobil pula, dilihat dari jauh saja jelas sekali jika itu adalah mobil-mobil mahal yang dirinya saja akan berpikir dua kali untuk membelinya.


"Kak, ayo!" seru Stela yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.


"Hn."


.......


Selesai dengan urusannya di butik, Stela mengajak Tristan berjalan-jalan di sekitaran kota London. Mereka memilih Thames river sebagai tujuan.


Sungai Thames mempunyai panjang 346 km atau 215 mil. Sungai ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis maupun warga lokal karena melewati berbagai macam objek wisata terkenal seperti London Eye, Big Ben, dan Tower Bridge.


Semua objek wisata yang ada di sana dikunjungi oleh ketiganya. Saat senja datang, London Eye menjadi pilihan terakhir mereka.


London Eye merupakan sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia dengan ketinggian 135 meter. Objek wisata London Eye ini berada dan berputar di atas Sungai Thames. Dengan menggunakan London Eye pengunjung bisa melihat seluruh panorama kota London. Pengunjung bisa melakukan pengambilan foto yang indah dari ketinggian bangunan tersebut.


Perjalanan mereka hari ini sangat menyenangkan. Baik Tristan ataupun Ara menunjukkan wajah puas mereka. Stela hanya bisa tersenyum, ia bahagia jika orang-orang yang ia sayangi menikmati wisata di negaranya.


...🤵 💍 👰...


Hari yang ditunggu oleh keluarga besar Knight pun datang. Apa lagi kalau bukan hari bersejarah bagi si sulung, Abercio Knight.


"Are you ready, Brother?"


Abercio yang sedang berdiri memandangi penampilannya di cermin, terkejut kala kedua adik cantiknya masuk ke dalam kamar pribadinya.


"So nervous," desahnya.


"Tenangkan dirimu, Kak. Kau pasti bisa. Aku yakin itu." Stela menyemangati.


"You look so handsome." Anne yang melihat kegugupan itu, memilih menggoda sang kakak agar lebih rileks.


Dan tahu apa reaksi Abercio? Ia langsung berpose bak model ternama sambil berkata. "As always."

__ADS_1


Dua gadis yang terlihat sangat cantik itu menyembur tawa begitu mendengar ucapan penuh kenarsisan sang kakak. Abercio bahkan ikut tertawa saat melihat tawa kedua saudarinya.


"Kalian bersenang-senang di sini? Ayo cepat, kita harus berangkat!" Anthony yang ternyata sudah berdiri di pintu masuk memperingati ketiga buah cintanya dengan Ambar itu agar bergegas. Rombongan mereka akan segera berangkat menuju gereja.


.......


Upacara pemberkatan diadakan di sebuah gereja ternama kota London. Di mana banyak pasangan bangsawan yang mengikat janji di sana. Acara itu hanya di hadiri oleh keluarga besar Knight, Jovovich, Wijaya dan beberapa sahabat karib kedua pengantin. Sedikit privasi karena hal itu adalah keinginan dari Irina. Dia menginginkan pemberkatan yang sakral dan khidmat.


Malamnya, acara resepsi diadakan. Dekorasi ruangan pesta terlihat sederhana namun tetap cantik dan elegan. Semua itu adalah pilihan Irina. Ia tidak ingin sesuatu yang gemerlapan dan terlalu mewah.


Lebih dari seribu tamu undangan yang hadir di sana. Pesta berlangsung sampai tengah malam.


Semuanya tampak bahagia di hari itu, terkhusus bagi sepasang pengantin baru, Abercio dan Irina. Semoga berbahagia, begitulah harapan semua yang hadir di sana.


...💖 💖 💖...


Sudah tiga hari berlalu, Abercio dan istrinya sudah terbang ke Hawaii untuk berbulan madu, sementara Tristan dan Ara masih berada di kediaman Knight. Rencananya dua hari lagi mereka akan kembali ke Indonesia dan Tristan belum memastikan apakah Stela akan ikut dengannya atau tetap tinggal di London bersama keluarganya. Tristan belum siap untuk menanyakan hal itu jika jawabannya akan membuat dia kecewa.


"Tristan!" Pria yang sedang duduk di halaman belakang mansion itu menoleh saat mendengar suara yang tak asing memanggilnya.


Tak jauh dari sana terlihat Anthony berjalan menghampiri. Tristan segera bangkit dari duduknya.


"Iya, Paman," sahutnya.


"Bisa ikut aku sebentar!" pinta pria pirang itu.


Tristan mengangguk dan mengikuti langkah Anthony masuk kembali ke dalam bangunan megah di depannya.


Mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan yang masih tertutup, Anthony membuka dan mengajaknya masuk untuk kemudian menutup pintunya lagi.


Bagian dalam ruangan itu terlihat seperti ruang santai, ada sofa, meja, rak buku dan berbagai figura yang tertempel di dinding, namun ada satu yang menarik perhatian yaitu keberadaan grand piano bermerk Steinway & Sons yang berdiri di sudut ruangan dekat jendela.


"Kemarilah!"


Tristan menghampiri Anthony yang berdiri di sudut lain ruangan. Ayah kekasihnya itu sedang menatap figura yang tertempel di dinding.


"Ini adalah beberapa piagam yang pernah Stela dapatkan," ucap pria baya itu.


Tristan ikut melihat apa yang dilihat oleh Anthony. Di dinding itu, ada beberapa piagam penghargaan dengan nama Auristella P Knight yang tak lain adalah kekasihnya.


"Di antara ketiga anakku. Memang hanya Stela yang memiliki minat di bidang seni musik dan juga tari," katanya.


Tristan mendengarkan dengan seksama.


"Kau lihat, dia memenangkan banyak penghargaan. Mulai dari menjadi pemenang pertama saat kompetisi piano saat berusia 12 tahun, lomba ballet kategori solo dan masih banyak lagi," lanjutnya bercerita.


Benar, Tristan sudah membaca semua piagam yang ada di sana. Stelanya benar-benar berbakat. Level insecure dalam dirinya menjadi semakin tinggi.


Di dinding itu juga terdapat beberapa foto Stela saat perlombaan dan ketika memamerkan pialanya.


Setelah puas memandangi foto-foto itu, kini Anthony beralih menatap Tristan. Ekspresi wajahnya terlihat serius, Tristan yang melihat pun menjadi sedikit tegang.


"Waktu kecil Stela selalu bilang bahwa kelak ia akan menjadi seorang pianis terhebat, ballerina terkenal dan banyak sekali cita-citanya kala itu." Anthony terkekeh pelan saat mengatakannya. Ia ingat betapa menggemaskannya sang putri di masa kecil.


Tristan tak tahu harus merespon seperti apa, ia hanya mengangguk dengan mata tak lepas menatap Anthony.


"Tristan..."


"Ya, Paman?"


Anthony menatapnya dalam sebelum mengatakan sesuatu.


"Apa kau ingin membantu Stela untuk mewujudkan cita-citanya itu?" tanya kepala keluarga Knight itu tegas.


"Tentu saja, Paman..." jawabnya pasti.


"Kalau begitu-"


Deg


Tiba-tiba Tristan merasakan perasaan yang tidak enak.


"Bisakah kau kembali ke Indonesia tanpa Stela?"


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment

__ADS_1


Terima kasih😊


__ADS_2