
...🌻Selamat Membaca🌻...
Semua tamu sudah duduk di bangku yang telah disediakan. Beberapa menit lagi acara akan segera dimulai.
Gara dan Jovanka memasuki ruangan pesta, sepasang manusia itu terlihat menawan dan juga sangat serasi dengan penampilan mereka.
Setelah acara pembukaan, sampailah di acara utamanya, yaitu tukar cincin. Dengan didampingi oleh orang tua masing-masing, acara tukar cincin pun berlangsung dengan sukses.
Selesai acara utama, para tamu undangan dipersilakan untuk menikmati hidangan yang tersedia.
Selama menyantap makanan, Vania sudah tidak berada di tempatnya. Entah kemana perginya wanita itu, Tristan maupun Stela sama sekali tidak peduli pada apa yang dilakukan oleh perempuan itu.
"Selamat malam para hadirin yang terhormat..." suara dari MC di depan sana membuat atensi semua tamu yang ada teralih dari piring makanan mereka menuju ke arah panggung. "Di acara yang istimewa ini, ada salah seorang sahabat dari pasangan yang berbahagia ingin menghibur kita semua di sini. Dia adalah nona Stela. Kepada Nona Stela, silakan maju ke depan dan mainkan sebuah lagu dengan piano yang indah ini!" pinta MC pria yang kini sudah berada di samping piano berwarna hitam yang ada di atas panggung.
"Apa?" Jovanka yang mendengar itu pun kaget, setahunya Stela tak mengatakan apapun. Ia melirik ke bangku di mana temannya itu duduk, bisa dilihatnya dari depan sana jika saat ini Stela terlihat shock.
"Ini bagaimana? Apa Stela bisa memainkan piano?" gumam Jovanka cemas. "Siapa yang telah mengubah susunan acara ini!"
"Aku akan bicara pada MC-nya!" Gara bangkit dari duduknya namun Jovanka segera menghentikannya.
"Tunggu!" Perempuan itu menunjuk ke arah bangku Stela, gadis itu tampak ingin berdiri.
"Jangan, El!" Tristan menahan pergelangan tangan Stela yang ingin bangkit dari duduknya. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa ada nama Stela dalam susunan acara di pesta pertunangan Jovanka. Setahunya mereka tidak ada membahas masalah ini.
Stela melepas tangan Tristan. "Aku bisa, Kak. Tenang saja!"
Vania yang sudah kembali ke bangkunya, tersenyum menang. "Gadis kampung sepertimu tidak akan bisa memainkan alat musik mewah seperti itu," lirihnya. "Kau hanya akan membuat malu." Sebelum ini, Maya pergi menemui MC di belakang panggung, dan mengatakan jika Stela ingin menyumbangkan sebuah lagu, MC itu mengangguk setuju dengan imbalan sebuah tanda tangan dan foto bersama.
Stela tak mengerti kenapa ini bisa terjadi, tapi ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Acara Jovanka tidak boleh kacau hanya karena dirinya menolak melakukan ini. Dengan percaya diri, Stela berjalan ke depan panggung. Beberapa pasang mata menatap terpesona ke arahnya.
__ADS_1
Sampai di depan piano besar itu, Stela menghirup dan menghembuskan napas pelan. Berusaha menenangkan diri. Jujur saja, sudah lama dirinya tidak menyentuh tuts-tuts piano ini, ia cemas bila nanti melakukan kesalahan.
"You can, Ela!" Ia mencoba menyemangati diri sendiri.
Semua yang ada di dalam ballroom diam, suasananya hening, semua mata tertuju kepada Stela yang berada di atas panggung. Gadis itu duduk dengan tenang. Sebelah tangannya terangkat, pikirannya mencoba untuk berkonsentrasi. Mengingat lagu apa yang bisa ia mainkan.
Tut...
Stela mencoba mengetes piano itu dengan menekan salah satu tuts yang ternyata menimbulkan bunyi yang begitu jelas terdengar di ruangan yang sepi itu. Tangannya sedikit kaku.
Vania tersenyum lebar di bangkunya, tidak sabar melihat Stela malu dan disoraki oleh semua orang.
Sekali lagi Stela mencoba merilekskan dirinya, sebelum ia kembali menekan tuts-tuts itu secara perlahan mengikuti partitur yang saat ini teringat di kepalanya. Nocturne E Flat Major Op.9 No.2 dari Chopin, itu lah yang ia mainkan saat ini, lagu itu dipilih karena dirasa sesuai dengan suasana pesta yang membahagiakan.
Semua yang hadir terhanyut mendengar permainan piano Stela. Jovanka melongo, tak menyangka jika Stela ternyata bisa memainkan piano dengan mahir. Ia merasa bersyukur bisa mengenal gadis menakjubkan itu.
Permainan itu berlangsung kurang lebih 5 menit. Selama itu Vania berusaha mati-matian agar tidak mengumpat. Pikirannya berkelana mencoba mencari cara lain agar Stela tidak besar kepala setelah berhasil memukau semua orang di acara tersebut. Kini hanya ada satu cara yang terlintas di dalam benaknya, ia akan menggunakan Tristan.
Stela memainkan lagunya dengan penuh penghayatan, ia bersyukur karena masih mengingat dengan jelas partitur musik yang satu ini. Akhirnya, dengan halus ia mengakhiri permainannya.
Semua orang yang berada di ruangan itu berdiri dan bertepuk tangan meriah untuknya. Stela bangkit dan membungkuk di depan semuanya. Ia bahagia karena bisa menghibur semua tamu yang hadir di pesta pertunangan Jovanka. Namun, perasaan bahagia itu tak berlangsung lama saat netranya menangkap dua orang yang masih duduk di tengah sana.
Deg
Hatinya tiba-tiba berdenyut nyeri saat melihat Tristan dan Vania tengah berciuman.
.
Vania merasa sangat bingung, apa yang harus dilakukannya untuk membuat Stela sakit hati. Akhirnya, saat permainan piano di depan sana telah selesai, dan semua orang di dalam ruangan berdiri untuk memberikan tepuk tangan begitu pula dengan Tristan, Vania langsung menahan lengan pria itu agar tidak berdiri, tanpa aba-aba ia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada bibir pria tampan yang tampak sangat terkejut itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Mendapat perlakuan seperti itu dari Vania, Tristan mendesis marah. Bisa dilihat dari wajahnya jika pria itu sangat tidak suka atas apa yang telah terjadi padanya.
"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Tristan sekali lagi.
"Ma-maafkan aku, Tan..." Vania menundukkan kepala, ia akan berakting seolah-olah dirinya bersalah atas apa yang telah dilakukannya.
"Aku tanya apa alasanmu melakukan ini, bukan kata maaf yang ingin aku dengar!" Tristan menggeram.
"A-aku hanya terbawa suasana, maafkan aku."
"Sudahlah!" Tristan tak ingin lagi memperpanjang masalah, apalagi kini Stela tengah berjalan menghampiri meja tempat mereka duduk.
Sesampainya Stela di meja mereka, Tristan segera meraih pergelangan tangan gadis itu dan membawanya pergi dari sana.
"Kak Tristan!" Stela berujar kaget. "Kita belum berpamitan pada Kak Jo!"
"Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang kita harus menjemput Ara sebelum kemalaman."
Vania memandang kepergiaan dua orang itu dari tempat duduknya. Ia merasa sangat kesal karena merasa rencananya malam ini sudah gagal total, apalagi Tristan terlihat sangat kesal padanya karena ciuman itu.
"Sialan!"
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
...Terima kasih...
...To be Continued...
__ADS_1