
...🌻Selamat Membaca🌻...
Stela menyelimuti Tristan yang tertidur, puas menangis dan meluapkan semua kesedihan yang menyesakkan dada, akhirnya pria itu lelah juga.
Cup
Sebelum keluar, Stela mengecup kening Tristan lama. Ia akan membiarkan kekasihnya itu beristirahat tanpa ada gangguan.
Cklekk
Pintu kamar terbuka dan sejurus kemudian tertutup lagi. Mata Stela menangkap jika Jovanka dan ayahnya Tristan duduk di kursi tunggu depan ruangan.
"Bagaimana keadaannya?" Jovanka bertanya cemas. Kecemasan juga terlihat di wajah tua Teguh saat dengan sengaja Stela menilik ekspresinya.
"Baik. Saat ini dia sedang beristirahat," jawab gadis itu.
"Syukurlah..." Jovanka mengusap wajahnya lega. Stela memilih duduk di samping Jovanka.
"Di mana Ara?" tanya perempuan bersurai pendek itu.
"Aku menitipkannya di rumah Pak Arya, sahabat Kak Tristan. Di sana juga ada Kak Risa dan baby Vero yang akan menemaninya."
Jovanka hanya mengangguk. Ia mengenal Arya dan istrinya karena pernah dikenalkan Tristan dulunya.
Teguh yang duduk termenung tak bisa berbuat apa-apa. Baik itu untuk anaknya sendiri maupun untuk cucu satu-satunya. Dia sebagai yang lebih tua ternyata tak ada gunanya.
.......
"Wah... sepertinya semua orang sedang berkumpul di sini?" Saat ketiga orang yang duduk di kursi diam dengan segala pikirannya, sebuah suara terdengar mengusik.
Stela yang merasa tak asing dengan suara tersebut segera bangkit dari duduknya. Tangannya langsung mengepal saat mengetahui jika orang itu adalah benar seperti dugaannya, dia Thomi.
Jovanka dan Teguh juga turut berdiri. Sekarang mereka bertiga berhadapan dengan Thomi seorang diri.
"Anda mau apa lagi?" tanya Stela tanpa basa-basi.
"Mauku masih sama, yaitu pertanggungjawaban pria Gautama itu kepada putriku," jawab Thomi santai.
Teguh yang tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan, mulai mempertanyakannya. "Gautama mana yang kau maksud? Saya juga Gautama," sela Teguh.
__ADS_1
Thomi memandang Teguh lamat, kemudian pria tua itu tersenyum. "Kau ayah dari Tristan Gautama?" tanyanya.
"Hm. Teguh Gautama," balas Teguh datar. Tak ada jabat tangan dalam perkenalan mereka.
Thomi mengangguk-anggukkan kepala. Ia pernah dengar nama Teguh Gautama sebagai salah seorang pengusaha sukses di Indonesia, tapi baru kali ini bertemu langsung.
"Syukurlah kau ada di sini, sebagai sesama orang tua aku hanya ingin kau menasehati putramu itu untuk tidak lari dari tanggungjawabnya?"
Kening Teguh berkerut. Ia masih belum mengerti. Tanggung jawab seperti apa yang diminta oleh pria sebayanya ini. Kemudian, ia menoleh ke arah Stela, meminta penjelasan.
Mau tak mau Stela harus menjelaskan. Ia mengatakan semuanya pada ayah sang kekasih. Mulai dari Tristan yang kecelakaan bersama Vania, sampai bagaimana keadaan Vania yang merupakan putri Thomi itu saat ini.
Teguh akhirnya mengerti. Namun ada satu hal yang belum dimengertinya, kenapa tanggungjawab itu harus dilimpahkan kepada putranya. Bukankah itu kecelakaan? Tristan tidak menabrak Vania secara langsung, lalu kenapa harus Tristan yang bertanggungjawab. Ini aneh.
"Anak kita sama-sama mengalami kecelakaan. Mereka sama-sama terluka. Lalu apa yang membuatmu berpikiran bahwa putraku lah yang harus bertanggungjawab atas kondisi putrimu saat ini. Bukankah itu musibah? Tak ada yang bisa disalahkan!" jelas Teguh.
Thomi naik darah mendengar penjelasan Teguh. Ia tidak terima jika hanya putrinya saja lah yang menderita, sementara Tristan hanya mendapatkan luka ringan.
"Jelas itu salah putramu, kenapa dia membawa kabur putriku dan pada akhirnya mereka mengalami kecelakaan. Kau tahu, sehari semalam putramu itu menyembunyikan anakku," sanggahnya tak terima.
"Paman jangan asal menuduh, Tristan selalu bersama saya. Dia tidak pernah membawa kabur bahkan menyembunyikan putrimu itu!" Stela yang sudah kepalang emosi, tak bisa lagi diam.
"Itu benar dan asal paman tahu, putrimu itulah yang kecentilan, selalu menempel bak lintah pada Tristan," sambung Jovanka tak mau kalah. "Dan lihat ini!" Kemudian Jovanka menunjuk Stela. "Ini kekasih Tristan. Dia lebih cantik, terhormat dan baik daripada putrimu yang penuh kepalsuan itu. Jadi sangat tidak mungkin Tristan membawa kabur putrimu," tambahnya.
"Kalian lihat saja, apa yang bisa ku lakukan setelah ini," kata Thomi sebelum pergi membawa kemarahannya.
Stela langsung terduduk lemas di bangku belakangnya. Tristan belum sehat, dan masalah lainnya sudah menanti.
Jovanka mengusap punggung Stela. "Tenang saja. Tristan tidak bersalah dan itu akan terbukti nanti. Sabar, ya..." ucapnya menguatkan.
Stela menghela napas pasrah dan mengangguk lemah. Ia juga berharap demikian.
.......
Sudah tiga hari Tristan dirawat di rumah sakit. Stela dan Jovanka bergantian menjaganya.
Sampai saat ini Ara tidak tahu jika daddynya dirawat, Stela selalu bisa memberikan alasan-alasan yang dipercayai begitu saja oleh bocah kecil itu.
Sementara Teguh sendiri, beberapa kali datang tapi selalu ditolak kehadirannnya oleh Tristan. Alhasil pria baya itu hanya bisa mengintip dari balik pintu, melihat kondisi terkini putranya.
__ADS_1
"Sudah siap pulang?" tanya Stela. Kini ia sedang membereskan barang-barang Tristan untuk dibawa pulang.
Pria yang sudah berganti pakaian dengan kemeja navy dipadukan celana jeans hitam itu hanya mengangguk. Perban tidak lagi melilit kepalanya, hanya tinggal plester kecil yang melekat di keningnya.
"Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit?" Stela bertanya cemas saat melihat Tristan yang hanya diam duduk di sofa.
"Tidak apa, sayang. Aku baik-baik saja," jawabnya sembari tersenyum.
Stela membalas senyuman itu dengan manis. Ia menghampiri Tristan dan mengecup pelan pucuk kepala pria terkasihnya itu.
"Yang ini sekalian!" pinta Tristan manja sembari menunjuk dan memonyongkan sedikit bibirnya.
Stela terkekeh. "Nanti ya di rumah," bisiknya.
"Ku tunggu."
Mereka tertawa, sampai kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamar. Stela membuka pintu dan terlihatlah Evan di sana.
"Boleh aku masuk?"
"Silakan." Stela memberi jalan untuk Evan. Gadis itu kembali menutup pintu.
Sekarang mereka duduk bersama di sofa dalam ruang inap.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Evan.
"Baik. Hari ini sudah boleh pulang." Tristan melihat jika Evan berbeda dengan Thomi, makanya pria itu bisa sedikit bersikap lebih ramah.
"Maaf atas keributan yang dibuat oleh ayahku waktu itu," ucapnya tak enak.
"Tidak masalah, sudah berlalu juga." Tristan menjawab.
Evan menghirup napas lantas mengeluarkannya. Ia menatap pasangan di sana bergantian. "Agar masalah ini tidak jadi berlarut-larut, apakah kalian mau menemui Vania dan menyelesaikan semua kesalahpahaman ini?" saran Evan.
Sepasang kekasih di sana saling berpandangan. Stela mengangguk menyetujui usul Evan. Ia rasa itu adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan kesalahpahaman agar Tristan tidak lagi menjadi tersangka yang harus bertanggungjawab terhadap kondisi Vania. Ia ingin tenang.
"Baiklah." Tristan akhirnya menyetujui.
...Bersambung...
__ADS_1
Makasih buat yang udah baca😊
^^^ ^^^