
...🌻Selamat Membaca🌻...
Tristan menutup kembali pintu unit apartemennya setelah mengantarkan Jovanka keluar, sampai di dalam ia berserobok dengan Stela yang sepertinya datang dari arah dapur.
"El/Kak!"
Secara bersamaan mereka memanggil nama orang di hadapan masing-masing.
"Ada apa, El?" tanya Tristan lebih dulu.
Gadis yang ditanya itu terdiam, kepalanya menunduk dan jemarinya saling bertaut gelisah di depan tubuh—terlihat gugup.
"Kak," cicit Stela teramat pelan. Tekad bulatnya yang ingin meminta maaf juga mengungkapkan perasaannya tadi sudah hilang entah kemana, berganti rasa malu yang luar biasa.
Tristan berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Stela, hanya berjarak satu langkah kaki. Dengan berani pria itu meraih kedua tangan Stela yang sedikit berkeringat itu ke dalam genggaman tangan besarnya.
Jantung Stela rasanya sudah mau pecah, berhadapan dengan pria itu saja sudah membuatnya gugup setengah mati apalagi kini sentuhan fisik yang dilakukan Tristan padanya semakin membuat tubuhnya panas dingin.
"Kau baik-baik saja?" Tristan yang cemas melihat Stela yang hanya diam, mengangkat dagu gadis itu dengan sebelah tangannya.
Stela menegang, mau tak mau matanya harus bertatapan dengan mata kelam di depannya.
"Kenapa?" Pertanyaan lembut Tristan membuat Stela semakin kalang kabut. Apalagi tatapan tajam yang biasanya menjadi andalan pria itu kini berubah teduh dan penuh cinta.
Gadis itu seperti terhipnotis dan langsung saja menjawab. "Maafkan aku..." Dua kata itu terlontar dari bibir mungilnya.
Tristan tersenyum tipis, tangannya yang berada di dagu Stela naik menyentuh sebelah pipi gadis itu yang merona. "Kenapa minta maaf? Kau tak punya salah apapun padaku." Lagi-lagi Tristan menjawab dengan suara lembut, diiringi usapan telapak tangan besarnya di pipi Stela.
Stela menggigit bibir bawahnya menahan rasa asing yang menjalar di sekujur tubuh, tapi itu tak berlangsung lama ketika jari pria itu melepasnya begitu saja.
"Jangan digigit, nanti berdarah."
Tristan memperhatikan wajah Stela yang memerah, bibir mungil itu terasa sangat lembut saat disentuh oleh jarinya. Bagaimana jika bibirnya yang ada di sana? Seketika hasrat untuk mengecup bilah kembar itu muncul, walaupun sudah pernah merasakannya tapi ia ingin mengulanginya lagi. Kali ini ia ingin mencoba menikmatinya, tak seperti yang dulu karena sebuah ketidaksengajaan.
Tatapan Stela terpaku pada mata teduh Tristan, perlahan wajah itu mendekat, mata kelam itu meredup dan terpicing. Reflek Stela melakukan hal yang sama, samudera birunya tenggelam meninggalkan garis lengkung yang dihias bulu-bulu panjang nan lentik.
Puncak hidung mancung keduanya beradu, belum sempat dua bibir itu bertemu, suara cempreng khas anak kecil bergema, memecah keintiman yang sedang terjadi.
"Mommy..."
Stela yang tersadar langsung mendorong tubuh Tristan. "Ara memanggil." Dengan langkah gugup ia beranjak dari hadapan Tristan. Baru tiga langkah berjalan, Stela putar balik lagi ke arah si pria. "Sa-sarapannya siap," ucapnya dan kembali berbalik pergi meninggalkan Tristan yang menahan senyum melihat tingkah kikuk yang diperlihatkan Stela.
.......
Selesai sarapan, Tristan mengajak Ara menonton siaran kartun di televisi sementara Stela berkutat dengan bekas makan mereka.
Sesekali mata pria itu melirik ke arah dapur, memastikan apa Stela sudah selesai dengan pekerjaannya atau belum.
"Ara, tidak apa-apa kan nonton sendirian? Daddy mau membantu mommy mencuci piring," kata Tristan pada keponakannya.
"Yes, Daddy." Ara yang memang tengah asyik dengan serial kartunnya mengiyakan saja ucapan Tristan.
Pria 25 tahun itu melangkah memasuki dapur, tujuannya adalah untuk menemui Stela dan membahas masalah mereka beberapa saat lalu yang masih belum terselesaikan, mengenai permintaan maaf Stela dan juga ciuman yang tertunda. Ck... masih berharap untuk yang terakhir itu.
"Kak Tristan!" Stela terperanjat saat tiba-tiba piring yang sudah dikeringkannya direbut paksa oleh Tristan. Pria itu menaruhnya ke dalam lemari penyimpanan.
"Membantumu," ucap Tristan saat melihat kebingungan akan kehadirannya di wajah Stela. Pria itu tepat berada di samping Stela saat ini.
Gadis itu mengangguk dan kembali mengelap piring yang habis dicucinya. Setelah kering, piring itu disodorkan pada Tristan yang memang sudah menengadah, menunggunya.
Mereka melakukan pekerjaan itu dalam diam, sama-sama tidak tahu jika masing-masing dari mereka menahan senyum bahagia karena kedekatan yang terjadi.
Selesai membersihkan alat makan, Stela mencuci tangannya di kran wastafel. Cakra juga melakukan hal yang sama, secara bergantian.
"Aku akan keluar menemani Ara bermain," ucap Stela. Mencoba menghindar dari situasi dimana hanya ada mereka berdua di dalamnya.
Tristan tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi, ia menghadang jalan Stela.
"Pembicaraan kita beberapa saat lalu masih belum selesai, El..." katanya.
"Pembicaraan yang mana, Kak?" tanya Stela pura-pura lupa. Sejujurnya ia masih belum siap untuk mengungkapkan perasaannya pada Tristan, oleh karena itu ia memilih menghindar sejenak untuk lebih mempersiapkan diri.
"Ti-tidak ada," jawab Tristan sembari memaksakan senyumnya. Melihat reaksi Stela, ia dapat menyimpulkan jika saat ini gadis itu tidak ingin membahas hal yang tadi, mungkin tidak sekarang. "Keluarlah, Ara menunggumu!" suruhnya kemudian.
Wajah Tristan menampakkan raut kecewa yang kentara dan Stela jelas melihat hal itu. Ia menjadi tak tega tapi apa boleh buat, untuk saat ini ia masih takut dan malu untuk melakukannya.
Tristan berbalik menuju kulkas, pria itu mengambil sebotol air dingin di dalam sana. Suasana seperti ini membuatnya dehidrasi seketika, apalagi cintanya yang masih digantung Stela, semakin membuat tubuhnya gerah.
__ADS_1
Stela sudah keluar dari dapur, ia menoleh ke belakang untuk melihat apa yang Tristan lakukan. Pria itu terlihat menghembuskan napasnya berkali-kali setelah setengah botol air dingin ukuran sedang habis olehnya, seperti orang yang putus asa saja.
Stela lanjut berjalan, namun sesuatu terlintas begitu saja di pikirannya.
Bagaimana jika Tristan berubah pikiran dan memilih untuk bersama dengan wanita sombong itu?
Langkah Stela terhenti, tentu saja ia tidak akan rela jika wanita itu berhasil mendapatkan Tristan. Bisa-bisa pria itu melupakan Ara dan dirinya begitu saja. "Aku tidak ingin menyesal," lirihnya.
Tidak jadi ke ruang tamu, Stela berbalik arah menuju dapur. Di sana Tristan berdiri membelakanginya, menghadap ke wastafel, entah apa yang dilakukannya. Rambut pria itu terlihat basah, sepertinya model tampan itu baru saja mencuci muka.
Mencoba memberanikan diri, Stela melangkah cepat menuju arah tubuh tegap dan kokoh itu.
Pluk
Tanpa permisi, ia melingkarkan tangan kecilnya di lingkaran perut si pria. "Kak Tristan," panggilnya pelan. Wajahnya ia sandarkan di punggung tegap itu.
Tristan sendiri menegang saat sepasang tangan melingkar tiba-tiba di perutnya. Tak perlu ditanya lagi, ia tahu siapa pemilik tangan dan suara lembut itu.
"El?" Tristan mencoba melepas tangan Stela di perutnya agar ia bisa berbalik menghadap gadis itu, namun sayang Stela malah semakin mempererat pelukannya.
"Biarkan seperti ini," pintanya. Jika berhadapan langsung, sepertinya ia tidak sanggup.
"Hm." Tristan akhirnya mengalah. Ia membiarkan saja posisi mereka seperti itu sementara tangannya menangkup tangan Stela yang berada di perutnya.
"Aku mau mengakui sesuatu," kata gadis di belakang Tristan.
"A-apa?" tanya Tristan gugup.
"Maaf karena semalam aku tidak mengacuhkanmu," beritahunya.
"Oh... jadi ini alasan permintaan maaf itu," batin Tristan. "Aku memaafkanmu, tapi kenapa kau melakukannya? Apa aku ada salah?" tanya pria itu penasaran. Setahunya ia tidak melakukan kesalahan apapun, apalagi pada Stela—gadis yang dicintainya.
Dapat Tristan rasakan jika kepala Stela yang bersandar di punggungnya menggeleng. "Bukan salahmu, tapi itu salahku sendiri," aku Stela.
"Hm?" Tristan mengangkat satu alisnya, semakin tidak mengerti. Namun, ia hanya bisa menunggu kelanjutan kalimat Stela.
Tristan dapat merasakan detak jantung Stela yang begitu cepat dikarenakan tubuh depan gadis itu yang menempel di tubuh belakangnya. Hal itu juga berimbas pada dirinya sendiri.
Jantung Tristan yang menggila juga dapat dirasakan oleh Stela, selain karena wajahnya yang menempel di punggung pria itu, juga karena tangannya yang melingkar tepat di bagian bawah dada Tristan.
"Aku cemburu," kata Stela akhirnya.
Tristan terdiam, Stela cemburu? Bukankah cemburu itu tanda cinta? Jadi apakah maksudnya Stela juga mencintainya? Perasaannya bersambut? Tapi pertanyaan yang kini membuatnya sangat penasaran adalah, apa yang membuat Stela cemburu?
"Saat melihatmu dan wanita itu berciuman, aku merasa cemburu. Aku kesal, kenapa bisa kalian berciuman di tengah keramaian seperti itu. Aku tak suka melihatnya, hatiku sakit." Stela menumpahkan semua sesak yang sejak semalam bersarang di hatinya. n
"Ciuman itu lagi? Sumber masalah memang," rutuk Tristan dalam hati. "Tapi El, aku tidak berciuman dengannya, dia yang menciumku tiba-tiba," sanggah Tristan yang tidak ingin Stela salah paham.
"Iya, aku tahu. Aku mendengar semua pembicaraanmu tadi dengan Kak Jo. Aku minta maaf karena sudah salah sangka," balasnya.
"Tidak apa-apa." Tristan tersenyum. "Jadi bisakah kau jelaskan padaku alasan kenapa kau cemburu melihat dia menciumku, hm?" tanya Tristan dengan nada menggoda.
"Eh? I-itu..."
"Itu apa?" Tristan mencoba melepas tangan Stela di pinggangnya dan berhasil. Sepertinya karena gugup, pelukan di perutnya itu jadi mengendur. Kini mereka sudah saling berhadapan dan kedua tangan mungil Stela sudah tenggelam dalam genggaman Tristan.
"Hei, itu apa?" Tristan tersenyum geli melihat Stela yang diam menunduk dengan wajah merah padam. Pria itu perlahan ikutan menundukkan wajahnya agar bisa melihat dengan jelas wajah Stela. "Ela?"
"Aku malu, Kak!" Spontan Stela menyembunyikan wajahnya di dada bidang Tristan.
Pria itu terkekeh melihat reaksi malu-malu Stela yang sangat menggemaskan di matanya. Ia melepas genggaman tangannya lantas memeluk gadis itu. "El!"
"Hm?" Stela menyahut dengan wajah masih setia tertanam di dada beraroma maskulin yang membuatnya merasa nyaman.
Kini mimik wajah Tristan berubah serius. "Aku ingin mengatakannya sekali lagi padamu dan kali ini aku harap kau mau membalasnya. Jangan anggap ini hanya omong kosong karena aku sangat serius saat mengatakannya," ucap Tristan.
Dapat Tristan rasakan tubuh Stela yang berada di dalam pelukannya menegang. "Maafkan aku karena semalam menganggap pernyataan cintamu itu hanya omong kosong, aku menyesal," cicit Stela pelan tapi masih bisa didengar Tristan dengan jelas.
"Kalau sekarang, apa kau mau menjawab pernyataanku?" Pria itu melepas pelukan Stella, ia ingin melihat wajah gadis itu saat menyatakan cintanya kembali.
Stela mengangguk, matanya sesekali melihat pada Tristan dan selebihnya banyak menunduk.
"Lihat mataku, El!" Tristan menangkup wajah mungil itu dan mengangkatnya. Kini mata mereka sudah bertemu dan saling memandang penuh rasa.
Deg
Deg
__ADS_1
Deg
Jantung keduanya berpacu dengan cepat, wajah Stela semakin memerah sementara keringat dingin mulai menghiasi keningnya Tristan.
"I love you, Auristela."
Stela tersenyum dengan hati membuncah bahagia. Kemudian dengan penuh percaya diri ia membalas ucapan Tristan.
"I love you too, Tristan."
Hati pria itu berbunga-bunga mendengar balasan Stela. Dari semalam inilah hal yang membuatnya kacau, tapi sekarang semuanya jelas. "Jadi sekarang kita sepasang kekasih?" tanya Tristan memastikan.
"Ya," jawab Stela yang langsung dihadiahi Tristan dengan kecupan di kening.
"Ah.... ini hari yang membahagiakan dalam hidupku." Tristan membawa tubuh Stela ke dalam pelukannya lagi.
"Aku juga bahagia, sangat bahagia." Stela juga tak mau kalah.
Ini adalah kebahagiaan mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, pelukan itu terlepas, Tristan menatap wajah Stela intens, apalagi pada satu titik yaitu bibir ranum yang mengundangnya untuk singgah.
"Boleh?" izinnya.
Stela yang mengerti maksud Tristan hanya bisa mengangguk, tidak munafik... ia juga menginginkannya.
Mata Stela terpejam, wajah Tristan mendekat. Puncak hidung mereka bertemu, namun lagi-lagi harus digagalkan dengan suara Ara yang memanggil.
"Mommy..."
Dua pasang mata itu terbuka, wajah perlahan menjauh dan suara gelak tawa mulai terdengar.
"Putri kecil kita selalu mengacaukannya," ucap Tristan. Stela hanya tersenyum mendengarnya. Putri kita?
"Pergilah! Ara menunggumu. Aku juga harus siap-siap, ada pemotretan siang ini," lanjut Tristan.
Stela mengangguk, sebelum pergi ia mengecup kilat pipi Tristan dan kemudian berlari menjauh.
Tristan menyentuh pipinya dengan senyum menawan yang terbit di wajah tampannya. "Akan aku balas," katanya sebelum pergi meninggalkan dapur menuju kamar.
...🌺 🌺 🌺...
Tristan memasuki lobby kantor agensinya. Ia langsung menuju ruangan Jovanka. Di sana ia bertemu dengan wanita yang sudah menciptakan masalah bagi dirinya, siapa lagi jika bukan Vania.
"Tristan, maafkan aku. Aku tidak tahu jika masalahnya akan berkembang menjadi seperti ini." Dengan wajah tertunduk, Vania meminta maaf.
"Jika ingin melakukan sesuatu, harusnya dipikir dulu." Itu suara Jovanka yang tengah menahan kekesalannya.
"Bagaimana jika kita manfaatkan saja masalah yang sudah terjadi ini?" usul Fara.
"Apa maksudmu?" Jovanka, Tristan dan Vania serentak menatap Fara.
"Kita hanya perlu membenarkan masalah ini, maksudku Tristan dan Vania mengaku saja jika kalian berkencan. Pasti banyak media yang akan meliput, jadi popularitas keduanya bisa meningkat drastis karena berita ini," jelas Fara.
Jovanka melongo, pemikiran rekan sesama managernya itu begitu licik, penuh tipu daya dan sama sekali tidak ia sukai caranya bekerja. Tentu saja ia akan menolaknya dengan tegas.
"Aku setuju saja." Belum sempat Jovanka mengeluarkan suaranya, Vania lebih dahulu berkomentar. Senyum penuh arti terbit di wajah cantik penuh polesannya. Ck... tentu saja ia setuju karena memang hal itu yang dia inginkan yaitu menjadi kekasih dari Tristan.
Kekasih Gara itu melotot mendengar kata setuju dari mulut Vania. "Memang pantas mereka bekerja sama. Sama-sama licik ternyata," batinnya.
Tristan menatap lekat Vania. Apa benar wanita ini yang sempat membuatnya tertarik dulu. Ia pikir Vania berbeda dari rekan model lainnya, tapi ternyata sama saja. Di dalam pikirannya hanya ada popularitas dan ketenaran. Bersyukur sekarang Tristan sudah memiliki seseorang yang tepat untuk mendampinginya, jadi tidak... ia pasti akan terjebak dalam hubungan berlable bisnis dengan Vania.
Tristan bangkit dari duduknya dan menatap bergantian tiga orang yang berada di dalam sana.
b
"Maaf, aku tidak menyetujui rencana ini karena ada hati yang harus ku jaga."
Setelah mengatakan itu, Tristan segera meninggalkan ruangan.
"Apakah Stela?" batin Jovanka.
"Sialan!" Vania mendesis.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...