BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


"Siapa yang datang, Kak?" Stela keluar dari dapur saat mendengar suara bel berbunyi, ia tak tahu jika ternyata Tristan sudah bangun dan kini tengah berdiri di depan pintu.


Tristan menoleh, menatap Stela dengan kening berkerut bingung. Melihat reaksi Tristan, Stela lantas menghampirinya.


"Kenapa? Siapa yang dat-"


Ucapan Stela berhenti saat ia sampai di samping kekasihnya, kini ia tengah berhadapan dengan seorang tamu yang masih berdiri di luar pintu.


"Cio?" sapa Stela tak percaya. Saat ini kakak laki-lakinya sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Sunny!" Pria bernama Abercio itu melangkah masuk dan langsung mendekap Stela dengan erat. "I miss you Sunny. Really miss you. Why don't you come back home, don't you miss me?" Sunny adalah panggilan yang diberikan kakak tertua Stela itu padanya. Ia bilang, Stela sudah seperti matahari yang selalu menghangatkan dan membuat ceria keluarganya.


"I'm so Sorry Cio and I miss you too". Stela balas memeluk si pria tak kalah erat, menumpahkan segala kerinduannya pada saudara yang sudah sebulan ini tidak ditemuinya.


"Oh Sunny." Abercio melepas pelukannya, merangkum wajah sang adik bungsu dan menghujaninya dengan banyak kecupan. Dari kening, kedua pipi, hidung bahkan dagu-pun tak luput dari bibir merah si pria bule.


Tristan melotot melihat pemandangan itu, gadisnya dicium tepat di depan matanya dan dia hanya diam saja.


"Ela!" Tristan segera menarik paksa tubuh Stela dan menyembunyikan gadis itu di belakang tubuh tegapnya.


Abercio terdiam, berpikir betapa lancangnya pria bersurai hitam itu memisahkan pertemuan adik-kakak yang sudah lama tak saling jumpa. Namun, satu pemikiran terlintas di benaknya. Ia menyeringai kecil, pasti pria itu tidak tahu siapa dirinya.


"Tristan Gautama?" tanya Abercio kemudian. Ia sudah mendengar semua ceritanya, Stela tinggal bersama seorang pria dan keponakannya di Indonesia.


Tristan menatap pria itu tajam, masih tak suka atas perlakuan si pria pada kekasihnya.


Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangan. "Perkenalkan, Abercio Peter Knight, kakak tertua Stela."


Deg


"Kakak?" tanya Tristan memastikan.


"Ya, Ka-kak. Kau pikir aku siapa?" Abercio menyeringai. Mengejek Tristan yang sepertinya sudah salah menangkap arti kedekatannya dengan Stela. "Hm... apa dia cemburu?" batin Abercio curiga.


Tristan salah tingkah, ia tidak menyangka jika pria bule itu adalah kakak sang kekasih. "Ah tidak. Maaf atas sikap tidak sopanku sebelumnya. Namaku Tristan." Ia menyambut hangat uluran tangan Abercio.


"Orang tuaku sudah banyak bercerita tentangmu." Pria bule itu menjabat uluran tangan Tristan dengan erat.


"Ya."


Setelah melepas jabatan tangannya dari Tristan, Abercio beralih menatap adik cantiknya. "Kemarin aku kemari, tapi sepertinya kalian tidak ada," katanya.


"Kemarin kami pergi berlibur." Tristan yang menjawab.


"Berlibur? Berdua?" tanya Tristan menyelidik.


"Bertiga, keponakan kak Trisan juga ikut," sahut Stela cepat. Ia tak ingin kakaknya salah paham.


"Oh." Abercio mengangguk. "Aku datang bersama seseorang lagi, tapi kenapa dia ke toilet lama sekali ya?" Ia keluar dari pintu dan melongokkan kepalanya mencari keberadaan orang yang dimaksud di sepanjang koridor.


"Ann juga ikut?" Stela melakukan hal yang sama seperti yang Abercio lakukan. Ia juga merindukan kakak perempuannya itu.


"Ya," angguk Abercio. "Tapi yang ku tunggu kali ini bukan dia tapi.... ah itu dia!" Pria itu menunjuk arah di mana datangnya seorang pria bule lainnya bertubuh tinggi tegap layaknya seorang model internasional.


"Frère," gumam Stela tak percaya. (Kakak).


Pria bule tampan berambut silver yang disebut Frère oleh Stela itu berjalan mendekat ke arah mereka.


"Ma Chérie..." Sampai di depan pintu, si pria langsung saja memeluk Stela. Gadis yang dipeluk hanya bisa mematung di tempat, sama sekali tidak ada niat untuk membalas pelukan itu. (Sayangku).


"Tu me manques tellement, Chérie," lirih si pria sembari mengecup pucuk kepala Stela berulang kali. (Aku sangat merindukanmu, sayang).


Tristan sungguh geram melihat gadisnya dipeluk oleh pria lain-lagi, Tangannya bahkan sudah terkepal kuat di samping tubuh menahan api cemburu, tapi kali ini ia tidak ingin gegabah seperti tadi. Mana tahu pria itu juga merupakan saudara Stela yang datang dari London. Jadi ia biarkan saja.


Stela melepas pelukan si pria dari tubuhnya. Ia beringsut mundur dan menoleh pada Tristan yang juga sedang menatapnya. Entah apa yang mereka bicarakan melalui tatapan mata, yang jelas setelah itu si pemilik apartemen mempersilakan dua pria bule itu untuk masuk.


.......


Empat manusia itu duduk berhadapan di ruang tamu. Tristan dan Stela duduk berdampingan sementara dua tamu tak diundang itu duduk di hadapan mereka. Di tengah-tengah ada meja yang membatasi, di atas meja itu sudah terhidang empat cangkir teh dan juga beberapa cemilan.


"Silakan diminum." Tristan selaku tuan rumah mempersilakan tamunya untuk menikmati hidangan yang sudah disajikan Stela.


Tristan memandang pria asing yang duduk tepat di hadapannya. Seingatnya pria berambut silver itu belum memperkenalkan diri. Stela yang menyadari hal itu langsung saja membuka suara.

__ADS_1


"Frère." Pria silver itu menatap Stela saat ia memanggil. "Perkenalkan ini Tristan," ujarnya seraya tangan mengarah pada pria di sebelahnya.


"Bonsoir. Mon nom est Sebastian Lefebvre." Pria itu memperkenalkan diri tanpa jabat tangan maupun senyuman ramah. Wajahnya datar dan dingin, melihat hal itu Tristan jadi meringis. Ternyata tidak nyaman jika berhadapan dengan orang yang memiliki sifat persis seperti dirinya ini. (Selamat malam. Nama saya Sebastian Lefebvre).


"Come on Buddy, jangan terlalu kaku!" Abercio merangkul bahu Sebastian, berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang. "Kuperkenalkan, namanya Sebastian."


Tristan mengangguk paham, syukurlah Abercio berbaik hati untuk menjelaskan.


"Apa kalian masih ada hubungan keluarga?" tanya Tristan penasaran. Ia menatap tiga orang itu bergantian. Stela baru saja akan menjawab, tapi bule tampan asal Perancis itu mendahuluinya.


Sebastian menatap Tristan datar. "Ya." Pria itu mengangguk sekali. "Sebentar lagi kami akan jadi keluarga besar jika Stela menyetujui perjodohan ini," lanjutnya.


Deg


Stela tersentak, ia sama sekali tidak menyangka jika Sebastian akan mengatakan hal seperti itu. Ia melirik reaksi Tristan yang duduk di sampingnya. Pria itu tampak tenang.


"Perjodohan?" ulang Tristan. "Siapa yang akan dijodohkan?" ia lanjut bertanya.


"Tentu saja aku dan Stela," balas Sebastian santai.


Deg


Tristan sungguh terkejut mendengarnya, jadi pria inilah yang akan dijodohkan dengan Stela. Sial! Dilihat dari mana pun, pria Perancis itu lebih menang banyak dibandingkan dirinya. Tidak hanya fisik yang di atas rata-rata ketampanannya, pria itu sepertinya juga berasal dari keluarga yang bukan sembarangan- Perancis? Huh... untuk pertama kalinya Tristan dapat merasakan apa yang dinamakan rendah diri.


"Oh begitu." Namun, jangan pikir ia akan mengalah begitu saja. Walaupun pria bernama Sebastian itu memiliki segalanya, tapi ia tidak memiliki sesuatu yang crucial dalam sebuah hubungan- yakni cinta, atau dalam bahasa Perancisnya Amour. Jangan lupa jika cinta Stela hanya untuk Tristan.


Satu senyum miring terbit di wajah tampan model kenamaan Indonesia itu. "Setahuku alasan Stela kabur ke Indonesia adalah karena menolak perjodohan, apakah itu tidak menjawab pertanyaanmu yang masih mempertanyakan persetujuannya, Mr. Sebastian?"


Deg


"Kak Tristan!" sentak Stela yang merasa tak enak.


Sebastian masih mempertahankan sikap tenangnya, walau di dalam hati merasa sedikit cemas karena apa yang dibicarakan Tristan memang benar. Stela kabur karena tidak ingin dijodohkan, tapi gadis itu masih belum tahu dengan siapa dia dijodohkan, kan? Mana tahu setelah gadis itu mengetahuinya, dia akan balik menyetujui perjodohan itu, pikir Sebastian. Kenapa dia bisa begitu yakin? Ya... karena dia dan Stela memang sudah dekat sedari kecil. Jadi besar kemungkinan gadis itu akan menerimanya.


"Chérie!" panggil Sebastian. Ia menatap Stela serius. "Chérie... vous acceptez ce mariagé arrangé, nest-ce pas? Et ensuite être ma femme?" tanyanya penuh harap. (Sayang, kau menerima perjodohan ini, kan? Kau mau kan jadi istriku?).


Stela dan Abercio terbelalak mendengar pertanyaan Sebastian, mereka bisa bahasa Perancis jadi paham dengan apa yang dikatakan pria itu, sementara Tristan yang sama sekali tidak mengerti dengan ucapan pria itu hanya bisa diam dengan kening berkerut. Rasanya sangat menjengkelkan, karena sepertinya pria bernama bule itu sengaja menggunakan bahasanya agar Tristan tidak mengerti.


Sebastian memperhatikan reaksi kesal Tristan, dalam hati ia tertawa mengejek. Jangan pikir ia tidak tahu kalau pria Indonesia itu menyukai Stela. "Ck... jangan harap bisa menang dariku," batinnya.


"Kak?" panggil Stela lirih.


Tiba-tiba Tristan bangkit berdiri. "Sepertinya aku tidak perlu ikut campur urusan kalian. Kalau begitu aku permisi." setelah mengatakannya, Tristan berlalu pergi. Stela menatap punggung kekasihnya yang perlahan menjauh dengan wajah sendu.


"Sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggu," desah lega Sebastian.


"Frère!" bentak Stela. Ia tidak terima saat Sebastian mengatakan secara tersirat jika Tristan adalah pengganggu.


Abercio menelisik ekspresi sang adik yang terlihat marah, ia jadi curiga jika dua orang itu memang benar-benar memiliki suatu hubungan-special.


Sebastian mendesah lemah. "Dia orang luar Chérie, tidak pantas rasanya jika harus mendengarkan pembicaraan kita," ujarnya membela diri.


Stela menatap pria itu tajam. "Jangan lupa bahwa saat ini kita berada di rumah 'orang luar' itu!" tekannya.


Sebastian menyugar rambutnya ke belakang, ia mengalah. Tidak ingin memperpanjang perdebatan yang ujung-ujungnya akan membuat Stela semakin marah padanya. "Kalau begitu sekarang kau ikut kami!" pintanya.


"Apa? Ke mana?" tanya Stela was-was, takut jika ia dipaksa pulang ke London.


"Kita ke kediaman Wijaya!" putus Abercio yang akhirnya bersuara.


"Kak... aku tidak bisa meninggalkan tempat ini. Ara membutuhkanku," tolak Stela.


"Setidaknya selama kami di sini kau harus tinggal bersama kami di kediaman Wijaya!" putus Abercio yang sama sekali tidak ingin dibantah. Adiknya terpaksa menurut.


"Baiklah... aku ambil barangku dulu," pamitnya.


.......


"Kak Tristan!" Setelah membereskan barang yang akan dibawanya, Stela mengetuk pintu kamar kekasihnya untuk berpamitan pada pria itu. Selang beberapa saat pintu itu terbuka dan tampaklah Tristan yang berdiri di baliknya.


"Ela!" Tristan langsung menarik tangan Stela masuk ke dalam kamarnya, pintu ia tutup dan kunci.


"Kak!" jerit Stela saat Tristan tiba-tiba memeluknya erat.


"Jangan tinggalkan aku!" lirih pria itu penuh permohonan. "Jangan tinggalkan aku demi pria itu!" pintanya. Jujur, sekali ini Tristan benar-benar merasa rendah diri. Ia khawatir jika keluarga Stela akan kembali mendesak gadis itu untuk menerima perjodohan dengan resiko dirinya yang akan ditinggalkan.

__ADS_1


Stela mengusap punggung Tristan menenangkan. Setelah cukup lama, gadis itu melepas pelukannya. Ia mendongak menatap wajah tampan dari pria yang sangat dicintainya itu.


"Dengar!" Stela menangkup wajah Tristan dengan kedua telapak tangannya. Safirnya memandang dalam manik kelam milik Tristan.


"Aku mencintaimu. Aku tidak akan menerima perjodohan itu apapun alasannya. Dan satu lagi, aku tidak akan meninggalkanmu dan juga Ara," jelas Stela.


"Benarkah?" tanya Tristan dengan wajah persis bocah manja yang diberi janji.


Stela mengangguk mantap dan lantas sedikit berjinjit untuk mengecup singkat bibir kekasihnya.


Cup


"Aku juga mencintaimu." Tristan mendorong tubuh Stela sampai merapat di dinding dan langsung memagut bibir manis itu dengan perasaan menggebu.


Keduanya terengah setelah melepas pagutan yang berlangsung cukup lama.


"Kak..." panggil Stela. Napasnya masih tersengal karena kekurangan oksigen.


"Hm?" Tak beda jauh dengan kondisi Stela, Tristan juga masih sibuk bernapas. Kening mereka yang menempel membuat hembusan napas hangat itu menerpa kulit wajah satu sama lain.


"Selama kakakku berada di Indonesia, dia memintaku untuk tinggal di kediaman Wijaya."


Tristan memberi jarak pada wajah mereka dan menatap Stela dengan mata yang perlahan meredup. "Itu artinya kau akan meninggalkanku," lirihnya kecewa.


Stela mendekat dan menggelengkan kepalanya. Ia menatap mata kelam itu penuh cinta. "Hanya sementara, hanya selama kakak-kakakku berada di sini," bujuknya meyakinkan.


"Kau juga akan tinggal bersama pria itu, bagaimana jika nanti dia terus membujukmu agar mau menerima perjodohan?" Tristan masih belum ingin melepaskan Stela, ia takut jika pria itu berhasil membujuk sang kekasih untuk meninggalkannya.


Stela tersenyum geli, lucu sekali melihat tingkah merajuk Tristan yang seperti anak remaja tengah cemburu. "Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa menerima pria itu sebagai pendampingku," jelasnya mantap.


"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Dia tampan dan terlihat kaya juga. Apa yang membuatmu tidak bisa menerima pria sesempurna itu?" tanya Tristan tak percaya.


"Huh?" Stela menganga mendengar pertanyaan Tristan. "Jadi sebenarnya kau mau aku menerimanya atau tidak, hm?"


"Ya tidaklah," sahutnya cepat.


"Ya sudah kalau begitu, kau harus percaya kepadaku."


"Tapi beri aku satu alasan dulu yang membuatku yakin kalau kau tidak akan termakan dengan bujuk rayu pria itu?" pinta Tristan.


Gadis itu mendesah malas, susah sekali bicara dengan Tristan yang terkadang labil ini. Entah siapa yang lebih dewasa sebenarnya di antara mereka.


"Ada dua alasan yang membuatku tidak bisa menerimanya." Stela menatap tajam ke manik legam prianya. "Satu, karena aku mencintaimu dan kedua karena pria itu adalah pria yang dicintai oleh kakakku."


Sejenak Tristan mencerna perkataan Stela dan kemudian dia mengangguk, mengerti.


"Baiklah, kau boleh pergi."


"Terima kasih sayang." Stela langsung menghambur ke pelukan Tristan. "Kalau Ara bertanya kemana aku pergi, bilang saja aku ada urusan sebentar. Jika dia merindukanku kau bisa menghubungiku atau datang langsung ke kediaman Wijaya. Aku akan mengirimkan alamatnya nanti," kata Stela. Ia seakan tahu jika hal itulah yang dikhawatirkan Tristan .


Sebelum keluar Stela menoleh dan menghadap Tristan. "Aku pergi ya?" pamitnya.


"Hm." Pria itu mengangguk.


Selepas Stela pergi, Tristan langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan mulai memejamkan mata. Ia lupa jika malam ini ada janji dengan Vania.


.......


Vania terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa pening saat ia berusaha untuk membuka mata.


Setelah matanya terbuka, ia memandang sekitar tempat di mana ia berada saat ini. Asing. Lalu sekelabat ingatan membuatnya tersentak bangun.


"Aku di mana?" pekiknya.


"Kau sudah bangun?" tanya seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


Vania menoleh cepat dan matanya membola seketika saat melihat siapa yang sedang berdiri di sana.


"KAU!"


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2