
...🌻Selamat Membaca🌻...
"Ela!"
Gadis pirang yang dipanggil menoleh ke asal suara. Seorang pria paruh baya berjalan menghampirinya bersama seorang wanita yang merupakan pasangan si pria.
"Uncle." Stela berdiri dari duduknya dan menyambut kehadiran pasangan suami istri— Ari dan Merry . "Silakan duduk Uncle, Aunty."
Adik dari Ambar itu mengambil tempat di kursi kosong yang ada di meja Stela, sang istri juga melakukan hal yang sama.
"Apa kabar, Uncle... Aunty?" tanya Stela. Sudah lama rasanya mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
"Baik. Kami baik, kau bagaimana?" Ari bertanya balik.
"Seperti yang Uncle lihat." Stela tersenyum di akhir kalimatnya.
"Ini Tristan Gautama, ya? Aunty pernah lihat foto kalian di beberapa majalah." Giliran Merry bersuara. Wanita itu melirik Tristan yang duduk di kursi samping Stela. Pria itu tengah memangku Ara yang sudah tertidur.
Stela mengangguk, ia meminta Tristan untuk memperkenalkan diri.
"Salam kenal paman... bibi. Aku Tristan," ucap pria itu sopan.
Ari memperhatikan Tristan cermat. Ia pernah dengar dari sang kakak jika keponakannya tinggal bersama seorang pria dan tampaknya pria di hadapannya ini terlihat baik dan sopan.
"Aku Ari Wijaya, pamannya Stela dan ini istriku, Merry." Paman Stela balik memperkenalkan diri.
Tristan tersenyum tipis, ia menunduk hormat ke arah sepasang paruh baya itu.
"Hm... gadis kecil itu siapa?" tanya Merry. Sedari tadi ia penasaran pada bocah di pangkuan Tristan.
"Dia keponakanku." Tristan menjawab.
Merry hanya mengangguk. Ia pikir itu anaknya Tristan.
"Semalam mommymu menghubungiku," ucap Ari setelah suasana hening sepersekian detik. Ekspresi wajah pria itu tampak serius.
"Ada apa, Uncle?" tanya Stela. Takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi begitu melihat raut yang ditunjukkan sang paman.
"Cio akan menikah."
"What?" Sungguh Stela terkejut. Kakaknya akan menikah dan tidak memberitahunya. Keterlaluan sekali. "Kapan dia akan menikah, kenapa tak ada satu pun yang mengabariku?" Terbesit nada kecewa dalam suara Stela.
"Tenang dulu El," pinta Merry.
"Mungkin mereka belum sempat membicarakannya. Lagi pula semalam juga baru pertemuan keluarga yang pertama," jelas Ari.
"Jadi, waktu pernikahannya belum ditentukan?"
Ari menggeleng untuk menjawab pertanyaan keponakannya.
"Oh... biar nanti aku yang bertanya sendiri," putus Stela. Ia penasaran. Selama ini Naufal memang mengatakan jika mempunyai seorang kekasih, tapi kakaknya itu tak pernah memberitahunya siapa nama wanita itu, bagaimana bentuknya dan dari mana asalnya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Stela dan Tristan memutuskan untuk pulang. Kasihan Ara, tidurnya tidak nyaman jika mereka terus berlama-lama di tempat pesta. Begitu pun Ari dan Merry.
Sebelum keluar ruangan, dua pasang manusia itu menyalami pengantin yang berbahagia terlebih dahulu.
"Selamat ya Mas Rafa, Kak Karina. Semoga bahagia dan langgeng pernikahannya. Aku tunggu kehadiran Rafa junior."
Rafa dan Karina tersenyum mendengar do'a Stela. Mereka mengucapkan terima kasih.
"Do'a kan semoga kami cepat menyusul," celetuk Tristan. Semua mata di sana memandang ke arahnya. Ia terlihat santai saja.
Rafa tidak terlalu terkejut, ia memang sudah menduga jika Tristan memiliki perasaan khusus pada Stela dan sangat yakin jika kini kedua orang itu telah menjalin hubungan. "Pasti," angguknya kemudian.
Sampai di pintu keluar, Ari mencegat langkah Tristan. Merry dan Stela lebih dahulu berjalan menuju area parkir.
Tristan terdiam, ia menatap Ari meminta penjelasan kenapa pria itu mencegatnya. Pasti ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan.
"Kau kekasih, Ela?" Walau sepertinya tidak perlu dipertanyakan lagi setelah melihat kedekatan keduanya, tapi Ari ingin mendengar sendiri dari mulut Tristan.
"Iya, Paman," jawabnya.
Ari menghela napas pelan. "Ela masih menjadi tanggung jawabku selama dia berada di Indonesia. Jadi aku mohon padamu, tolong jaga keponakanaku. Jangan pernah permainkan bahkan sakiti hatinya jika kau tak ingin berurusan denganku!" katanya tegas.
Tristan meneguk ludah kasar. "Saya berjanji, Paman."
Ari mengangguk. "Aku percaya padamu." Ia menepuk pelan pundak Tristan. "Ya sudah... sekarang kita keluar."
"Hm."
...🍍 🍍 🍍...
Perlahan Vania membuka kedua mata. Cahaya remang-remang langsung tersuguh di indra penglihatannya. Ia memerhatikan sekitar ruangan tempatnya berada, tidak terlalu jelas, tapi ia yakin jika kini dirinya berada di sebuah kamar. Entah kamar siapa.
"Sudah sadar, sayang..."
Deg
Vania bergidik saat hembusan napas terasa di tengkuk lehernya, dengan gerakan cepat ia menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Pak Boni?!" Ia memekik nyaring begitu melihat pria yang tadi dijumpainya di depan hotel berada tepat di belakangnya. "Apa yang kau lakukan?" Vania meronta ketika tersadar bahwa ia sedang duduk dengan tangan dan kaki terikat di sebuah kursi.
"Sssttt..." Pria itu menempelkan jarinya yang besar dan sedikit kasar tepat di bibir Vania, menyuruhnya diam.
Vania langsung memalingkan muka agar jari kotor itu terlepas dari bibirnya. "Apa maumu? Kenapa kau lakukan ini padaku?" Vania ingat. Saat bertemu tadi, pria ini mengajaknya pergi, ia menolak dan setelah itu ada seseorang yang membiusnya secara tiba-tiba hingga semua menjadi gelap.
Pria bernama Boni itu menyeringai. Ia semakin mendekat ke arah Vania. Wajahnya sudah berada tepat di hadapan wajah wanita itu. Sejenak ia menghirup aroma yang menguar dari tubuh Vania dengan sensual.
"Brengsek!" umpat Vania. Wanita itu mual saat bau napas si pria tercium oleh hidungnya. Bau alkohol bercampur rokok menjadi perpaduan bau yang membuat perutnya bergejolak.
Pria yang sudah beruban itu tertawa mendengar umpatan Vania. Namun tawa itu tak bertahan lama karena setelahnya, matanya menajam dan sebelah tangan terangkat mencengkram pipi Vania.
"Dasar wanita sialan!" geramnya.
Vania berontak, tapi cengkraman yang terlalu kuat membuatnya tak berkutik. Ingin mengumpat pun susah.
"Kau sudah membodohiku sebanyak tiga kali dan kini terima balasanmu!" desis Boni. Cengkraman di pipi Vania ia lepaskan dengan kasar hingga kepala wanita itu terhentak ke samping.
Wajah Vania memerah menahan marah, napasnya menggebu. Kenapa ia harus berurusan dengan pria gila itu di saat seperti ini.
"Kau ingatkan apa kesalahanmu?" tanya si pria.
Vania mengetatkan rahang. Ya, ia ingat tapi itu bukan kesalahannya. Ia hanya berusaha untuk melindungi diri dari pria licik dan mesum seperti Boni. Seorang pengusaha yang selalu memanfaatkan kelemahan para model untuk kepuasan nafsu birahinya.
"Kau tuli? Jawab pertanyaanku!" desaknya.
Vania tetap diam, wajahnya menunduk. Tak sudi rasanya menatap wajah pria tua itu.
Boni berdecak kesal, ia menghembuskan napas kasar. "Biar ku beritahu," putusnya.
Vania tersentak saat pria itu dengan kasar membuka tali yang mengikatnya. Ia mengangkat tubuh Vania dari duduknya dan menarik perempuan itu dengan tergesa menuju ranjang yang ada di dalam kamar. Di hempaskan tubuh lemah Vania di ranjang.
"Mau apa kau?!" Vania memekik. Ia bangkit dan berusaha menjauh. Berlari menuju pintu tapi sialnya pintu kamar itu tertutup.
Si pria tertawa di tempat menyaksikan kebodohan Vania. "Kau tidak akan bisa lepas dari sini sebelum kau dapat balasanmu, sayang..."
Deg
Vania mulai ketakutan, Boni berjalan mendekat ke arahnya. Wanita itu mengedarkan pandangan berupaya mencari barang yang bisa ia lempar ke si pria, namun nihil... di kamar ini tidak ada apapun, selain tempat tidur, kursi tempatnya terikat tadi dan lampu yang tergantung di langit-langit.
Saat Boni mendekat, Vania menjauh. Mereka berdua seperti bermain kejar-kejaran. Vania merinding begitu melihat ekspresi mesum dari pria yang mengejarnya.
"Ya Tuhan... apakah aku akan berakhir di sini?" batinnya. "Tidak. Tidak boleh."
"Aku akan lakukan apapun, tapi jangan ini!" Vania berusaha memohon, ia bukannya tidak tahu jika Boni menginginkan tubuhnya. Dan ia sama sekali tidak ingin disentuh oleh pria mana pun kecuali yang ia inginkan.
Boni menyeringai. "Kenapa, hm?" tanyanya.
"Aahh, aku tau." Boni tersenyum lebar sembari menjentikkan jarinya. "Apa kau masih perawan, hm?" Ia berjalan mendekat. Smirk mesum itu semakin jelas terlihat.
Vania terbelalak, tak menyangka jika si pria menyadari kelemahannya. "Hahaha... tidak mungkin." Ia mengelak.
Bibir Boni semakin mengembang membentuk sebuah senyuman mengerikan. Suara Vania yang terdengar bergetar membuatnya semakin yakin jika Vania memang masih perawan. Ini merupakan sebuah keberuntungan untuknya.
"Kemari sayang, aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku akan pelan-pelan," ujar Boni dengan suara yang mulai memberat.
"Tidak!" pekik Vania.
"Kau tolak, aku akan semakin bersemangat. Hahahaha." Boni mendekati Vania yang sudah tersudut di dinding kamar. "Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena kau sudah berulang kali membodohiku."
"Jangan sentuh aku!" Vania meraung. Tubuhnya meringkuk di sudut kamar. "Aku mohon, akan ku lakukan apapun asal jangan ini." Ia kembali memohon, kali ini dengan berurai air mata, semoga pria itu tersentuh dan membatalkan niatnya.
"Hanya kau yang aku inginkan," bisik Boni yang sudah berada di depan Vania. Perempuan itu hanya pasrah saat si pria mengangkat tubuhnya dan melemparnya ke ranjang.
"Hidupku sudah berakhir..." lirihnya sebelum memejamkan mata.
.......
Keluarga Hermawan heboh begitu mengetahui jika keberadaan Vania tidak ditemukan.
"Nomornya tidak aktif, Yah..." kata Evan panik. Sudah berulang kali ia menghubungi sang adik angkat tapi tidak pernah mendapatkan jawaban.
"Anak itu, lepas sebentar saja dari pandangan dia sudah kabur," rutuk Thomi.
"Apa kita harus melapor ke polisi?" tanya ibu Vania yang sudah sesenggukan.
"Belum 24 jam, Bu..." sahut Evan.
"Ya sudah, biarkan saja! Palingan dia ada di apartemen atau rumah temannya," ucap Thomi cuek. Pria tua itu memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Aku akan mencarinya, Bu. Lebih baik ibu istirahat saja."
"Tolong ya, Nak!"
"Iya Bu, aku pamit."
Evan keluar dari kediaman Hermawan. Tujuannya saat ini adalah apartemen Vania. Dalam perjalanan, ia juga menghubungi Fara. Namun sayang, wanita itu mengatakan jika Vania sedang tidak bersamanya. Panik, Evan melesat cepat menuju ke rumah kedua sang adik.
Sampai di sana pun, Evam tak menemukan orang yang dicarinya. Tak ada tanda-tanda kehidupan di apartemen adiknya itu, ditambah dengan keterangan dari tetangga sebelah apartemen yang mengatakan jika Vania sudah lama tidak ke sana.
__ADS_1
Pria itu semakin kalut. Ia ingat jika dulu pernah menyelamatkan Vania dari percobaan penculikan dan dia khawatir jika itu kembali terjadi dan kini dia berhasil tertangkap. Entah apa masalah gadisnya itu hingga bisa mempunyai musuh seperti ini.
Malam itu, Evam berkeliling kota demi menemukan gadis yang dicintainya.
...🍁 🍁 🍁...
La Défense, Paris. 10.00 a.m
Anne memasuki sebuah gedung tinggi menjulang di distrik bisnis terbesar kota Paris. Bangunan yang ia masuki merupakan perusahaan milik keluarga kekasihnya. Tunggu! Kekasih? Rasanya mereka belum membicarakan masalah ini. Beberapa minggu saling berhubungan via telepon dan chat, sama sekali tak ada menyinggung masalah status. Mereka hanya menikmati obrolan layaknya sepasang kekasih.
Hari ini, Anne akan memberi kejutan untuk Sebastian. Tanpa menghubungi pria itu sebelumnya, ia datang mengunjungi. Rindu sudah menggebu untuk segera bertemu. Akibat kesibukan masing-masing, baru kini mereka bisa berjumpa.
Anne sampai di depan ruangan Sebastian, sekretaris pria itu menyambutnya. Ini bukan kali pertama ia kemari, waktu itu pernah bersama Cio, jadi sekretaris wanita itu sudah mengenalnya.
"Mr. Lefebvre masih ada tamu di ruangannya. Mungkin sebentar lagi keluar. Apa anda mau menunggunya?" tanya si sekretaris dengan bahasa Inggris yang fasih.
"Baiklah." Anne mengangguk. Ia memutuskan untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang Sebastian.
Sembari menunggu, Anne mengeluarkan ponsel. Ia hendak memantau pekerjaan yang ditinggalkannya di London lewat asisten pribadinya.
Kurang lebih seperempat jam kemudian, bunyi pintu terbuka mengalihkan perhatian Anne. Perempuan itu melihat dua orang keluar dari ruangan. Salah satunya adalah Sebastian. Ada seorang wanita modis, sexy dan glamour bersamanya.
Anne berdiri di tempatnya. Ia menyaksikan dengan hati yang hancur saat si wanita mencium mesra pipi Sebastian.
Deg
"Sebastian!" panggil Anne seraya berjalan menghampiri.
Pria itu tampak terkejut melihat keberadaan Anne. Namun tak lama bibirnya tersenyum dan hendak menyambut Anne dengan sebuah pelukan, tapi apa yang di dengarnya kemudian membuatnya membatu.
"Sepertinya aku salah paham akan hubungan apa yang kita miliki. Nyatanya, diriku hanya terlalu percaya diri menganggap bahwasannya kau punya rasa yang sama denganku," ucap Anne dengan bahasa Indonesia. Ia tak ingin wanita yang barada di samping Sebastian itu tahu apa yang ia katakan.
"Ann, kau kenapa? Apa aku sudah berbuat salah?" Sebastian menghampiri Anne. Ia merasa tak ada masalah apapun, semuanya baik-baik saja saat mereka menelpon semalam, tapi kenapa sekarang berbeda.
Anne tersenyum sinis. Ia mengerling tajam pada wanita dengan make up tebal yang kebingungan melihat mereka. "Sia-sia aku datang kemari."
Setelah mengatakan itu Anne berbalik pergi dan berjalan dengan cepat.
"Maaf, aku pergi duluan. Kekasihku sepertinya sudah salah paham," pamit Sebastian pada si wanita dengan bahasa Perancisnya.
"Ah.. ya," angguk wanita itu.
Sebastian mengejar Anne. Sekarang ia tahu apa yang telah membuat perempuan yang dicintainya itu marah.
"Ann!" Ia berlari cepat saat pintu lift yang ada Anne di dalamnya hampir tertutup.
Pintu lift kembali terbuka, Sebastian segera masuk ke dalamnya. Anne hendak keluar namun pria itu segera menutup pintunya. Hanya ada mereka berdua di dalam lift saat ini.
"Ann, kau salah paham. Wanita tadi adalah rekan kerjaku." Sebastian menjelaskan.
Anne tertawa sumbang. "Rekan kerja, kok mesra sekali," sindirnya. "Sampai cium pipi segala."
Sebastian tersenyum. Ia bahagia melihat Anne cemburu, dengan cepat ia mendekap tubuh itu dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu, Ann..." bisiknya.
Anne mematung. Ia tak tahu harus melakukan apa. Ingin membalas pelukan, tapi ia masih marah. Ingin melepaskan, tapi ia tidak rela karena berada dalam dekapan orang terkasih rasanya nyaman sekali.
"Wanita tadi adalah rekan kerjaku. Dia sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Sifatnya memang begitu, suka sekali mencium orang yang dikenalnya, tapi ya... masih sebatas wajar, kok."
Sebastian melepas pelukan saat tak ada kata yang keluar dari mulut perempuan dalam pelukannya.
"Ann!"
Anne diam, wajahnya memerah karena malu. Ia sudah salah sangka.
"Ann!"
"Hm?" Akhirnya ada jawaban juga.
"Kau tak merindukanku?" goda Sebastian.
"Rindu..." Anne mengangguk lemah.
"Tak mau memelukku?"
"Mau." Ia langsung menghambur memeluk Sebastian dengan erat.
Setelah berpelukan cukup lama, Anne melepasnya. Ia menatap dalam mata biru Sebastian.
"Status kita ini apa?" tanyanya meminta kepastian.
"Kekasih," jawab pria Perancis itu.
"Huh? Kapan jadiannya?" dumel Anne.
"Bukan. Aku salah."
"Huh? Maksudmu?" tanya Anne heran.
__ADS_1
"Kau bukan kekasihku. Kau calon istriku karena sebentar lagi aku akan melamarmu pada paman Uncle Anthony."
"HAH?"