
...🌻Selamat Membaca🌻...
London
"WHAT!?"
Abercio dan Anne serentak berteriak saat Anthony menjelaskan alasan Stela yang tidak jadi ikut pulang bersama mereka.
"Kenapa dia dibiarkan tinggal di Indonesia, bersama seorang pria lagi. Apa mommy dan daddy tidak takut jika nanti Ela diapa-apakan oleh pria itu?" Jiwa protektif Abercio muncul.
"Kami mengenal pria itu, dia tidak mungkin macam-macam," kata Ambar.
"Benar, tapi kalau sampai dia menyakiti putriku, aku sendiri yang akan memenggal kepalanya," tambah Anthony.
Anne menghela napas mendengar perdebatan itu. "Selesai urusanku di sini, aku akan terbang ke Indonesia untuk menjemputnya," putus kakak perempuan dari Stela itu.
"Cobalah! Semoga saja dia mau pulang. Mansion sepi tanpa dirinya," tambah Ambar.
...🌺 🌺 🌺...
Jovanka melajukan kendaraannya dengan kencang, ia panik saat mendapat kabar dari Tristan bahwa saat ini pria itu sedang sakit. Sahabatnya itu hidup sendiri, siapa yang akan mengurusnya? Merawat dan membuatkannya makanan? Ya Tuhan ... Jovanka merasa tidak tenang sebelum ia mengetahui bagaimana keadaan sahabatnya itu. Di telepon pria itu boleh mengatakan jika dia baik-baik saja, tapi siapa yang tahu kebenarannya. Pasti Tristan hanya ingin membuatnya tenang dan tidak terlalu khawatir makanya berkata demikian.
Jovanka menekan bel apartemen Tristan berkali-kali, namun tak ada jawaban. Saat jarinya akan menekan lagi, tiba-tiba pintu itu terbuka.
"Stela?"
Jovanka tak bisa menyembunyikan kekagetannya saat mendapati sosok Stela di balik pintu apartemen milik Tristan. Bukankah gadis itu kembali ke London, lalu apa yang ia lakukan di sini?
"Kak jo ..." sapa Stela.
"Stela ..." Jovanka langsung menerjang Stela dan memeluknya erat. "Aku senang melihatmu di sini, kau tidak jadi pergi?" tanya perempuan itu setelah melepas pelukannya.
Stela menggeleng dan kemudian mengajak Jovanka masuk.
"Ara?" Jovanka kaget untuk yang kedua kalinya saat melihat kehadiran Arabella di tengah ruang tamu apartemen Tristan. Bocah itu tampak asyik bermain dengan bonekanya.
"Hai Aunty Jo," sapa si kecil.
"Hei sayang, bagaimana kabarmu?" Jovanka menghampiri Ara dan duduk di dekatnya. Puncak kepala bocah itu diusapnya sayang.
"Ala baik, Aunty," jawabnya.
Jovanka memandang sendu keponakan Tristan, gadis kecil itu sudah kehilangan orang tua disaat dirinya sendiri mungkin belum mengerti apa itu arti kehilangan. Dia terlalu kecil dan masih sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Ara mau mainan tidak? Besok Aunty bawakan, Ara mau mainan apa?" tanya Jovanka.
Tangan Ara berhenti memainkan bonekanya, lantas ia mendongak dan menatap Jovanka dengan mata berbinar. "Ara mau boneka beluang Aunty," jawabnya. "Yang besal," lanjutnya sambil menggerakkan tangannya membentuk pola besar.
"Boneka beruang yang besar?" tanya Jovanka memastikan.
"Iya Aunty, kemalen mama dan papa janji belikan Ala boneka beluang besal tapi sampai sekalang mama sama papa belum pulang," cerita bocah itu disertai raut sendu.
Stela dan Jovanka terdiam mendengar penuturan Ara, hati mereka teriris sembilu melihat ekspresi sedih gadis kecil itu. Entah apa yang akan terjadi jika dia tahu kalau kedua orang tuanya tidak akan pernah kembali lagi untuk membawakan boneka beruang pesanannya.
"Ok sweety, besok aunty akan bawakan Ara boneka beruang yang besar." Jovanka tersenyum dan kemudian mengecup gemas pipi chubby Ara, mencoba mengalihkan kesedihan yang tengah dirasakan oleh bocah itu.
"Telima kasih Aunty..." Ara tersenyum senang dengan mata menyipit.
"Gemasnya, aku mau satu yang seperti dirimu, sayang." Jovanka mengelus rambut Ara sebentar dan setelah itu bangkit berdiri.
"Tristan di mana?" tanyanya pada Stela.
"Di kamarnya," jawab si pirang.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Iya, setelah tadi dikompres dan juga makan, kini kak Tristan sudah lebih mendingan," jawab Stela.
"Baiklah, kalau begitu aku lihat keadaannya dulu."
__ADS_1
"Ya."
Jovanka berlalu dari ruang tamu sementara Stela memilih menemani Ara bermain.
.......
Jovanka memasuki kamar Tristan setelah mengetuk pintunya beberapa kali. Di atas tempat tidur, ia melihat sahabatnya tengah beristirahat. Perempuan itu berjalan menghampiri dan duduk di dekat tubuh lemas Tristan.
Merasakan pergerakan pada tempat tidurnya, Tristan langsung membuka mata, seketika dirinya disuguhi wajah khawatir sang sahabat. Ia kemudian bangkit dari posisi tidurnya dan duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"Aku baik-baik saja," ucap Tristan seakan menjawab pertanyaan yang tergambar jelas dari raut wajah Jovanka.
Kekasih Gara itu berdecak sambil memutar mata bosan. "Tentu saja kau baik, di sini kan ada perawat cantik yang setia merawatmu," godanya.
Tristan hanya bisa tersenyum kecil mendengar godaan sang sahabat. Ia tak menampik jika keadaannya baik-baik saja karena ada Stela yang setia merawatnya.
"Syukurlah hari ini kau tidak ada jadwal pemotretan, jadi aku tidak harus pusing untuk mengurus pemindahan jadwal," ucap Jovanka lega.
"Ya."
"Oh ya, kenapa Ara ada di sini?" tanya Jovanka penasaran.
"Lalu dia harus di mana? Di rumah si pak tua itu?" tanya Tristan jengkel.
"Hei ... aku kan cuma bertanya, kenapa kau jadi kesal begitu?" sengit Jovanka.
Tristan menghela napas sejenak. "Mulai sekarang Ara akan tinggal bersamaku. Aku akan menjadi ayah untuknya," ucap Tristan tegas.
"Kau benar, dia masih kecil dan masih membutuhkan kasih sayang orang tua," kata Jovanka. "Dan secepatnya kau juga harus mencari ibu baru untuk Ara, dia tidak hanya butuh ayah tapi juga butuh ibu. Dia butuh orang tua yang lengkap," tambah Jovanka. Sebenarnya ada niat terselubung dari perkataannya barusan, dalam hatinya, ia ingin sekali Stela menjadi ibu bagi Ara dan tentu saja pendamping untuk sahabat karibnya ini.
Tristan terdiam, sepertinya ia sedang memikirkan perkataan managernya itu. "Untuk saat ini aku akan menjadi ayah sekaligus ibu untuknya," putus pria itu.
Jovanka melongo, bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan. "Kau yakin akan jadi ibu untuknya? Sementara yang aku lihat disini Stela-lah yang berperan sebagai ibu untuk Ara. Gadis itu yang memenuhi semua kebutuhan Ara, lalu... apa peranmu sebagai ibu, hm?"
Tristan tertohok mendengar sindiran langsung dari Jovanka , memang benar... di sini Stela lah yang lebih sering mengurus Ara ketimbang dirinya, dan lagi pula keponakannya itu lebih lengket kepada Stela daripada dirinya. Lalu ia harus bagaimana?
Jovanka menggeram mendengar perkataan Tristan yang seenaknya. "Kau memang paman dari Ara, dan sudah menjadi tugasmu untuk menyayangi dan menjaga keponakanmu itu. Lalu Stela, dia siapa? Kau anggap apa dia, hm? Baby sitter keponakanmu?"
DEG
Dulu pembantu, sekarang Baby sitter, ya Tuhan... Tristan sama sekali tidak pernah menganggap Steka seperti itu. Gadis itu adalah temannya dan dia..- "Arrgghh..." Pria itu mengerang frustasi di dalam hati. Memang benar Stela sudah dianggap sebagai teman olehnya, tapi apa ada teman yang menjadi pelayan di rumah temannya sendiri? Di sini Stela yang melakukan semuanya, dari mulai memasak, membersihkan rumah dan sekarang juga ikut menjaga Ara. Apa dirinya jahat? keterlaluan? Memperlakukan temannya seperti itu. Tapi bagaimana caranya? Dia tidak ingin kehilangan Stela.
.......
Di ruang tamu, Stela dan Ara sibuk video call dengan Ambar juga Anthony yang saat ini sudah berada di London. Stela mengenalkan Ara pada orang tuanya dan putri kecil almarhum Taufan itu kini sudah akrab saja dengan sepasang paruh baya yang wajahnya sedang ada di layar. Ara memanggil mereka dengan panggilan, Granny dan Grandpa.
"Aunty..." panggil Ara setelah Stela meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
"Ada apa, Baby?" tanya si pirang. Ia meraih tubuh Ara dan membawanya kepangkuan.
Ara menatap mata biru Stela takut-takut, membuat yang ditatap mengernyit bingung. "Ara?"
"Mo-mommy?" Ara berkedip lucu menatap Stela sambil berkata mommy.
"Mommy?" tanya Stela heran.
"Boleh Ala panggil Aunty Ela mommy?" tanya bocah itu penuh harap.
"Eh?"
"Ala mau punya mommy dan daddy juga kayak Aunty Ela," kata Ara memelas. Jadi... ia terinspirasi disaat Stela melakukan video call dengan orang tuanya tadi, di mana saat itu Stela memanggil kedua orang tuanya dengan panggilan mommy dan daddy.
"Boleh?" tanya Ara lagi. Wajahnya dipenuhi pengharapan yang tinggi.
Stela tersenyum dan mengangguk. "Sure Baby, you can call me Mommy."
"Hollee..." Ara langsung berteriak kesenangan dan memeluk Stela. "Aku sekalang punya mommy," katanya bangga.
"Yes baby, and now you're my princess," kata Stela sambil menciumi seluruh permukaan wajah menggemaskan Ara. Gadis kecil itu tertawa kegeliaan karena ulah Stela.
__ADS_1
"Mommy...." panggilnya.
"Yes, baby?"
"Kita ke kamal uncle, yuk!" ajaknya.
"Ok, let's go..."
Stela menggendong Ara dan berlari kecil ke arah kamar Tristan.
.......
Pembicaraan Tristan dan Jovanka terus berlanjut.
"Jika kau ingin seseorang untuk menjaga keponakanmu maka sewa saja baby sitter, jangan Stela, dia bukan pengasuh di sini apalagi pembantu. Jika dia mau, dia bisa pulang ke London sana bersama orang tuanya, tapi dia tidak mau melakukannya karena apa? Karena Ara? Woah... sungguh baik sekali hati gadis itu dan kau dengan teganya memanfaatkan kebaikannya itu," cecar Jovanka, memanas-manasi Tristan. Ia ingin sekali menyadarkan pria itu akan perasaannya sendiri.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Tristan jengah. Ia sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang ia rasa.
"Entahlah... kau pikir saja sendiri. Dasar pria bodoh?" umpat Jovanka. Dia sudah benar-benar kesal dengan ketidakpekaan sahabat tampannya itu.
"Apa katamu?" Tristan menatap Jovanka tajam.
"Bo-doh," tanpa takut perempuan itu mengulangi kembali kata-katanya.
"Kau?!"
"Uncle..."
Saat suasana mulai memanas, pintu kamar terbuka. Ara datang, ia turun dari gendongan Stela dan berlari menghampiri Tristan.
"Hey sayang, ada apa?" Tristan merubah raut mukanya dari yang semula marah menjadi lembut kala melihat keponakan manisnya.
"Uncle, Ala sekalang punya mommy," katanya bangga.
"Mommy?" ucap Tristan dan Jovanka bersaaman.
"Iya... Mommy Ela," katanya. "Sekalang mommy Ela jadi mommy-nya Ala," jelas anak itu lengkap dengan aksen cadelnya.
"Ada apa ini, Stel?" tanya Jovanka penasaran.
"Oh... tadi kami berbicara melalui video call bersama kedua orang tuaku. Mari mendengar aku memanggil mereka dengan sebutan mommy dan daddy dan setelah itu Ara tiba-tiba saja meminta izin padaku agar dia bisa memanggilku mommy. Aku tak tega untuk menolaknya." Stela menjawab rasa penasaran dua orang di sana.
"Uncle... Ala juga punya Granny dan Grandpa," tambah gadis kecil itu senang.b
"Maksud Ara itu adalah kedua orang tuaku. Dia memanggilnya Granny dan Grandpa." Sebelum dua orang di sana kebingungan, Stela sudah terlebih dahulu menjelaskan.
Tristan tak percaya dengan semua ini, setelah kematian kedua orang tuanya, kini Ara sudah bisa tersenyum bahagia lagi. Ia jelas melihat itu dari wajah Ara yang dengan bangganya mengatakan jika sekarang ia sudah memiliki ibu, bahkan kakek dan nenek juga. Tristan tak mungkin menghancurkan kesenangan sang keponakan dengan menolak hal itu, walau sebenarnya ia merasa tidak enak dengan Stela.
"Hei Ara!" panggil Jovanka.
Ara menoleh dan menghadap perempuan berambut sebahu yang sudah berjongkok di depannya.
"Sekarang Ara sudah punya mommy, kan?" tanyanya yang segera diangguki si bocah.
"Kalau ada mommy tentu ada daddy, siapa daddy-nya Ara?" pancing Jovanka. Hoho... niatannya ternyata terlaksana dengan cepat dengan bantuan Ara.
Tristan yang melihat itu semua malah melayangkan tatapan tajamnya pada sang sahabat.
Ara terlihat memikirkan pertanyaan Jovanka, gadis kecil itu menoleh dan menatap Stela bingung. "Daddy mana, mommy?" tanyanya.
Stela terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......
...🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1