
...🌻Selamat Membaca🌻...
Sebastian menatap kaca besar yang ada di toilet bandara. Pria itu bisa dengan jelas melihat raut kecewa yang terpampang di wajahnya.
"Haaaaah....." Napas berat terdengar berhembus dari mulutnya. "Anne," ia melirih.
"Orang yang kau sebut namanya belum datang."
Deg
Sebastian terperanjat saat sebuah suara menyahuti ucapannya.
"Kau!" Ia kaget saat melihat kekasih Stela sudah berdiri di depan pintu toilet yang terbuka.
Tristan masuk dan menghampiri Sebastian, ia berdiri tepat di samping pria itu dan ikut bercermin. Memandangi wajahnya yang sangat tampan membuat ia kembali bersyukur pada Tuhan yang telah menganugerahinya ketampanan itu.
Sebastian menatap geli tingkah narsis Tristan. "Aku jauh lebih tampan darimu." Ucapan pria bule itu membuat Tristan menoleh dan menatapnya tajam.
Sebastian balas menatap Tristan dengan tampang menyebalkannya. "Apa?" Ia menantang. "Memang kenyataannya begitu."
Tristan mengangguk malas, tak ingin memperdebatkan sesuatu yang konyol seperti ini.
"Stela atau Anne?"
"Maksudmu?" Pertanyaan tiba-tiba Tristan membuat Sebastian kebingungan.
"Pilih di antara dua nama itu!" suruhnya.
"Buat apa?"
"Ck. Banyak tanya, jawab saja!"
Sebastian menghela napas kesal, permainan macam apa ini? Walaupun begitu ia tetap menjawabnya.
"Aku pilih...."
"Stela milikku, jadi pilihan jawaban untukmu tinggal satu nama saja," sanggah Tristan cepat.
"What?" Sebastian mendengus. "Kalau begitu ceritanya, apa jawaban dariku masih diperlukan?"
"Sebenarnya tidak."
Sebastian rasanya ingin meninju wajah datar Tristan, kesal sekali rasanya di permainkan oleh kekasih dari adiknya ini.
"Jadi apa mau mu?" Ia langsung ke intinya, ia tak suka bertele-tele.
"Anne mencintaimu."
Deg
"Apa?" Sebastian terdiam. Ia mencerna informasi yang baru saja disampaikan Tristan. "Tadi kau bilang siapa? Stela?" Ia sedikit lupa apakah tadi Tristan menyebut Stela atau Anne.
Tristan melotot. "An-ne. Enak saja, Stela itu kekasihku dan hanya aku yang dia cintai," protes Tristan.
Sebastian kembali terdiam. Tunggu? Apa tadi Tristan mengatakan jika Anne mecintainya? Tapi....... "Darimana kau tahu?" tanyanya kemudian. Mana mungkin ia bisa percaya begitu saja, apalagi pada pria yang sempat mempermainkannya di awal tadi.
"Kekasihku yang mengatakannya," ungkap Tristan jujur.
"Dari mana Stela tahu?" ia bertanya lagi, ingin lebih memastikan.
Tristan mendelik. "Mana ku tahu, mungkin Anne sendiri yang mengatakannya."
"Kau serius?" tanya Sebastian penuh pengharapan.
Tristan mengangkat bahu cuek. "Mungkin."
__ADS_1
Sebastian teringat perdebatannya dengan Stela beberapa waktu lalu.
"Bukalah matamu! Di sana ada seseorang yang selalu memperhatikanmu dari kejauhan. Seseorang yang selalu menyebut namamu disaat rindu. Dan yang sangat mencintaimu dalam diamnya. Cepatlah sadar! Semoga belum terlambat, karena menunggu itu juga ada batasnya."
"Ya Tuhan, benarkah Anne mencintaiku?" tanya pria itu girang. "Jadi maksudmu, pria yang dicintai Anne itu adalah aku?" tanyanya kemudian pada Tristan.
"Bisa jadi."
Speechless, Tristan melihat jika bule perak itu tak bisa lagi berkata-kata saking senangnya.
"Kau bahagia sekali nampaknya, bukankah yang kau cintai itu Stela?" pancing Tristan.
Sebastian menatap Tristan dan mengangguk. "Kekasihmu adalah cinta pertamaku sementara Anne akan jadi cinta terakhirku."
"Cinta pertama Stela adalah diriku dan cinta pertamaku juga Stela. Kau memang tak punya harapan dengannya, jadi ku do'akan semoga kau berjodoh dengan Anne," balas Tristan sedikit sewot.
"Thanks Buddy." Terlanjur senang, Sebastian tak sengaja memeluk Tristan sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.
Bola mata Tristan hampir keluar menerima perlakuan tak biasa dari Sebastian. Ia kemudian mendorong tubuh yang lebih besar darinya itu dengan sekuat tenaga. "Enak saja kau peluk-peluk, hanya Stela yang boleh memelukku," protesnya kesal.
Bule itu hanya tertawa cengegesan. "Sekali lagi terima kasih, berkatmu aku jadi tahu yang sebenarnya."
Tristan memutar mata bosan. "Aku melakukannya bukan untukmu tapi untuk diriku sendiri." Ya. Memang ia melakukan itu untuk dirinya sendiri. Ia bisa menjalani hubungan dengan tenang bersama Stela jika tidak ada lagi yang mengganggu.
.......
"Akhirnya kau sadar juga," kata Abercio saat mereka sudah berada di atas udara.
"Aku tidak akan sadar jika Tristan tidak memberitahuku," balasnya. "Kenapa selama ini kau diam saja, apa susahnya memberi tahuku soal bagaimana perasaan Anne yang sebenarnya!" protes Sebastian karena sahabatnya yang selama ini bungkam.
"Kau terlalu terobsesi pada Ela, jadi tidak mungkin aku mengatakan jika Anne mencintaimu. Aku takut nanti kau akan menjauhinya karena rasa bersalahmu yang tak bisa membalas perasaannya."
"Seandainya aku tahu lebih awal," keluh Sebastian.
"Jangan berandai, sekarang pikirkan saja langkah ke depannya. Apa yang akan kau lakukan kalau aku boleh tahu?" tanya Abercio.
"Jangan bilang kalau kau akan......." Abercio melotot tak percaya.
"That's right, seperti rencana awal."
.......
"Aunty sakit?" pertanyaan Ara pada Anne membuat Stela menoleh ke belakang, Tristan yang menyetir pun melirik kakak dari kekasihnya itu melalui laca spion.
"Kakak sakit?" Stela ikut bertanya.
"Eh? Ti-tidak." Anne menjawab bingung. Dia sama sekali tidak sakit tapi kenapa orang menganggapnya sakit.
"Muka aunty melah, biasanya kalau muka melah pasti sedang sakit," celetuk Ara polos.
Anne menyentuh wajahnya yang memang terasa panas, lantas ia mengambil kaca kecil dari dalam tas.
"Eh?" Ia terkaget saat melihat bentukan wajahnya yang sudah seperti tomat masak. Udara di sekitarnya tiba-tiba juga jadi terasa gerah.
"Mungkin aunty kepanasan baby." Stela yang menjawab.
"Aku akan menurunkan suhu ACnya," kata Tristan.
"Thanks," lirih Anne.
Ara yang sudah terpuaskan rasa penasarannya pun langsung duduk diam di bangkunya. Gadis kecil itu kini sibuk menatap keramaian jalan raya lewat kaca jendela mobil.
Stela melirik Tristan yang juga meliriknya, mereka saling melempar senyum. Keduanya tentu saja sangat tahu apa yang membuat wajah gadis bule di belakang sana memerah, itu semua pasti karena kejadian di bandara beberapa saat yang lalu.
.... ...
__ADS_1
Semuanya sudah berkumpul di aula gedung S-Models, ada banyak wartawan juga juru kamera yang hadir untuk meliput kasus yang hangat belakangan ini. Pertama, kasus hubungan antara Vania dan Tristan yang tertangkap kamera sedang berciuman dan kedua adalah masalah penyiraman terhadap Vania yang terjadi di sebuah restoran ternama.
Para model telah duduk di dampingi manager masing-masing sementara Anne ditemani oleh kuasa hukum yang telah ditunjuk oleh Ari. Adik Kushina itu hanya ingin berjaga-jaga jika nanti kasus ini menjadi besar dan tak terkendali, ia ingin melindungi keponakan-keponakannya karena bagaimanapun juga Anne dan Stela adalah tanggung jawabnya selama mereka berada di Indonesia.
Kasus pertama yang diluruskan yaitu mengenai penyiraman yang dilakukan oleh designer ternama bernama Anne terhadap model terkenal bernama Vania. Dengan tenang gadis blasteran Indonesia-Inggris itu menjelaskan kronologi ceritanya. Ia dengan gamblang menceritakan bahwa Vania secara sengaja telah menghina sang adik dengan kata-kata yang tidak pantas.
Semua tampak riuh mendengar pengakuan Anne, begitu juga Vania dan managernya yang tampak malu karena sepertinya designer muda itu tidak mau bekerja sama.
"Apa benar seperti itu Nona Vania?" tanya salah satu awak media memastikan. Mereka ingin mendengar dari dua sisi.
Wajah Vania memerah, ia terlihat menahan amarah. Beberapa kali wanita itu menarik dan menghembuskan napas. "Saya memang memiliki hubungan yang tidak terlalu baik dengan adik Nona Anne," akunya.
"Lalu, apa pantas anda berkata-kata kasar kepada orang yang tidak anda sukai?" Wartawan yang lainnya bertanya.
"Saat itu saya merasa kesal jadi tidak sengaja mengatakan kata-kata yang tidak pantas di dengar." Vania mengepalkan tangannya di bawah sana saat berusaha menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Far yang cemas jika Vania akan mengamuk, segera mengambil alih. "Saya selaku manager dari Vania Hermawan mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya terhadap Nona Anne dan keluarga karena masalah ini. Saya harap setelah ini hubungan kita masih dapat terjalin dengan baik." Fara berdiri dari duduknya dan membungkuk hormat ke hadapan Anne.
"Baiklah saya memaafkan kalian, terutama anda Nona Vania yang terhormat," balas Anne dengan tatapan menghunusnya ke arah Vania yang sedia tertunduk bak tersangka yang tengah diadili.
"Baiklah saya rasa masalah pertama kita telah selesai, Nona Vania pun sudah meminta maaf atas kesalahan yang telah ia perbuat. Semoga masalah ini tidak menghambat kelancaran pekerjaan kita semua." Asisten Sagara yang bertindak sebagai moderator menutup kasus pertama.
Beberapa saat kemudian, Kasus kedua pun dibuka. Setelah dipersilakan Tristan langsung menjelaskan inti masalah yang telah membuat semua orang berprasangka jika ia dan Vania memiliki hubungan khusus.
"Saat pesta berlangsung, Nona Vania tidak sengaja mencium saya karena ia begitu terhanyut pada alunan piano yang dimainkan saat itu. Itu hanya sebuah kesalahpahaman dan saya sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Vania Hermawan selain rekan dalam pekerjaan."
"Benarkah apa yang dikatakan oleh Tuan Tristan, Nona Vania?" Lagi-lagi wartawan memastikan dari kedua belah pihak.
Vania yang sudah terlanjur malu hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Apakah anda mencium Tuan Tristan adalah murni karena ketidaksengajaan atau itu hanya alibi anda karena sebenarnya anda memiliki perasaan yang khusus terhadap rekan anda tersebut?"
Vania menggeleng. "Saya tidak sengaja. Maaf."
Kini semua beralih kembali kepada Tristan.
"Setelah kejadian ciuman itu, anda pergi meninggalkan pesta bersama seorang gadis pirang, kalau boleh tahu siapa gadis itu, Tuan?" Wartawan itu seperti tak puas-puas bertanya.
"Kekasihku," jawab Tristan santai. Jovanka yang berada di sebelahnya menyenggol lengan pria itu.
"Siapa gadis beruntung itu?" tanya mereka lagi.
Jovanka menepuk jidat. Gara-gara jawaban Tristan, masalahnya pasti akan semakin panjang dan jumpa pers ini akan berlangsung semakin lama.
"Maaf kalau untuk hal itu saya tidak bisa menjawabnya, yang jelas gadis itu adalah gadis yang sangat saya cintai," jelas Tristan.
"Sudah cukup, saya rasa semua masalahnya sudah clear dan acara jumpa pers kita saya cukupkan sampai di sini. Terima kasih kepada semua yang telah hadir, semoga acara ini dapat menjawab apa yang ingin kalian ketahui. Selamat malam."
.......
Tristan mengantarkan Stela dan Anne kembali ke mansion Wijaya. Ara sudah tertidur di dalam mobil, kali ini Tristan akan membawanya kembali ke apartemen.
"Masuk dan beristirahatlah!"
"Iya. Hati-hati di jalan," ucap Stela.
"Hm. Aku pergi dulu." Tristan mengecup kening Stela. "I love you."
"I love you too." Stela tersenyum melepas kepergiaan Kekasihnya.
Selama jumpa pers tadi, Stela berada di ruangan Gara bersama Ara. Ia menyaksikan semuanya melalui layar laptop Gara yang telah tersambung dengan salah satu kamera perekam di aula. Hati Stela berbunga saat Tristan mengatakan cinta padanya di hadapan semua orang. Beruntung sekali dia mendapatkan pria itu.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment...🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...