BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
5 Tahun Berlalu


__ADS_3

...๐ŸŒปSelamat Membaca...


Tristan menatap layar canggih menyala di tangannya. Sebuah smartphone keluaran terbaru yang kini tengah menampilkan ratusan foto dari seorang gadis yang sangat ia cintai.


"Ela...." Ia mendesah galau. Rindu yang sudah tertumpuk selama kurang lebih lima tahun ini rasa-rasanya sudah tak tertahankan lagi.


Tristan rindu menatap wajah cantik, menyentuh pipi merona, mendekap tubuh ramping dan mengecup bibir merah muda candunya. Ia sungguh merindukan Stela untuk berada di sisinya.


Selama ini, akses komunikasinya dengan Stela sangat minim dan juga terbatas. Tampaknya, kekasihnya itu begitu sibuk dengan pendidikannya di luar negeri sana.


Demi mengatasi kerinduan yang setiap harinya makin menggunung, Tristan memilih menyibukkan dirinya dalam dunia bisnis. Semenjak berpisah dari Stela, ia tak lagi menggeluti profesi sebagai model. Ia lebih memilih fokus mengembangkan usahanya di bidang kuliner, hingga kini cabang dari cafe dan restorannya semakin bertambah.


Dan ya, untuk masalah keponakannya, Arabella. Gadis kecil kesayangannya itu memang sedih sejak berpisah dari Stela, namun lambat laun, setelah berusaha keras memberi pengertian, akhirnya putri tunggal Taufan itu dapat menerimanya. Kini, Ara sudah berumur delapan tahun dan sudah duduk di bangku sekolah dasar. Ia masih tinggal dengan Tirstan. Pria itulah yang selama ini mengasuhnya. Berperan sebagai ayah sekaligus ibu yang sangat-sangat dibutuhkan oleh anak seusia Ara. Tristan mengajarinya belajar, memasakkan makanan dan membuatkan bekal bergizi setiap harinya, mengantar dan menjemput ke sekolah bahkan menemani Ara latihan ballet dan kursus biola setiap akhir pekan. Syukurlah... Dengan bisnis yang dijalaninya sekarang, Tristan memiliki banyak waktu luang untuk keponakannya itu.


Walaupun semua berjalan lancar, tapi tetap saja, keduanya sangat merindukan kehadiran sosok Stela. Hidup mereka tidak akan terasa lengkap jika tak ada Stela membersamai.ย 


"Daddy, ayo berangkat!"


Tristan yang sedang asyik memandangi foto Stela terkaget saat suara Ara terdengar dari arah depannya. Ia menoleh dan mendapati putri cantiknya sudah rapi dengan pakaian kasual, tas di punggung dan biola di jinjingannya. Siang ini adalah jadwal keponakannya untuk kursus biola.


"Daddy kenapa?" tanya Ara heran saat Tristan hanya diam memandanginya.


"Tidak apa-apa, sayang. Ayo kita berangkat, nanti kau terlambat." Tristan segera berdiri dari duduknya, menyimpan ponsel di saku dan melangkah cepat menuju mobil yang sadah terparkir tepat di depan gerbang rumah mereka. Ya... Tristan dan Ara tidak tinggal di apartemen lagi. Pria itu membeli sebuah hunian mewah yang masih terletak di kawasan kota Jakarta untuk mereka tinggali. Tidak mungkin selamanya mereka akan tinggal di apartemen.


Ara mengikuti langkah Tristan dari belakang. Sebelumnya, ia sempat terdiam sebentar saat matanya tak sengaja melihat foto mommy nyaย di layar ponsel sang daddy. Ia paham betul bagaimana perasaan daddynya semenjak ditinggal sang mommy, karena dia juga merasakan hal yang sama.


"Mom... Ara dan daddy rindu mommy. Kapan mommy pulang?" lirih anak itu.


...๐Ÿ€ ๐Ÿ€ ๐Ÿ€...


Sore harinya, Tristan mengantarkan Ara ke rumah kakeknya, gadis kecil itu rindu sang kakek, katanya. Setelah mengantar Ara, Tristan tidak langsung pulang, ia memilih singgah di salah satu cafenya untuk beristirahat. Jika pulang, di rumah ia akan sendirian, dan hal itu bisa membuat pikirannya kacau karena terus memikirkan Stela.


Sampainya di cafe, Tristan langsung memasuki ruangan yang memang dikhususkan untuk dirinya jika datang. Di sana ia membuka laptop dan memeriksa beberapa laporan mengenai bisnis yang tengah dijalaninya.


...๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ...

__ADS_1


Pagi ini Tristan terbangun karena suara berisik yang dihasilkan oleh ponsel miliknya. Ia bangkit dari tidur dan merenggangkan sedikit tubuhnya.


"Siapa yang menelpon pagi-pagi begini?" Jam di dinding baru menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.


Tristan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja nakas. Ia bisa melihat banyak panggilan tak terjawab dari satu nama.


Gara?


Penasaran, ia mencoba untuk menghubungi balik suami sahabatnya itu.


Panggilannya langsung dijawab dengan cepat.


"............................"


"Ada apa?"


"..........................."


"Hn, benarkah? Baiklah... Aku akan segera ke sana."


.......


Cklek


Tristan membuka pintu ruang rawat VVIP yang ada di rumah sakit terbesar di Jakarta.


"Selamat datang, Uncle...." sambut sang sahabat. Siapa lagi kalau bukan Jovanka.


Tristan berjalan menghampiri brankar yang ditempati Jovanka. Tampak kini wanita itu sedang menggendong bayi merah yang baru saja dilahirkannya beberapa jam lalu.


"Is he a boy?" tanya Tristan begitu melihat bayi merah yang begitu menggemaskan di pangkuan sahabatnya.


"Yes," angguk Jovanka senang. Wajah wanita itu masih terlihat lemah, namun rona bahagia bisa menutupi semua itu.


"Selamat, akhirnya kesampaian juga memiliki anak laki-laki." Tristan beralih pada Gara dan menyalami pria itu.

__ADS_1


"Terima kasih."


Jovanka dan Gara sudah menikah hampir lima tahun, sebelumnya mereka sudah dianugerahi dua orang putri yang cantik, Gwen dan Jovita. Kini harapan pasangan itu kembali terkabul dengan hadirnya anak laki-laki sebagai pelengkap kebahagiaan keluarga mereka.


Iri? Tentu saja. Tristan juga ingin merasakan hal yang sama. Memiliki istri dan anak-anak yang menggemaskan. Huh... Kapan semua itu akan terwujud.


"Tristan?" panggil Jovanka.


"Hm?"


"Bagaimana kabar Stela?" tanya ibu dari tiga anak itu.


Wajah Tristan langsung berubah mendung. Gara menatap tajam sang istri yang dirasa telah merusak suasana. Jovanka meringis. Ia tidak memiliki maksud buruk dengan menanyakan hal itu. Ia hanya penasaran karena sudah lama tidak mendengar kabar Stela.


Tristan sendiri hanya bisa diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Terakhir kali berkomunikasi dengan Stela sekitar dua minggu yang lalu dan saat itu mereka hanya bertukar kabar singkat. Sekarang, bagaimana kabar gadis itu, ia tidak tahu.


"Tristan... sepertinya Jovano ingin digendong olehmu." Gara bersuara. Mencoba mencairkan suasana yang sempat membeku.


"Hehe... Iya Uncle. Vano mau digendong Uncle," tambah Jovanka sembari menyodorkan bayinya ke hadapan Tristan.


Pria itu menyambutnya dengan suka cita. Entah kenapa, ia sangat suka dengan anak-anak apalagi yang masih bayi seperti Vano. Aroma bayi sangat menenangkan buatnya.


.......


Siang ini Tristan ada janji dengan salah satu rekan bisnisnya di TS restoran, restoran terbesar miliknya yang terletak di pusat kota Jakarta.


Selesai dengan pertemuan itu, pria itu berniat untuk pulang karena sudah tak ada lagi hal yang musti dilakukan. Namun, sebelum pulang, ia harus menjemput Ara di rumah sang ayah terlebih dahulu. Keponakannya itu menelepon dan minta dijemput. Saat keluar dari bangunan restoran, sebuah suara menyapa telak gendang telinganya.


"Tristan..."


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih sudah baca...๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2