BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Pernikahan Rafandra


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Tiga hari kemudian...


Hari bersejarah bagi Rafa dan Karina pun tiba. Tristan dan Stela sudah siap dengan penampilan paripurna mereka untuk menghadiri acara resepsi pernikahan itu.


"Cantik," bisik Tristan.


"Kau juga tampan," balasnya.


"Kalau Ala?" Tiba-tiba Ara yang berada di tengah mereka bersuara. Gadis kecil itu tampak mengagumkan dengan gaun kembang bunga-bunga yang dikenakannya.


Tristan dan Stela berjongkok, menyamakan tinggi mereka dengan si kecil.


"Kau terlihat lucu sekali Baby," ucap keduanya berbarengan.


"Hihihi..." Ara terkikik memamerkan gigi-gigi kecil nan rapi miliknya. "Kalau Ala lucu, Mommy sama Daddy cium Ala dong!"


Cup


Kedua belah pipi tembem itu dikecup Tristan dan Stela di masing-masingnya. Tristan kiri dan Stela kanan. Kini bocah itu tertawa.


"Ayo kita berangkat." Tristan menggendong Ara dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya menggandeng sang kekasih.


.......


Ballroom sebuah hotel ternama di Indonesia telah disulap sedemikian rupa. Ruangan itu didominasi oleh warna white-gold, bunga dan dedaunan menjadi penghias yang menambah cantik suasananya.


Pasangan Tristan-Stela beserta Ara sudah mengambil tempat pada salah satu meja yang ada dalam ruang pesta. Kedatangan mereka tadi disambut oleh Gara dan Jovanka yang memang berdiri di pintu masuk untuk menyambut tamu yang hadir.


Stela mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Ia suka dengan dekorasinya. Simple, indah dan enak di pandang mata. Seandainya ia menikah nanti, ia juga ingin yang seperti ini.


Beberapa menit kemudian, ruangan sudah penuh diisi oleh para tamu undangan. MC mulai membuka suara. Pesta diawali dengan sepatah kata dari kedua belah pihak keluarga yang mengadakan pesta. Salah satunya adalah dari pria paruh baya yang dikenal Stela, dialah Narendra—ayahnya Rafandra.


Selesai kata sambutan, pasangan berbahagia—Rafandra dan Karina keluar menampakkan diri. Mereka duduk di singgasana yang telah disediakan. Karina tampak cantik dengan gaun indah membalut tubuh dan mahkota emas yang bertahta di kepalanya. Dandanannya sederhana saja, namun terkesan anggun dan elegan. Rafa pun terlihat gagah dengan setelah tuxedo hitam dan dasi kupu-kupunya.


"Mereka serasi sekali," puji Stela.

__ADS_1


"Nanti kita akan lebih dari itu," sahut Tristan di sampingnya. Nampaknya pria ini tidak ingin sekali kalah dari Rafandra.


Stela tersenyum, ia memeluk mesra lengan kekasihnya. "Semoga," batinnya.


.......


Semua tamu kini tengah menikmati hidangan yang telah disediakan. Beberapa dari mereka juga tampak berkumpul di atas pelaminan sana untuk mengucapkan selamat dan juga berfoto bersama dengan pasangan pengantin.


Ara merengek meminta makanan manis pada Stela, tak sengaja tadi bocah itu memakan hidangan yang sedikit pedas, dan rasanya masih tertinggal di lidah kecilnya.


"Tunggu sebentar, mommy ambilkan." Stela menghentikan acara makannya dan kemudian berdiri, ia berjalan menuju meja prasmanan. Niatnya ingin mengambil beberapa dessert untuk Ara.


Setelah memilih beberapa dan meletakkannya pada sebuah piring, Stela segera berbalik hendak kembali ke meja di mana Tristan dan Ara menunggu. Namun, sesuatu menghadang jalannya hingga membuatnya hilang keseimbangan. Stela bisa saja terhempas ke lantai yang keras jika tidak ada seseorang yang menahannya.


"Maafkan aku." Stela menegakkan tubuh dan melihat jika pakaian seseorang yang telah menolongnya menjadi kotor karena kue-kue yang dibawa Stela berserakan di pakaian orang tersebut.


"Tidak apa-apa, kau baik-baik saja?" tanya pria yang telah menolongnya.


"Iya, terima kasih." Stela menatap pria yang telah membantunya. Pria tampan dengan style rambut Man Bun serta mata coklat yang indah.


"Lain kali hati-hati!"


Wanita sombong yang sedang tersenyum sinis ke arahnya.


"Oh... jadi dia yang dengan sengaja telah menjegal kakiku," pikir Stela. Memang licik sekali wanita itu, balas dendam dengan cara murahan seperti ini. Untung ada pria baik hati yang menolongnya.


"Honey... are you okay?" Tristan datang menghampirinya. Dari kejauhan, pria itu melihat Stela hampir jatuh dan seseorang membantunya, karena cemas ia langsung berlari menuju ke tempat kekasihnya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Stela.


Pandangan Tristan kemudian beralih pada wanita di depan mereka. "Vania," desisnya. Pasti wanita inilah yang membuat kekasihnya hampir terluka. Sialan.


Tristan hendak menghampiri dan mendamprat Vania, tapi Stela mencegahnya. Ia tak ingin terjadi keributan di pesta ini.


"Ayo kita pergi saja," ajak Stela sembari menarik tangan Tristan pergi.


Vania di tempatnya hanya bisa menatap penuh dendam ke arah dua punggung yang perlahan menjauh itu.

__ADS_1


"Apa kau tidak malu setelah melakukan hal barusan, hm?" Evan yang sudah berdiri di samping Vania, entah sejak kapan, mengeluarkan suaranya. Saat kejadian, ia memang berdiri tidak jauh dari sana dan dia juga melihat dengan jelas jika Vania sengaja menjegal kaki gadis pirang tadi.


Vania mendelik, ia kesal kenapa Evan harus menolong musuh yang sangat dibencinya itu. Seharusnya ia biarkan saja tadi Stela jatuh dan menjadi bahan tertawaan para tamu, tapi akibat sifat sok pahlawan pria di sampingnya ini, kesenangan yang ia nantikan gagal terjadi.


"Urus saja istrimu itu dan jangan pernah lagi ikut campur urusanku!" ketusnya dan beranjak pergi meninggalkan Evan.


Evan hanya bisa memandang sedih sosok pujaan hati yang kini tak bisa ia kenali lagi sifatnya. Berubah total. Evan merindukan Vania yang dulu. Sungguh.


"Tenang saja, setelah anak ini lahir. Kita akan berpisah. Kau bisa kembali pada adik yang kau cintai itu."


Evan menoleh dan mendapati Clara sudah berdiri berpangku tangan di sampingnya. Wanita dengan perut buncit itu tampak tersenyum, lebih tepatnya tersenyum remeh.


"Ck... wanita jahat seperti itu yang ternyata kau cintai, ya. Matamu buta?" ejek Clara. Ia bukannya tidak tahu kisah cinta suaminya ini. Ia tahu, ia tahu semuanya, walaupun begitu ia tidak peduli. Evan memang suaminya, tapi suami yang tidak pernah dicintainya.


"Clara!" bentak Evan. Ia rela dihina asal tidak wanita yang dicintainya.


"Apa?" tantang wanita itu. "Mau marah? Silakan!"


Evan terdiam, Clara tahu ia tidak akan bisa marah. Di depan wanita itu ia hanya bisa menjadi pecundang. Itu semua karena ketidakberdayaannya yang hanya sebagai pion bagi istrinya.


.......


Vania memandang gedung hotel tempat diadakannya pesta pernikahan. Ia sudah keluar dari sana. Kalau bukan karena perintah ayahnya yang otoriter itu, ia enggan untuk datang kemari. Untung saja tadi pria tua itu sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya hingga Vania bisa melarikan diri.


"Sialan," desisnya.


"Siapa yang kau umpat, Baby?"


Deg


Vania menoleh ke asal suara. Matanya terbelalak. "Kau!"


"Aku merindukan belaianmu, Baby..." seringai pria berumur sekitar 50an itu.


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2