
...🌻Selamat Membaca🌻...
"Daddy mana, Mommy?" tanyanya.
"Eh?" Stela terdiam tak tahu harus menjawab apa, ia melirik Jovanka dan Tristan untuk meminta bantuan.
"Sayang ..." Jovanka membawa tubuh Ara kembali menghadapnya dan kemudian ia berbisik. "Carikan daddy untuk mommy ya," bisik perempuan itu tepat di telinga Ara.
Ara menatap Jovanka bingung dan setelah mendapat anggukan dari aunty berambut pendek itu, Ara segera berlari menghampiri Stela.
"Apa yang sudah kau katakan padanya?" desis Tristan dengan mata nyalang menatap sahabatnya.
Jovanka mengangkat bahu cuek, malas untuk meladeni sahabat tidak pekanya itu.
"Mommy ..."
"Ya?"
"Kita cari daddy, yuk!" ajak Ara sambil menggoyang-goyangkan tangan Stela.
"Eehh ... cari dimana, sayang?" tanya Stela. Ia melirik Jovanka yang saat ini sedang tersenyum jahil ke arahnya. Entah apa yang telah dibisikkan perempuan itu pada Ara sehingga keponakan Tristan itu meminta hal yang aneh seperti ini.
"Kita cali di lual Mommy, aku juga mau punya daddy ..." rengek Ara.
"Turuti saja Stel, carikan saja Ara seorang pria yang mau jadi daddy-nya!" hasut Jovanka. "Pasti banyak yang mau jadi daddy-nya Ara yang menggemaskan ini, apalagi kalau mommy-nya secantik dirimu." Jovanka mengatakan hal itu sambil melirik Tristan sambil tersenyum licik.
Mata pria itu melotot garang, memang sialan sekali sahabatnya ini. Enak saja menyuruh Ara mencari daddy lain sementara di sini ada pamannya yang sangat pantas menjadi daddy untuknya, apalagi kalau mommy-nya seperti Stela. Oh shit ... membayangkan Ara dan juga Stela tertawa bersama pria lain seperti keluarga bahagia, membuat kepalanya jadi pening lagi. Hell no ... ia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
"Ara sayang..." panggil Tristan.
Ara yang masih merengek pada Stela langsung berhenti dan berbalik menatap sang paman. "Iya, Uncle ..." serunya.
"Kemarilah!"
Ara segera berlari menghampiri Tristan dengan kaki kecilnya.
"Ara mau daddy?" tanya Tristan.
"Iya," angguk sang keponakan. "Uncle mau bantu Ala cali daddy?" tanya anak manis itu penuh harap.
"Hell no ... aku lah yang akan jadi daddy-mu ...," batin Tristan tak rela.
Jovanka tertawa melihat raut wajah Tristan yang menurutnya menggelikan.
Tristab menarik Ara mendekat ke arahnya, ia kemudian melirik Jovanka dan Stela yang tengah memperhatikannya. Ia menjadi sedikit canggung. Pria itu berdehem dan kembali menatap Ara di depannya. "Sayang ... kau sama sekali tidak memerlukan daddy, karena di sini ada uncle," ucap Tristan.
Mendengar itu Ara langsung cemberut. "Aku mau daddy bukan uncle ...," rengeknya.
Tristan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal, ingin sekali mengatakan jika dirinya bersedia menjadi daddy-nya Ara, tapi ia terlalu gengsi untuk mengatakannya di hadapan dua orang itu, apalagi sekarang Jovanka tengah tertawa bahagia mengejeknya dan Stela yang menatapnya penasaran.
"Hm ... maksud uncle begini, Ara tidak perlu mencari daddy lain karena di sini ada kandidat yang jelas cocok untuk menjadi daddy-nya Ara," jelas Tristan tersirat. Ia malu jika harus mengatakan secara gamblang.
Ara menelengkan kepalanya bingung, matanya berkedip-kedip lucu. "Siapa, uncle?"
Shit ... Tristan lupa jika keponakannya masih kecil dan mana mengerti dengan bahasa sulit dipahami seperti yang ia ucapkan barusan.
__ADS_1
Tawa Jovanka akhirnya tersembur juga saat dirinya benar-benar tidak tahan lagi dengan semua tingkah menggelikan sang sahabat. Apa susahnya sih dengan mengatakan. "Uncle yang akan menjadi daddy-mu" hadeuhh ... Jovanka menepuk jidat lebarnya kesal. Ia berjalan mendekati Ara dan Tristan. "Ara sayang tidak sama uncle Tristab?" tanyanya.
"Sayang," jawab gadis itu.
"Uncle sayang tidak sama Ara?" tanyanya lagi. Ara langsung menoleh meminta jawaban pada pamannya. "Uncle sangat menyayangimu, Nak," jawab Tristan.
"Uncle bilang sayang." Ara memberitahu Jovanka dengan polosnya jika sang paman menyayanginya.
Jovanka mencubit gemas pipi Ara. "Mau tidak jika uncle Tristan jadi daddy-nya Ara?" tanyanya kemudian.
DEG
Tristan dan juga Stela langsung tersentak mendengar pertanyaan to the point Jovanka.
Ara terlihat berpikir, ia melirik Stela yang saat ini hanya bisa tersenyum canggung menatapnya. "Mommy, apa boleh uncle Itan jadi daddy-nya Ala?" tanya bocah itu.
"Ehh ... te-tentu saja boleh." Stela tidak mungkin menolak, ia tak tega.
Kemudian pandangan Ara beralih ke arah Tristan. "Uncle mau jadi daddy-nya Ala?" pintanya penuh harap.
"Mau sayang, uncle mau," sahut Tristan cepat. Memang itu yang ia harapkan.
Mata Ara langsung berbinar. "Yeeeeyyy....," soraknya bahagia. "Sekalang Ala punya mommy dan daddy. Ala senang sekali...," katanya heboh.
"Mommy....!" panggil Ara sambil menatap Stela.
"Yes baby?" sahut Stela.
"Daddy...!" selanjutnya ia menatap Tristan.
"Ya, sayang?"
Tristan menatap haru Ara yang terlihat senang sekali. Dalam hati ia berkata, "Kak, berbahagialah di atas sana. Kau tak perlu khawatir karena aku dan Stela akan menjaga dan menyayangimu putrimu seperti anak kami sendiri."
Anak kami?
Ya, anak Tristan dan Stela.
"Dasar bodoh," tuding Jovanka begitu melihat wajah bodoh Tristan yang entah sedang memikirkan apa. "Kalau begitu aku akan kembali ke kantor, semoga cepat sembuh, Tan."
"Terima kasih, Jo."
Perempuan itu pun pergi meninggalkan kamar, Ajeng yang berniat mengantar ke pintu pun dilarangnya. "Mariya masih membutuhkan mommy dan daddy-nya." Begitulah katanya.
Kini tinggal lah tiga orang di dalam sana. Stela memandang Ara yang sedang bermanja-manja di pelukan sang paman... eits... daddy maksudnya.
Stela yang melihat hal itu hanya tersenyum, ia bahagia jika Ara bahagia.
DEG
Tak sengaja matanya bertubrukan dengan mata Tristan yang kebetulan sedang menatapnya. Stela langsung menunduk malu, entah kenapa kejadian hari ini membuatnya sedikit salah tingkah jika mata kelam itu menatapnya. Sementara Tristan hanya bisa tersenyum tipis melihat reaksi Stela yang seperti itu.
Tak lama, suasana hangat di antara mereka pecah saat bunyi bel apartemen terdengar kembali.
"Aku akan melihatnya." Stela langsung pergi untuk melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Cklekk
Saat pintu terbuka, sosok yang terlihat oleh Stela adalah ... model wanita yang tengah dekat dengan Tristan. Kekasihnya, kah? Stela tak tahu.
"Kau?!"
Dia Vania, terkejut saat melihat kehadiran seorang perempuan pirang di apartemen pria yang saat ini sedang diincarnya.
"Maaf, kau siapa?" tanya Stela. Ia tahu siapa wanita itu tapi mereka kan belum pernah berkenalan secara resmi.
Vania berdecih. "Aku yang harusnya bertanya padamu, apa yang kau lakukan di apartemen Trisan?" tanya Vania sengit. Ia mendorong tubuh Stela dan langsung menyelonong masuk begitu saja.
"Tristan?" panggilnya. Ia yang tak melihat kehadiran pria itu di kantor tadi, memilih langsung menghampirinya ke apartemen setelah mendengar kabar dari Jovanka kalau Tristan sedang sakit. Jovanka yang memberitahunya? Oh tentu tidak, ia tak sengaja menguping pembicaraan dua orang itu di telepon.
"Tristab.....!" teriak Vania mencoba mencari keberadaan Tristan.
Tiba-tiba salah satu pintu terbuka, Mariya keluar dari dalam sana. "Mommy, ada apa?" tanya bocah itu pada Stela.
"Tidak apa-apa, sayang" Stela berlari ke arah Ara dan segera menggendongnya.
"Mommy?" Dahi Vania berkerut mendengar panggilan anak kecil yang ia ketahui jika itu adalah keponakan Tristan memanggil Stela dengan sebutan mommy.
"Di mana Tristan?" tanyanya.
"Di dalam," tunjuk Stela pada ruangan yang pintunya setengah terbuka.
Wanita itu langsung masuk ke dalam sana.
"Vania?" Tristan terkejut melihat kemunculan Vania di kamarnya.
"Tristan ..." Vania segera mengubah raut wajahnya. Ia terlihat khawatir dan sedih secara bersamaan. "Kau sakit apa?" tanyanya setelah berada di hadapan si pria.
"Aku baik-baik saja," kata Tristan.
"Kau pucat, ayo kita ke rumah sakit!" ajaknya.
"Aku sudah baik-baik saja," ucap Tristan dengan senyum yang dipaksakan.
"Aku sangat sedih saat mendengar jika kau sedang sakit, aku langsung datang ke sini dan meninggalkan semua pekerjaanku di sana karena mencemaskanmu." Vania berucap lirih sembari kepalanya ia rebahkan di dada Tristan, manja.
Tristan merasa tidak nyaman dengan sikap Vania, apalagi kini Stela dan Ara sedang menatap mereka di depan pintu.
"Aku baik, Van," kata Tristan berusaha mengangkat tubuh Vania dari dadanya.
"Daddy ..." Ara yang turun dari gendongan Stela langsung berlari menghampiri Tristan. Gadis itu mendorong Vania pelan agar menjauh dari daddy-nya.
"Daddy, siapa aunty ini? Kenapa dia peluk-peluk Daddy?" tanya Ara tak suka.
"Dia teman daddy sayang," beritahu Tristan.
Kini Ara menatap wajah Vania tak suka. "Aunty genit tidak boleh peluk-peluk daddy, yang boleh peluk daddy hanya Ala dan mommy," dengan tegas dan lugas Ara memperingati.
"APA?!"
...Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa Like & Comment...🙏🏻😊...
...Terima kasih...