
...🌻Selamat Membaca🌻...
Saat ini pasangan romantis itu berada di atas pesawat yang akan membawa mereka ke destinasi selanjutnya. Ke sebuah kota yang masih berada di pulau Hokkaido. Kota terkenal lainnya yaitu Sapporo. Sapporo adalah ibu kota dari prefektur Hokkaido. Kota ini terkenal dengan tempat permainan skinya, tapi karena saat ini merupakan musim panas, masih banyak hal menarik lainnya yang bisa mereka lakukan di sana.
Tristan dan Stela memilih menginap di sebuah tempat penginapan bergaya tradisional. Kamar mereka saling berhadapan. Setelah menyusun barang bawaan, pasangan itu memilih beristirahat setelah menempuh perjalanan udara yang cukup melelahkan.
...🍻 🍻 🍻...
Hari pertama di Sapporo hanya dihabiskan Stela dan Tristan dengan berjalan-jalan di sekitar area penginapan. Malamnya mereka juga menikmati pemandian air hangat— onsen— yang dapat menghilangkan segala penat dan letih yang terasa setelah perjalanan yang cukup memakan waktu.
Hari kedua, mereka memulai petualangan. Tristan mengajak Stela ke Taman Odori. Taman Odori adalah taman yang dibangun di jalanan utama Kota Sapporo. Taman ini memisahkan antara Sapporo bagian selatan dan utara. Di sudut taman yang sangat besar itu, berdiri Menara TV Sapporo.
Di kaki menara seringkali diadakan berbagai event, seperti Festival Salju Sapporo di musim dingin, Beer Garden di musim panas, dan lainnya. Saat ini tengah diadakan Beer Garden karena memang bertepatan dengan musim panas. Tristan dan Stela hanya melihat saja orang-orang yang tengah berpesta beer, mereka tidak turut serta karena harus pergi ke tempat lain.
Taman Odori dihiasi oleh bunga-bunga yang bermekaran sesuai musim, di taman itu juga terdapat patung dan air mancur. Tidak hanya itu, dari atas menara kita pun bisa melihat pemandangan koyo atau dedaunan yang memerah di musim gugur, festival salju di musim dingin, dan pemandangan lainnya seiring dengan pergantian musim. Saat cuaca cerah, pemandangan area Odori, Kota Sapporo dengan latar belakang pegunungan indah yang terlihat dari atas menara juga sungguh menakjubkan.
Puas menghabiskan hari dengan berjalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Sapporo, Tristan dan Stela beristirahat untuk memulihkan kembali tenaga mereka karena besok destinasi selanjutnya telah menanti.
Di dalam kamarnya, Tristan tengah tersenyum sembari memandang sebuah kotak kecil yang berisi sebuah benda yang rencananya akan ia berikan pada Stela besok. Ia berharap semoga gadis itu menyukai pilihannya.
Berbeda dengan Tristan, Stela di kamarnya sedang berbaring sambil melihat foto-foto yang sempat mereka abadikan tadi lewat ponsel. Ia kadang tersenyum dan tertawa saat melihat pose-pose konyol mereka.
"Liburan yang menyenangkan, seandainya Ara juga ikut." Tiba-tiba Stela jadi mengingat bocah cantik, keponakan Tristan. Ia merindukannya. Sebagai pengobat rindu, Stela hanya bisa melihat kembali foto-foto Ara yang ada di ponselnya.
...🗼 🗼 🗼...
Pagi ini Tristan dan Stela sudah berada di stasiun Sapporo. Mereka akan menaiki JR Line super express menuju stasiun Takikawa. Kota yang akan dikunjungi kali ini adalah Hokuryu.
Kurang lebih 52 menit waktu perjalanan mereka tempuh sampai stasiun tujuan. Selanjutnya untuk mencapai Hokuryu mereka harus naik bus lokal terlebih dahulu.
Akhirnya sampailah mereka di Himawari no Sato. Ladang bunga Matahari terbesar di Jepang
"Kak?" Stela menatap Tristan dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu.
"Kau pernah bercerita jika sangat menyukai bunga Matahari. Makanya aku memutuskan untuk membawamu kemari. Ini adalah ladang bunga Matahari terbesar di Jepang," jelas Tristan bangga. Ia merasa berhasil membuat gadisnya terharu.
"Terima kasih banyak, Kak." Stela langsung menghadiahi sebuah pelukan hangat untuk kekasihnya. "It means so much."
Bunga matahari adalah simbol musim panas. Saat suhu udara meninggi, bunga matahari mekar sempurna. Menunjukkan bunganya yang besar menatap ke matahari. Di kota Hokuryu ini ada lebih dari 1,5 juta batang bunga matahari di area seluas 23 hektar, menjadikannya kebun bunga matahari nomor satu di Jepang. Kita bisa melihat pemandangan kebun bunga matahari dari atas bukit. Sebuah pemandangan yang menakjubkan tentunya. Begitu bagusnya pemandangan di tempat ini, sehingga ada lebih dari 200 ribu pengunjung tiap tahun yang datang.
"Kita sedikit terlambat. Jika kita kemari saat pertengahan bulan agustus maka akan ada festival bunga Matahari di sini," jelas Tristan saat mereka berjalan menuju tempat perentalan sepeda.
"Tidak masalah. Tidak ada festival pun aku sudah merasa sangat bahagia berada di sini," ungkap Stela. "Terlebih jika itu bersama dirimu," tambahnya yang langsung membuat langkah kaki Tristan berhenti.
"Kenapa?" tanya si pirang heran saat melihat Tristan menatapnya tajam.
"Jangan menggodaku di tengah keramaian ini, sayang. Kau tak mau kan jika aku menciummu di sini?" peringat Tristan plus satu senyuman miring di bibirnya.
"Kau gila!" sembur Stela yang segera berlari menjauhi sang kekasih. Cemas jika Tristan benar-benar akan menciumnya di tempat penuh manusia ini. Itu akan menjadi moment yang memalukan.
"Hey... jangan lari!" Tristan menyusul dengan berlari kecil. Senyum bahagia tercetak jelas di wajahnya.
__ADS_1
.......
Stela memeluk erat pinggang Tristan saat mereka bersepeda mengelilingi ladang bunga. Sepedanya unik, bewarna kuning terang, selaras dengan warna bunga matahari. Tiba-tiba suatu ingatan terlintas di benaknya.
"Aku juga pernah waktu itu bersama mas Rafa ke kebun Bunga Matahari," celetuk Stela.
CKIITTT
Tristan mengerem mendadak saat ucapan Stela di belakangnya terdengar.
"Kakak, kenapa berhenti mendadak? Kepalaku sakit terhantuk punggung kerasmu," protes Stela. Tangannya kini sibuk mengelus keningnya yang sedikit nyeri.
Tristan menoleh cepat ke belakang, tatapan tajamnya langsung menghunus mata biru Stela.
"Ke-kenapa?" Gadis itu merinding melihat ekspresi menakutkan kekasihnya. Apa tadi ia secara tak sengaja telah melakukan kesalahan? Atau berkata hal yang membuat Tristan marah?
"Bisa-bisanya kau mengingat kenangan bersama pria lain saat menghabiskan waktu bersama denganku?" desis pria itu tak suka. Jujur saja, ia merasa terkalahkan karena ternyata musuh masa sekolahnya itu sudah terlebih dahulu melakukan ini pada Stela sebelum dirinya. Ia pikir dia yang pertama dan satu-satunya, tapi ternyata... huh... hilang sudah rasa bangga yang begitu disombongkannya di awal tadi.
"Maafkan aku." Stela menunduk. Kini ia sadar akan kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Tak seharusnya ia menyebut nama pria lain saat sedang berdua dengan kekasihnya. Pantas Tristan marah. "Maafkan aku, Kak..." ucapnya lagi, kali ini dengan suara yang terdengar sedikit serak.
"Apa dia menangis?" pikir Tristan. Pria itu turun dari sepeda dan menegakkan standarnya. Stela masih duduk di bangku belakang dengan wajah tertunduk.
Tristan menepuk pelan kepala Stela. "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Pertanyaan bodoh memang, tapi ia tak tahu harus mengatakan apa. Rasa bersalah karena sudah memarahi sang kekasih tiba-tiba menyusup di hatinya. Sebenarnya ia tak marah, hanya cemburu. Cuma pelampiasan rasa cemburunya malah diarahkan pada Stela. Ia menyesal.
"Honey, maafkan aku." Tristan berkata sambil tangannya terulur mengangkat dagu gadisnya.
Deg
Benar saja, wajah Stela sudah dialiri oleh air mata. Ia tak menyangka jika Stela ternyata cengeng juga. Bukannya mendiamkan, Tristan malah tertawa.
"You're so cute Honey, Crybaby..." ledek Tristan. Ia menghapus air mata di pipi Stela.
Kedua pipi Stela menggembung, kesal karena Tristan mengatainya cengeng. "Aku tidak akan menangis jika kau tak memarahiku," katanya merajuk.
"Aku tidak marah sayang, cuma cemburu."
"Tapi tetap saja, kau marah padaku. Seharusnya kau marah pada mas Rafa, dia yang mengajakku waktu itu," omel Stela.
Cup
"Jangan sebut nama pria itu lagi!" pinta Tristan setelah berhasil mengecup bibir mengerucut itu.
"Eh?" Stela yang kembali sadar dengan kesalahannya, hanya bisa menyengir. "Maaf."
"Ya sudah, maafkan aku karena sudah marah padamu. Tapi ingat! Jangan pernah menyebut atau bahkan mengingat nama pria lain saat sedang bersama denganku!"
"Iya." Stela mengangguk.
"Kita jalan lagi?"
"Hmm."
__ADS_1
Tristan menaiki kembali sepeda dan mengayuhnya. Stela melingkarkan tangannya lagi di pinggang Tristan. Ia menyandarkan kepalanya di punggung kokoh pria di depannya. "Jealousy."
"Aku bisa dengar, sayang..." peringat Tristan saat gumaman Stela yang mengatakannya cemburuan terdengar.
"Hehe."
...🚲 🚲 🚲...
Selesai bersepeda, mereka beristirahat di sebuah kedai yang berada tak jauh dari ladang bunga, sekalian makan siang.
Satu jam habis untuk makan dan istirahat. Mereka kembali ke ladang bunga karena memang belum puas bermain di sana.
Stela berlarian di tengah rerimbunan Bunga Matahari yang bermekaran. Kadang ia bersembunyi di antara bunga dan meminta Tristan untuk mencarinya. Persis bocah.
"Ketemu."
"Ketemu."
"Ketemu."
Stela cemberut dan merajuk saat kekasihnya lagi-lagi menemukan tempat persembunyiannya. Bagaimana tidak mudah ketemu jika Stela terus mengeluarkan suara. Tristan geleng-geleng kepala melihat tingkah Childish Stela yang baru kali ini dijumpainya. Stela yang ia kenal sebelumnya selalu bersikap dewasa, tapi kali ini berbeda. Bagaimana pun sikap dan tingkah Stela, Tristan selalu menyukainya.
"Sekarang kau sembunyi, aku akan mencarimu!" perintah Stela.
"Hm. Tutup matamu sampai aku mengatakan sudah."
Saat mata kekasihnya mulai terpejam, Tristan segera beranjak mencari tempat persembunyian. "Sudah," katanya keras setelah tempat bersembunyi yang cocok ditemukan.
"Aku akan menemukanmu." Stela mulai menelusuri rimbunan bunga demi mencari keberadaan sang pujaan hati yang tengah bersembunyi.
Beberapa menit sudah terlalui, namun Stela belum berhasil menemukan Tristan, yang ada kakinya malah lelah berjalan. Ia berhenti sejenak.
Tristan yang sebenarnya berada tidak jauh dari sana, merasa kasihan. Sedari tadi ia terus berpindah-pindah agar Stela sulit menemukannya. Kali ini ia akan mempermudah pencarian Stela, terlebih... ada satu kejutan untuk kekasih cantiknya itu.
"Ela!"
Mendengar teriakan Tristan, Stela segera berlari menyusuri arah datangnya suara.
"Kak?" Stela menyibak satu persatu tangkai bunga yang diduga sebagai tempat Tristan bersembunyi, namun nihil... pria tampan itu masih tak ditemukannya.
"Kak, kau di mana?" Stela jadi cemas. Ia sekarang berada di tengah-tengah ladang bunga sendirian, sementara orang-orang lebih banyak berada di tepian. Apakah Tristan meninggalkannya?
"Ela!" Lagi terdengar suara pria itu. Stela langsung berjalan ke sumber suara.
Deg
Langkah Stela terhenti saat di hadapannya ada setangkai Bunga Matahari yang terlihat berbeda. Kenapa berbeda? Karena ada sepasang cincin yang berada tepat di tengah-tengah bunga serupa matahari tersebut.
...Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...
...Terima kasih...