BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Kecelakaan


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Pemotretan Tristan hari ini selesai juga. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, pria itu sedikit lelah dan ingin cepat sampai di apartemen. Bertemu kedua bidadarinya bisa membuta rasa lelahnya hilang dalam sekejap.


Baru saja dirinya duduk di kursi kemudi mobil, ponselnya berdering tiba-tiba. Itu adalah panggilan dari seseorang yang menjadi manager di sebuah cafe miliknya. Cepat, ia menjawabnya.


"............."


"Baiklah."


Pria itu menghembuskan napas berat setelah sambungan telepon terputus. Niatnya yang ingin cepat sampai di rumah harus ditunda dulu karena ada masalah serius yang terjadi di cafe miliknya. Si manager memintanya untuk datang ke sana. Mau tak mau Tristan harus ke Jakarta Utara, ke tempat di mana cafenya berada.


Sebelum menjalankan mobilnya menuju cafe, Tristan menghubungi Stela terlebih dahulu. Ia mengatakan jika akan pulang terlambat karena harus menyelesaikan masalah yang terjadi di cafenya. Gadisnya hanya mengingatkan agar dia berhati-hati.


Akhirnya Audi S8 itu melesat cepat membelah jalanan kota Jakarta yang masih cukup padat di sore hari. Semakin cepat ia sampai, semakin cepat selesai masalahnya dan semakin cepat ia pulang ke rumah.


.......


Vania bangun dari tidurnya. Fisik dan jiwanya saat ini benar-benar lelah walau sudah tidur berjam-jam lamanya. Satu hal yang disyukuri perempuan itu bahwa mahkota berharganya belum sempat direnggut oleh si pengusaha gila.


Semalam, sebelum semuanya terjadi, Boni mendapatkan telepon dari seseorang hingga membuat pria itu membatalkan niatnya memperkosa Vania dan langsung pergi begitu saja. Vania merasa dewi fortuna berada di pihaknya saat itu. Hari ini pun ia harap begitu. Sudah senja dan pria tua itu belum menampakkan batang hidungnya, semoga saja itu tidak terjadi.


Perlahan, perempuan itu bangkit dari berbaringnya. Ia harus menemukan cara agar bisa melarikan diri dari sekapan Boni. Pertama, Vania menuju ke pintu kamar. Ia mengintip di lubang kunci, dari celah kecil itu ia tak melihat siapa-siapa, suara pun tak ada, hening. Sepertinya tak ada penjagaan terhadap dirinya, ia bersyukur untuk itu.


Setelahnya, Vania mencari sesuatu yang bisa membantunya untuk keluar dari kamar. Tentunya ia membutuhkan kunci untuk bisa membuka pintu, tapi karena ia tak memiliki kunci maka yang dibutuhkannya saat ini adalah suatu benda yang mempunyai fungsi sama seperti kunci.


Senyuman Vania terbit kala mengingat jika ia memiliki hairpins yang sempat di pasang di rambutnya, perempuan itu segera memasukkan hairpins itu ke lubang kunci dan memutar-mutarnya, bergaya seperti perampok di film-film.


Cklek


Berhasil. Setelah cukup lama beraksi, pintu pun terbuka. Vanai bersorak dalam hati. Sebelum menekan knop, ia merapihkan penampilannya terlebih dahulu. Malu jika salah seorang mengenalinya dan melihatnya berantakan seperti ini.


Vania membuka pintu pelan-pelan. Ia melongokkan kepala guna melihat situasi sekitar sebelum melangkah keluar. Setelah dirasa aman, ia mulai berjalan meninggalkan kamar.


Vania mengendap-endap menelusuri rumah tempatnya disekap. Sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Perabotan pun juga tidak seberapa. Ia seperti berada di dalam rumah kosong tanpa penghuni. Memikirkan hal itu membuatnya sedikit merinding. Bagaimanapun juga, ia harus cepat keluar dari tempat ini.


Pintu utama rumah yang tidak terlalu besar itu juga terkunci, lagi-lagi Vania mengandalkan hairpins yang ia miliki. Setelah berusaha cukup lama, pintu pun terbuka. Ia bebas.


Sampainya di luar, Vania langsung berlari kencang menuju jalanan. Memang, rumah tempat Boni menyekapnya berada di antara gang-gang kecil. Sesekali ia harus menutup wajahnya kala berpapasan dengan orang-orang di jalan. Ia tidak ingin dikenali dalam kondisi seperti ini, karena itu memalukan.


Akhirnya ia tiba di jalan besar. Ingin menyetop taksi tapi tak punya uang. Ingin menelepon, ponselnya hilang entah kemana. Vania mulai panik.


Kepanikan perempuan itu bertambah kala di kejauhan sana ia melihat sebuah mobil berhenti. Lampu terang mobil itu menyorotnya hingga silau. Mata Vania melotot saat dari dalamnya keluar Boni dan dua orang anak buahnya.

__ADS_1


"Tangkap dia!" Seruan Boni pada anak buahnya membuat Vania langsung kabur.


"Sial, aku harus ke mana?" Vania bermonolog dalam pelariannya. Jalanan malam ini tidak terlalu ramai, perempuan itu bingung mau minta tolong pada siapa, selain itu polisi yang biasa berpatroli juga tidak terlihat. "Dasar aparat yang suka makan gaji buta!" umpatnya.


Napas Vania mulai ngos-ngosan, ia sudah tidak sanggup lagi berlari terlebih seharian ini perutnya belum diisi apapun. Nahas sekali hidupnya. Tungkai kakinya gemetaran, ia terhuyung. Namun, beberapa detik kemudian secercah harapan muncul di depan sana. Vania mengumpulkan tenaga dan melesat cepat ke tempat seseorang yang akan menjadi malaikat penolongnya.


.......


Urusan Tristan selesai saat hari merangkak malam, pria itu menghela napas kesal karena kelalaian karyawannya membuat ia harus tertahan cukup lama di dalam cafe. Rasa lelahnya semakin menjadi-jadi. Cepat-cepat ia berjalan menuju mobil.


BRAKKK


Setelah berada di dalam mobil, Tristan menyandarkan tubuhnya sejenak sembari menyamankan pantat di kursi kemudi. Namun, suara pintu mobil yang terbuka dan ditutup kasar membuatnya tersentak kaget.


"KAU!"


"Tristan, tolong aku!"


Tristan kebingungan melihat kemunculan Vania yang tiba-tiba, terlebih ketika melihat penampilan berantakan dan wajah panik perempuan itu.


"Ada apa?" tanya Tristan penasaran.


"Aku sedang dikejar orang jahat," jawabnya terengah sambil memasang sabuk pengaman.


"Tan, ayo cepat pergi!" Vania melirik ke belakang. Lewat kaca jendela mobil ia bisa melihat orang-orang itu masih mengejarnya.


Tristan mengikuti arah pandang Vania dan matanya seketika melotot saat melihat dua orang bodyguard berbadan besar itu sudah berdiri di belakang mobilnya.


"Buat masalah saja," umpatnya dongkol. Pria itu segera menghidupkan mesin mobil, memasang seat belt dan melaju kencang meninggalkan parkiran.


Vania menghembuskan napas lega, akhirnya ia bisa bebas juga. Untung ada Tristan, kalau tidak mungkin Boni akan menangkapnya lagi lalu setelah itu memperkosanya. Hiiii... Vania tak bisa membayangkan jika itu benar terjadi pada dirinya.


Tristan fokus menyetir, jalanan yang cukup lengang membuatnya melaju kencang. Sungguh ia tak ingin terlibat masalah yang berhubungan dengan perempuan di sampingnya. Sial sekali ia hari ini karena harus bertemu dengan Vania.


"Tristan?" panggil Vania. Perempuan itu memandang pria yang sedang fokus menyetir.


"Diamlah!" bentak Tristan. Ia sama sekali tidak ingin meladeni Vania untuk saat ini.


Vania mengerucutkan bibir mendapat respon tak menyenangkan Tristan. Perempuan itu hanya bisa diam karena tidak ingin membuat pria di sampingnya marah dan berakhir dengan menurunkannya di jalanan.


"SIAL!" Vania berteriak kesal saat kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati jika mobil Boni mengejarnya.


"Jangan mengumpat di dekatku!" bentak Tristan. Ia jengkel karena Vania membuatnya keget. Untung saja refleksnya bagus kalau tidak ia akan menabrak sebuah mobil di depannya tadi.

__ADS_1


"Ngebut, Tan! Mereka mengejar kita," pekik Vania.


Tristan melirik kaca rear-view yang tergantung di atasnya. Memang benar ada sebuah mobil yang mengikutinya. "Damn. Kau selalu membuatku berada dalam masalah." Umpatan kembali keluar dari mulut Tristan. Pria itu menekan gas penuh demi menambah kecepatan mobilnya.


Vania mencengkram erat assist grip yang berada tepat di atas kepalanya. Laju mobil yang berkecepatan tinggi membuat tubuhnya mengentak-entak. Tristan melirik kaca spion, mobil di belakang hampir menyalipnya dan ia otomatis menambah kecepatan.


Dua mobil itu berkejar-kejaran di jalan raya. Beberapa pengendara lainnya dibuat kaget saat kedua mobil itu menyalip mobil mereka. Tristan merasa lelah berada di posisi seperti ini tapi juga tak bisa berhenti. Ia hanya tak ingin berurusan dengan orang-orang yang mengejar Vania.


Sekali lagi Tristan melirik spion di atasnya, tak ada lagi mobil yang mengejar. Ia bernapas lega dan perlahan menurunkan kecepatan.


"TRISTAN AWAAAAAAAS!"


Teriakan histeris Vania membuat Tristan menoleh ke samping kanan dan mendapati jika sebuah mobil datang dan memepetnya paksa. Ia yang tak cepat tanggap, harus pasrah saat mobilnya digiring keluar alur jalannya.


"Tan, di depan ada mobil!" jerit Vania.


Tristan yang panik terpaksa membanting stir ke tepi hingga mobilnya menubruk pembatas jalan.


BRRAKKK


Bunyi benturan mobil yang menghantam pembatas beton pun terdengar nyaring. Beberapa pengendara yang mendengar dentuman itu menghentikan laju kendaraan mereka. Berbondong-bondong manusia yang berada di tempat kejadian mengelilingi mobil yang sudah hancur bagian depannya.


Tristan membuka mata perlahan, kepalanya pening karena terbentur setir kemudi, bahkan airbag yang biasanya dapat melindungi bagian kepala pun seakan tidak berguna karena bodi depan mobil yang sudah penyok nyaris hancur.


Pria itu dengan susah payah menoleh, keadaan wanita di sebelahnya tidak jauh lebih baik. Vania pingsan, tubuhnya tergencet badan mobil karena memang posisinya persis berada di samping pembatas, darah juga terlihat mengalir dari kepalanya.


'Ya Tuhan'


Di ambang batas kesadarannya, Tristan mengingat obrolannya dengan Stela beberapa jam yang lalu. Gadis itu mengingatkan agar dia berhati-hati, apakah itu merupakan suatu firasat?


'Maafkan aku, Ela'


Kegelapan seketika mengambil alih tubuh lemah pria yang baru saja mengalami kecelakaan itu. Badannya terkulai di kursi kemudi dengan darah yang perlahan turun mengaliri pipi.


Dari kejauhan, terlihat sebuah mobil berhenti. Seseorang yang berdiri di samping mobil menyaksikan kecelakaan yang terjadi dengan senyum menang tersungging di bibir.


"Itu balasan yang pantas kau dapatkan karena mencoba bermain denganku Vania Hermawan."


Dia Boni, masuk kembali ke dalam mobilnya dan melaju pergi. Ya, kecelakaan itu adalah ulahnya.


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2