
...🌻Selamat Membaca🌻...
Stela menatap pantulan dirinya di cermin. Saat ini ia menggunakan dress cantik yang dibelikan sang ibu di salah satu butik milik desaigner terkenal di Indonesia yang tak lain adalah adik ipar ibunya sendiri. Ia sudah kembali kedirinya yang semula. Rambutnya yang dicat semi permanent dengan warna brown kini sudah kembali ke warna aslinya, yaitu pirang. Begitu juga dengan warna matanya, ia tak lagi menggunakan kontak lens.
Saat memandangi wajahnya yang dirias tipis, tiba-tiba perhatian Stela tertuju pada bibirnya yang dilapisi lipstick berwarna nude. Tangannya terangkat untuk menyentuh bibir itu, bahkan setelah tiga hari berlalu ciuman Tristan masih begitu terasa di sana. Bagaimana pria itu memagut bibirnya dengan begitu intens, panas dan basah.
"Oh shit, stop it Stela. Stop it! Don't thinking about that kiss anymore, you're going crazy."
Stela menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan bayang-bayang ciuman waktu itu, walau nyatanya tiga hari ini hanya itu saja yang ia pikirkan.
"Princess, kau sudah siap?" Ambar masuk ke kamar yang ditempati putrinya. Hari ini mereka akan pergi ke kediaman Aryandra dan Larisa. Sudah tiga hari ini Stela tidak masuk kerja dan tak ada kabar pula yang ia berikan pada bosnya itu. Risa pasti bertanya-tanya ke mana ia, jadi sekarang Stela mengajak mommy-nya untuk mengunjungi Risa sekaligus melihat baby Vero.
"Sudah Mom, ayo kita berangkat!" Hari ini Stela akan pergi berdua saja dengan Ambar karena Anthony ikut pergi ke perusahaan bersama Ari.
.......
London
"Jadi bagaimana?" Seorang pria bule berwajah tampan-bersurai perak- bertanya pada pria yang duduk di hadapannya.
Pria yang ditanya itu- Abercio- menatap sang lawan bicara. Ia baru saja mematikan sambungan teleponnya dengan sang ayah yang saat ini masih berada di Indonesia.
"Mereka akan kembali dua hari lagi," jawabnya.
"Ela ikut bersama mereka, kan?" tanya pria itu lagi.
"Ya, dia akan pulang." Abercio bisa melihat raut bahagia dari pria yang berstatus sebagai sahabatnya itu.
"Aku bingung," ucap Abercio.
"Why?"
"Jika yang dijodohkan daddy dengan Ela itu adalah kau, seharusnya dia menerimanya, kan? Bukankah kalian sudah dekat sedari dulu?" kata kakak sulung Stela itu.
"Apa dia tahu kalau aku yang akan dijodohkan dengannya?" tanya si pria itu lagi.
"Hm... sepertinya tidak." Abercio menggeleng. "Daripada memikirkan itu, lebih baik kita pergi makan siang!" ajak Abercio.
"Treat me, ok?" gurau si pria perak.
"Anything for you buddy."
Akhirnya dua pria bule berwajah tampan itu pergi keluar dari ruangan kantor yang beberapa saat lalu mereka tempati.
.......
Setelah bertamu cukup lama di rumah Risa, Ambar dan Stela pergi setelah sebelumnya mereka pamit. Stela juga mengatakan pada bosnya itu bahwa dia tak bisa lagi bekerja di florist karena akan kembali ke London. Risa tentu saja sedih tapi dia tak punya hak untuk menahan Stela bersamanya. Jadi ibu satu anak itu berjanji jika suatu saat nanti dia akan pergi mengunjungi Stela di London.
"Kita ke kantor ya, menjemput daddy?" ajak Ambar. Stela hanya mengangguk.
.......
"Tristan... Tristan!"
Tristan tersentak saat Vania menepuk bahunya cukup keras.
"Kau kenapa? Belakangan ini ku lihat kau sering melamun?" tanya Vania pura-pura khawatir.
"Tak apa," jawab Tristab. Dan pria itu kemudian kembali bermenung.
"Ela, maafkan aku... sekarang kau di mana? Apa kau kembali ke London. Ya Tuhan... aku ingin bertemu dengannmu. Ingin melihat wajahmu, senyummu. Semuanya..."
Vania menggerutu melihat Tristan yang sama sekali tidak mengacuhkan keberadaannya. Daripada sakit hati, wanita itu memilih untuk meninggalkan Tristan.
"Fokus saja pada pekerjaanmu dan jangan ganggu Tristan lagi!" ucap Jovanka saat ia berpapasan dengan Vania.
Model cantik itu mendelik ke arah Jovanka, matanya memancarkan kebencian yang teramat besar pada manager Tristan itu. "Tidak usah mengatur hidupku!" Setelah mengatakannya Vania berlalu.
Jovanka geleng-geleng kepala melihat tingkah Vania yang mulai menampakkan sifat aslinya. Kemudian kekasih Gara itu menghampiri Tristan yang tengah duduk termenung.
"Anak ini jadi semakin pendiam setelah Stela pergi. Apa yang bisa ku lakukan untuknya?" pikir Jovanka iba.
.......
Rafa baru saja keluar dari gedung Wijaya Corp. Disana ia bertemu dengan Ari dan juga ayahnya Stela, Anthony. Selain itu ia juga mendapatkan pekerjaan, sebenarnya bukan itu yang ia harapkan, tapi tak apa, karena sekarang ia tahu dari Anthony kalau Stela sedang berkunjung ke rumah bosnya, siapalagi kalau bukan Risa.
"Rafa!"
__ADS_1
Tepat saat kakinya melangkah keluar dari pintu, Rafa dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan.
DEG
Perempuan cantik yang sangat ia rindukan. Tapi kenapa? Kenapa baru sekarang dia muncul?
"Rafa, aku merindukanmu." Dia berlari menghampiri Rafa dan memeluk tubuh pria itu dengan erat.
DEG
"Kau?" Rafa tak sanggup berucap. Jantungnya berdetak liar di dalam dada. Rasa itu nyatanya masih ada.
"Aku kembali, aku kembali untukmu. Untuk janji kita," lirih perempuan itu di telinganya.
"A–aku juga merindukanmu." Akhirnya setelah sekian lama, tangan Rafa terangkat juga untuk membalas pelukan perempuan itu.
DEG
"Mas Rafa..."
Seorang gadis cantik berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikan dua manusia yang saling berpelukan mesra.
"Bukankah mas Rafa bilang menyukaiku? Lalu sekarang apa?" batinnya.
.... ...
Rafa memeluk erat tubuh perempuan yang pernah ia cintai dengan sangat, atau mungkin masih ia cintai hingga saat ini.
"Aku merindukanmu."
DEG
Mata sipit itu membola saat menangkap pemandangan di seberang sana. Seorang perempuan cantik dengan rambut pirang dan manik safir tengah mematung menghadap ke arahnya.
"Ela?"
Jantung pun langsung berdegup kencang kala menyadari jika perempuan itu adalah Stela, gadis yang tengah ia galaukan selama tiga hari ini, juga gadis yang membuatnya datang ke gedung ini.
Rafa langsung melepas paksa pelukan di tubuhnya, dengan perasaan gelisah ia berlari menghampiri Stela.
"Mommy masuk duluan ya?" bisi Ambar yang diangguki Stela. Ibu tiga anak itu memberi ruang untuk sepasang anak muda di.sana menyelesaikan masalahnya sendiri.
Selepas Ambar pergi, Rafa langsung meraih kedua tangan Stela dan menggenggamnya erat.
"Ela, kamu ke mana saja, hm? Tiga hari ini aku menghubungimu, tapi tidak ada jawaban sama sama sekali. Aku cemas memikirkanmu," ucap Rafa.
Stela hanya diam, matanya tak sekali pun menatap lawan bicaranya, saat ini mata indah itu mengarah pada perempuan cantik yang terlihat sangat dewasa di belakang sana.
"Ela..." Panggil Rafa saat ia sadar ke mana pandangan gadis itu mengarah. Jujur, dirinya sangat gugup saat ini. Ia takut Stela akan salah paham setelah melihat jika tadi dia berpelukan dengan perempuan lain.
"Siapa?" Akhirnya satu pertanyaan lolos dari bibir ranum Stela.
Tubuh Rafa menegang, yang ditakutkannya pun terjadi. "Di-dia..." Rafa tak tahu harus berkata apa, karena ia sendiri pun bingung akan memaknai hubungan apa yang tengah ia jalani dengan perempuan di belakang sana.
"Kekasihmu, Mas?" tanya Stela. Mata safir itu menatapnya tajam.
"Dia..."
Ingin berkata tidak, tapi ia sama sekali tak pernah memutuskan hubungannya dulu dengan perempuan itu. Ingin mengangguk saja, namun ia takut itu melukai perasaan Stela. Bagaimana pun juga Rafa pernah berkata jika ia menyukai Stela dan tak mungkin ia sekarang mengatakan jika ia sudah memiliki kekasih. Dirinya akan terlihat sangat brengsek jika hal itu sampai terjadi.
Melihat Rafa yang hanya diam, Stela sudah bisa menebak jawabannya. Jadi kini ia tak perlu lagi merasa bersalah. Selama tiga hari ini ia sudah memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Rafa.
"Mas!"
"Y-ya?"
"Kau adalah orang pertama yang menyatakan perasaan padaku. Aku merasa nyaman dan aman bersamamu, kau pria baik dan sangat perhatiaan. Aku menyayangimu Mas, tapi maaf... itu hanya sebatas sahabat, kakak dan tak lebih." Stela akhirnya dapat mengutarakan semua isi hatinya.
DEG
"Ela, hanya sebatas itu?" Rafa begitu kecewa mendengar penolakan Stela terhadapnya.
Stela merasa jika Rafa sudah seperti kakak untuknya. Tak jarang, jantung berdegup kencang dan pipi merah merona karena gombalan pengacara muda itu, tapi itu semua hanya sebatas persahabatan. Tak ada getar cinta yang Stela rasa. Walau sejujurnya ia sendiri belum terlalu paham apa yang dimaksud dengan cinta.
"Maafkan aku Mas, tapi inilah jawabanku. Semoga kau mengerti," jawab Stela.
Rafa mendesah, perjuangannya selama sebulan ini telah menemui titik akhir. Sudah saatnya untuk menyerah, tak ingin memaksa karena memang hati tak bisa dipaksa. Seandainya Stela menerima, ia akan mencoba memperjuangkan rasanya pada gadis itu dan memilih meninggalkan masa lalu yang pernah menyakitinya di belakang sana.
__ADS_1
"Aku mengerti..." Pria itu berujar pasrah.
"Mas, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak padamu. Selama di sini kau selalu menemaniku, kau memperlakukanku dengan sangat baik. Aku beruntung bertemu denganmu, kau adalah kenangan yang tak akan pernah ku lupakan. Dua hari lagi aku akan kembali ke London, aku tak tahu apakah aku bisa berkunjung lagi kemari atau tidak. Jaga dirimu baik-baik dan sampaikan juga salamku pada paman dan bibi."
Stela rasa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Rafa jadi ia memutuskan untuk pamit.
"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" pinta Rafa dengan wajah penuh harap.
"Tentu, pelukan perpisahan." Stela segera merentangkan tangannya dan langsung disambut Rafa.
Mereka berpelukan cukup lama. Di belakang Rafa, Stela sibuk menghapus air matanya.
"Rambutmu pirang?" tanya Rafa tepat di telinga Stela. Ini kali pertama baginya melihat penampilan asli dari gadis itu.
"Iya, aku sangat mirip dengan daddy," jawab Stela irih.
"Matamu indah," puji pria itu kemudian.
"Katakan itu juga pada daddy!"
Rafa tertawa pelan, "Kau sangat cantik Ela."
"Berhenti menggodaku, Mas!" rajuk Stela jengah.
Rafa terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan pernah lupakan aku!"
"Tidak akan," sahut Stela. "Sekarang pergilah!" Ia lebih dulu melepaskan pelukannya. "Dia menantimu." Tatapan Stela mengarah pada perempuan yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.
Rafa menoleh ke belakang, di sana masih ada perempuan yang menantinya. Seseorang yang pernah mengenalkan cinta dan juga luka padanya.
"Siapa namanya?" tanya Stela.
"Karina," jawab Rafa.
"Sampaikan salamku padanya."
"Y-ya."
"Kalau begitu aku pergi dulu, mommy dan daddy sudah datang," pamit Stela kala melihat jika saat ini.Anthony dan Ambar sedang berjalan ke arahnya yang masih berdiri di samping mobil mereka.
"Jangan lupa kirimkan kabarmu selama di sana, aku pasti akan sangat merindukanmu."
Stela ersenyum dan mengangguk. "Pergilah! Jangan biarkan perempuan menunggu."
"Ya." Rafa langsung berbalik pergi menuju tempat di mana Karina menunggu. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan orang tua Stela.
"Terima kasih karena selama ini sudah menjaga putriku." Anthony menepuk pelan bahu Rafa saat mereka berdiri saling berhadapan.
"Sama-sama, Paman," balas Rafa.
Akhirnya mereka berpisah juga, Stela masuk ke dalam mobil bersama orang tuanya. Sementara Rafa kini sudah berada di hadapan Karina.
"Apa kau masih mencintaiku?" Rafa langsung disambut dengan pertanyaan dari Karina. Melihat kedekatan kekasihnya dan perempuan pirang cantik tadi membuatnya penasaran. Masih adakah namanya bertahta di hati sang pria atau tidak.
Rafa tersenyum. "Delapan tahun kita bersama, kau pikir akan mudah bagiku untuk menghilangkan rasa itu?" Ia balik bertanya. Mereka menjalin hubungan saat Rafa masih berumur 17 tahun sementara Karina saat itu sudah menjadi seorang mahasiswi, perempuan itu dua tahun lebih tua daripadanya.
Selama 5 tahun bersama menjalin asmara, tiba-tiba Karina memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri tanpa meminta persetujuan Rafa. Tiga tahun mereka berpisah tanpa bertukar kabar, kini ia telah datang untuk merajut kembali tali kasih yang sempat putus. Syukurlah... ia belum terlambat.
Karina langsung menghambur memeluk Rafa. "Aku mencintaimu Rafa, sangat. Maaf atas keegoisanku selama ini. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, selamanya aku akan tetap berada di sisimu."
"Maafkan aku Karin, maaf karena sudah mengkhianati rasaku dengan bermain hati dengan perempuan lain."
"Kau tak salah, aku yang salah karena telah membuatmu seperti itu. Tapi sekarang aku sudah ada di sini, bersamamu. Kita akan mulai semuanya dari awal lagi."
"Ya."
Di dalam mobil, Stela menangis tergugu di pelukan sang ibu. Sedih rasanya jika harus berpisah dengan orang-orang yang ia sayangi di sini. Ada Risa, Arya dan juga bayi lucunya. Rafa dan kedua orang tuanya yang sangat baik. Jovanka, sudah lama Stela tak bertemu dengan perempuan itu. Ia akan menghubunginya nanti untuk berpamitan. Dan satu orang lagi, entahlah... Stela belum sanggup bertemu dengannya untuk saat ini.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers.....
...🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1