
...🌻Selamat Membaca🌻...
Di dalam mobil...
Tristan mengemudikan mobilnya dengan frustasi, pasalnya sedari tadi, kekasih yang dirinduinya selama lima tahun ini hanya diam dan enggan menatapnya.
"Sayang...." panggilnya.
"Hm..." dehem Stela tanpa ada niatan mengalihkan pandangannya dari keramaian jalan raya.
"Kau marah?" Tristan sengaja mencolek pinggang Stela hingga membuat si gadis terkaget.
"Menurutmu?" Gadis itu akhirnya menoleh, dengan mata melotot ia menatap Tristan kesal. "Lima tahun ku tinggal, ternyata kau sudah mendapat pengganti diriku. Bukannya lebih baik malahan kau berhubungan dengan tante-tante," ejek Stela sinis.
"Aku tidak ada hubungan dengan wanita tadi, sayang. Dia hanyalah ibu dari teman balletnya Ara." Tristan menjelaskan.
"Oh, tapi dia terlihat menyukaimu..." tambah Stela.
"Ya dan aku tidak," sambung Tristan.
"Hm..." Stela mengangguk malas. Sebenarnya ia yakin Tristan memang tidak mengkhianatinya, hanya saja ia sedikit kesal dengan tante tadi yang mengejar-ngejar kekasihnya.
"Kapan sampai? Kenapa tidak mengabari ku?" tanya Tristan kemudian.
"Semalam. Aku kemari bersama dengan keluarga Wijaya yang lain. Kebetulan mereka datang berkunjung ke London beberapa hari yang lalu untuk menghadiri acara ulang tahun triplet yang keempat," jelas Stela.
Triplet adalah julukan untuk anak kembar tiga dari pasangan Abercio dan Irina. Two princes dan princess.
"Kenapa kau tidak bilang kalau akan kembali ke Indonesia?" todong Tristan setelah menepikan sejenak mobilnya di pinggir jalan. Ia tidak ingin menyetir dalam keadaan tidak fokus.
"Aku kabur..." jawabnya santai.
"Apa? Maksudnya bagaimana? Bukankah kau kemari bersama keluarga Wijaya?" sahut Tristan heran.
"Iya, aku menumpang di jet pribadi Wijaya, tapi mereka tidak tahu kalau aku ada dalam pesawat itu sampai kami tiba di Indonesia. Dengan kata lain, aku ini penumpang gelap." Stela terkekeh kala mengingat wajah shock paman, bibi dan sepupunya waktu itu.
Tristan terganga mendengar penjelasan Stela. Satu hal yang membuatnya penasaran adalah kenapa Stela harus kabur. "Kenapa harus kabur?" Akhirnya ia tanyakan juga.
Stela menyenderkan tubuhnya pada kursi mobil lantas menjawab. "Daddy tidak memperbolehkan aku ke Indonesia sebelum acara perayaan ulang tahunku yang ke-22."
Tristan diam sejenak dan berpikir. Mengingat-ingat hari ini adalah tanggal berapa. Ah... Dan ternyata seminggu dari sekarang adalah hari ulang tahunnya Stela.
"Kenapa tidak menunggu hari itu saja, baru kau datang kemari," ucap Tristan.
Stela menatapnya dengan bibir mengerucut. "Dasar tidak peka!" gerutunya.
Kening Tristan mengernyit, apa tadi Stela baru saja mengatainya tidak peka? Tapi atas dasar apa?
__ADS_1
"Aku mau merayakan ulang tahunku kali ini bersamamu, Tristan sayang...,"
Oh... Jangan tanyakan bagaimana berbunga-bunganya hati Tristan mendengar hal itu.
.....dan juga Ara," tambah Stela kemudian.
Tristan meraih tangan sang kekasih dan menggenggamnya. "Kau ingin perayaan yang seperti apa? Aku akan menyiapkan semuanya," tanya pria itu antusias.
"Perayaan kecil saja, yang hanya ada aku, kau dan Ara." Stela menjawab.
"Sure, akan aku lakukan." Tristan menatap Stela dan tersenyum. Perlahan wajahnya mendekat pada si gadis pirang hendak menciumnya, namun segera ditahan oleh Stela.
"Mau apa?" tanya gadis itu, garang.
"Menciummu," jawab Tristan.
"Tidak ada cium-cium ya, aku masih kesal padamu." Stela melepas paksa tangannya yang digenggam Tristan dan membuang wajah ke arah jendela mobil. "Sekarang ayo jalankan lagi mobilnya!" pintanya kemudian.
Dengan sangat terpaksa dan hati yang dongkol karena ciumannya ditolak, Tristan mau tak mau menjalankan mobilnya menuju rumah.
Sepanjang perjalanan, mereka membahas rencana untuk memberikan kejutan pada Ara atas kepulangan Stela.
.......
Tristan sampai di kediaman sang ayah setelah sebelumnya mengantarkan Stela ke rumah. Ia akan menjemput putri kesayangannya.
"Daddy lama," ucap si gadis kecil dengan wajah cemberut.
Tristan terkekeh dan mengacak surai lembut Ara. "Sorry baby, daddy menyiapkan sebuah kejutan untukmu di rumah."
Mendengar hal itu, air muka Ara langsung berubah. Wajahnya sumringah dengan sepasang mata yang berbinar senang. "Benarkah? Kejutan apa?" tanyanya penasaran.
"Bukan kejutan lagi namanya kalau daddy beritahu," jawab Tristan.
"Baiklah..."
Tristan dan Ara langsung berpamitan kepada tuan Gautama. Pria tua itu terlihat sedikit sedih kala melepas anak cucunya pergi karena kini dia akan tinggal sendiri lagi. Namun, itu semua tidak masalah, sebab Tristan sudah mau kembali untuk menerima dirinya yang penuh dosa ini.
.......
Sesampainya di rumah, Ara langsung berlari masuk ke dalam. Sepertinya dia sudah tidak sabar lagi untuk melihat kejutan yang telah disiapkan Tristan untuknya.
Saat dirinya sudah berada di ruang tengah, Ara bisa mencium aroma lezat makanan dari dapur. Cepat, kaki kecilnya melangkah menuju arah datangnya aroma.
"Woahhhh...." Ara begitu takjub saat melihat meja makan penuh dengan makanan yang terlihat masih panas. Beberapa diantaranya adalah makanan kesukaannya. Namun, saat matanya tertumbuk pada satu makanan, gadis itu terdiam.
Melihat makanan kesukaannya yaitu sosis berbentuk gurita, membuat ingatannya kembali pada Stela.
__ADS_1
"Mommy..." lirihnya rindu.
Jujur saja, sampai saat ini Tristan bahkan tidak bisa membuat sosis dengan bentuk gurita persis seperti yang Stela buat, tapi kini di hadapannya, Ara melihat sosis itu nyata adanya. Apakah ini kejutan yang dimaksud sang ayah? Bahwa kini dia bisa membuat sosis gurita persis seperti buatan Stela.
"Ada apa sayang?" Tristan berjalan menghampiri Ara yang termenung menatap hidangan di meja makan. Tristan pun turut kaget dengan hal itu. Apakah Stela yang memasak semua ini, pikirnya.
"Daddy...." Ara langsung menghambur ke pelukan Tristan. Gadis itu terisak kecil. Ia sangat suka kejutan ini.
"Terima kasih sudah membuatkan makanan ini untuk Ara, Dad. Ara suka sekali dengan kejutannya," ucap Arabella.
Tristan bingung sendiri. Padahal rencana awalnya tidak seperti ini, tapi apa boleh buat. Cepat atau lambat, Ara juga akan tahu apa kejutan yang sesungguhnya.
"Sekarang Ara masuk kamar, ganti baju dan bersih-bersih, ya. Kita akan makan sebentar lagi."
"Iya, Daddy..."
Selepas Ara pergi, Tristan juga memilih masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih.
Beberapa menit kemudian, Ara yang sudah tidak sabar menyantap makanannya segera berlari ke ruang makan begitu selesai dengan kegiatannya di kamar.
"Daddy... Ara sudah si-ap," suaranya tercekat. Gadis kecil itu mematung di tempat saat ia menemukan seseorang yang sangat dirindukannya tengah duduk manis di meja makan.
"Hi Princess!" sapa sosok di meja makan itu yang tak lain adalah Stela.
Ara masih membeku di posisi awalnya. Bocah itu masih shock dan berusaha mencerna apa yang tengah terjadi.
Melihat keterdiaman Ara, Stela memilih menghampiri. Ia berdiri dengan dua lutut untuk menyamakan tinggi keduanya. "Mari tidak merindukan mommy? Mommy rindu sekali loh dengan putri kecil ini," ucap Stela sambil menangkup pipi Ara yang masih chubby seperti dulu.
Ara tersadar, sepasang mata bulat miliknya mulai berkaca-kaca. Hanya sebentar sebelum cairan hangat mengalir bebas keluar dari sana.
"Mommy... mommy!" Ara menubruk tubuh ibu yang sangat dirindukannya itu. Ia peluk erat-erat seakan tubuh itu akan lenyap jika tidak bersentuhan dengannya. "Ara sangat merindukan Mommy, jangan tinggalkan Ara lagi!" pintanya terisak.
"Iya sayang, mommy tidak akan pergi lagi." Dipeluknya tubuh putri kecilnya yang sudah tumbuh besar itu.
"Daddy mau peluk juga." Tristan yang sedari tadi menyaksikan hal itu, kini ikut bergabung. Ia berjongkok dan merengkuh dua perempuan tersayangnya ke dalam dekapan.
KRUYUK....
Sedang asyik menikmati momen mengharukan. Suara perut seseorang membuyarkan keharuan yang terjadi. Mereka bertiga saling bertatapan. Mencari satu di antara mereka yang memiliki perut keroncongan.
Stela nyengir. "Bisa kita makan sekarang, aku lapar sekali," rengeknya.
Tristan dan Ara tertawa. Kini kebahagiaan itu mereka rasakan lagi. Stela kembali dan keluarga mereka lengkap sudah.
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
__ADS_1
Terima kasih😊