
...🌻Selamat Membaca🌻...
Tepat pukul sembilan pagi, Tristan, Stela dan Arabella sudah rapi dan siap untuk pergi. Satu tenteng tas besar ada di lantai tepat di samping kaki Stela. Tas itu berisi keperluan dirinya dan Ara selama mereka berlibur nanti.
Semalam Jovanka mengabarkan bahwa jadwal pemotretan Tristan untuk besok lusa diundur seminggu lagi, jadi dia memiliki dua hari kosong. Oleh karena itu, Tristan mengusulkan pada dua gadis kesayangannya untuk pergi ke pantai dan menginap semalam di sana.
"Kita pergi sekarang?" kata Tristan. Pria itu menenteng tas besar milik Stela, sementara perlengkapannya sendiri berada di dalam ransel yang digendong di belakang punggungnya.
"Let's go Daddy..." Ara adalah orang yang paling senang dengan liburan kali ini. Apalagi saat bocah itu tahu jika mereka akan pergi ke pantai dan tentu di sana mereka akan main air, Ara sudah sangat tidak sabar untuk itu. Liburan mereka kali ini tidaklah jauh, Tristan memilih pantai Ancol sebagai tujuannya.
Sepanjang perjalanan Ara tak henti berceloteh, gadis itu membeberkan rencana liburan yang akan ia lakukan nanti. Dimulai dari berenang, bermain ombak, membuat istana pasir, mengumpulkan kerang, makan es krim dan masih banyak lagi.
Tristan dan Stela tersenyum bahagia melihat keceriaan Ara, bocah itu seakan lupa kalau orang tuanya sudah pergi dan tidak akan kembali lagi. Beruntungnya, sekarang dia memiliki orang tua pengganti yang tak kalah menyayanginya seperti anak sendiri, yaitu Tristan dan Stela.
"Ini pertama kalinya aku pergi ke pantai Ancol." Saat Ara sudah tertidur nyenyak di bangku belakang, Stela mulai buka suara.
"Benarkah? Setahuku mommymu orang Indonesia asli, kan?" tanya Tristan. Ia sesekali melirik ke samping tempat Stela duduk dan lebih banyak fokus melihat jalanan di depannya.
Gadis itu mengangguk. "Ya. Mommy orang Indonesia. Setelah menikah dengan daddy, mommy tinggal di Inggris. Kami semua lahir di sana dan sesekali berlibur ke negara ini untuk mengunjungi keluarga mommy," jelasnya.
"Hm? Selama kau berkunjung, apa tidak pernah kau pergi ke pantai?"
Stela meringis dan menoleh pada Kekasihnya. "Aku tidak pernah ikut kalau keluargaku pergi ke Indonesia," akunya.
"Heh? Kenapa? Jadi ini kali pertamamu kemari?" tanya Tristan kaget.
"Ya. Dulu sekali aku paling malas untuk berpergian jauh. Setiap kali keluargaku ke Indonesia, aku hanya akan stay di rumah," jawabnya.
Tristan mengangguk paham, kemudian satu ingatan terlintas di benaknya. "Jadi kau rela terbang jauh ke Indonesia karena tidak ingin dijodohkan oleh daddymu, ya kan?"
Mendengar perkataan Tristan, Stela menoleh cepat. "Dari mana kau tahu, Kak?"
"Daddymu waktu itu memberitahukannya kepada kami, maksudku aku dan ya... Rafandra," jelasnya sedikit enggan kala menyebut nama rival semasa sekolahnya itu.
Stela terkekeh, ia ingat jika Tristan dan Rafa selalu terlihat seperti orang bermusuhan setiap kali bertemu. Ia jadi penasaran apa yang menjadi penyebabnya.
"Bolehku tanya sesuatu?" ucap Stela ragu. Takut Tristan tidak suka dengan apa yang akan ditanyakannya.
"Tentu sayang, kau mau tanya apa?" Tristan tersenyum melihat wajah Stela merona saat ia panggil sayang.
"Hm... ada masalah apa antara kau dan mas Rafa? Soalnya setiap kali bertemu kalian selalu mengeluarkan aura permusuhan yang sangat pekat."
Wajah Tristan langsung berubah masam, Stela menciut melihatnya. Pasti pertanyaannya telah menyinggung Tristan hingga pria itu menampilkan raut tak senangnya saat ini.
"Kak Tristan?"
"Kau memanggilnya begitu mesra sementara aku hanya kau panggil dengan kakak. Apa-apaan itu? Sama sekali tidak adil. Aku 'kan kekasihmu!"
Eh?
Stela terganga, pikiran buruk tentang Tristan yang akan marah sudah menakuti dirinya sedari tadi, tapi yang terjadi malah diluar pemikirannya. Pria itu lagi-lagi merajuk hanya karena sebuah nama panggilan. Childsih sekali.
Gadis pirang itu mendesah lemah, perlu kesabaran ekstra menghadapi pria dewasa yang merepotkan apabila sifat labilnya kambuh.
"Sayang, mau 'kan jawab pertanyaanku?" tanya Stela lembut. Bisa ia lihat kini pria itu tersenyum puas.
"Hn, aku dan dia adalah rival semasa sekolah dulu. Entah kenapa itu sepertinya berlanjut sampai sekarang," jawabnya.
"Bagiamana ceritanya kalian bisa menjadi rival?"
"Ceritanya panjang dan lain kali saja aku ceritakan ya." Tristan berkilah. Rasanya gengsi kalau harus menceritakan bagaimana badungnya ia di masa sekolah dulu.
Stela mengangguk pasrah walau sebenarnya ia ingin sekali mendengar cerita itu.
"Sekarang aku juga punya satu pertanyaan untukmu." Kini giliran Tristan yang bertanya. Ia juga punya hal yang membuatnya penasaran.
"Kenapa sayangku ini tidak mau dijodohkan?"
Stela mendengus mendengar kata sayangku yang diucapkan Tristan, ia jadi ingin menggoda pria itu jadinya. "Jika sayangmu ini mau dijodohkan, maka sayangmu ini tidak akan pernah bertemu dengan sayangku ini." Ia menjawab pertanyaan Tristan sambil tangannya terangkat mencubit gemas pipi pria itu.
__ADS_1
Mereka tertawa geli mendengar banyaknya kata sayang yang muncul.
"Apa kau kenal dengan pria yang akan dijodohkan denganmu?"
"Ya. Aku kenal. Sangat mengenalnya."
"Lalu apa yang membuatmu menolaknya?"
"Kau tahu, aku merasa masih kecil dan belum siap untuk menikah. Lagipula dua kakakku juga belum menikah, kenapa tidak mereka saja yang dijodohkan lebih dulu."
"Hm. Iya juga sih," angguknya. "Dan semoga saja jodoh yang disiapkan Tuhan untukmu itu adalah aku," lanjut Tristan dengan percaya diri.
"Semoga Tuhan mendengarkan do'amu, Kak."
.......
Mobil Tristan sampai di sebuah penginapan yang terletak tidak jauh dari pantai Ancol. Setelah memarkirkan mobilnya di area khusus parkir, pria itu mengajak Stela dan Ara yang kebetulan sudah bangun untuk memasuki penginapan yang telah mereka pilih.
"Ayo!" ajak Tristan yang sudah selesai dengan urusan pesan memesan.
Mereka memasuki lift dan menekan tombol untuk menuju lantai di mana kamar yang mereka pesan berada.
Tristan menggesek key card pada pintu kamar. Sebuah ruangan bertipe double room dengan ukuran deluxe telah dipilihnya.
"Bersiap-siaplah, sebelum ke pantai kita akan makan siang dulu di restoran dekat sini," ucap Tristan.
"Heum." Stela dan Ara mengangguk semangat.
Dua gadis beda umur itu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, sementara Tristan menuju balkon untuk melihat pemandangan. Dari atas tempatnya berpijak, laut terlihat jelas. Sangat indah berkilauan karena ditingkahi sinar matahari yang terik di siang bolong.
Drrrttt... drrrtttt...
Ponsel yang berada di saku celananya bergetar pertanda ada pesan yang masuk, Tristan melihat siapa yang mengirim. Wajahnya langsung berubah masam begitu mengetahui jika pesan tersebut berasal dari Vania. Wanita itu memberitahunya alamat sebuah restoran untuk makan malam besok.
"I don't give a damn," rutuk Tristan sambil menonaktifkan ponselnya. Hari ini mereka akan bersenang-senang dan ia tidak akan peduli pada apapun yang bisa menganggu kesenangannya.
Puas memandang lautan yang terbentang di depan sana, Tristan kembali memasuki kamar. Tampak Stela dan Ara baru keluar dari kamar mandi.
"Kak?" Stela mengejutkan kekasihnya yang tengah melamun. "Kenapa?" tanyanya heran.
"Kau cantik," aku Tristan terang-terangan.
"Sudah dari dulu," jawab Stela dengan bangga.
Tristan mendengus, ia menghampiri Stela dan mengacak pelan surai pirang gadisnya.
"Issh..." Stela yang kesal langsung menyingkirkan tangan Tristan dari kepalanya. Ia sudah menyisir rambutnya tadi dan kini jadi kusut lagi karena ulah pria itu.
"Aku ke kamar mandi dulu." Sebelum itu Tristan menaruh ponselnya di dalam laci nakas yang ada di samping tempat tidur. Tak lupa ia juga mengambil baju ganti dari dalam ranselnya.
"Heum," sahut Stela sembari merapikan kembali rambutnya.
Kurang lebih sepuluh menit, Tristan keluar dari kamar mandi. Di sofa kamar nampak Stela dan Ara tengah mengoleskan krim tabir surya ke tubuh mereka agar tidak terpanggang sinar matahari di cuaca yang panas ini.
"Oleskan ini di tubuhmu, Kak." Setelah dirinya dan Ara selesai, Stela memberikan botol krim itu pada Tristan yang sedang duduk di tempat tidur.
"Pakaikan!" pinta pria itu manja.
"Pakai sendiri." Stela melempar botol krim itu ke atas tempat tidur dan kembali menghampiri Ara, tidak peduli pada wajah cemberut yang diperlihatkan oleh kekasihnya.
... ....
Selesai mengisi perut di salah satu restoran, mereka bertiga langsung bergegas menuju pantai. Ara yang sudah semangat sekali sampai berlarian saat matanya melihat pemandangan laut yang biru jernih.
"Jangan lari-lari, Ara!" pekik Stela. Ia ikut berlari mengejar Ara, takut kalau bocah itu mendadak menceburkan diri ke laut saking excited-nya.
Langkah Tristan terhenti, ia berdiri cukup jauh dari bibir pantai. Melihat banyaknya orang yang memadati pantai, ia jadi sangsi untuk ikut bersama dua gadisnya. Lihat saja, sekarang banyak orang yang berlalu lalang melintasi dirinya—menatapnya penuh selidik. Untung saja saat ini ia mengenakan kacamata dan juga masker untuk menutupi separuh wajahnya ke bawah. Kalau banyak orang yang mengenali dirinya sebagai seorang model terkenal, bakalan repot, apalagi kalau harus melayani permintaan foto dari wanita-wanita seksi pengunjung pantai, ia sungguh malas.
Tristan kembali fokus pada dua orang terkasihnya yang saat ini tengah bermain ombak di tepi pantai. Bibirnya melengkung membentuk senyum rupawan kala melihat senyum bahagia yang ditunjukkan keduanya.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian matanya memicing menyaksikan Stela yang sudah dikelilingi beberapa orang pemuda remaja yang sepertinya berniat menggoda kekasihnya. Tak menunggu waktu lama, ia langsung bergerak maju walau sesekali matanya tetap awas melirik kanan kiri, takut-takut jika ada orang yang mengenali dirinya.
"Honey." Sampai disana, Tristan langsung merangkul mesra pinggang Stela. Panggilan mesra juga kecupan hangat di pipinya membuat gadis itu hampir saja menjerit jika ia tidak tahu siapa yang melakukannya.
Stela menatap Tristan dengan tatapan meminta tolong, ia sangat risih dikerubungi orang-orang asing seperti ini.
"Ada apa, ya? Kenapa kalian mengepung istriku seperti ini?" Tristan melayangkan tatapan tajamnya pada remaja-remaja genit di depannya.
Stela terbatuk mendengar Tristan menyebutnya sebagai istri.
"Kau tidak apa-apa, Honey?" Tristan bertanya dengan nada cemas melihat Stela yang batuk-batuk. Sebenarnya ia tahu jika itu hanya sebagai bentuk reaksi Stela atas ucapannya, tapi ia menggunakan cara itu untuk mengusir sekumpulan remaja ini dari hadapan mereka.
"Dasar pembohong!" teriak salah satu remaja yang menggunakan celana pantai berwarna merah tanpa atasan alias topless.
"Apa katamu?" Tristan kembali melayangkan tatapan tajamnya.
"Kau berbohong, gadis cantik ini tidak mungkin istrimu. Kalian saja tidak memakai cincin pernikahan," ejek remaja lainnya dengan mata memandang jari Tristan dan Stela yang sama-sama polos.
Stela menoleh menatap Tristan, ia jadi penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan pria itu. Lucu juga ternyata melihat kekasih sendiri cemburu buta pada anak-anak remaja.
Tristan tersenyum miring. "Kuberitahu pada kalian, anak-anak kecil. Ikatan pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral. Dia berasal dari sini." Tristan menunjuk dadanya. "Dia tidak bisa disimbolkan hanya dengan sebuah cincin. Jadi apa salahnya jika kami tidak menggunakan cincin, yang terpenting hati kami berdua terikat satu sama lain," lanjutnya bijak.
Stela hampir saja terbahak jika tidak memikirkan reaksi para remaja yang saat ini terlihat bingung.
"Kau bicara apa, Paman? Kami tidak mengerti," ucap salah satu di antara mereka.
Tristan tepuk jidat, memang susah bicara pada anak-anak polos yang belum mengerti apa-apa. "Mending sekarang kalian pergi saja. Hush...," usirnya.
"Kami tidak akan pergi sebelum mendapatkan foto dengan Kakak cantik ini," balas mereka dengan mata mengerling nakal pada Stela.
"Aku tidak akan membiarkan istriku berfoto dengan remaja genit seperti kalian. Sudah, sana pergi!" usirnya lagi.
"Dasar Paman tidak tahu malu, berani sekali mengakui kakak cantik ini sebagai istrinya," gelak tawa mereka semua pecah.
Stela yang melihat Tristan sudah kepanasan karena emosi, mulai angkat suara. "Hm... itu benar. Dia adalah suamiku," ucapnya. Tangannya menggapai tangan Tristan dan memeluknya manja.
Semua mata remaja di sana terbelalak, tidak menyangka jika ucapan pria itu ternyata benar adanya. Namun, ternyata di antara mereka masih ada yang tidak percaya. "Kakak jangan bohong, bohong dosa loh. Tuhan bisa marah," katanya—menceramahi Stela.
Stela dan Tristan saling berpandangan, mencoba memikirkan cara apa lagi yang harus mereka lakukan untuk mengusir para remaja kelebihan micin tersebut.
"Mommy... daddy...." tiba-tiba Ara meringsek masuk di antara tubuh mereka berdua.
Ah ya, Ara.
"Eh? Apa sayang?" tanya Stela.
"Mommy, see!" Gadis kecil itu menunjuk gundukan pasir berbentuk seperti bukit yang tadi dibuatnya. "Ala buat gunung," katanya bangga.
"Wahh... sayangnya mommy hebat, ya." Stela mengikuti langkah Ara yang menariknya menuju gundukan pasir tersebut.
"Daddy... ayo sini!" panggil Ara. "Ayo kita buat istana di sebelah gunungnya!" teriak gadis itu.
"Iya sayang, sebentar!"
Sebelum memenuhi panggilan Ara, Tristan melirik kembali ke arah para remaja yang terlihat cengo.
Pria itu tersenyum puas. "Lihat, kan! Tanpa cincin kami bisa punya putri yang sangat cantik. Jadi sekarang jangan ganggu istriku lagi. Sana!" Sebelum mendengarkan bantahan lagi dari mulut para remaja itu, Tristan terlebih dahulu pergi meninggalkan mereka.
Sampai di sana ia mendapati Ara tengah menangis di dalam pelukan Stela. "Kenapa?" tanya Tristan yang ikutan berjongkok di hadapan keduanya.
"Gunung pasirnya hancur karena tergerus ombak," jawab Stela.
Pria itu mengambil alih tubuh Ara ke dalam gendongannya. Pria itu berusaha mendiamkan si kecil yang masih terisak di pundaknya. "Kita jalan-jalan kesana yuk, di sana banyak kerang. Mari mau kerang, kan?" bujuk Tristan. Berhasil, kepala Ara terangkat dan bocah itu mengangguk.
"Ayo sayang, kita ke sana." Tristan meraih tangan Stela dan menggenggamnya. Satu tangan mengendong Ara dan tangan lainnya membimbing kekasihnya untuk mengikuti langkahnya menuju bibir pantai yang sedikit sepi. Tristan merasa was-was karena sedari tadi tak jarang banyak mata menatapnya penasaran, karena hanya dia yang memakai masker di sana.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...