
...🌻Selamat Membaca🌻...
London
Anne baru saja pulang setelah menyelesaikan peragaan busananya di New York Fashion Week, perempuan muda berusia 21 tahun itu langsung merebahkan tubuh lelahnya di sofa empuk yang ada di ruang tamu megah mansion. Seorang pelayan datang membawakan minuman untuknya.
Pagi tadi orang tuanya menelepon, mengabari bahwa mereka akan membawa Stela pulang dua hari lagi. Mengingat gadis itu, Anne jadi kesal sendiri. Bisa-bisanya adiknya itu kabur dari rumah hanya karena dijodohkan. Bukannya dibicarakan dulu baik-baik dengan daddy, eh... dia malah memilih kabur jauh ke Indonesia sampai semua orang kalang kabut dibuatnya.
Anne menyeruput segelas jus jeruk yang telah tersaji. "Ah... menyegarkan," desahnya lega.
Tap... tap... tap...
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi langkah kaki. Anne sudah bisa menebak jika yang datang adalah Abercio, ia hapal sekali bunyi tapak saudaranya itu. Namun kali ini ia tidak mendengar satu, tapi dua pasang langkah kaki yang berbeda. Apa kakaknya membawa tamu?
Anne langsung berdiri dan menoleh ke belakang.
DEG
"Sebastian?" sapanya kaget. Sama sekali tak menyangka jika orang yang datang bersama kakaknya adalah seorang pria yang sudah setahun ini tak ia temui.
"It's been a long time, how have you been, Anne?" Pria bersurai perak yang dipanggil oleh Anne dengan nama Sebastian itu menyahut.
"I'm fine, where have you been Sebastian? I miss you so much, you know."
Sebastian tersenyum. "If you really miss me, then hug me!" Pria itu langsung merentangkan tangan menyambut pelukan dari gadis, teman masa kecilnya.
Anne berlari melewati Abercio dan memeluk Sebastian dengan sangat erat.
"I miss you too Anne," ucap Sebastian sembari mempererat pelukannya. "I really miss you my bestfriend," lanjutnya.
Seketika tangan Anne yang awalnya memeluk erat punggung kokoh pria di hadapan, perlahan jatuh lemah kembali ke sisi tubuhnya.
"Just friends, huh?" Anne membatin. Ia begitu kecewa, pria yang selama ini ia cinta hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat.
Terpaksa Anne melepaskan pelukannya, ia tak ingin terluka jika terus mengharapkan pria itu. "Kalau begitu aku masuk kamar dulu, kalian... bersenang-senanglah!" kata Anne sebelum pergi meninggalkan kakak dan pria yang ia cintai.
Abercio menatap punggung adiknya yang perlahan menjauh, ia tahu apa yang saat ini adiknya rasakan. Cinta tak berbalas itu rasanya memang menyakitkan.
"Heh, jangan bengong!" Sebastian menyentak lamunan Abercio dengan meninju pelan lengan penuh ototnya. "Cepat ganti bajumu, bukankah kita akan ke sirkuit!" suruhnya.
"Yes dude."
Sebastian Lefebvre, dia merupakan anak sahabatnya Anthony. Ayahnya merupakan konglomerat Indonesia sementara ibunya seorang keturunan bangsawan Eropa, tepatnya Perancis. Dia seumuran dengan Abercio, 23 tahun. Sedari kecil sudah sering berlibur ke Inggris dan menginap di mansion Knight. Teman akrab Abercio, Anne dan juga Stela.
Sejak berumur 10 tahun, dia sudah tertarik pada Stela yang saat itu masih balita. Bocah cantik, montok dan chubby yang sering ia ajak main itu adalah cinta pertamanya.
"Tu me manques, Ela."
...🌺 🌺 🌺 ...
__ADS_1
Jakarta
Besok Stela akan kembali ke London, hari ini ia pergi sendiri ke Aquarelle, ia rindu bunga-bunga disana dan juga sudah lama tak bertemu Yuli.
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" sambut seseorang dari dalam sana saat Stela sudah memasuki toko.
Yuli menatapnya tanpa kedip, gadis itu mengamatinya begitu intens saat mereka sudah berdiri saling berhadapan.
"Kau?" Yuli tampak bingung.
Stela tersenyum maklum, jika melihat penampilannya saat ini, tentu saja mantan rekan kerjanya itu akan heran.
"Aku Stela, baru sebentar dan kau sudah melupakanku?" Ia memasang wajah pura-pura sedih.
"Stela! Ya Tuhan, aku tidak percaya jika ini adalah kau. Kau terlihat berbeda dan sangat cantik," sahut Yuli heboh.
"Sudahlah, kau membuatku malu," balas Stela tersipu.
Setelah itu mereka mengobrol cukup lama, bahkan Stela juga ikut membantu Yuli saat pelanggan bunga di toko datang silih berganti.
"Sepertinya toko akan ramai sampai malam," celetuk Yuli.
"Eh, kok bisa?" tanya Stela.
"Ya bisalah, di sini kan ada bidadari yang akan melayani pesanan mereka," balas gadis itu gemas.
Selang berapa lama dari pembeli terakhir datang, seseorang masuk lagi ke dalam toko. Dua gadis di sana langsung menyambut.
"Dia?" Stela kaget saat melihat jika pembeli yang datang adalah Gara, kekasih Jovanka.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Stela sopan.
Beberapa detik, Gara terdiam memandangi gadis kelewat cantik di depannya, terpesona. Ia berpikir sejenak, jika gadis ini menjadi model di agensinya pasti akan sangat menguntungkan. Gadis berwajah Indonesia dengan perawakan bule, wahh... pasti bakal laku keras di pasaran.
"Maaf, ada yang bisa dibantu?" tanya Stela menghentikan pemikiran bisnis Gara.
"Ah ya, aku pesan buket besar bunga mawar," pintanya.
"Wow... untuk Kak Jovanka?" tanya Stela.
Gara tersenyum malu. "I-iya. Kau mengenal Jovanka?" Gara balik bertanya.
"Aku temannya," jawab Stela seadanya.
"Wah... tega sekali Jo padaku, punya teman cantik bukannya diperkenalkan malah dibiarkan saja. Padahal kan bisa menguntungkan perusahaan," batin Gara, sekali lagi pikiran bisnis pria itu bekerja.
Membiarkan Gara sibuk dengan pemikirannya, Stela mulai merangkai bunga khusus untuk Jovanka.
Tidak sampai setengah jam, buket pun jadi. Stela langsung menyerahkannya pada si pemesan.
__ADS_1
Setelah membayar bunga pesanannya, Gara berbalik pergi. Tapi saat sampai pintu, Stela memanggilnya.
"Kau akan ke tempat kak Jo?" tanya Stela sedikit sungkan.
Pria itu mengangguk. "Kenapa?" tanyanya.
"Boleh aku ikut? Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya?" pinta Stela. Ia ingat jika dirinya tidak memiliki nomor ponsel Jovanka, bagaimana akan berpamitan jika begitu caranya. Jadi karena kebetulan disini ada Gara, jadi sekalian Stela minta ikut.
"Tentu, ayo!"
Setelah pamit dengan Yuli, Stela langsung mengikuti Gara masuk ke dalam mobil mewah pria itu.
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di depan sebuah gedung tinggi berlabel, S-Models.
"Ikuti aku!"
Gara mengajak Stela masuk sementara bunga yang tadi dibelinya masih di dalam mobil. Ia akan memberikannya nanti malam saat dinner romantis. Untuk kesekian kalinya ia kembali akan melamar Jovanka. Semoga kali ini sang pujaan hati akan menerimanya.
Saat melewati lobby, semua mata memandang ke arah Stela. Gadis cantik bak bidadari yang digandeng sang CEO pastilah seseorang yang akan dijadikan model, begitu pikir kebanyakan orang di sana.
DEG
Saat melewati koridor, Stela bertemu dengan Tristan. Jantungnya langsung berdebar tak karuan, apalagi saat hitam itu menatapnya lekat.
Ingin menyapa, namun mulut terasa berat saat akan dibuka. Terlebih saat melihat wanita yang kini bergelayut di lengan Tristan, membuat nyali Stela semakin ciut.
"Ayo!" panggil Gara saat Stela terhenti sejenak memandang Tristan.
"Ah, ya." Stela langsung berlari mengejar ketertinggalannya.
Vania yang setia berada di sisi Tristan memicingkan mata saat melihat Stela. Ia yakin pernah melihat perempuan itu di suatu tempat, tapi karena perubahan pada diri Stela membuatnya sedikit bingung.
"Tris-"
Panggilan Vania terhenti saat melihat Tristan menoleh ke belakang, memandang punggung Stela yang telah hilang ditelan bilik pintu.
"Jadi perempuan itu yang membuatmu pendiam akhir-akhir ini, heh?" desis Vania pelan.
Tristan, apa kabar? Jangan ditanya. Pria itu kini sibuk merutuki dirinya yang begitu pengecut. Perempuan yang dilamunkannya beberapa hari ini sudah tepat berada di depan mata, namun kenapa dia sama sekali tak berani menyapa. Seharusnya ia meminta maaf untuk kejadian tempo hari, bukan malah seperti orang bermusuhan begini.
Stela, perempuan itu terlihat sangat menawan dengan penampilannya kini. Dan mata biru itu, itu adalah mata yang pernah ia lihat dulu. Mata yang sempat membuatnya terpukau.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......
...🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1