
...🌻Selamat Membaca🌻...
"Stev adalah tunanganku. Kau bisa lihat cincin yang ada di jarinya, itu sepasang dengan milikku."
JDERR
Bagai tersambar petir, begitulah perasaan Anne saat ini. "Maafkan aku, Will." Ia menunduk dalam, sungguh merasa sangat menyesal. Akibat dirinya yang selalu menolak cinta William, membuat pria itu patah hati dan memilih untuk berubah haluan. Semua karenanya. "Maafkan aku jika kini kau menjadi seperti ini," lanjutnya.
William terbahak melihat reaksi Anne, ia paham betul apa yang saat ini sedang dipikirkan sahabatnya. "Ann, Stev itu wanita, bukan pria seperti yang kau tahu selama ini," jelasnya. Tidak tega juga ternyata melihat wajah penuh rasa bersalah Anne.
Deg
"Kau bohong?" tuding Anne. Wajahnya sudah memerah dengan mata yang mulai mengembun. "Dia pria, dan kau jadi gay pasti karena aku, kan?"
"Heiii! Aku ini pria normal, bukan gay," bantah William yang akhirnya kesal sendiri akibat kelemotan Anne. "Kalau tidak percaya, tanya sendiri saja sana pada Stev, atau nama panjangnya Stevany!"
Anne bangkit dan langsung berlari menuju tempat Stev. Hal tak terduga selanjutnya terjadi. Ingin memastikan jika apa yang dikatakan William benar atau tidak, kini tangan Anne sudah berada di dada Stev dan merasakan apa yang ada di balik baju kebesaran itu.
Semua mata yang ada di sana melotot, mulut mereka menganga. William yang ikut menyusul pun jadi mematung di tempatnya. Tak menyangka jika Anne akan membuktikannya dengan cara seperti itu. Apa susahnya sih bertanya.
"Kya! Apa yang kau lakukan?" Stev mendorong tubuh Anne dan kemudian melangkah mundur. Ia menyilang kedua tangan di depan dada untuk menutupinya. Ia sungguh kaget dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu.
Anne sendiri masih terdiam, kedua tangannya masih bertahan di udara. Kesepuluh jemarinya bergerak, mencoba mengingat kembali benda kenyal yang tadi sempat ia remas.
"Kakak kenapa?" Stela menghampirinya. Sedikit panik melihat kelakuan kakaknya yang aneh.
Anne tersadar saat sang adik menyentuh bahunya. "Kau perempuan?" tudingnya langsung pada Stev.
Tristan dan Stela yang tidak tahu apa-apa tentu saja kaget mendengar pertanyaan Anne. Stev perempuan?
Stev yang wajahnya memerah pun langsung mengangguk. "Iya aku perempuan, kenapa memangnya?" balasnya sengit.
Anne langsung menutup mulutnya. "Ups...sorry," ucapnya. Marasa bersalah karena sudah melakukan tindak pelecehan.
William segera menghampiri sang kekasih.
"Ada apa ini?" tuntut Stev, meminta penjelasan pada tunangannya.
"Aku hanya mengatakan pada Anne kalau kau adalah tunanganku. Namun, dia tidak percaya karena dia pikir kau adalah pria, bahkan dia menyangka jika aku adalah gay. Makanya tadi aku suruh dia menanyakannya padamu, dan aku sama sekali tidak tahu kalau Anne akan membuktikannya sendiri dengan cara seperti itu." Panjang lebar William menjelaskan.
Tiga orang yang ada di sana hanya diam mendengarkan. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Stev adalah seorang perempuan. Mereka pikir dia adalah pria kemayu yang bersahabat dengan William, tapi ternyata... ah sudahlah.
"Sekali lagi maafkan aku," ucap Anne tak enak hati.
Stev menatapnya. "Tidak masalah. Memang sudah sering seperti ini."
Bukan hanya Anne yang terkecoh, semua orang yang baru dikenalnya sering salah sangka, menganggap bahwa Stev adalah seorang pria.
"Aku juga mau mengatakan, selamat atas pertunangan kalian. Saat menikah nanti jangan lupa undang aku ya," kata Anne semangat.
"Pasti." William membentuk jemarinya seperti tanda ok.
...🌵 🌵 🌵...
Vania duduk bersandar di kepala tempat tidur. Wajahnya datar dan dingin, matanya menyorot tajam pada wajah sang ayah yang saat ini sedang berceramah ria. Ia sudah berada di kediaman Hermawan sekarang, ayahnya membawanya paksa dari apartemen pagi tadi.
__ADS_1
Karirnya hancur. ayahnya sudah membatalkan kontrak kerjanya dengan perusahaan Gara tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Bahkan ayahnya harus membayar penalti karena kontrak yang masih tersisa beberapa bulan lagi.
Vania menyumpah di dalam hati. Ia mengutuk perbuatan kakak beradik—Anne dan Stela serta Tristan yang telah membuat kesenangannya sirna dalam sekejap. Kini ia menjadi tawanan di keluarganya, ayahnya akan membatasi semua pergerakannya mulai detik ini.
Sial
Ia berjanji, ia bersumpah akan membalas rasa sakit hatinya pada semua orang yang sudah membuatnya menderita.
"Apapun yang ada dalam pikiranmu saat ini, ku mohon hentikan! Jangan membuat segala sesuatu menjadi semakin rumit," ucap Evan pelan setelah sang ayah pergi meninggalkan kamar Vania.
Evan tahu bagaimana sepak terjang Vania di dunia modelling, ia juga tahu semua masalah yang dihadapi adiknya itu. Jujur, ia merasa bersalah, karena secara tidak langsung, dialah yang telah mengubah Vania menjadi seperti ini. Cinta yang tak dapat bersatu, telah membuat kelinci manis berubah menjadi rubah licik.
Vania menatap nyalang pada Evan, merasa kesal karena pria itu selalu turut campur dalam masalahnya. "Bukan urusanmu. Lebih baik sekarang kau angkat kaki dari rumah ini dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku. Aku membencimu Evan. Urus saja istri dan calon anakmu itu!" desisnya.
Evan menghela napas lelah. "Baiklah, ku rasa kau butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku pergi dulu dan ku mohon jangan lakukan hal yang akan membuatmu semakin hancur lagi!"
"PERGIIIIII!" teriak Vania histeris.
.......
Evan pulang ke rumah yang sudah ditempatinya selama beberapa bulan ini bersama sang istri. Sampai di sana ia menemukan istrinya sudah rapi dengan pakaiannya yang sedikit sexy.
"Mau kemana?" tanya Evan.
"Aku mau pergi dengan temanku," jawab istrinya yang bernama Clara, datar.
Evan menarik tangan Clara yang sudah melangkah pergi. "Sudah sore, tak bisakah kau di rumah saja. Tak baik bagi kandunganmu jika kau terus keluyuran tidak jelas."
Clara menghentak tangan Evan agar melepaskan pegangannya. "Siapa kau? Apa hak mu mengatur apa yang akan aku lakukan, huh?" bentaknya.
"Suami di atas kertas," sanggah Clara cepat.
Evan mencoba meredam gejolak emosi yang ingin sekali berkobar. Wanita ini... sama sekali tidak pernah menghargainya.
"Ya, aku memang tidak punya hak untuk mengatur hidupmu. Tapi setidaknya pikirkanlah anak yang ada di dalam perutmu. Tidak baik untuk kandunganmu jika kau terus keluar masuk club malam itu," pinta Evan yang masih mencoba terus bersabar menghadapi istrinya yang sudah sangat keterlaluan.
Clara terkekeh sinis. "Kenapa kau begitu peduli sekali pada janin ini, hm? Jelas-jelas kau tahu benar jika anak yang ku kandung ini bukanlah darah dagingmu."
"CLARA!" bentak Evan.
"JANGAN MEMBENTAKKU!" Clara melangkah ke depan Evan. Wanita itu tersenyum mengejek. "Jangan pernah meninggikan suaramu di hadapanku karena kau hanyalah bidak yang digunakan untuk menutupi aib keluargaku." Setelah mengatakan itu, Clara melenggang pergi.
Evan tercenung, hatinya berdenyut nyeri. Memang benar, ia hanyalah alat yang digunakan oleh keluarga Clara untuk menutupi aib sang putri yang hamil di luar nikah. Kekasih wanita itu menghilang sesaat setelah wanita itu memberitahukan kehamilannya.
Sekarang, pria itu kembali. Evan sering membuntuti istrinya yang sering keluar rumah tanpa seizinnya dan ternyata Clara bertemu dan berhubungan kembali dengan pria yang telah menghamilinya itu. Evan bahkan sering mengikuti mereka yang selalu berakhir di sebuah hotel.
Miris, ingin sekali mengakhiri pernikahan ini tapi ia sudah terikat erat dengan keluarga Clara. Cara apa yang harus ia lakukan agar segera terbebas dari derita ini. Ia juga ingin bahagia bersama Vania, wanita yang sampai saat ini sangat dicintainya.
...🍁 🍁 🍁...
"Makan malam sudah siap...." sorak Stela dari arah ruang makan. Tristan dan Ara yang berada di ruang tamu langsung meluncur ke tempat Stela berada.
Malam ini, Anne mengijinkan Stela untuk menginap di apartemen Tristan setelah adiknya itu terus merengek mengatakan rindu tidur dengan Ara.
"Yeyy.... akhilnya makan masakan mommy lagi, Ala bosan sama masakan daddy yang itu-itu aja." Ara memekik kegirangan.
__ADS_1
Tristan cemberut mendengar sindiran Ara, sudah syukur ada yang memasak, kalau tidak, ya mereka tidak makan. Hahaha.
"Sekarang Ara boleh menghabiskan semuanya, kalau masih kurang nanti mommy akan masakan lagi." Stela begitu bahagia melihat keceriaan di wajah Ara.
"Ok, Mommy."
Makan malam berlangsung hangat dan penuh canda tawa. Sampai-sampai perut Ara dan Tristan membuncit dibuatnya.
"Issh... aku tidak mau ya punya kekasih buncit." Stela bercanda dengan mencolek perut Tristan yang memang terlihat sedikit membuncit.
"Salah dirimu yang selalu membuat masakan yang lezat, kan sayang kalau tidak dihabiskan," jawab pria itu.
"Boleh banyak makan asal olahraganya jangan lupa," peringat Stela.
"Siap, Nyonya."
"Aku masih Nona ya belum jadi Nyonya," ralat Stela.
"Mau ku jadikan Nyonya Gautama, tidak?" goda Tristan.
"Mau, tapi nanti. Selesaikan cuci piring ini dulu!"
"Siap calon Nyonya Tristan Gautama."
.......
Tristan dan Stela saling pandang, kini mereka berada di kamar Tristan. Tidur satu ranjang dengan Ara yang berada di tengah-tengah mereka.
"Kita sudah seperti keluarga bahagia, ya?" celetuk Stela.
"Kita memang keluarga bahagia, aku, kau dan putri kita." Tristan mengusap kepala Ara yang sedikit berpeluh di sebelahnya.
Stela tersenyum haru. Akankah semua ini bertahan selamanya?
Semoga iya.
"Sudah larut, tidurlah!" Tristan sedikit bangkit dan mengecup kening Stela juga Ara.
"Heum, good night."
.......
Di mansion Wijaya, Anne tengah guling-guling kegirangan. Itu semua karena dia baru saja mendapatkan pesan dari Sebastian.
I miss U
Begitulah isi pesannya, dan tanpa pikir panjang Anne juga membalas kalimat yang sama.
I miss U too...
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1