BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Pembalasan


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


"Auristela Princessa Knight. Kau bisa memanggilku Stela biar terdengar lebih akrab."


Diam...


Stela menarik kembali tangannya yang sama sekali tidak dijabat olh Vania.


Semua tamu yang berada di restoran sudah kembali pada kegiatan mereka masing-masing.


"Ma-maafkan atas kelancangan Vania, nona Anne." Fara mewakili Vania untuk meminta maaf. Ia sungguh cemas jika kerjasama ini dibatalkan oleh sang client karena kelancangan modelnya.


Anne masih menatap tajam pada Vania yang hanya bisa tertunduk malu. wanita itu tak berani menampakkan wajahnya apalagi setelah mendengar beberapa suara kamera yang membidiknya. Ia sudah tidak punya muka lagi.


Kini Anne beralih menatap Fara yang terlihat gugup dan cemas. "Bukan kau yang seharusnya minta maaf, tapi Dia!" Tanpa basa-basi designer ternama itu menunjuk tepat di depan wajah Vania yang setia menunduk. "Dia yang bersalah maka dia yang harus meminta maaf. Dan kau juga nona Fara, jangan sering memanjakan modelmu itu kalau kau tak ingin perangainya semakin melunjak!" peringat Anne. Tidak hanya Vania, Fara ikut kena semprot.


Fara menunduk. "Maafkan saya." Kemudian ia menyenggol lengan Vania dan berbisik di telinganya. Menyuruh modelnya itu agar mau meminta maaf.


Vania bergeming, ia mengetatkan gigi-giginya hingga rahangnya mengeras. Sungguh ia tak terima dengan penghinaan ini. Martabatnya sebagai seorang putri dari pengusaha ternama, dipertaruhkan. Ia menghela napas pelan, dan berusaha merilekskan hati dan pikiran. Sepertinya ia harus bersandiwara kali ini.


Akhirnya wajah yang semula menunduk itu terangkat. Wajah yang menyimpan amarah itu pudar berganti dengan raut bersalah yang kentara.


"Maafkan aku nona Anne, maafkan aku juga Stela. Aku menyesal karena telah berkata-kata buruk tentangmu. Aku bersalah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Kata-kata yang diucapkannya itu keluar dengan lancar ditambah nada bersalahnya membuat Anne percaya, tapi tidak untuk Stela. Matanya memicing, menelisik wajah itu dengan jeli. Jelas sekali jika ucapannya barusan terdengar tidak tulus ditambah dengan wajah yang menyimpan dendam dan mata menyorot marah.


"Pintar sekali dia bersandiwara." Stela berdecak dalam hati.


"Baiklah, karena kesalahpahaman ini sudah selesai. Bisakah kita makan dulu sebelum membicarakan kontrak kerja?" tanya Anne.


"Anda tidak jadi membatalkannya?" Fara berseru.


"Kau ingin aku membatalkannya?" Alis Anne terangkat satu.


"Tidak. ku pikir karena masalah ini anda akan berubah pikiran."


"Jangan pernah ragukan profesionalitasku dalam bekerja," desisnya tak suka. "Aku tidak akan memcampur baurkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan. Camkan itu!" peringatnya.


"Maaf."


"Baiklah, sekarang kita pesan makanannya."


Selama makan siang berlangsung, Vania menyantapnya dengan tidak berselera. Sekali-kali ia melihat adik kakak yang sedang bercengkrama ria itu dengan kesal. Tak jarang matanya menajam ketika melihat Stela tersenyum bahagia. Selalu seperti itu. Kenapa dirinya tak bisa bahagia sementara orang-orang yang dia benci hidup dengan penuh suka cita. Jujur ia iri dan tak rela. Jika ia menderita maka orang yang ia benci harus merasakan hal yang sama termasuk Stela. "Aku akan membalasmu. Tunggu saja!" Setan dalam hati sudah mengambil alih, dan rencana untuk membuat Stela menderita akan mulai ia pikirkan dari sekarang.


"Apa lagi yang ia rencanakan?" Stela yang menyadari sorot tajam Vania segera berwaspada. Ia tidak akan tinggal diam jika wanita itu kembali berulah.


...🛍️ 🛍️ 🛍️...


Abercio dan Sebastian kini berada di dalam sebuah cafe yang terletak di tengah kota Jakarta. Setelah mengantarkan Karin, ia mengajak sahabatnya untuk duduk bersantai sejenak. Dua hari lagi mereka harus kembali ke London karena banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan terlalu lama. Terlebih bagi kedua pengusaha muda itu.


Sebastian menyeruput Espresso chill-nya dan kemudian mendesah lega. Ia melirik Abercio yang kini sibuk mengaduk Cold brew di hadapannya sembari melamun.


"Ada masalah?" tanya pria perancis itu. Jarang-jarang ia melihat wajah teman mainnya sedari kecil ini murung tak bersemangat.


Abercio tersentak mendengar pertanyaan Sebastian. Pandangannya segera beralih ke depan, ke hadapan sahabatnya itu. "Huh..." Helaan napas resah seketika keluar dari mulutnya.


"What's going on?" tanya Sebastian heran.


Abercio tetap bungkam, kini tatapannya beralih pada bongkahan es yang mulai mencair di dalam gelas.


"Irina?" tebak Sebastian. Temannya itu tidak akan galau seperti ini jika itu tidak menyangkut masalah sang kekasih.


Abercio sekali lagi menghela napas berat. Kepalanya mengangguk pelan. "Tadi dia menghubungiku. Hari ini ia akan kembali ke Moscow karena permintaan orang tuanya," beritahunya.


"Dia akan kembali, kan?"  Kekasih Abercio itu memang sering pulang kampung, tapi biasanya akan kembali ke London lagi setelah beberapa hari.


Abercio menggeleng lemah. "Dia anak tunggal. Orang tuanya sangat kesepian, dan mereka sangat berharap jika Irina akan tetap tinggal di sana selamanya."


Sebastian terkejut, lalu bagaimana hubungan keduanya. "Kalian akan LDR?"


"Entahlah. Sepertinya itu akan sulit. Aku sudah beberapa kali mengajaknya menikah, tapi ia selalu berkata belum siap. Padahal jika dia mau, aku akan dengan senang hati memboyong orang tuanya untuk tinggal bersama kami," jelasnya.


"Menikah itu memang butuh kesiapan, bisa saja dia memang belum siap karena kalian juga masih terlalu muda. Mungkin ia masih memiliki cita-cita yang belum kesampaian hingga memilih menundanya," asumsi Sebastian.


"Aku bahkan sudah berkata jika tidak akan menghalanginya melakukan apapun yang dia mau setelah kita menikah nanti, tapi tetap saja... dia menolaknya." Abercio mengusap wajah gusar.


"Mungkinkah masalah keluarga yang menjadi alasannya?" Sebastian coba menerka. Bisa saja kan, mereka saling mencintai. Abercio juga tidak menghalangi kekasihnya untuk berkarya. Lalu, apalagi masalahnya jika bukan berkaitan dengan keluarga.


"Maksudmu?" Kakak Stela itu belum menangkap maksud dari pertanyaan sahabatnya.


"Dia tidak percaya diri karena kau berasal dari keluarga terpandang, keturunan bangsawan Inggris yang pastinya tidak akan asal memilih untuk urusan pendamping keturunannya."


Deg


"Benarkah dia berpikir seperti itu?" Abercio agaknya sedikit tidak percaya.


"Bisa jadi. Coba saja tanyakan langsung padanya!"


Abercio langsung mengambil ponsel di dalam saku jasnya. Ia baru saja akan memencet tombol panggil pada nama sang kekasih kala sebuah pikiran menghentikannya. "Tidak. Sebaiknya aku bicara langsung padanya. Aku akan ke Moscow dan bertemu langsung dengannya juga orang tuannya."

__ADS_1


"Ide bagus. Biar semua lebih jelas."


Abercio mengangguk. Matanya menatap intens wallpaper ponselnya yang memajang foto sang kekasih—Irina Jovovich.


Wanita cantik asal Russia itu sudah dikencaninya selama 3 tahun. Mereka pertama kali bertemu di sebuah public library di London. Saat itu Abercio masih sibuk menyusun tugas akhir untuk menamatkan sarjananya sementara wanita itu sedang mencari inspirasi dengan membaca buku-buku di sana. Ya... Irina adalah seorang penulis. Bahkan dia sudah menerbitkan 5 novel bestseller saat pertama kali mereka berkenalan.


Irina lebih tua dua tahun dari pada Abercio. Wanita mandiri dan dewasa itu seketika membuat sulungnya Ambar-Anthony yang buta akan cinta menjadi jatuh hati saat pertama kali melihatnya.


Abercio ingat perjuangannya untuk mendapatkan Irina tidaklah mudah. Wanita itu begitu menutup diri dari yang namanya pria. Setiap hari ia hanya akan berkutat dengan buku-buku dan laptop. Perlu kesabaran ekstra untuk membuat Irina mau melihatnya. Dan setelah masa pendekatan yang sangat menguras emosi juga tenaga, setengah tahun kemudian, wanita itu akhirnya menyerah dan luluh juga pada perhatian dan perjuangannya.


Mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi seorang Abercio, untuk pertama kali dalam hidupnya ia memiliki seorang kekasih, cinta pertamanya pula. Beruntungnya ia.


.......


Vania melempar tablet yang ia pegang ke kursi kosong di sampingnya. Fara yang menyetir di depannya tak tahu apa yang telah dilihat modelnya itu hingga menjadi kesal begitu.


"Ada apa?" Ia bertanya.


"Tidak ada," jawabnya ketus.


Vania menggeram. Beberapa saat yang lalu ia baru saja men-searching semua hal tentang Anne. Designer muda berbakat yang memiliki darah campuran Inggris-Indonesia. Memiliki seorang kakak bernama Abercio dan adik bernama Auristela. Bahkan foto keluarga besar mereka juga banyak beredar di berbagai situs.


"Keturunan bangsawan Inggris... ck," decaknya. Gadis yang ia kira kampungan itu ternyata bukan sembarang gadis. Ia sudah salah menduga dan berakhir dengan memalukan diri sendiri. Brengsek. Anne berhasil mempermalukannya di depan umum dan kini beberapa akun gosip sudah mengunggah foto mengenaskan dirinya yang disiram air oleh designer itu.


"Aku butuh klarifikasi untuk masalah penyiraman tadi. Gosipnya sudah banyak beredar. Aku tidak ingin citraku buruk dan akan berpengaruh pada karirku nantinya," pintanya pada sang manager.


"Tenang saja. Aku akan bahas masalah ini nanti dengan nona Anne Semoga dia mau bekerja sama."


.......


Selepas makan siang, Stela mengajak sang kakak untuk berjalan-jalan di mall. Ia akan mencari hadiah yang dijanjikannya untuk Ara, sebuah baju balet.


Setelah mendapatkan yang diinginkan, dua perempuan itu bergegas pulang. Tak terasa hari sudah sore karena keasyikan cuci mata.


"Aku jadi ingin merancang pakaian untuk anak perempuan," celetuk Anne saat mereka berada di mobil.


"That's good idea." Stela mah setuju-setuju saja yang penting sang kakak senang.


"Setelah tadi kita memilah dan memilih baju untuk Ara, aku baru tahu ternyata baju anak perempuan itu lucu juga ya. Tanganku jadi gatal untuk segera menggambar design unik untuk mereka."


Stela tertawa melihat reaksi Anne yang begitu bersemangat. "Apalagi kalau nanti kakak punya anak perempuan, pasti tiap hari keponakanku akan memakai baju baru hasil karya mommy-nya," canda Stela.


"Aku tidak sabar untuk menunggu hari itu," sahutnya antusias.


Anne terhenyak. Ternyata sang kakak sudah sangat siap memiliki anak, itu artinya ia juga siap untuk menikah. Tapi pendamping yang diinginkannya masih terombang-ambing di lautan perasaan. Huh... semoga Sebastian cepat menyadarinya sebelum ada pria baik yang datang melamar kakak terlebih dahulu.


.......


"Daddy... mau video call mommy!" rajuk Ara setelah mereka menyelesaikan makan malam.


"Sabar sayang. Daddy harus membereskan bekas makan kita dulu."


"Daddy lama." Bibir gadis kecil itu mengerucut, membuat Tristan yang sedang mencuci piring menjadi gemas ingin mencubitnya.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pria itu selesai dengan urusannya. Ribet juga ternyata menjadi bapak rumah tangga, keluhnya.


HUPP


Ia menggendong Ara yang masih berdiri dengan muka masam di dekat meja makan. Merajuk.


"Ara mau memperlihatkan wajah jelek ini sama mommy, hm?" Tristan mengecup pipi gembil yang masih menggembung itu.


Si kecil menggeleng. "Kalau begitu ayo senyum. Nanti mommy sedih loh lihat princess-nya masih saja merajuk seperti anak kecil."


"Ala memang masih kecil, Daddy."


"Eh... iya. daddy lupa, sorry Baby."


Setelah mendaratkan pantat di sofa empuk, Tristan segera menghubungi Stela lewat tabletnya. Biar gambarnya lebih besar dan muka mereka berdua muat karena layarnya lebar.


Tuut....


"Hallo baby..." sapa Stela.


"Hallo mommy. Mommy kapan pulang?" tanya Ara sendu. Ia sudah terlalu merindukan Stela.


"Sabar ya sayang, nanti mommy pasti pulang."


"Kapan, Mom? Ala lindu masakan mommy. Daddy masaknya cuma bisa nasi goleng telus. Ala kan bosan..." kadunya.


Tristan yang berada di belakang Ara meringis malu.


Di seberang sana Stela menjadi merasa bersalah, karena kepergiannya dua orang yang ia sayangi jadi tak terurus makannya.


"Maafkan aku Kak, aku janji akan kembali secepatnya."


"Don't worry Honey. Nikmati waktu bersama dengan kakak-kakakmu. Nanti aku akan belajar memasak makanan lainnya untuk Ara."

__ADS_1


"Thank you, miss you."


"Miss you too."


Mereka berpandangan cukup lama. "Oh ya, pria Perancis itu tidak menggodamu, kan?" Tristan baru ingat untuk menanyakan hal ini.


Stela tertawa. "Ku pikir dia sudah menyerah," jawabnya.


"Syukurlah kalau begitu." Tristan bernapas lega.


"Kenapa jadi daddy yang bicara sama Mommy, sih?" sentak Ara dongkol. Sedari tadi dua orang itu sibuk membicarakan hal yang tidak ia mengerti. Keduanya bahkan melupakan jika ia ada di sana.


"Ups... princess-nya marah. Ya sudah kalau begitu bicaralah sepuasnya dengan mommy. Daddy akan membuat susu untukmu dulu." Tristan meninggalkan Ara dengan tablet yang masih menyala. Bocah itu sibuk berceloteh ria di depan layar.


.......


Selesai mendengarkan keluh kesah Ara. Stela turun ke dapur karena merasa haus.


"Kakak-kakak kemana, Bi?" tanya Stela setelah meneguk segelas air putih.


"Ada di gazebo samping rumah, Nona."


"Oh. Terima kasih Bi."


Stela pun berjalan menghampiri tiga orang yang sedang berbincang ria di gazebo.


"Ela, kemarilah!" panggil Anne saat melihat kedatangan adiknya.


"Ada apa, Kak?" Ia kini telah duduk di samping kakak perempuannya.


"Lihat!" Anne mengangsurkan ponselnya ke hadapan Stela. "Berita penyiraman tadi sudah keluar dan sekarang menjadi viral," beritahunya.


"Apa?" Stela merebut ponsel itu dan membaca tulisan yang ada di sana, lengkap dengan foto-foto saat mereka di restoran siang tadi.


"Eh, lalu bagaimana ini?" tanya Stela.


"Managernya barusan menghubungiku. Dia memintaku bekerjasama untuk meluruskan kesalahpahaman ini."


"Kakak akan melakukannya?"


Anne mengangkat bahu cuek. "Terpaksa."


"Sebenarnya ada masalah apa wanita itu denganmu, Sunny? Anne sudah menceritakan masalah yang tadi siang," tanya Abercio penasaran.


"Ceritanya panjang, Kak."


"I'm waiting..." kompak mereka bertiga berucap.


Kalau sudah begini, mau tak mau Stela harus mengatakannya.


Ia menceritakannya mulai dari pertemuan pertama mereka saat ia sedang makan bersama Rafandra, dan berakhir dengan penghinaan wanita itu kepada dirinya tadi siang.


"Sialan. Berani sekali dia merendahkanmu seperti itu. Kenapa tidak dilawan saja hm?" ucap Abercio marah.


"Jika dilawan dia akan semakin menjadi Kak. Aku malas berurusan dengannya."


"Ck. Haruskah aku turun tangan?" tanya kakak tertua Stela itu.


"Tidak Kak. Tidak usah. Ini masalah perempuan," cegat Stela cepat. Ia sangat tahu bagaimana sifat kakaknya ini. Ia tidak akan berhenti jika sang lawan belum menderita.


"Bagaimana jika dia terus mengganggumu, Sunny?" Abercio hanya mencemaskan keadaan adik bungsunya. Bagaimana jika wanita itu kembali berulah saat dirinya tak ada di Indonesia lagi.


"Biar aku yang melakukannya." Tiba-tiba Anne bersuara.


"Maksudmu?" Ketiga orang di sana menatapnya.


"Ela!" Anne menoleh dan menatap sang adik dalam.


"Jadilah modelku di acara pekan mode nanti!" Itu bukan tawaran tapi perintah.


"Apa?" Stela terkejut. "Bukannya wanita itu yang akan menjadi modelnya?"


"Ya. Dia juga akan ikut."


"Maksud kakak bagaimana?"


"Di pagelaran nanti aku akan menunjukkan di mana posisinya berada dan dimana posisi kita. Jadi kau harus membantuku." Senyuman miring terbit di wajah Anne.


"Ehhhhh..."


"Maaf saja tidak cukup. Perlu balasan setimpal untuk membungkam mulut kotor wanita itu." Anne tertawa dalam hati. Ia akan bermain cantik kali ini.


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2