BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Cemburu


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Malam hari


Anne, Abercio dan Sebastian lagi-lagi menghabiskan malamnya dengan berbincang di gazebo. Sementara Stela saat ini tengah menidurkan Ara, jadi tidak bisa ikut bergabung.


"Ketemu William di mana?" tanya Abercio memulai percakapan.


"Aku yang menghubunginya," jawab Anne.


"Untuk apa?" tanya si sulung Anthony itu bingung. Untuk apa sang adik menemui pria yang dahulu sudah ditolak cintanya.


"Will seorang designer jadi aku ingin bekerjasama dengannya, itu saja." Jawaban Anne membuat seseorang di sana menghela napas lega.


"Kau tak risih? He had been love you, right?" tanya Abercio penasaran.


Anne mengedikkan bahu, ia tak peduli. Mau William pernah menyukainya atau bahkan sampai saat ini masih menyimpan perasaan itu padanya, Anne tak mau ambil pusing. Baginya saat ini yang terpenting adalah kesuksesan karir dan juga keberhasilan balas dendamnya.


Namun sepertinya hal itu berbeda bagi pria yang duduk di sebelah Abercio. Mendengar jika ada seseorang yang menyukai teman semasa kecilnya itu, terbesit kembali rasa lama yang sudah jauh terkubur di dalam hatinya.


"Seandainya pria itu menyatakan cinta padamu lagi, what will you do?"


Anne diam sejenak, beberapa detik kemudian senyum tipis tersungging di bibir manisnya. "Give him a chance, i think."


Sebastian tersentak, ia menatap Anne dengan pandangan yang sulit diartikan.


Abercio sedikit kaget saat mengetahui jika adiknya akan memberi kesempatan pada William sementara ia sendiri tahu jelas siapa pria yang dicintai adiknya itu. "You have feeling for him? At least affection?" Ia bertanya kemudian. Setidaknya ia harus tahu apa alasan yang membuat Anne mengambil keputusan itu.


"Kami berteman cukup lama, rasa sayang itu pasti ada, namun hanya sebatas rasa sayang sebagai sahabat. Sejujurnya, aku tidak pernah membuka hati untuk orang lain selain dia, tapi jika dia sendiri tidak pernah menyadari itu, untuk apa dilanjutkan. Lebih baik memilih orang yang sudah jelas-jelas mencintai kita, cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Aku benar 'kan?" Saat mengucap kata dia, mata Anne melirik Sebastian yang kebetulan juga menatapnya. Entah pria itu sadar jika yang dimaksud adalah dirinya atau tidak.


Abercio sangat tahu, perkataan sang adik mengandung sindiran halus untuk Sebastian, tapi ia tidak peduli. Sahabatnya itu harus cepat disadarkan sebelum terlambat.


"Aku masuk duluan." Pria Perancis itu bangkit dan kemudian pamit pergi. Ia tidak tahan mendengar topik yang diperbincangkan oleh kakak beradik itu.


.......


Stela menutup pintu kamar dengan hati-hati agar tidak membangunkan Ara yang sudah tertidur. Gadis itu berjalan menuju gazebo dimana saudara-saudaranya berada. Saat di perjalanan, ia berpapasan dengan Sebastian. Wajah pria itu terlihat murung dan Stela tidak bisa untuk tidak bertanya.


"Are you okay, Frere?"


"I've been better," jawabnya yang kemudian melangkah pergi.


"Eh?" Stela berbalik dan memandang punggung Sebastian yang kian menjauh. Ia sedikit heran, apa yang telah terjadi dengan pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu hingga membuatnya murung.


Sampainya di gazebo, Stela menemukan dua kakaknya tengah berbincang. Ia ikut bergabung.


"Besok aku dan Sebastian akan kembali ke London, ambil penerbangan sore." Abercio memberitahu.


"Ya. Tolong sampaikan pada dad and mom bahwa aku akan cukup lama berada di sini. Setelah semuanya selesai, aku akan langsung kembali," ucap Anne.


Abercio mengangguk dan kini pandangannya mengarah pada si bungsu. "Kau tidak ingin kembali? Tidak merindukan daddy and mommy?" tanyanya.


"I miss them both, but...." Stela sulit untuk mengatakannya. Ia memang sangat merindukan kedua orang tuanya itu, tapi di sini ia punya kekasih dan seorang malaikat kecil yang tidak mungkin ia tinggalkan. "Suatu saat nanti aku akan kembali," lanjutnya tak yakin.


.......


Sebastian menatap langit-langit kamar di mana saat ini ia sedang berbaring telentang. Ingatannya melayang pada kejadian beberapa tahun silam, tepat saat umurnya memasuki 17 tahun. Ia jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Jika waktu kecil ia menyukai Stela yang masih bayi, kini ia mulai memperhatikan kakak dari bayi itu.


Anne, gadis yang waktu itu berumur 15 tahun menarik perhatiannya. Semasa kecil ia tidak pernah memperhatikan teman mainnya itu, tapi beranjak remaja, semua berubah.


Ia terpesona akan kecantikan Anne saat pertama kali mereka bertemu setelah sekian lama, karena memang ia menetap di Perancis dan hanya sesekali berkunjung ke Inggris.


Masa liburannya kali itu dihabiskan di kediaman Knight. Ia bermain dengan Abercio, Anne dan si kecil Stela yang saat itu sudah berumur 10 tahun.


Saat hari terakhirnya di sana, ia berniat untuk menyatakan perasaannya pada Anne. Ia menunggu gadis itu pulang dari kegiatannya. Saat sebuah mobil mewah berhenti di pekarangan luas mansion Knight, ia langsung membuka pintu, berpikir jika yang datang adalah Anne. Memang benar gadis itu pulang, tapi ia datang tak sendiri. Seorang remaja laki-laki turun dan mengantarkannya ke depan manison.


Namun, niatnya untuk menyatakan cinta pupus sudah begitu mengetahui jika laki-laki yang datang itu adalah pacarnya Ann. Gadis itu memperkenalkannya sebagai kakak pada si pacar. Kalian tahu bagaimana rasanya saat itu? Sakit tentu saja dan harapan akan cinta bersemi yang dibayangkannya hancur sudah.


Mulai saat itu, ia hanya menganggap Anne sebagai sahabat dan ia kembali menjatuhkan hati pada Stela walau itu harus melalui usaha yang cukup keras untuk melupakan rasanya pada gadis cantik anak kedua Anthony itu.


"Kini terulang kembali, Stela juga sudah memiliki kekasih dan aku kalah lagi." Sebastian mendesau lelah.


Tentang Stela, Sebastian sudah bisa mengikhlaskan, tapi masalahnya sekarang adalah hatinya kembali bersemi pada sosok Anne yang ia tahu saat ini tidak memiliki kekasih, tapi memiliki seseorang yang disuka. Siapakah orang itu? Sial. Sebastian tidak tahu dia yang dikatakan Anne itu merujuk pada siapa.


"Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan?"


...🌻 🌻 🌻...


"Malam ini akan diadakan jumpa pers," kata Anne saat mereka semua sudah selesai sarapan dan tengah duduk berbincang di ruang tengah.


"Dalam rangka apa?" tanya Abercio.


"Ya, aksi penyiraman yang aku lakukan pada model angkuh itu, mereka memintaku untuk mengklarifikasi beritanya."


"Kau akan melakukannya, Kak?" Stela yang bertanya.


Anne mengangguk malas, untuk kali ini ia akan mengikuti permainan ular itu.


"Sebentar lagi kita akan pergi El, bersiaplah!" suruh Anne.

__ADS_1


"Kita akan kemana?"


"Ke studio milik Stev, bukankah latihannya akan dimulai hari ini. Hubungi juga Tristan dan ajak dia!"


"Baik, Kak."


"Boleh kami ikut?" pinta Abercio.


Anne menaikkan satu alisnya. "Untuk apa?" tumben sekali kakaknya mau ikutan kegiatan seperti ini.


"Ingin melihat saja, sebelum kami berangkat nanti."


"Ok." Anne sama sekali tak keberatan.


...🍁 🍁 🍁...


"Stela! Jangan berdiri seperti itu!" hardik Stev. Ini sudah yang keberapa kalinya Stev itu mengajari Stela tentang bagaimana sikap tubuh ketika berdiri. Gadis itu terlihat kaku padahal tubuhnya sangat lentur saat menari ballet. Namun, berjalan di catwalk dan menari itu adalah dua hal yang berbeda, bukan?


"Kaki kirimu diputar dengan sudut 45°, kaki kananmu tetap lurus ke depan, bengkokkan sedikit lutut kananmu hingga garis dari lutut sebelah kiri, dan lutut kiri juga sedikit dibengkokkan!" Stev sebagai pelatih menunjukkan bagaimana cara berdiri yang benar.


"Baiklah, aku mengerti." Stela langsung menirukan apa yang diperagakan sang pelatih, walau hal itu sedikit sulit untuk ia lakukan.


Setelah beberapa kali mencoba, gadis itu akhirnya berhasil. Ia menghela napas lega. Baru gerakan dasar dan dia sudah sangat lelah.


"Bagus Tristan." Stev mengacungi jempol untuk Tristan karena model pria itu sudah begitu menguasai bagaimana sikap tubuh saat berdiri yang tepat.


"Ya iyalah dia bisa, dia kan model." Stela mendumel di dalam hati. Sedikit cemburu melihat kepandaian Tristan sementara dia harus terkena semprotan dulu baru bisa.


"Sikap tubuh saat berdiri ini sangat penting, karena erat kaitannya dengan keseimbangan dan juga kesan lekuk tubuh agar terlihat lebih ramping. Semakin baik sikap tubuh kita saat berdiri, semakin indah baju yang kita peragakan." Stev menjelaskan, keduanya mengangguk paham.


Tiga orang di sana sibuk berlatih, William dan Anne duduk berdua membahas masalah rancangan yang akan mereka gunakan. Sesekali mereka juga bernostalgia tentang masa kuliah dulu yang mau tak membuat mereka tertawa jika mengingat hal yang lucu.


Semua yang mereka kerjakan tidak luput dari pandangan sepasang mata biru yang berkilat cemburu. Dari pojok sana, Sebastian hanya bisa menggeram melihat keakraban keduanya, sementara Abercio sibuk dengan majalah bisnis yang dibacanya.


"Seharusnya aku yang berada disana," batin pria itu nelangsa.


.... ...


Setelah membenahi sikap tubuh kedua calon model catwalk itu, kini Stev mengajarkan teknik berjalan. Pertama, ia mengajarkan Stela terlebih dahulu karena memang gadis itu yang sedikit sulit menguasainya.


"Posisikan satu kakimu di depan kaki yang lainnya! Dan jangan berjalan menyilang tapi berjalanlah dengan alur garis lurus. Ayunkan kakimu sejauh mungkin asalkan tetap menjaga keseimbangan!" Stev mempraktekkan cara berjalan untuk model wanita. "Apa kau paham Stela?" tanyanya.


"I-iya." Stela mengangguk ragu.


"Sekarang coba jalan!"


Stela mulai berjalan, ia sedikit grogi saat semua pasang mata yang ada di sana memperhatikannya. Alhasil, ia melakukan kesalahan lagi.


"Sorry." Stela hanya bisa tertunduk malu.


Tristan yang melihat sang kekasih pun merasa iba, tapi ia bisa apa, memang seperti inilah kerasnya dunia model. Dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di dunia modelling, ia juga mengalami hal seperti ini bahkan lebih kejam.


"Lakukan sekali lagi!" suruh Stev setelah ia mencontohkan lagi. "Remember! Keep your hand relax and let the arms sway naturally!"


Stela menghirup napas panjang kemudian mengeluarkannya. Ia mencoba mengosongkan pikiran dari hal-hal yang akan menghambat langkahnya.


"Walk!"


Dari posisi siap, Stela mulai mengayunkan kaki kanannya pertama kali. Tangannya ia biarkan tetap relax dan mengayun secara alami. Ia terus melangkah sampai di ujung panggung.


"Ok. Good." Stev memberikan applause singkat. "Pertahankan!"


Sekarang giliran Tristan. Ia berjalan Melangkahlah dengan kaki lebar sehingga menciptakan kesan gagah.


"Great!." Sekali lagi pria itu mendapat pujian.


"Setelah berjalan maka selanjutnya kita akan melakukan pose. Saat melakukannya, hitung tiga detik sebelum kau berputar atau berganti pose!" jelas Stev.


Pelatih itu mengajarkan beberapa pose untuk wanita dan juga untuk pria. Setelah mencoba mempraktekkannya, kini Tristan dan Stela sudah menguasai beberapa pose.


Selanjutnya sang pelatih mengajarkan teknik berputar. Berputar yang benar adalah sesuai dengan arah jarum jam.


... ....


"Malam ini akan diadakan jumpa pers." Saat Tristan dan Stela duduk berdua di pojok studio Stev, pria itu berucap.


"Jumpa pers? Malam ini kak Anne juga akan melakukannya. Apa ini berkaitan dengan Vania?" tanya Stela.


Tristan mengangguk. "Hm. Ini menyangkut kesalahpahaman yang terjadi di pesta waktu itu. Sebenarnya jumpa pers akan dilakukan tiga hari yang lalu, tapi karena ada kasus penyiraman yang dialami Vania, maka konferensinya diundur menjadi nanti malam. Jadi, ada dua hal penting yang perlu diluruskan," jelasnya.


"Oh, baiklah. Semoga semuanya baik-baik saja."


"Hm." Tristan juga berharap demikian. "Oh ya, apa kakakmu dan pria perak itu akan kembali ke London hari ini?"


"Ya, penerbangan sore."


"Kau akan mengantarkan mereka ke bandara?"


"Hm... kau mau menemaniku?" tawar Stela.

__ADS_1


"Tentu." Pria itu mengangguk dan tersenyum.


"Ok. Setelah kita menjemput Ara di rumah kak Risa, kita akan langsung berangkat. Tinggal beberapa jam lagi."


"Kita pergi sekarang?"


"Ayo!"


.......


"Kita harus mengambil barang di mansion dan lanjut ke bandara." Abercio bangkit dari duduknya. Penerbangan ke London tinggal beberapa jam lagi dan mereka harus mulai bersiap.


"Bastian?" Abercio menoleh karena ucapannya sama sekali tak digubris oleh pria di sampingnya.


Anak sulung Anthony itu tersenyum saat melihat ke mana arah pandang sang sahabat. "Cemburu, eh?" batinnya.


Tanpa mempedulikan Sebastian, Abercio berjalan menuju tempat Anne dan William duduk.


"Kau ikut mengantar ke bandara, Ann?" tanya Abercio sesampai di sana.


Gadis yang tengah asyik berbincang itu pun mengalihkan pandangan. "Iya, Kak. Kakak duluan saja, aku masih harus membahas beberapa hal dengan Will. Nanti aku akan menyusul ke bandara," jawab Anne.


"Baiklah."


Abercio kembali ke tempat Sebastian dan mengajaknya pulang.


"Kita berdua saja?" tanya si pria perak.


"Ya. Stela nanti akan ikut mengantar kita bersama Tristan. Sementara Anne mungkin akan diantar William, mereka masih punya hal penting yang mesti dibicarakan," ucap Abercio sembari melangkah pergi.


Sebelum pergi, Sebastian menoleh sebentar ke tempat duduk Anne. Pria itu mendesah pasrah. "Apa aku tak punya kesempatan?" gumamnya.


.......


Saat ini mereka sudah menunggu di bandara. Ada Stela, Tristan dan juga Ara di sana. Anne belum datang.


"Aku ke toilet sebentar." Sebastian bangkit dari duduknya dan pergi ke toilet. Bukan untuk membuang hajat, dia hanya ingin melepaskan rasa kecewanya karena Anne belum datang juga.


"Honey, aku ke toilet dulu ya. Wanna take a pee," bisik Tristan.


Anne tertawa mendengar bisikan kekasihnya, dan kemudian ia mengangguk, mengiyakan.


.......


Tristan kembali bersama dengan Sebastian. Dua orang itu terlihat berbeda membuat kening Stela mengernyit. Tristan tersenyum saat kembali duduk di sebelah kekasihnya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" selidik Stela.


Tristan menyeringai dan kemudian mengedikkan bahu, Stela kesal dibuatnya. Ia memukul-mukul lengan Tristan agar pria itu mau bercerita.


"Mommy jangan pukul daddy, nanti daddy nangis!" Ara yang melihat keanarkisan yang dilakukan Stela, menghentikan tindakan ibunya itu.


Stela pun berhenti, ia merasa bersalah karena sudah memperlihatkan kekerasan di depan mata Ara. "Sorry Baby. Mommy hanya gemas sama daddy makanya mommy pukul dia, tapi mommy pukulnya pelan-pelan kok," kilah Stela.


"Tapi tangan daddy merah-merah loh. Rasanya sakit juga." Tristan pura-pura meringis meminta perhatian.


"Mommy jahat, kasihan daddy." Ara beringsut ke arah Tristan dan membantu mengobati daddy-nya itu dengan cara meniup-niup tangannya.


Tristan tersenyum menang saat Stela melototinya dengan bola mata hampir keluar.


.......


Waktu keberangkatan kurang dari satu jam lagi, mereka harus check in segera tapi Anne belum jua datang.


"Kita harus masuk sekarang," ajak Abercio.


Sebastian yang pasrah hanya bisa mengangguk. Setelah berpamitan pada orang-orang yang mengantar, dua pria bule itu melangkah pergi.


"Tunggu, Kak!" Sebuah suara menghentikan langkah keduanya.


Anne datang bersama William, gadis itu menenteng sebuah paperbag. "Kak. Ini ada oleh-oleh untuk daddy and mommy."


Abercio meraih paperbag itu saat Anne menyodorkannya.


"Ok. Kalau begitu aku pergi dulu," pamitnya.


"Ya." Anne mengangguk. Matanya kemudian bergulir ke arah pria di belakang sang kakak.


"Sampai jumpa, Sebastian," ucap Anne.


Pria itu tak menjawab, ia malah melangkah maju dan berhenti tepat di hadapan Anne, membuat gadis cantik itu berdebar seketika.


Cup


Tanpa diduga sebuah kecupan hangat mendarat di kening Anne. Gadis itu membeku di tempat. Semua mata yang melihat terbelalak tak percaya kecuali Ara karena Tristan langsung menutupi mata keponakannya yang masih polos.


"Come back soon, I'm waiting for you," bisiknya setelah melepas kecupan.


Sebastian berbalik, sebelum pergi ia melirik Tristan sekilas. Pria itu tersenyum dan menggumamkan kata terimakasih.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2