BUNGA MATAHARIKU

BUNGA MATAHARIKU
Ulang Tahun ke-22


__ADS_3

...🌻Selamat Membaca🌻...


Stela tersentak bangun saat tangan Ara tak sengaja mendarat cukup keras di wajahnya. Ia bangkit duduk dan merapikan selimut untuk kesayangannya yang sudah berantakan.


Gadis pirang itu turun dari tempat tidur dan memilih keluar kamar. Kerongkongannya terasa kering dan perlu dibasahi.


Selesai dengan urusannya di dapur, Stela berniat kembali ke kamar tapi saat melihat pintu kamar Tristan yang sedikit terbuka, ia urungkan niatnya itu. Kini kaki jenjangnya berjalan menuju kamar sang kekasih. Ia sedikit mengintip sebelum memasuki kamar. Dari tempatnya berdiri, Stela bisa melihat Tristan tengah berdiri menghadap jendela besar di kamarnya sembari menikmati entah itu secangkir kopi atau minuman entah apa di tangannya.


Tok... tok... tok


Tristan menoleh saat Stela mengetuk pintu. Pria itu tersenyum dan menyuruhnya masuk.


"Sudah tengah malam, kenapa belum tidur?" tanya Stela setelah sampai dan berdiri tepat di samping kekasihnya.


"Hm... aku tidak bisa tidur karena belum mendapatkan ciuman selamat malam darimu," jawab Tristan menggoda.


Stela meninju pelan lengan Tristan, jengah dengan jawaban gombal yang keluar dari mulut pria itu.


"Itu apa?" tanya Stela kemudian menunjuk dengan matanya sesuatu yang dipegang Tristan.


"Coklat panas, kau mau?" tawar Tristan seraya menyodorkan gelasnya.


Stela mengangguk. Mengambil alih cangkir di tangan Tristan dan langsung menyesap isinya. Selang berapa lama, gadis cantik itu meringis. Ia telah ditipu.


"Pahit! Ini bukan coklat, tapi kopi," protes Stela karena Tristan sudah membohonginya. Bilangnya coklat panas ternyata malah kopi hitam yang sangat pahit.


Tristan tergelak melihat wajah kesal kekasihnya. Ia mengambil alih cangkir dari tangan Stela kemudian meletakkannya di meja yang berada tak jauh dari mereka. Selanjutnya, pria itu berjalan ke belakang Stela dan memeluk tubuh ramping itu dari belakang. "Sorry, Dear," bisiknya tepat di telinga Stela, membuat gadis itu meremang karena hembusan napas hangatnya.


Stela terdiam, rasanya tetap sama. Betapa nyaman dan hangatnya berada di pelukan Tristan. Ini adalah salah satu momen yang sudah sangat ia rindukan selama lima tahun belakangan ini.


"Tristan..." panggil Stela pelan.


"Hn, kau memanggil namaku tanpa embel-embel 'kak' lagi?" protes si pria yang kini sudah menumpukan dagunya di bahu Stela dengan mata terpejam.


"Hehe, sudah terbiasa. Maafkan aku..." Stela meringis pelan.


"Never mind, terserah kau mau memanggilku apa," ucap Tristan. "Tadi kau mau mengatakan apa?"


"Kau... masih mencintaiku, kan?" Walau ragu untuk bertanya ,tapi Stela harus tetap memastikannya.


"Pertanyaan bodoh!" sahut Tristan cepat.


Mendengar itu, Stela sudah bisa menebak apa jawabannya. Ya... Tristan masih mencintainya.


"Sekarang aku kembalikan padamu pertanyaan itu. Apa kau masih mencintaiku?" Kini giliran Tristan.


Stela tertawa, ia berbalik dan menghadap Tristan. Kedua tangannya terangkat dan dikalungkan di leher prianya.


Cup


Satu kecupan kilat mendarat di bibir sensual Tristan yang berwarna merah muda karena tidak pernah menyentuh rokok.


"Pertanyaan bodoh!" ucap Stela mencoba meniru apa yang Tristan ucapkan sebelumnya.


Tristan yang gemas mendengar jawaban dari Stela langsung saja menarik tubuh gadis itu agar semakin melekat padanya. Ia peluk Stela dan dibisikkan lah kata cinta di telinganya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu..."


"Love you too, darling..."


Tristan melepas rangkulan tangannya di pinggang Stela dan berpindah ke wajah gadisnya. Ia menangkup pipi mulus kemerahan itu dan mengelusnya pelan. Mata mereka berdua beradu, pendar cinta jelas terpancar pada dua pasang mata berbeda warna itu.


Cup


Tak lama setelah itu, sebuah kecupan hangat mendarat cukup lama di kening Stela. Gadis itu terpejam, berusaha menikmati kehangatan yang menjalar sampai ke hati.


"Kau sudah mengantuk?" tanya Tristan.


"Hm... belum. Apa kau mengantuk?" tanyanya balik.


Tristan menggeleng. "Apa kita hanya akan menghabiskan malam ini dengan tidur?"


Stela tersenyum dan menggeleng. "Masih banyak hal yang bisa kita lakukan," ucapnya kemudian menggerlingkan mata.


Tristan segera menggendong tubuh Stela dan membaringkannya di atas tempat tidur.


.......


"Morning..."


Saat membuka mata di pagi hari, Stela langsung disuguhkan pemandangan seksi Tristan yang shirtless.


"Morning." Balik Stela menyapa.


Tristan memerhatikan Stela dengan intens.


Tristan menggeleng dan tersenyum. Ia beringsut ke arah Stela dan memeluk tubuh ramping itu. "Rasanya baru kemarin aku merindukanmu dan sekarang kau sudah berada di pelukanku lagi. Aku... masih tidak percaya," ucapnya takjub.


"Hm... sudah terlalu lama kita berpisah dan mulai saat ini kita akan selalu bersama. " Stela menambahkan.


Tristan semakin mempererat pelukannya dan mengecup kepala kekasihnya berkali-kali.


"MOMMY..............!"


Momen romantis itu harus buyar saat suara teriakan Ara bergema di rumah besar mereka.


"Ara?" gumam Stela.


BRAKKK


Pintu kamar Tristan mendadak terbuka dan wajah panik Ara terlihat sesudahnya.


"Daddy..... mommy hi-lang, eh..." Ara yang baru saja akan mengabarkan jika Stela hilang, langsung menganga saat menemukan jika mommy cantiknya sedang berada di pelukan sang daddy.


"Daddy.......!" pekik Ara kemudian. Ia berlari masuk dan langsung naik ke atas tempat tidur. "Daddy nakal!" Ia mendorong tubuh Tristan dan beralih memeluk Stela.


"Daddy nakal kenapa, sayang?" tanya Tristan bingung.


Ara menampakkan wajah cemberutnya. "Daddy sudah culik mommy. Semalam 'kan mommy tidur sama Ara, kenapa sekarang mommy ada di kamar Daddy?"


Tristan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan putrinya. Tidak mungkin kan ia jawab begini. "Semalam mommy dan daddy melepas rindu."

__ADS_1


"Sayang..." Melihat Tristan yang bingung, Stela mengambil alih. Ia membawa Ara duduk dan mengusap kepala bocah itu sayang.


"Iya mommy..." Jawab Ara lembut. Ekspresinya saat melihat Stela sungguh berbeda dengan saat ia melihat Tristan.


"Ara lapar tidak? Kita masak, yuk?" ajak Stela mengalihkan perhatian.


"Iya... iya, ayo Mommy." Dengan bersemangat Ara langsung turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar.


"Kau memang ibu yang pintar," puji Tristan.


"Ya dong, Stela."


Gadis itu segera turun dari tempat tidur untuk menyusul Ara, tapi sebelum benar-benar pergi. Ia melayangkan sebuah kecupan singkat di bibir sang kekasih.


"Morning kiss," ucap Stela seraya mengedipkan sebelah mata. Setelah itu ia melesat pergi.


"Ck... gadis itu!" gumam Tristan dengan senyum bahagia terulas di bibir.


...🌻 🌻 🌻...


Seminggu berlalu begitu cepat. Sekarang sudah tanggal 10 Oktober dan itu artinya adalah hari ulang tahun Stela telah tiba. Tristan dan Ara sudah memberikan surprise saat tengah malam. Dengan sebuah Birthday cake yang dihiasi lilin angka 22 di atasnya, mereka membangunkan Stela saat jam tepat berdenting di angka 12 malam. Tidak lupa dua orang itu juga memberikan kado untuknya. Kalung indah berbandul seperti bunga Matahari dari Tristan dan sepucuk puisi dari putri tersayangnya. Malam itu Stela sangat bahagia, walaupun sederhana tapi terasa sangat berarti. Oh ya, jangan lupakan keluarganya di London sana. Saat malam buta itu juga, mereka melakukan video call berjamaah.


Paginya, Risa datang ke rumah Tristan dan mengajak Stela pergi. Wanita itu mengatakan jika ia akan mentraktir Stela yang berulang tahun. Stela ikut saja toh Tristan juga mengijinkan.


Dua perempuan berambut pirang itu pergi jalan-jalan ke Mall terbesar di Jakarta. Mereka makan, berbelanja dan juga ke salon.


Saat hari menjelang sore, Risa membawa Stela ke sebuah butik ternama di kotanya. Yah... Itu adalah butik bibinya Stela. Risa yang ingin membelikan Stela sebuah gaun malah berakhir gagal, karena Merry jadi menghadiahkan gaun itu untuk Stela sebagai kado ulang tahunnya.


Setelah mendapatkan gaun, Risa mengajak Stela untuk mampir ke rumahnya. Gadis yang baru saja bertambah umur itu hanya bisa menurut.


"Ke mana Vero ?" tanya Stela saat melihat kediaman Risa dan Arya sepi.


"Eh... oh itu, Mas Arya mengajak Vero pergi keluar," jawab Risa sedikit gugup, tapi itu luput dari perhatian Stela.


Risa membawa Stela ke kamarnya. Di sana, Stela didandani sedemikian rupa, gaun pemberian Merry pun sudah melekat di tubuh proporsionalnya. Gadis itu sempat bertanya kenapa dia didandani, dan Risa hanya menjawab agar Tristan semakin terpesona.


Stela sedikit curiga melihat tingkah Risa yang seperti menyembunyikan sesuatu. Apalagi, saat ibu satu anak itu ikutan berdandan.


"Ayo kita pergi!" ajaknya setelah semuanya selesai.


"Kita mau ke mana?" tanya Stela bingung.


"Ya... aku akan mengantarmu pulang." Risa menjawab.


Dalam hati Stela bertanya, jika hanya untuk mengantarnya pulang. Untuk apa Risa mengenakan baju bagus dan juga berdandan. Ia semakin curiga. Ada apa gerangan?


"Ayo cepat! Hari sudah mulai gelap."


Akhirnya mereka berdua pergi.


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2